
Yang terjadi beberapa jam sebelum Alvino pulang.
"Terima kasih karena sudah mau mengantarkan aku pulang." Ucap Husna sambil turun dari mobil.
"Sama sama."
Husna kemudian memilih untuk segera membuka pintu gerbang rumahnya, ingin sekali Husna menawari adik ipanya itu untuk mampir dan singgah sebentar. Tetapi, karena di dalam rumah tidak ada siapapun selain dirinya. Husna akhirnya mengurungkan niatnya untuk menawarkan adik iparnya itu singgah sebentar.
Husna membuka pintu gerbang saat tiba-tiba kakinya terpeleset.
Brak.!
Husna terjatuh dan kakinya terkena serpihan beling yang sepertinya sengaja ditata berdiri di depan gerbang masuk.
"Argh..." Rasa sakit karena tertancap beberapa serpihan beling membuat Husna berteriak.
"Kakak ipar." Elvio segera turun dari mobil dan terlihat panik saat melihat cairan merah terlihat jelas pada gamis berwarna merah muda yang dikenakan oleh Husna.
Elvio serba binggung, di beberapa lengan Husna juga terdapat beberapa serpihan beling.
Elvio ingin sekali membantu tapi dia yakin Husna tidak akan mau jika ada orang yang bukan menjadi muhrimnya memegang diri.
Husna melihat Elvio berlari dan kembali bersama dengan beberapa emak emak berdaster.
"Ya Allah mbak Husna, apa yang terjadi?"
Emak emak yang datang langsung berusaha menolong Husna dengan mencabut beling yang menusuk Husna.
Elvio juga memanggil Pak Rt yang kebetulan melintas dan meminta pertolongan.
"Kita bawa ke rumah sakit saja," ucap Pak RT.
"Tidak perlu Pak RT, Saya mempunyai alat dan obat sendiri."
"Haduh, sebenarnya siapa yang sudah dengan sengaja menumpahkan minyak dan menabur beberapa beling yang dibuat berdiri sehingga ujung beling berada di atas?" tanya Ibu berbaju merah.
"Iya, padahal tadi saat Mbak Husna keluar semuanya baik-baik saja."
"Iya, aku juga tidak melihat ada yang mencurigakan."
"Lihat, ini juga sepertinya baru disiramkan." ucap Pak RT saat melihat ke mana arah minyak itu mengalir.
"Minyak mungkin memang baru disiramkan, tapi jika melihat letak beling yang tajam menghadap ke atas. Rasanya tidak mungkin jika ditata dengan cepat."
Elvio sedari tadi diam dan terus menyimak apa yang emak-emak itu katakan.
Benar, sangat tidak mungkin untuk seseorang meletakkan secara tidak sengaja benda tajam ini. Masalah nya adalah kenapa orang itu meletakkannya tempat di depan pintu masuk gerbang rumah utama? apa motif sebenarnya?
Salah seorang ibu-ibu yang berlari mendatangi Husna, sambil membawa peralatan khusus untuk mengambil beling tersebut. Segera membantu Husna untuk mencabuti semua beling yang menancap di kaki dan lengannya.
Terima kasih, Lia," ucap Husna.
"Sama sama, biar aku bantu Mbak Husna menjahit beberapa luka yang sobek dan mengobati mbak Husna."
__ADS_1
"Terima kasih Lia."
"Sama sama, tapi sebelum itu izinkan saya untuk mengambil peralatan dan jarum jahitnya. Karena terlalu terburu-buru aku hanya membawa peralatan ini dan tidak membawa perban dan juga jarum jahit."
Husna tersenyum dan menganggukkan kepala. Lia adalah mahasiswa magang yang baru saja membantu di pos kesehatan yang ada di komplek perumahan itu.
Lia segera berlari untuk mengambil apa yang dibutuhkan. Husna mencoba untuk bangun namun luka yang sangat banyak di kakinya membuatnya tidak bisa berdiri.
Emak emak masih sibuk membersihkan pecahan bening yang ada di depan rumah Husna.
"Mas Elvio, Bagaimana jika Mas membantu mbak Husna untuk masuk ke dalam rumah. Saya akan mengambil tandu untuk membopong tubuh manusia," ucap Pak RT sambil segera berlari ke pos jaga untuk membawa tandu.
Pak RT dan Elvio, mentandu Husna masuk ke dalam rumah. Lia yang baru saja datang segera mengobati dan menjahit beberapa luka yang ada di lengan dan kaki Husna.
Lia mengobati Husna di sofa yang ada di ruang tamu.
Emak emak yang sudah selesai membersihkan beling, kembali bergotong-royong untuk membersihkan tumpahan minyak yang ada di sana.
Mereka melihat proses pengobatan luka yang ada pada kaki dan juga lengan Husna, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena mereka harus menjemput anak-anak mereka yang masih sekolah.
Husna mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang sudah membantu Husna.
"Mas Elvio, saya harus pergi karena saya ada rapat di kantor kelurahan. Jika ada apa-apa bisa hubungi saya," ucap pak RT pada Elvio.
"Baik pak."
Di rumah itu, tinggal Elvio, Husna dan Lia.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Lia." Husna sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Lia sambil memegang tangannya.
"Sama sama. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara Mbak Husna untuk bisa sampai ke lantai atas dan beristirahat?" tanya Lia.
"Ada kursi roda di gudang belakang rumah, aku bisa menggunakan itu untuk melakukan aktivitas sementara waktu," ucap Husna.
"Aku akan mengambil nya," Elvio ya memang sudah menghafal tentang denah rumah itu, langsung menuju gudang yang ada di belakang rumah untuk mengambil kursi.
Elvio kembali, dia berpapasan dengan Lia yang sedang ada di dapur untuk mencuci peralatan sebelum membawanya pergi dengan cairan khusus.
Husna mencoba sekuat tenaga untuk berpindah dari tempat duduk menuju kursi roda.
"Biarkan aku membantu mu."
Elvio terlihat kembali berjalan ke belakang rumah dan datang dengan membawa sebuah selimut besar.
"Pakai ini, jadi kita tidak akan bersentuhan secara langsung. Aku hanya akan membantumu untuk duduk di kursi roda."
Husna akhirnya menggunakan itu dan Elvio mulai menggendongnya.
Tepat saat Elvio baru saja menggendong Husna, Alvino datang.
"Mas?"
Elvio segera meletakkan Husna dengan hati-hati di kursi roda.
__ADS_1
"Tidak aku sangka, seperti inilah perlakuan kamu ketika aku tidak ada di dekat?"
"Mas.."
"Jika kelakuan kamu sama seperti pura lalu kenapa kamu memakai pakaian seperti itu?"
"Hei, biasakan untuk bertanya sebelum kamu mengkritik sesuatu. Apa kamu tahu jika ada yang sengaja meletakkan beling di depan pintu gerbang sehingga membuat istri kamu celaka."
"Cih, kamu pikir aku akan percaya dengan cerita yang baru saja kamu karang?" ketus Alvino.
"Di luar rumah ini tidak ada apapun selain air yang sepertinya baru saja disiram."
"Terserah jika kamu memang tidak mau percaya dengan apa yang aku katakan, Aku harap kamu akan mencari fakta yang sebenarnya sebelum kamu mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan seorang suami kepada istrinya."
Elvio memilih untuk pergi meninggalkan rumah. Husna terlihat menunduk, dia seperti menyalahkan dirinya yang bahkan untuk berpindah ke kursi roda saja tidak mampu sehingga membuat Alvino salah paham.
"Mas..."
"Aku datang dengan niat untuk memperbaiki kesalahan karena aku terlalu bersikap acuh kepadamu, nyatanya saat aku pulang ke rumah aku disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan."
"Mas, tidak bisakah kamu mendengarkan penjelasan aku terlebih dahulu?"
"Penjelasan apalagi yang ingin kamu katakan, jika saja aku tidak pulang mungkin kamu jangan Elvio sudah bersenang-senang di dalam kamar kan?"
Hati Husna terluka saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Alvino, dia hanya bisa memandangi Alvino dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan pernah menatapku dengan tatapan seperti itu. Aku benar-benar kecewa dengan kamu Husna."
Tak lama kemudian, Lia datang dan dia juga terkejut saat melihat Alvino.
"Loh, mas Alvino baru datang?" tanya Lia.
Alvino yang sudah sangat muak dengan Elvio, apalagi melihat wanita yang dia cintai sedang berada di dalam dekapan adiknya. Membuat Alvino tidak bisa berpikir dengan jernih karena terbakar api cemburu.
Alvino segera meninggalkan Husna dan keluar dari kamar dengan membanting pintu.
Brak !!!
Husna dan Lia tentu saja terkejut karena Alvino membanting pintu dengan keras.
Kamu sudah berubah, Mas.
Aku benar-benar sudah tidak mengenal dirimu yang dulu lagi.
Apa yang membuatmu begitu cepat memikirkan hal buruk tanpa mencari tahu kebenarannya?
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1