
Cinta juga merupakan bagian dari siklus hidup yang terus berjalan. Pertemuan diantara dua manusia yang saling jatuh cinta, terkadang memberikan kebahagiaan luar biasa.
Tidak jarang disaat perpisahan harus terjadi diantara dua orang yang saling mencintai akan menyebabkan rasa kesedihan yang sangat mendalam.
Setelah enam bulan, Husna memutuskan untuk pergi ke kota itu dan menempati salah satu desa tempat tinggal orang tua Salsabila.
Husna menemukan rumah kecil dan juga membuka praktik sederhana di rumahnya dengan dibantu oleh Salsabila dan juga beberapa rekan lainnya setelah mendapatkan izin membuka praktek sendiri.
Tentu saja semua itu tidak lepas dari bantuan dokter Chiko, Ciko membantu Husna dan yang lainnya untuk mendapatkan izin membuka praktek mandiri sehingga sekarang mereka dapat membuka praktek sendiri.
Husna rasa beruntung karena ada teman-temannya yang selalu mendukung dia untuk melakukan apapun, Husna tidak lagi merasa sedih dan mulai melupakan tentang takdir yang tidak berpihak kepadanya.
Hari hari Husna sungguh sangat berwarna ditambah dengan keceriaan buah hati yang semakin menggemaskan di setiap harinya.
Husna dan Salsabila juga beberapa orang lainnya, secara bergantian membantu Husna menjaga Anisa.
"Alhamdulillah, jika memang kita ikhlas terhadap jalan takdir yang sudah dipilihkan oleh Allah. Insyallah memang akan ada pengganti dari kebahagiaan yang tidak bisa kita dapatkan," lirih Husna saat dia melihat ketiga rekannya sedang bercanda tawa bersama dengan Anisa.
Husna sangat bersyukur karena setelah dia memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga Alvino, dia masih menemukan kebahagiaan yang lain yang membuat luka di dalam hatinya berangsur-angsur pulih.
"Husna, aku sangat bahagia karena setelah sekian lama kamu bisa tersenyum penuh kebahagiaan dan keikhlasan," ucap Salsabila yang mendatangi Husna untuk membantu Husna menutup klinik.
"Salsabila, seharusnya Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian. Tanpa kalian, apa jadinya diriku yang tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini."
"Jangan pernah mengatakan bahwa kamu tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini, aku dan juga semua perawat dan dokter yang ada di sini adalah keluarga kamu. Kapanpun kamu membutuhkan bantuan kami, kami akan berusaha semampu kami untuk membantu."
Husna tersenyum sebelum akhirnya dia mendekati Salsabila dan memeluknya. Dia tidak menyangka perpisahan yang terjadi ini membawa kebahagiaan lain yang tidak pernah Husna bayangkan sebelumnya.
Terima kasih Tuhan, engkau mengirimkan kebahagiaan pengganti setelah sebelumnya aku merasa terluka dan merasa bahwa kasih sayang yang aku dapatkan dari suamiku tidak adil.
Terima kasih juga karena engkau mempercayakan aku untuk merawat seorang malaikat kecil yang akan menjadi pelipur lara. Aku akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan yang penuh kepadanya.
...----------------...
...----------------...
Sementara itu, Alvino semakin merasa bersalah tak kalah dia mengetahui bahwa bayi yang saat itu berada dalam gendongan Husna adalah bayi dirinya dan Husna.
Mama tidak sengaja mengatakan jika bayi yang ada bersama Husna adalah bayi Alvino saat, Mama meluapkan seluruh emosinya mengingat Husna sudah pergi dan mama tidak bisa menemukan keberadaannya.
Alvino semakin memerintahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Husna, Alvino memerintahkan untuk mengecek setiap data orang yang keluar meninggalkan kota ini.
Alvino menyerahkan seluruh hak asuh Alisa kepada baby sister Kinara. Baby sister yang dipekerjakan atas rekomendasi dari kakaknya, Alviana.
5 bulan usaha Alvino tidak membuahkan hasil, membuat Alvino sedikit kecewa dan mulai bertanya-tanya ke mana sebenarnya Husna pergi. Alvino juga sempat memata-matai aktivitas yang dilakukan oleh Elvio, namun Elvio tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia mengetahui keberadaan Husna.
Alvino mengetahui bahwa Elvio juga sedang berusaha mencari keberadaan dari Husna namun tidak ada dari keduanya yang mengetahui di mana sebenarnya Husna berada.
Alvino mulai sibuk dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk menjual rumah yang dulu dia tempati bersama dengan Husna.
Alvino tidak bisa menempati rumah itu Karena segala kenangan tentang dirinya dan Husna selalu saja mengganggu pikirannya setiap kali dia berada di rumah itu.
"Perpisahan Membuka Gerbang Kehidupan Baru, semoga setelah ini kamu akan mendapat kebahagiaan dan belajar dari kesalahan yang membuat rumah tangga kamu menjadi kandas di tengah jalan," ucap Mama.
"Aku merasa bahwa aku adalah sosok suami yang benar-benar tidak bisa bersikap adil kepada dua istriku sehingga perpisahan ini terjadi."
"Tidak ada gunanya menyesali masa lalu karena Penyesalan tidak akan mengembalikan semuanya, sekarang lebih baik kamu menata ulang hidup kamu yang sudah berantakan dan jangan sampai hal ini terjadi jika suatu saat kamu akan membangun kembali hidup rumah tangga."
Alvino berdiri di balkon rumah yang baru saja dia tempati selama beberapa bulan.
Hatinya masih sangat berharap akan bertemu dengan Husna dan memulai kisah yang belum sempat terselesaikan.
"Biarkan saja sekarang Husna menjalani kehidupan yang dia inginkan, Mama seorang wanita tentu saja Mama mengetahui luka yang dirasakan oleh Husna. Tidak mudah untuk memulai kembali kisah yang sebelumnya gagal."
"Alvino harus apa ma? jujur saja sampai saat ini Alvino belum bisa tenang karena tidak bisa menemukan keberadaan Husna dan juga bayinya. Aku merasa sangat berdosa kepada mereka berdua, Aku juga merasa ingin sekali memutar waktu di mana Aku mencaci maki Husna saat itu tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,"
"Alvino, jika manusia bisa memutar kembali waktu, Mungkin Mama karena memutar ke masa di mana kami meminta Husna secara pribadi untuk merawat papa kamu. Mungkin Mama akan mengatakan kepada bapak agar tidak perlu memaksa kamu menikahi Husna, sehingga sekarang Husna masih berada di antara kita."
Alvino terdiam, dia juga bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh mamanya karena kepergian Husna.
Husna, di manapun kamu berada aku pasti akan menemukan kamu. Aku akan membawa kamu ke dalam keluarga karena memang kamu adalah bagian dari keluarga Winata. Sekalipun Kamu tidak akan mau lagi untuk menjalin bahtera rumah tangga bersama dengan aku, setidaknya kamu akan hadir di tengah-tengah keluarga. Kamu seperti cahaya di ruangan gelap, di mana saat kamu pergi suasana rumah menjadi tidak lagi secerah dulu.
...----------------...
"Husna, bisakah kamu menceritakan kisah perjalanan hidup kamu hingga kamu bisa melewati cobaan yang sangat besar," tanya Hilya.
Husna dengan senyuman di balik cadar menceritakan kisah rumah tangga nya yang tidak berjalan sesuai harapan.
"Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya itu tergantung kepada keputusan Tuhan apakah rencana yang dilakukan oleh kita sebagai manusia layak untuk dikabulkan atau tidak. Tapi Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas takdir yang tidak bisa kita dapatkan. Percayalah bahwa di baliki ini semua ada hikmah dan kebahagiaan yang sedang menunggu kita." Ucap Husna setelah dia menceritakan tentang perjalanan rumah tangganya dengan Alvino.
Dimulai dari dia yang diangkat menjadi bagian keluarga dari Winata, hingga kemudian dinikahkan oleh Alvino yang jelas-jelas tidak menginginkannya karena sudah memiliki kekasih idaman.
Belum lama hubungan rumah tangga mereka Husna harus dihadapkan pilihan dengan hadirnya sosok yang dicintai oleh suaminya.
Demi menjaga harkat dan martabat suami dan juga nama besar keluarga Winata, Husna rela untuk dimadu dan berharap bahwa Alvino bisa bersikap adil kepadanya.
Namun, semua itu hanyalah impian belaka dari Husna. Menyetujui pernikahan Alvino dan Helena justru membuat Husna kehilangan malaikat kecil yang diharapkan bisa menjadi jembatan untuk cinta antara Husna dan Alvino.
"Keluarga merupakan bagian utama dan paling penting didalam kehidupan kita. Tanpa adanya keluarga maka kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dengan mudah. Setiap kesusahan datang menjadi cobaan dalam hidup, tangan paling pertama yang akan memberi bantuan pertolongan adalah keluarga."
"Aku bahagia karena ternyata kita bisa bersama dan menjadi sebuah keluarga,"
Semua yang ada di sana terharu dengan kisah perjalanan hidup yang diceritakan oleh Husna. Mereka bersama-sama menghampiri Husna dan memeluknya.
Alhamdulillah, Terima kasih kepada Yang Maha Pengasih atas kebahagiaan yang diberikan setelah perpisahan.
Aku akan berusaha untuk menjaga perasaan ini tetapi hidup untuk menjadikan putri kecilku pribadi yang tumbuh di dalam kebahagiaan dan penuh cinta.
Husna sedang berdiri di balkon rumahnya sambil menggendong Anisa, Husna membacakan beberapa ayat suci Alquran dan juga sholawat kepada Annisa hingga Anisa tertidur.
__ADS_1
"Anisa, maafkan Ibu karena harus memisahkan kamu dengan ayah. Ibu yakin suatu saat kamu akan mengerti alasan kenapa ibu tidak menyetujui saat ayahmu mengajak Ibu untuk rujuk."
Husna kemudian teringat tentang Alvino yang berusaha untuk memenangkan hatinya dan meminta agar hubungannya bisa diperbaiki.
"Perpisahan ini membawa kebahagiaan dari sisi kehidupanku yang lain, walaupun sebenarnya aku masih merasa hubungan kita mungkin bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku lebih nyaman seperti ini. Walaupun aku harus menjadi Ayah sekaligus Ibu bagi Anisa. Tapi Aku yakin bahwa itu tidak akan mengurangi nilai kasih sayang yang akan aku berikan kepadanya."
"Anisa, itu tidak akan membiarkan kamu hidup seperti ibu yang tidak tahu siapa orang tua itu sebenarnya, ibu akan memastikan bahwa kamu mendapatkan seluruh cinta dan kasih. Ibu tidak akan membiarkan kamu selalu dalam kesedihan dan juga kesendirian seperti yang Ibu rasakan dulu."
Husna kemudian mengingat tentang keluarga yang sempat merawatnya dulu, keluarga yang sekarang sudah pulang ke Rahmatullah karena bencana yang terjadi di desa saat Husna pergi ke kota untuk mengabdikan diri di rumah sakit.
Husna memejamkan mata dan tanpa terasa air matanya mengalir, Husna tidak mengerti kenapa setiap kali Husna memiliki keluarga selalu saja berakhir dengan Husna yang akan hidup sendirian.
Salsabila mendatangi Husna dan menepuk bahu Husna, Husna yang menyadari itu segera menghapus air matanya.
Salsabila kemudian mengambil alih Anisa, dan membawanya masuk ke dalam untuk menidurkannya di kamar.
"Husna, Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku harap kamu tidak menyesali keputusan kamu untuk berpisah dengan Alvino?" katanya Salsabila setelah dia selesai menidurkan Anisa.
"Tidak, aku hanya berpikir Kenapa setiap aku memiliki keluarga selalu saja keluarga itu tidak bersamaku selamanya."
"Jangan lupakan bahwa aku dan juga teman-teman yang lain adalah keluarga kamu."
Husna tersenyum dan kembali memeluk Salsabila yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk di bangku.
"Aku sangat bersyukur karena aku mengenalmu Dan kita menjadi semakin dekat melebihi ikatan saudara."
...----------------...
Aku yang dulu tak mampu berbicara sepatah katapun
Jangankan berjalan
Untuk mengangkat kepalaku saja
Aku tidak sanggup
Aku yang hanya sebesar boneka mainan anak-anak
Perlahan mulai tumbuh menjadi kuat
Tentu saja tidak terjadi dengan mudah
Sudah pasti tidak berubah dalam sekejap mata
Tidak seringan membalikkan telapak tangan
Kedua orang tua yang tanpa mengharap imbalan
Dengan penuh keringat berusaha membesarkan
Anak-anaknya yang terkadang mengukir kecewa
Sedari lemah menjadi kuat
Aku yang dahulu tak mampu membaca tulisan
Kini mampu membaca dunia
Selalu setia di kala sakit menjadi derita
Berada dibarisan terdepan di kala kesuksesan berhasil digapai
Amarah yang tak pernah sedikitpun mengandung benci
Ribuan kekecewaan yang tak pernah mampu berhasil untuk menggantikan tulusnya kasih
Seluruh jalan kehidupan dilewati bersama
Dalam satu bilik rumah yang terbangun penuh cinta
Tempat berlindung paling aman dari benteng sekokoh apapun yang ada didunia
Rumah yang selalu dituju untuk pulang
Tanpa perduli sejauh apapun perjalanan
Pintu yang selalu terbuka lebar
Walaupun terkadang kaki ini terlalu jauh melangkah pergi
Maaf yang tiada pernah ada habisnya
Walau berjuta kesalahan telah terukir
Itulah..
Keluarga..
Penyejuk dikala jiwa terasa haus
Penghilang lelah di kala tubuh terasa tak sanggup lagi menopang kehidupan
Kini dua pilar utama dalam kehidupan
Tak lagi berusia muda
Tak lagi berdiri tegak dengan kaki kokohnya
Puluhan tahun dalam perjuangan
__ADS_1
Mengharuskan sampai pada waktunya melepas lelah
Melepas diri dari beratnya pikulan beban kehidupan
Tulang-tulang yang dulu padat terisi
Kini rapuh tergerus beban perjuangan
Sampai hari paling menghancurkan hati harus tiba
Perpisahan oleh usia
Namun..
Tak kasih tulus yang telah diberikan
Tak akan pernah lekang oleh waktu
Pahatan-pahatan perjuangan
Akan tetap terukir degan tegas
Segala butiran kecil perjuangan yang telah terjadi
Akan selalu menjadi bekal untuk diri ini melangkahkan kaki
Berkat terindah yang diturunkan oleh Sang Maha Pemberi kehidupan
Tak dapat memilih siapa anggotanya
Tak bisa untuk dipilih seperti apa rupanya
Seperti apa tabiatnya
Apakah memiliki bakat hebat yang membanggakan
Ataukah hanya sekedar manusia biasa yang berlimpah akan kekurangan
Entah seberapa istimewanya keindahan yang dianugerahi
Seberapapun besarnya cela yang dimiliki
Semua harus diterima dengan keikhlasan hati
Melewati perjalanan hidup
Dibawah atap penuh kenyamanan bersama
Hangatnya pelukan
Menutupi dinginnya semilir angin perselisihan
Perdebatan yang tiada arti
Tak mampu mencairkan kentalnya aliran darah yang mengalir didalam raga
Terkadang terasa ingin menjauh
Namun jiwa ini selalu menyadarkan diri
Tidak ada satupun hal yang lebih berharga
Dari hadirnya sebuah keluarga
Hari-hari yang tak dapat terhitung lagi
Entah berapa jauhnya perjalanan yang mampu terlampaui
Seiring menuanya raga
Menyambut jiwa yang semakin dewasa
Kelokan demi kelokan perjalanan kehidupan
Terkadang membuat arah tak beriringan
Langkah kaki yang memiliki pilihannya tersendiri
Menghadirkan jarak yang memisahkan
Namun hanya satu hal yang pasti
Tak pernah perduli seberapa jauh jarak membentang
Jutaan batu kerikil yang menjadi sandungan
Perpisahan yang menjadi proses pendewasaan diri
Tak akan membuat jiwa menjadi lupa diri
Kemanapun melangkah
Tetaplah keluarga sebagai rumah.
.... End .....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...