
Alvino dan Helena sedang dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit.
"Aku sudah menerima pesan dari dokter yang mengatakan bahwa kondisi kamu sudah siap untuk keluar dari rumah sakit, jadi setelah ini terserah kamu akan pergi ke mana," ucap Alvino saat mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Al, jangan katakan bahwa kamu akan tetap menceraikan aku."
"Helena, aku sudah mentalak kamu dia sekarang kita buka lagi pasangan suami istri."
"Al..."
Alvino memilih untuk segera turun dari mobil dan mengerjakan pintu untuk Helena.
"Aku tidak ingin pergi dari sini sebelum kamu mengatakan bahwa kamu hanya main-main saat kamu mengucapkan kata talak itu kepadaku."
"Terserah, Aku tidak mau punya waktu ini terus meladeninya selama 1 hari. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Jika kamu tidak ingin pergi dari mobilku maka terserah."
Alvino kemudian memilih untuk meninggalkan Helena dan langsung naik ke dalam lift untuk bertemu dengan adik dan juga mama Helena.
Alvino memberikan sebuah tiket dan beberapa uang saku untuk kepulangan mereka kembali ke negaranya.
"Terima kasih Alvino, kamu sudah banyak membantu keluarga kami sejak awal hingga saat ini."
"Sama sama."
"Di mana Helena?" tanya Mama.
"Aku disini." Helena membuka pintu karena memang sedari tadi Helena berada di luar pintu untuk mendengarkan pembicaraan antara Alvino dengan mamanya.
Helena menatap Alvino, dari tatapannya bisa terlihat bahwa Helena sangat berharap Alvino tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
Namun semua itu hanya ada dalam bayangan Helena saja, merasa bahwa urusannya sudah selesai dengan keluarga Helena, Alvino memilih untuk segera keluar dari ruangan itu dan menuju kantor.
Al, Kenapa kamu tidak bisa melihat setitik kejujuran yang aku ucapkan. Aku tahu aku mungkin sudah menorehkan luka yang cukup dalam, tapi seharusnya kamu mencari tahu kebenaran saat aku mengatakan aku sedang hamil.
Helena memegang perutnya dengan pandangan lurus ke depan, rasanya sudah tidak ada lagi harapan untuk bisa mengembalikan kepercayaan Alvino.
Mungkinkah ini akhir dari impianku untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia bersama dengan Alvino?
Keluarga merupakan harta yang paling berharga. Karena memang sudah seharusnya keluarga menjadi tempat paling nyaman dan dirindukan oleh seseorang. Keluarga juga mampu menjadi obat paling ampuh dan pelipur lara dalam setiap kesulitan. Bahkan, keluarga juga mampu mengembalikan suasana hati menjadi ceria dan damai.
Sekarang, Aku telah kehilangan semuanya dalam sekejap mata.
"Jangan pernah lagi kamu sesali atas apa yang sudah terjadi. Percuma saja kamu menyesali semuanya karena semuanya tidak akan kembali seperti sebelumnya. Nikmati saja apa yang sudah kamu tabur sebelumnya," lirih Mama.
Lalisa dan Mama kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan tempat di mana dulu Helena dirawat dan meninggalkan Helena yang masih terdiam sambil memegangi perutnya.
Lalisa sebenarnya ingin sekali memeluk sang kakak dan menguatkannya atas apa yang sudah menimpa hidupnya, tapi bila mengingat kejadian yang dilakukan oleh Helena dan membuatnya harus kehilangan sosok ayah. Membuat Lalisa memilih pergi bersama dengan sang Ibu dan meninggalkan Helena.
Senang, semangat, haru bahkan sedih, menjadi perasaan yang hadir dalam hidup. Nggak terkecuali dengan rasa kecewa, yang bisa hadir karena orang lain ataupun dari sendiri. Seakan menjadi sahabat yang sulit dipisahkan, kekecewaan pun bisa datang tanpa kita sadari. Rasanya, diri sudah memberikan segalanya yang terbaik, menambahkan banyak harapan untuk kebaikan, namun ternyata kenyataan berkata berbeda. Berat pasti rasanya, nggak bisa dipungkiri ada rasa putus asa yang kerap kali hinggap di dada.
Helena menyeka air matanya karena dia sudah sadar bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Alvino.
Helena masih tidak percaya bahwa dia akan meninggalkan negara tempat di mana dia memulai kehidupan yang baru bersama dengan Alvino.
"Kak..." Lalisa memanggil Helena karena semua penumpang dan kabin pesawat sudah siap untuk masuk.
Helena tak sadar dari lamunannya dan segera memasuki pesawat.
Helena terus memandang ke arah jendela saat pesawat mulai lepas, pertanda bahwa itu adalah detik-detik Helena meninggalkan negara itu.
Kecewa adalah saat kamu merasakan kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kukira itulah kekecewaannya - rasa kehilangan untuk sesuatu yang tidak pernah dimiliki.
Helena memejamkan mata dan membiarkan air mata membasahi pipinya, Lalisa yang sudah tidak tahan lagi memegang tangan Helena seolah-olah memberinya kekuatan.
"Maafkan aku karena perilaku bodohku sudah mengakibatkan Ayah meninggal dunia," lirih Helena.
Lalisa tidak berkata apapun selain menyandarkan kepalanya di bahu Helena.
Karena biaya pemulangan jenazah yang sangat mahal dari negara Alvino menuju negara Helena, membuat Mama Helena setuju saat Alvino mengatakan bahwa suaminya akan dimakamkan di negara tersebut.
__ADS_1
Mama yang duduk di kursi belakang dari Lalisa dan Helena, menangis saat pesawat mulai mengudara. Dia menangis karena harus berpisah dengan mendiang suaminya.
Beberapa bulan kemudian....
💜💜💜
Setiap kali aku memikirkan mu..
(Every time I think of you)
Saya mendapatkan tembakan tepat melalui cahaya...
(I get a shot right through)
Menjadi kilatan biru..
(Into a bolt of blue)
Itu bukan masalah saya
(It's no problem of mine)
Tapi itu masalah yang saya temukan
(But it's a problem I find)
Menjalani hidup yang tidak bisa saya tinggalkan
(Living the life that I can't leave behind)
Tidak ada gunanya memberitahuku
(There's no sense in telling me)
Kebijaksanaan orang bodoh tidak akan membebaskanmu,
(The wisdom of a fool won't set you free)
(But that's the way that it goes)
Dan itu tidak ada yang tahu..
(And it's what nobody knows)
Dan setiap hari kebingungan saya bertambah
(And every day my confusion grows)
Setiap kali aku melihatmu jatuh
(Every time I see you falling)
Saya berlutut dan berdoa
(I get down on my knees and pray)
Saya menunggu saat terakhir..
(I'm waiting for the final moment)
Anda mengucapkan kata-kata yang tidak bisa saya ucapkan
(You say the words that I can't say)
Saya merasa baik-baik saja dan saya merasa baik
(I feel fine and I feel good)
Saya merasa tidak seharusnya
__ADS_1
(I feel like I never should)
Setiap kali saya mendapatkan cara ini
(Whenever I get this way)
Aku hanya tidak tahu harus berkata apa
(I just don't know what to say)
Mengapa kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri seperti kemarin
(Why can't we be ourselves like we were yesterday)
Saya tidak yakin apa artinya ini
(I'm not sure what this could mean)
Saya tidak berpikir Anda seperti yang terlihat
(I don't think you're what you seem)
Saya mengakui pada diri saya sendiri
(I do admit to myself)
Bahwa jika aku menyakiti orang lain
(That if I hurt someone else)
Maka saya tidak akan pernah melihat seperti apa kita seharusnya
(Then I'll never see just what we're meant to be)
Setiap kali aku melihatmu jatuh
(Every time I see you falling)
Saya berlutut dan berdoa
(I get down on my knees and pray)
Saya menunggu saat terakhir
(I'm waiting for the final moment)
Anda akan mengatakan kata-kata yang tidak bisa saya ucapkan
(You'll say the words that I can't say)
Setiap kali aku melihatmu jatuh
(Every time I see you falling)
Aku akan berlutut dan berdoa
(I'll get down on my knees and pray)
Saya menunggu saat terakhir
(I'm waiting for the final moment)
Anda akan mengatakan kata-kata yang tidak bisa saya ucapkan..
(You'll say the words that I can't say)
Lalisa meletakkan bayi perempuan yang berusia sekitar 40 hari, disamping tubuh Helena yang sudah terbaring koma selama 2 bulan.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...