MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 33 : Aku lebih pantas


__ADS_3

"Helena?" Pekik Alvino.


Alvino tidak mengerti kenapa bisa-bisanya Helena datang kemari padahal Alvino sudah meninggalkan pesan agar Helena menunggu hingga dia kembali.


"Orang ketiga dinilai sebagai sosok pengganggu hubungan sehingga membuat keharmonisan pasangan menjadi retak. Aku tidak sabar ingin melihat keretakan rumah tanggamu dengan Husna." Sindir Elvio.


Alvino langsung memberikan tatapan tajam kepada adiknya itu. Hingga Helena yang langsung memeluk begitu dia sampai pada Alvino.


"Helena, kenapa kamu datang ke sini?" Pekik Alvino sambil melepaskan pelukannya.


"Al, Aku adalah istri kamu. Kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja, bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama-sama. Jadi, walaupun kamu pergi untuk menjemput Husna dan akan kembali kepadaku. Tetap saja, aku harus selalu berada di sampingmu."


"Helena..."


"Alvino, aku tahu bahwa seluruh keluargamu tidak menyukai aku dan mereka sebenarnya tidak merestui bahwa sekarang aku menjadi istri kamu. Karena itu aku memutuskan untuk menyusul kamu ke sini karena aku tidak ingin keluargamu meracuni pikiranmu."


"Wah wah, rupanya orang ketiga ini mempunyai nyali yang cukup besar rupanya. Dia lupa siapa dia sebelum ini." Sindir Elvio.


"Lihat kan, bahkan adikmu saja tidak menunjukkan rasa hormatnya kepadaku. Aku ini kan juga kakak iparnya."


"Aku hanya mengenal Husna sebagai kakak iparku."


"Alvino, lihat saja bagaimana tidak sopannya Adik kamu ini kepadaku. Aku jadi semakin yakin jika aku tidak menyusumu ke sini kamu pasti sudah diracuni oleh kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang adik kepada kakaknya."


"Helena cukup. Kenapa akhir-akhir ini kamu bersikap berlebihan?"


"Al, Aku begini karena aku ingin mempertahankan posisiku sebagai istri kamu. Aku sedang memperjuangkan diriku agar aku diakui sebagai istri kamu di mata keluarga ini."


"Cih, tidak akan ada yang bisa menandingi citra istri pertama dibandingkan dengan istri kedua." Ucap Elvio.


"Cukup El, jangan memperkeruh suasana."


"Kenapa?, aku hanya berkata jujur dan menyampaikan apa yang selalu mengajal di hatiku." Ucap Elvio.


"Alvino sebaiknya kita segera pulang karena aku tidak ingin berada di sini terlalu lama."


"Helena, Aku tidak bisa pulang tanpa Husna."

__ADS_1


"Biarkan saja dia ada disini. Bukankah memang Husna adalah anak emas dari keluarga ini. Aku yakin setelah Husna mendengar bahwa aku dan kamu sudah pulang dari honeymoon dia akan pulang dengan sendirinya." Pekik Helena.


"Helena, kamu tidak bisa seperti itu. Husna adalah istri pertamaku dan seharusnya kamu menghargai wanita yang menjadi istri pertamaku." Ucap Alvino.


"Iya, Husna memang berstatus sebagai istri pertama kamu. Tapi jangan lupakan bahwa aku adalah cinta pertama kamu Dan sampai detik ini akulah yang paling kamu cintai."


"Helena..."


"Aku berkata kenyataan. Aku tahu bahwa selama ini cinta yang kamu berikan kepada Husna adalah cinta karena dia menjadi istri kamu."


"Helena..."


"Ada apa ini?" Ketus mama saat dia mendengar suara berisik dari dalam kamar.


"Wanita ini datang untuk menjemput suaminya pergi dan dia tidak ingin suaminya terlalu lama berada di sini, karena takut kita semua akan meracuni pikiran bang Alvino yang menjadi suami dari wanita ini." Pekik Elvio.


"Elvio, apa wanita itu tidak sadar juga jika istrinya bukan hanya dia saja. Masih ada istri lain yang seharusnya menjadi prioritas, karena Istri itu sekarang sedang mengandung anak dari lelaki yang menjadi suaminya juga."


Husna yang kebetulan ada di sana memilih untuk diam dan tidak ingin larut dalam perdebatan yang terjadi antara suami, madu, dan juga anggota keluarga yang lain.


"Maaf ya nyonya Besar, asal anda tahu saja jika wanita yang sangat dicintai oleh anak Anda adalah saya. Dan saya tentu saja harus menjaga cinta itu untuk tetap bersemi."


"Cukup Helena." Ketus Husna dengan suara keras, membuat semua yang ada di sana terkejut terutama Alvino.


Bagaimana tidak, wanita yang biasanya selalu bisa menahan amarah dan emosinya. Kini, sedang berkata dengan suara lantang.


"Ku kira kita itu sama-sama wanita. Kita bisa memahami perasaan satu sama lain. Tapi aku lupa, kamu kan tak punya perasaan." Ucap Husna yang membuat Helena tersentil.


Namun, bukan Helena namanya jika dia mudah kalah dan mengalah.


"Husna, bilang saja kamu iri padaku karena aku bebas mengekspresikan bagaimana aku berpenampilan saat aku berada di depan suamiku, atau bagaimana gayaku saat aku sedang kencan berdua dengannya."


"Aku juga tahu jika sebenarnya kamu iri kan karena ternyata Alvino lebih menuruti keinginanku dan memberiku hadiah-hadiah mewah seperti kalung gelang dan perhiasan yang sedang aku kenakan."


"Nggak ada sedikitpun iri di hati melihat barang blink-blink mewah menempel di tubuhmu. Karena aku tahu, itu modalnya penuh kelaknatan."


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Helena, kamu boleh mengatakan bahwa semua perhiasan yang menempel di tubuhmu adalah pemberian maz Alvino. Tapi andai saja kamu mengetahui bahwa seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh mas Alvino, aku mengetahuinya karena memang kita sudah berkomitmen untuk tidak menutup apapun."


Helena menatap Alvino.


"Aku juga tahu berapa dana yang sudah kamu habiskan untuk bulan madu itu." Ucap Husna.


"Baiklah, tapi kamu harus perlu ingat satu hal bahwa, saat aku mengatakan aku yang lebih pantas. Itu benar adanya. Alvino pernah berjanji akan menjadikan aku wanita satu-satunya di dalam hidup dan kami sudah berjanji untuk akan setia selamanya ketika kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri." Ucap Helena.


"Sadarlah, semua impian dan janji manis itu semu. Segala yang dia tawarkan padamu juga pernah diberikan kepada pasangannya saat ini." Ucap Husna.


"Helena, Aku harap kamu akan mulai memperbaiki sikap dari hari ini. Ingat batasanmu dan sadalah siapa kamu sebenarnya. Untuk seseorang yang lain, ingatlah selalu bahwa berpoligami tidaklah mudah. Harus ada komitmen di dalamnya agar kita semua mendapatkan keberkahan dari ikatan pernikahan." Ucap Husna.


"Alam akan menyeleksi siapa yang benar-benar tulus dengan menjauhkan pengkhianat, dan karma akan mendatangi siapa pengkhianatnya." Ucap Husna.


"Husna, aku tahu kenapa sekarang kamu jadi lebih sok dan merasa berkuasa atas Alvino. Itu karena kamu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga ini. Lihat saja, aku pasti akan memenangkan hati Alvino. Aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu." Ucap Helena yang membuat geram mama dan juga Elvio.


"Kenapa kamu masih tidak sadar? Kau tak akan mendapatkan apapun ketika merebutnya dari orang lain."


"Husna, ingatlah bahwa aku tidak merebut Alvino dari siapapun. Kau sendiri yang mengundangku untuk masuk ke dalam rumah tanggamu dan Alvino. Jadi jika harus ada yang disalahkan, itu adalah kamu."


"Aku tidak akan pernah mengundang kamu masuk jika saja kamu bisa menerima kenyataan bahwa Alvino bukanlah takdirmu."


"Aku tidak akan merelakan hati ini dimadu, aku tidak akan rela suamiku berbagi cinta dengan wanita lain. Jika saja kamu mau membuka hati dan memulai lembaran baru yang dinamakan pernikahan."


"Suamiku tidak akan datang padamu jika saja kamu mau mencoba untuk menerima seseorang yang saat itu sudah menjadi suami kamu."


"Suamiku juga tidak akan datang jika adik kamu tidak memohon-mohon kepadanya agar dia datang untuk melihat keadaanmu."


Deg !!


Helena melihat ke arah Alvino karena memang dia tidak mengetahui perihal ini.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2