MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 44 : POV Alvino


__ADS_3

Aku tahu berat untuk memutuskan sesuatu yang sangat besar. Aku pulang setelah mendengar kabar bahwa kondisi Papa kian memburuk di setiap harinya.


Siapa yang menduga jika Papa meminta aku untuk menikahi orang yang sudah merawat Papa sejak beberapa tahun terakhir.


Namanya Husna.


Saat Papa mengatakan bahwa dia ingin sekali melihatku dan Husna menikah, Tentu saja aku langsung protes mengingat aku sudah memiliki tambatan hati. Dia juga bersedia memeluk agama Islam ketika kami sudah sama-sama siap untuk mengarungi kehidupannya dinamakan rumah tangga.


Sayang, semuanya harus berakhir tak kala percakapan yang terjadi antara aku dan Papa, yang berujung pada keputusanku untuk meminang Husna.


Malam setelah pesta pernikahan kami yang digelar cukup sederhana, aku menghubungi Helena dan menceritakan tentang apa yang sudah terjadi dan memutuskan hubungan yang sebenarnya memang belum benar-benar terjalin diantara kami.


Hari demi hari, Aku yang merasa bahwa aku mulai terbiasa dengan kehadiran Husna dan mulai bisa melupakan Helena. Harus menelan kekecewaan saat aku mendapatkan berita tentang Helena.


Hari berikutnya, aku semakin tidak bisa fokus pada kehidupanku, mengingat kabar yang aku dengar tentang Helena semakin harinya semakin memburuk.


Aku ingin berterus terang kepada Husna, hanya saja aku tidak mampu. Itulah sebenarnya letak kesalahanku.


Dengan penuh percaya diri aku berbohong kepada Husna dengan mengatakan aku harus kembali untuk menyelesaikan studi akhirku. Padahal saat itu aku pergi untuk menemui Helena.


Bak pepatah yang mengatakan, sepandai-pandai nya tupai melompat pasti akan jatuh juga.


Husna menemukan surat-surat yang dikirimkan oleh Adik Helena dan langsung menghubungi.


Aku kemudian membawa Helena atas permintaan Husna. Itu membuat cinta yang coba untuk aku kubur dalam-dalam menjadi kembali bersemi ketika aku selalu bertemu dengan Helena.


Kejadian di mana Helena sengaja menjatuhkan diri dari lantai 2, menjadi awal mula keputusan Husna untuk mengizinkan aku menikahi Helena.


Aku bersama sangat bahagia, Karena tanpa kusadari semesta membuat aku dan Helena bersatu dalam ikatan yang paling aku impikan selama ini.


Namun kemudian, Aku merasa bahwa aku tidak bisa bersikap adil kepada Husna. Aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama Helena.


Ditambah, sikap Helena yang berbanding terbalik dan aku merasa sangat jauh berbeda ketika kami bersama dulu. Membuat cinta yang awalnya menggebu-gebu kini hilang entah kemana.


Aku sungguh kecewa terhadap Helena, terutama saat dia menyita ponselku ketika kita sedang berada di Bali.


Helena bahkan menciptakan suasana panas di dalam keluargaku yang juga melibatkan Husna. Aku semakin merasa bersalah kepada Husna.

__ADS_1


Ada desiran tidak biasa yang aku rasakan ketika aku bersama dengan Husna.


Aku sering mengungkapkan perasaanku kepadanya saat dia terlelap setelah melakukan salat tahajud bersama dengan ku.


Seperti malam ini, setelah satu pekan Husna tidak mau ditemani oleh siapapun selain Mama setelah insiden yang membuat calon bayi kami hilang. Husna dengan penuh cinta meminta aku untuk menghabiskan malam dengannya.


Malam itu, kami habiskan untuk melakukan salat bersama dan membacakan ayat-ayat suci Alquran.


Aku membawa Husna ke dalam pelukanku, dan siapa sangka pelukan hangat dariku membuat Husna begitu cepat terlelap.


"Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena ku tahu ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku." Ucapkku setelah aku memindahkan Husna dan meletakkannya di tempat tidur.


Aku terus memandangi wajah wanita yang sudah menjadi istriku dengan segala kelembutan dan kesabaran.


"Istriku yang soleha, jika aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan, maka aku hanya ingin menjadi seseorang yang kau cintai."


"Hari ini, kemarin, dan seterusnya, aku akan selalu bahagia dan berterima kasih kepadamu. Kamu adalah sumber kebahagiaanku."


Ya, bisa dibilang aku adalah pria penakut karena aku tidak berani mengungkapkan perasaan ini secara langsung kepada nya.


Entahlah, dengan sikapku yang masih belum bisa adil kepada Husna membuat aku tidak bisa menyatakan perasaanku.


Helena berhasil meyakinkan aku bahwa kedatangannya kali ini bukan untuk mencari masalah, melainkan ingin memberi semangat dan dukungan kepada Husna yang baru saja kehilangan calon bayinya. Bayi kami.


Setelah beberapa hari aku melihat kedekatan Helena dan Husna, Aku kemudian mempercayakan mereka berdua untuk berada di mansion.


Ada pekerjaan yang mengharuskan aku untuk datang ke kantor dan menyelesaikannya sendiri.


Tidak lupa aku memastikan jika Mama dan kakakku masih akan kembali dalam beberapa hari ke depan.


Aku tidak mau Mama dan kakakku salah paham saat mereka mengetahui jika Helena ada dan tinggal di mansion.


Entah kenapa, setelah aku menyelesaikan masalah di dalam perusahaanku. Aku ingin sekali pulang ke rumah karena aku mendapat firasat yang tidak enak mengenai rumahku.


Tepatnya, rumah ku dan Husna. mengingat rumah itu adalah hadiah pernikahan kami dari orang tuaku.


Benar saja, aku sangat terkejut saat memasuki rumah dan melihat kondisi rumah sangat berantakan.

__ADS_1


Aku langsung naik ke lantai atas dan memeriksa ruang kerja. Aku duduk dengan lemas dan mulai memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada rumah ini.


"Tidak mungkin jika maling yang sudah merampok dan porak-porandakan rumah ini. Rumah tampak rapi dari luar bahkan tidak ada pintu ataupun jendela yang rusak."


Aku mulai keluar dari ruangan dan memeriksa platfom rumah.


"Semuanya baik dan tidak ada yang rusak. Jadi kira-kira dari mana maling itu masuk?"


Aku mulai memeriksa setiap ruangan yang ada di rumahku, anehnya kenapa hanya kamar Husna dan kamarku yang masih rapi. Sementara ruang tamu dapur dan juga ruang tengah sudah berantakan.


"Ini benar-benar tidak bisa diterima oleh akal sehat ku."


Pandangan ku kemudian setuju pada lemari pakaian Helena. Tepatnya koper yang sebelumnya dalam posisi berdiri, kini koper itu dalam posisi roboh.


Seperti ada dorongan dan bisikan agar aku mengambil koper itu. aku pun melakukannya dan betapa terkejutnya aku saat melihat uang yang ada di brankas ini berpindah ada di dalam koper itu.


"Helena, tidak mungkin dia yang berada di balik kekacauan ini."


Aku terdiam kemudian muncullah ide untuk mencari tahu apakah Helena yang melakukan ini atau tidak.


Aku menelpon sekretarisku dan meminta nya untuk mencarikan orang yang bisa membersihkan rumahku dalam waktu singkat.


Aku meletakkan kembali uang yang ada di dalam koper itu ke dalam brankas dan membuat posisi koper seperti semula.


Aku tersenyum dan bersiap kembali ke mansion setelah rumahku sudah rapi seperti sebelumnya.


"Helena, aku sebenarnya tidak ingin mencurigaimu. Hanya saja, tingkah lakumu yang tiba-tiba menjadi lembut membuatku terpaksa harus menaruh curiga kepadamu."


"Semoga saja sikapmu memang benar-benar berubah dan apa yang terjadi di rumah ini murni karena maling."


Saat mobil hampir memasuki halaman mansion. Aku melihat Helena sedang berbicara dengan seorang pria.


"Siapa itu?"


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2