
Kondisi Helena semakin memperhatikan paska operasi. Hal itu membuat kedua orang tua Helena merasa sedih.
Tak bisa dipungkiri, kesehatan merupakan suatu hal yang berharga. Tak heran banyak orang sangat menjaga tubuhnya agar tetap sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit. Namun, meskipun sudah berupaya menjaga kesehatan semaksimal setiap orang pasti pernah merasakan sakit.
Rasa sedih yang dialami oleh dua orang tua Helena, lebih sedih dibandingkan ketika Helena jatuh sakit setelah mengalami trauma yang terjadi di malam pernikahannya.
Ya, orang tua mana yang tidak sedih saat melihat kondisi buah hatinya yang semakin menurun karena kanker.
Untung saja ada Husna yang selalu memberikan dukungan kepada kedua orang tua Helena, agar mereka terus memiliki pengharapan terhadap kesembuhan Helena.
Ini sudah satu minggu lebih Helena mengalami koma setelah melakukan operasi.
Husna, Alvino dan kedua orang tua Helena bergantian menjaga Helena.
"Orang-orang sudah menunggumu pulang. Suasana di rumah sakit pasti membuatmu lelah, jadi cepatlah sembuh," ucap Alvino.
"Pa, Bagaimana jika Tuhan tidak memberikan Helena kesempatan kedua untuk memperbaiki diri?" Lirih Ibu Helena dalam pelukan suaminya.
"Percayalah bahwa setiap penyakit selalu ada obatnya. Ibu dan ayah hanya perlu berpikir positif dan bangkit dari keputusasaan," ucap Husna sambil tersenyum karena kebetulan Husna juga duduk di samping mereka.
"Aku yakin Helena baik-baik saja. Segeralah pulih, aku tak sabar ingin membawa nya kembali pulang," ucap Ibu Helena lagi.
"Pulang?" Husna mengerutkan dahinya sambil memandang ke arah orang tua Helena secara bergantian.
"Nak, kami tahu Helena selalu membuat segalanya menjadi kacau. Itu mungkin adalah kesalahan kami karena kami tidak mendidik Helena dengan benar. Kami sudah memutuskan jika Helena diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan, kami akan membawanya pulang dan memastikan dia kembali dengan pribadi yang baru."
"Mungkin hal ini bisa kita bicarakan nanti setelah Helena sehat."
"Nak, kami merasa malu setiap kali kami berbicara denganmu. Tutur kata kamu yang lembut dan sopan menjadi belati yang seakan-akan menusuk ke dalam hati kami."
"Maafkan Husna jika dalam bertutur kata ada yang menyakiti atau membuat kalian tersinggung," ucap Husna sambil menunduk.
"Tidak nak, justru perkataanmu membuat kami tersadar bahwa kami telah memanjakan anak kami, terutama Helena. sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang sangat egois dan ingin selalu mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Mungkin ini adalah cara Tuhan membersihkan dosa-dosa nya. Sabarlah sebentar lagi, Helena akan segera sembuh," ucap Husna sambil tersenyum.
"Sudah malam, Bagaimana jika Husna mengantar kalian ke kamar untuk beristirahat? malam ini biarkan aku dan Mas Alvino yang menjaga Helena."
Husna tersenyum kemudian mengantarkan kedua orang tua Helena beristirahat setelah mereka menyetujui usul yang diberikan Husna.
__ADS_1
Setelah memastikan kedua orang tua Helena beristirahat di dalam kamar, Husna segera berjalan menuju ruangan Helena dan menemani Alvino.
Ceklek...
Husna membuka pintu dengan perlahan karena takut Alvino sedang tertidur.
"Apa yang kau rasakan sekarang? Aku benar-benar tak bisa melihatmu sakit. Cepatlah sembuh."
Husna menghentikan langkahnya yang akan memasuki ruangan saat mendengar suara Alvino.
"Aku tahu hari ini memang bukanlah yang terbaik untukmu, karena kamu harus menelan obat dan berbaring lemah. Itulah yang aku pikiran dan khawatirkan tentang dirimu dan keadaanmu, dan aku hanya bisa berharap supaya kamu lebih cepat pulih."
"Hati ini memang bereaksi dengan baik, apalagi ketika melihat dirimu sedih dan terbaring lemah. Sekarang aku hanya bisa berharap dan berdoa akan kesembuhan dan kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia, maka aku pun juga ikut bahagia, makanya sembuh dulu dari sakit. Aku berjanji akan membuat kamu bahagia lebih dari yang kamu inginkan."
Mas, kenapa kamu menjanjikan sesuatu yang mungkin akan kamu sesali jika kamu tidak dapat menepatinya.
Kamu juga menjanjikan hal yang sama terhadapku, apa kamu akan benar-benar bisa menepati janji yang kamu ucapkan kepada ku dan Helena?
...----------------...
Selvia sedikit terkejut karena saat dia melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan jika ada sesuatu yang terjadi pada bayinya sehingga menghabiskan bayinya dikeluarkan.
Selvia menatap ke arah Ernesto, Ernesto memegang tangan Selvia.
"Tapi usianya baru 37 minggu?" ucap Selvia.
"Tidak apa apa bu, kondisi janin yang sehat juga beratnya sudah 3 kilo."
"Sayang, Bukankah kamu juga ingin yang terbaik bagi calon anak kita yang pertama, lebih baik kita turuti saja apa yang dokter itu katakan."
"Bagaimana jika kita pindah ke lain dokter?" bisik Selvia. Pasalnya dokter yang selama ini memeriksa kandungannya tidak pernah mengatakan hal yang mengerikan seperti dokter ini.
"Selvia, Aku tidak ingin mengambil resiko dengan kehilangan bayi kita atau membahayakan keselamatan mu."
Selvia akhirnya hanya bisa pasrah saat Ernesto menandatangani surat persetujuan melakukan operasi.
Dua jam kemudian...
Selvia terbangun dan dia heran melihat Ernesto terduduk dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Ernesto, dimana bayi kita?"
"Selvia, kamu tahu baik kita sama tampan. Dia seperti kamu, mata dan hidungnya mirip sekali dengan mu."
"Benarkah? lalu di mana bayi kita sekarang?"
"Bayi kita tidak selamat."
"Ernesto!"
"Bayi kita selalu banyak meminum air ketuban. Dokter sudah berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa bayi kita. Tapi Tuhan lebih menyayanginya."
"Tidak..."
Selvia syok, dia menangis sambil berusaha melepas jarum infus yang berada di tangannya. Ernesto langsung memeluk Selvia dan berusaha menenangkannya.
"Ernesto, bayi kita.."
"Tidak apa apa. Mungkin ini adalah ujian dalam pernikahan kita."
"Takdir Ilahi tak ada yang bisa menepis dan menggugatnya, sebab semua itu merupakan hak prerogatif dari Sang Khalik. Kematian dan kehidupan adalah murni ketetapanNya, karena itu sebagai manusia biasa, kita diminta untuk bertawakal dan tidak menyerah dalam memohon petunjuk padaNya."
Selvia terus terdiam setelah kehilangan bayinya. Sebenarnya Ernesto merasa bersalah, Tapi demi mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik setelah bangkrutnya keluarga. Ernesto harus rela kehilangan anak pertama mereka.
Ernesto mendatangi kedua orang tua Selvia dan meminta kedua orang tua Selvia untuk datang dan menghiburnya.
Ernesto yang sudah kembali memiliki kekayaan, tentu saja membuat kedua orang tua Selvia datang ke rumah sakit untuk menghibur putrinya.
"Kehilangan seseorang untuk selamanya memang menjadi sebuah hal yang sangat menyedihkan dan terpukul. Bagaimana tidak, mereka yang selalu ada di kehidupan kita akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Tentu bayang-bayang rindu akan menyelimuti kita yang masih merasa sedih karena kehilangan seseorang. Tapi kamu harus ingat jika hidup harus tetap berjalan. Percaya lah akan ada hikmah dibalik kejadian ini."
Selvia memeluk sang Mama dan menangis. Sementara itu, Ernesto mendatangi saudagar untuk meminta separuh dari harga yang sudah dijanjikan.
Ernesto pulang dengan senyum mengambang setelah dia menerima satu koper ukuran besar yang penuh berisi uang.
"Akhirnya, aku menjadi kaya raya. Tidak aku sangka, aku akan memiliki kekayaan dua kali lipat dari yang berarti miliki oleh kedua orang tuaku."
Ernesto merasa sangat bahagia, sehingga dia tidak memikirkan tentang kesedihan seorang ibu yang baru saja kehilangan bayinya.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...