MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 83 : Teringat


__ADS_3

"Perpisahan hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka, karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan."


Alvino teringat akan perkataan Husna yang membuatnya mengerti bahwa segala sesuatu yang sudah berlalu tidak akan mudah untuk dicapai lagi.


Alvino yang berada di rumahnya sendiri memilih untuk menghabiskan malam di balkon rumahnya dengan membaca buku catatan yang ditinggalkan Husna.


...Perpisahan...


...Aku belajar dari sang rembulan...


...Yang selalu setia menyinari langit malam dengan cahayanya...


...Walau awan menyapa kelam...


...Walau bintang terlihat suram...


...Seperti aku yang mencintaimu dari balik kegelapan...


...Menjagamu di balik bayangan...


...Tersembunyi, tanpa pernah kau tau...


...Aku akan tetap menjagamu dalam bentangan sayapku...


...Ku maknai arti cinta dalam renungan...


...Cinta bagiku adalah ketulusan...


...Mengihlaskan saat cintamu bukan lagi milikku...


...Dan melepaskanmu, saat kau tak lagi bahagia bersamaku....


Luka dan Air Mata


Perpisahan


Sebuah kata yang mengandung makna kesedihan


Selalu ada kecewa


Selalu ada air mata


Dan pasti ada hati yang terluka


Perpisahan memang menyakitkan


Saat kita terlalu larut akan kesedihan


Namun, dari perpisahan itulah kita belajar arti sebuah kehilangan


Dan belajar untuk menghargai apa yang telah kita miliki.

__ADS_1


Waktu...


Waktu berjalan cepat


Bagai daun ditiup angin


Raib di telan hilang


Waktu...


Sudah terlalu lama kita beku terpaku


Pucat di bawah kebersamaan


Kebersamaan yang perlahan hilang


"Aku benar-benar laki-laki yang bodoh karena aku terlalu mengutamakan orang yang menjadi obsesiku selama hidup. Aku terlalu obsesi menjadikan wanita yang aku cintai dan aku impikan bisa menjadi pendamping hidupku, sehingga sekarang aku kehilangan orang yang benar-benar sangat berharga dalam hidup."


"Akankah aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dan Husna?"


...----------------...


Beberapa minggu berlalu..


Alvino sudah kembali pada aktivitas seperti biasanya dan sesekali mengunjungi bayi perempuan yang masih belum bisa diakui sebagai putrinya.


Sementara Elvio mulai frustasi karena dia tidak bisa menemukan keberadaan Husna.


Elvio memutuskan untuk berada di sisi Melia yang sedang sedih karena dia tidak bisa membatalkan pernikahannya.


Melia tidak henti-hentinya menangis dan menyesali takdir buruk yang terjadi padanya.


"Aku akan menikah nya."


"Romi?"


Semua orang terkejut karena di dalam Mansion Winata tiba-tiba muncul seorang pria yang seumuran dengan Elvio dan langsung memberikan solusi atas permusyawarahan yang sedang keluarga melia dan keluarga Alvino bicarakan.


Melia terkejut karena melihat Romi, sahabat masa kecilnya tiba-tiba ada di sana setelah sekian tahun mereka berpisah.


"Bunda, izinkan aku untuk menggantikan pengantin pria menikahi Melia."


Romi langsung bersujud di hadapan ibunda Melia dan meminta restunya. Semua orang merasa bahagia karena di saat saat genting pertolongan datang dan memecahkan semuanya.


Pernikahan Melia dan Romi akan segera digelar sesuai jadwal yang sudah diatur sebelumnya. Elvio akhirnya bisa bernafas dengan lega dan dia mulai bisa mencari keberadaan Husna.


Di rumah sakit...


Husna baru saja selesai memberikan ASI kepada kedua bayinya. Para perawat rumah sakit menyebut Anisa dan Alisa benar-benar seperti bayi kembar.


"Alhamdulillah, ternyata jika dilihat-lihat kalian memang sangat mirip. Sayang sekali, sebentar lagi Alisa harus pergi dan berpisah dengan Anisa," ucap Husna yang mengetahui bahwa sebentar lagi Alisa akan dibawa pulang oleh keluarganya karena memang kesehatannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu orang tua mana yang tegakan melakukan tes DNA terhadap kamu. Apa mungkin kamu adalah bayi yang tidak diharapkan sehingga Ayah kamu bersikuku ingin melakukan tes DNA?" lirih Husna.


"Kabar kabar yang sedang beredar di di bagian tes DNA, menyebutkan jika bapak dari bayi ini tidak mengetahui jika istrinya hamil," ucap Salsabila.


"Benarkah?"


"Ya, katanya sih si Ayah baru menerima bayi ini beberapa bulan lalu. Saat sang ayah pergi untuk mencari keberadaan sang ibu, sang ayah harus menelan kekecewaan karena ternyata sang Ibu meninggal dunia. Itulah yang membuat sang ayah ingin melakukan tes DNA untuk mengetahui apakah benar bayi ini adalah miliknya atau bukan."


"Untuk apa?"


"Katanya sih jika bayi ini bukan miliknya akan dikembalikan kepada keluarga Ibu bayi ini agak dirawat oleh mereka."


"Kasian sekali, bayi sekecil ini harus merasakan penderitaan karena seolah-olah tidak ada orang yang menginginkannya. Aku tersedia merawatnya jika memang tidak ada orang yang mau merawatnya. Lagipula semua perawat yang ada di sini mengatakan bahwa bayi ini mirip dengan bayiku. Bukankah akan lucu Jika ternyata aku memiliki bayi kembar?" ucap Husna sambil tersenyum.


"Ya, sayangnya bayi ini harus segera diserahkan kepada keluarganya karena hasil tes DNA akan keluar hari ini."


"Apa dia akan pergi hari ini juga?"


"Yup.."


"Yah, Anisa pasti akan sedih jika berpisah dengan saudaranya."


Husna tersenyum kemudian mengambil Alisha yang baru saja tertidur untuk diserahkan kepada Salsabila.


Salsabila akan melakukan pemeriksaan terakhir dan memastikan kondisi Alisa benar-benar sehat sebelum dibawa pulang oleh keluarganya.


Alvino bersama dengan Mama dan Alviana, mendatangi rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA.


Dengan penuh ketegangan, ketiganya menunggu dokter membacakan hasil tes tersebut. Hasilnya mengatakan bahwa 99% hasilnya sama. Bayi itu milik Alvino.


"Padahal Mama sangat berharap bahwa hasilnya tidak akan sama dan itu bukan bagi Alvino," lirih Mama.


"Ma, yang membuat Mama sakit hati adalah ibunya. Sangat tidak cocok untuk kepribadian Mama yang sangat menyayangi seorang anak kecil, jika harus ikut membenci bayi yang tidak berdosa itu." Alviana tersenyum dan mengingatkan mama bahwa seperti apapun perilaku orang tuanya, kita tidak boleh menghakimi ataupun mendoakan hal buruk terhadap bayi yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan.


Mama menghela nafas panjang kemudian mengusap lembut bahu Alvino.


"Kamu harus segera mencari Ibu susu untuk bayi kamu, atau kamu bisa meminta perawat yang sekarang menjadi Ibu susu dari bayi kamu untuk tinggal bersama di rumah. Menjadi perawat pribadi...."


Mama tidak meluruskan kata-katanya karena dia teringat tentang Husna. Alviana yang mengetahui itu segera memegang tangan sang Mama seolah-olah memberinya kekuatan.


"Jika memang ibu dan bapak ingin bertemu dengan perawat yang selama ini menjadi Ibu susu dari bayi Alisa, saya bisa memanggilnya ke sini," ucap Dokter Fia.


"Bisakah?" tanya mama dengan tatapan tidak percaya.


"Tentu saja, beliau adalah perawat yang terkenal sangat ramah dan lemah lembut di rumah sakit ini." Ucap dokter via sambil melakukan panggilan telepon.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan semuanya terkejut saat melihat yang masuk adalah..


"Husna?"


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2