MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 32 : Kekecewaan Mama


__ADS_3

"Mau apa kamu datang ke sini?" Ketus Mama yang datang dan menghampiri Alvino.


"Mama..." Pekik Alvino.


Alvino berjalan menghampiri sama mama dan berniat untuk menyalaminya. Namun, sang Mama yang sepertinya kecewa dengan Alvino, memilih untuk mengalihkan pandangan lain dan menyembunyikan tangan.


"Alvino datang untuk menjemput Husna."


"Husna tidak akan pergi ke mana-mana, dia akan tinggal bersama dengan Mama sampai dia melahirkan."


"Ma..." Pekik Alvino.


"Mama tidak akan membiarkan kejadian kemarin terulang lagi, hanya karena kamu lebih memperhatikan istri baru kamu daripada Husna."


"Ma, Alvino minta maaf karena saat itu Alvino tidak sempat untuk meminta izin mama. Sungguh, Alvino sangat sibuk di kantor hingga tidak menyadari bahwa hari di mana Alvino akan pergi bersama dengan Helena tiba."


"Alasan saja. Kamu punya ponsel, setidaknya kamu bisa kan menelpon mama agar Mama menjemput Husna. Coba bayangkan jika saat itu tidak ada adik kamu?"


"Mama tahu, dari awal kamu tidak pernah menyetujui permintaan dari Papa untuk menikahi Husna. Mama juga tahu bahwa kamu terpaksa melakukan ini hanya demi melihat kesembuhan Papa. Tapi, bukan berarti kamu akan memperlakukan Husna seenak dengkulmu itu."


Alvino terdiam, dia menghela nafas panjang sambil terus tertunduk.


"Maafkan Alvino ma, Alvino berjanji akan memperbaiki keadaan dia lebih memperhatikan Husna."


"Mama tidak butuh janji kamu." Ketus Mama.


"Husna, kamu harus banyak istirahat. Ayo mama menemani kamu beristirahat." Ucap mama pada Husna.


"Tapi mas Alvino..."


"Sudah biarkan saja dia."


Mama langsung menarik tangan Husna dan meninggalkan Alvino.


Alvino hanya bisa memandang kepergian Mama yang membawa paksa Husna.


Husna terus menatap ke arah Alvino. Hingga pandangan mereka terhalang oleh tembok besar.


"Mama, kenapa Mama bersikap seperti itu kepada putra Mama sendiri?" Ucap Husna saat mereka sudah tiba di dalam kamar.


"Mama kecewa, mama marah. Mama tahu Alvino tidak sungguh-sungguh mencintai kamu. Dia hanya mencintai dan menghormati kamu karena kamu adalah istrinya. Tapi, dia tidak boleh mempermainkan kamu. Hanya karena kamu mengizinkan dia untuk menikahi pacarnya itu, dia jadi mengesampingkan dirimu dan lebih memperhatikan dia."


"Mama. Marah adalah emosi yang manusiawi, namun terus-terusan marah dan tak bisa mengendalikannya bisa memunculkan persoalan yang baru. Kemarahan seseorang bisa menyakiti orang-orang yang mereka sayangi. Terkadang seseorang akan berakhir menyesal setelah marah besar."

__ADS_1


Mama terdiam, dia melihat Husna yang tersenyum sambil memegang tangan nya.


"Ada berbagai hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kemarahan yang meledak-ledak maupun cara mencegah kemarahan dan memberi waktu untuk diri sendiri. Hal tersebut dengan kembali memikirkannya dengan hati-hati dan pelan-pelan, apa saja konsekuensi atas kemarahan yang nanti dilakukan."


Mama terlihat bakalan nafas panjang..


"Husna, kamu itu adalah gadis yang baik. Mama tidak bisa untuk tidak marah pada seseorang yang menyakiti hati kamu. Walaupun itu adalah anak mama sendiri."


"Helena apalagi. Mama langsung emosi hanya dengan mendengar namanya saja. Bahkan setelah pernikahan saja Helena tidak datang ke sini untuk meminta Restu mama. Dia sama seperti tidak menghargai Mama sama sekali."


"Jangan mudah terpancing emosi oleh orang lain. Ketika ada seseorang yang ingin memancing emosim, sebaiknya berilah senyuman kepadanya".


"Tak peduli dia akan membalas senyummu atau tidak, yang terpenting ialah hal ini menunjukkan kalau mama tidak terpancing emosi akibat ulahnya" Ucap Husna dengan lembut.


"Husna, sekarang katakan sejujurnya kepada Mama. Apa kamu tidak merasa terluka saat melihat Alvino harus bersama dengan wanita lain?"


Husna bangkit dari tempat duduknya kemudian dia berjalan mendekati foto pernikahannya dengan Alvino.


"Ma, tidak ada wanita yang bahagia melihat suaminya bersama dengan wanita lain. Namun Husna bisa apa?" Pekik nya.


"Husna tahu tidak semua orang melewati proses hidup seperti ini, tidak mudah yang Husna lalui ini tanpa ilmu dan kekuatan diri."


"Husna sangat mencintai mas Alvino. Husna mempercayakan cinta Husna untuk Alvino kepada Allah. Karena itulah, Husna bisa menjalani pernikahan yang sudah bercabang ini."


"Bagi Husna pernikahan adalah perjalanan spiritual, apabila kita melangkahkan kaki ke jalan ini maka setiap hal yang kita lewati adalah jalan menuju level diri yang berikutnya."


Mama berjalan menghampiri Husna dan memeluknya.


"Husna kamu memiliki hati yang besar dan mulia sebagai seorang wanita." Lirih Mama.


"Sulit memang menerima kenyataan ini, tapi Husna yakin bahwa ini adalah jalan takdir yang harus Husna lalui."


"Soal hati dan perasaan tidak boleh dipaksa, yang mengijinkan mas Alvino menikah lagi juga Allah kan, Jika Allah tidak menghendaki pernikahan mas Alvino dan Helena terjadi, pastilah mereka tidak akan pernah bersatu."


Mama melepaskan pelukannya dan menatap Husna. Mama melihat cadar Husna sedikit basah.


"Apa kamu yakin akan menemukan kebahagiaan diantara cinta mereka?" Pekik Mama.


"Husna belajar menerima takdir yang Allah tentukan, Husna percaya aturan Allah yang terbaik. Bila ada penolakan takdir dalam hidup, jawabannya adalah penderitaan." Ucap Husna sambil tersenyum.


"Hiks... hiks... hiks..."


Mama menangis sambil memeluk Husna lagi.

__ADS_1


"Maafkan mama Husna, jika saja kamu tidak masuk dalam lingkaran keluarga ini, mungkin kamu sudah mendapatkan kebahagiaan."


"Sebagai manusia kita layak untuk bahagia, Kita yang tentukan kebahagiaan kita, bukan orang lain, kita yang merasakan." Ucap Husna sambil melepaskan pelukannya dan menenangkan Mama.


"Memang tidak mudah untuk kita melalui proses kehidupan seperti ini jika kita kosong, tanpa ilmu."


"Wanita jangan pernah berhenti mencari ilmu untuk mengenal kekuatan dirimu, bila ada ilmu, semua yang kita buat atas penuh kesadaran."


"Mama doakan semoga setelah ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang dijauhkan dari segala bentuk kesedihan."


"Amin..."


Mama dan Husna saling berpelukan.


Di luar sana, Alvino berada di balik pintu dan dia mendengarkan percakapan yang sedari tadi dilakukan oleh Mama dan juga Husna.


"Maafkan aku Husna, awalnya aku memang mencintai dan menghormati kamu karena kamu adalah istriku. Lalu, perasaan itu menjadi nyata sejak aku menikahi Helena."


"Aku takut untuk menyatakan perasaanku kepadamu, karena aku takut perasaan yang aku rasakan hanya karena iba."


"Maafkan aku Husna..."


"Cih, sudah aku duga kamu tidak benar-benar mencintai Husna." Pekik Elvio yang datang secara tiba-tiba dan tidak sengaja mendengar apa yang diucapkan oleh Alvino.


"Elvio, sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku dan Husna." Pekik Alvino.


"Kenapa, apa kamu takut jika perkataanku dulu yang akan merebut Husna akan benar-benar terjadi?"


Alvino terdiam.


"Dengar, sebenarnya aku juga tidak ingin mencampuri urusan rumah tanggamu dengan Husna. Sayangnya kamu memiliki wanita yang aku cintai, jelas saja ini menjadi urusanku. Aku akan selalu mengawasimu mulai detik ini. Kamu sudah membuat Husna terluka untuk yang pertama kali."


"Elvio, kamu tidak mempunyai hak untuk mengawasi rumah tanggaku. Sekalipun Husna adalah wanita yang kamu cintai. Kamu harus ingat batasanmu bahwa sekarang Husna adalah istriku."


"Oh really? aku pikir Husna adalah istri di atas kertas."


Alvino merasa sangat kesal, dia menggenggam tangan dan siap untuk memukul Elvio.


Namun, sebuah suara yang familiar terdengar di Alvino.


"Al.."


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2