
"Aku akui aku masih mencintai kamu, mas. Tapi aku bukanlah Aisyah yang sabar menunggu cinta rasulullah. Aku hanya manusia biasa, aku tidak sanggup jika harus berbagi dengan wanita yang bahkan tidak bisa menghargai aku sebagai istri pertama kamu. Bismillah, ikhlas. Aku mengikhlaskan kamu untuk bahagia bersama dengan Helena. Dan ikhlas bahwa hubungan kita sampai di sini saja." Ucap Husna sambil melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Alvino.
"Husna, kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal seperti ini? Bukankah sebelumnya Kamu sendiri yang meminta Helena untuk hati di tengah-tengah kita?" tanya Alvino.
"Ya, karena sebelumnya aku berpikir bahwa kamu bisa bersikap adil. Nyatanya kamu tidak bisa, mas."
"Husna, maafkan aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku berjanji, aku..."
"Mas, biarkan saja aku dengan jalan hidupku sendiri. Insyallah aku ikhlas, Mungkin memang takdir rumah tangga kita hanya sampai di sini saja. Biarkan semua berjalan sebagaimana daun yang di bawa terbang oleh angin. Dimana daun itu akan mendarat, maka seperti itulah hubungan ini." Perkataan terakhirnya bosnya ucapkan sebelum dia pergi dari hadapan Alvino.
"Husna...."
Alvino menatap kepergian Husna dengan ketidakberdayaan, ingin sekali Alvino berlari, memeluk Husna dan memintanya untuk tetap ada di sisi nya. Namun, Alvino tidak mempunyai pilihan selain hanya merelakan kepergian Husna.
Aku tidak menyangka jika bertemu denganmu akan sesakit ini. Husna, aku merindukanmu.
"Perpisahan ini terasa begitu sangat menyakitkan terutama saat kamu tidak memberikan aku kesempatan kedua untuk bisa memperbaiki keadaan."
"Husna, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan kesalahan terbodoh yang sudah aku lakukan kepada kamu."
Alvino masih melihat kepergian Husna, rasa sesak di dalam dadanya begitu teramat menutup dirinya seperti, sebuah pisau yang sengaja diarahkan kepadanya.
Sakit, sangat sakit melebihi saat kita harus menyaksikan penghianatan di depan mata.
"Aku harap, setelah ini akan ada setitik cahaya dan kesempatan untukku memperbaiki keadaan. Ya, aku pasti akan menemukan cara untuk dapat meluluhkan kembali hati Husna."
"Aku berjanji akan lebih memperhatikan kamu dan memberikan kamu cinta."
...----------------...
Husna merasa bahwa dia tidak bisa tinggal di apartemen itu lebih lama lagi.
Husna harus pindah atau lebih baik keluar dari kota itu dan tidak akan pernah kembali. Husna sedang memantapkan hati untuk tidak lagi berharap pada sesuatu yang mungkin bukan digariskan Tuhan untuknya.
Salsabila mengajak Husna untuk tinggal di apartemennya sementara waktu sampai Husna menemukan ke mana dia akan pergi dan tinggal.
Salsabila membantu menjual apartemen Husna dengan harga yang di sepakati.
Husna menyempatkan diri untuk menulis surat untuk sang mama.
Ibu, engkau adalah pelita di dalam gelapku. engkau adalah cahaya di malam gelapku dan engkau adalah anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan saat aku tidak memiliki siapapun yang aku kenal di dunia ini.
Tanpa kamu, aku mungkin bukan siapa-siapa di dunia yang penuh drama ini.
Kamu selalu mendengarkan keluh kesanku dan tidak pernah lelah memberikan nasehat kehidupan kepadaku, bahkan saat aku berada di titik terapung pun kamu masih menyemangati aku dan memberikan aku pencerahan.
__ADS_1
Ibu, maafkan aku karena kali ini mungkin apa yang akan aku lakukan membuat kamu merasa sangat terluka dan kecewa.
Aku akan pergi, aku mungkin pergi untuk sementara waktu dan tidak akan pernah lagi menambahkan diri di hadapan kamu. Tapi percayalah jika apa yang aku lakukan hanya untuk menenangkan diri agar aku lebih ikhlas menjalani takdir yang sudah tidak lagi berpihak padaku.
Maafkan aku Ibu, Aku harap Ibu bisa mengerti bahwa sangat sulit bagiku untuk berada di kota ini dan bertemu lagi dengan orang yang masih aku cintai, namun tidak bisa lagi aku gapai.
Husna mengela nafas panjang sebelum akhirnya dia keluar dari apartemen nya. Husna memutuskan untuk pergi malam itu juga.
Alvino yang juga harus terbang malam ini, membuat keduanya seolah-olah bersama sama larut dalam perasaan yang tidak bisa di gambarkan.
Di sisi lain...
Mama Alvino sedang berbicara dengan orang tua Melia.
Sementara Melia dan Elvio sedang berada di balkon rumah Melia.
"El..."
"Ya?"
"Apa kamu sudah yakin untuk memulai kehidupan yang baru bersama dengan aku?"
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal seperti itu disaat seperti ini?"
"Entahlah, aku merasa walaupun aku memiliki ragamu, Tapi aku tidak tahu di mana sebenarnya hatimu berada."
Wanita yang mungkin tidak akan pernah menjadi milikku.
"El..."
"Segala sesuatu yang terjadi pada dirimu sebenarnya bersifat netral, semua tergantung dari caramu menyikapinya," ucap Elvio.
"Ini yang aku suka darimu. Kamu selalu penuh dengan rahasia yang menantang diriku untuk mencari tahu sebenarnya pria seperti apa dirimu itu."
"Haha, Bukankah seharusnya aku yang bertanya kepadamu apakah kamu siap menikahi pria misterius seperti aku?" tanya Elvio.
"Tentu saja aku siap."
Drrttt drrttt drrttt..
"Permisi, bolehkah aku mengangkat panggilan ini terlebih dahulu?" ucap Elvio sambil menunjukkan bahwa ponselnya sedang berdering.
"Tentu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Elvio tersenyum kemudian mulai berjalan sedikit menjauh dan menerima panggilan yang berasal dari orang suruhannya yang sengaja dia tegaskan untuk memantau Husna.
Melia melihat raut wajah yang tegang dari Elvio.
"Ada apa?" tanya Melia saat Elvio sudah kembali.
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan malam ini, aku harus pergi sekarang."
"El..."
Elvio terlihat menemui sama mama dan membersihkan sesuatu, seketika raut wajah sang Mama juga menunjukkan rasa terkejut.
Elvio memberitahukan kepada sang Mama bahwa Husna datang ke mansion, lalu pergi setelah berbicara dengan Alvino.
Yang membuat mama dan Elvio terkejut adalah saat mengetahui bahwa Husna menitipkan surat dan pergi meninggalkan apartemen nya.
Ditinggalkan ataupun meninggalkan menjadi dua hal yang selalu datang beriringan. Meski terasa sulit, keadaan tertentu menuntut kalian untuk pergi menjauh dari seseorang. Husna aku sudah merelakan diri untuk menikahi Melia agar aku dan kamu bisa tetap dekat.
Jika ternyata akan seperti ini, bukankah lebih baik jika aku menjadi pendamping hidup kamu?
Elvio berkendara sendiri untuk mencari keberadaan Husna setelah mengantar kepulangan mama.
Mama yang membaca pesan Husna, tentu saja terkejut dan mencoba untuk menangis. Dia tahu, apa yang di perbuat putra nya dulu memang keterlaluan. Mama membiarkan Husna pergi untuk sementara waktu.
Pagi harinya..
Alvino bersiap untuk pergi ke rumah Helena, kabar yang di dapat. Helena dan keluarga sudah kembali ke rumah lama mereka.
Sampai di sana, suasana sepi membuat Alvino terpaksa bertanya kepada tetangga.
"Permisi, apa benar ini rumah Ibu Keyla? atau Helena?" tanya Alvino pada tetangga yang kebetulan melintas.
"Benar? anda siapa ya?"
"Saya teman kuliahnya dulu."
Alvino bergegas menuju rumah sakit pusat setelah mendapatkan informasi mengenai Helena.
Sesampainya di rumah sakit, Alvino tidak sengaja melihat Lalisa sedang terburu-buru melewati koridor rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan.
Alvino berjalan perlahan, dan melihat dari balik kaca.
"Helena..."
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...