
"Permisi..."
Husna langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara permisi dari luar rumah, Karena penasaran Husna memilih keluar dari kamar untuk melihat siapakah tamu yang datang.
"Iya, cari siapa?" tanya Husna setelah dia membuka pintu dan tentunya sudah memakai cadar.
"Kami adalah Arief dan Yollanda, Kami adalah pemusik yang selalu berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk menghibur jika memang diperkenankan," ucap seorang wanita dengan membawa gitar dan memperkenalkan diri mereka kepada Husna.
"Jadi...?" Husna yang tidak mengerti harus berkata apa hanya mengatakan kata jadi dan memandang ke arah keduanya.
"Jika anda berkenan untuk mendengarkan beberapa lagu yang akan kami bawakan, kami akan sangat berterima kasih," ucap wanita cantik dengan balutan pakaian muslimah kekinian.
"Baiklah, tentu. Silahkan bernyanyi. Aku akan merasa sangat terhibur jika memang kalian mau menyanyikan satu lagu untuk aku dengarkan."
Husna tersenyum sebelum dia duduk di kursi yang ada di teras rumah nenek dan kakek.
Arief dan Yollanda kemudian mengatakan bahwa mereka akan membawakan sebuah lagu yang berjudul Luka Sekerat Rasa.
Husna meletakkan ponsel di sebelah vas bunga yang sudah siap untuk merekam lagu yang akan mereka mainkan.
Suara gitar memulai sebelum nada terucap. Arief memulai lagu yang akan mereka mainkan.
"Rela aku terima keputusan darimu.
Tuk memilih dirinya dan meninggalkan aku
Dalam semak berduri, tergores dan terperih. Sakit terucap lirih."
"Memang aku akui, akulah yang bersalah
Telah memberi hati walau sekerat rasa
Maafkan aku atas khilafku
Permainkan hatimu.."
"Mengapa kau dan aku bersua
Menyatu dalam alunan nada
Takdirmu, takdirku
Akhirnya berpisah.." Lirih keduanya.
Husna mulai masuk dalam irama lagu yang mereka mainkan..
Sirih kasih di pucuk pauh
Kuntum melati sukar di gubah
Jika kita bercerai jauh
Di dalam hati jangan berubah
Hendak gugur, gugurlah bunga
Jangan menimpa si ranting rapuh
Hendak tidur, tidurlah mata
Jangan mengenang orang nan jauh
Rela aku terima keputusan darimu
'Tuk memilih dirinya dan meninggalkan aku
Dalam semak berduri, tergores dan terperih
Sakit terucap lirih
Memang aku akui, akulah yang bersalah
__ADS_1
Telah memberi hati walau sekerat rasa
Maafkan aku atas khilafku
Permainkan hatimu
Mengapa kau dan aku bersua
Menyatu dalam alunan nada
Takdirmu, takdirku
Akhirnya berpisah
...----------------...
Arief dan yollanda berhenti menyanyi saat melihat Husna menangis.
"Jangan cengeng," ucap Bagaimana- sambil menghampiri Husna.
"Kenapa kalian berhenti menyayikan lagu nya?" tanya Husna.
"Bagaimana bisa kami melanjutkan bernyanyi jika kamu menangis seperti ini?" tanya Yolanda.
"Aku tidak menyukai madu atau daging, dan nyanyian serta tawa telah menjadi hal asing yang bagi ku. Aku adalah makhluk yang berduka dan berdebu serta kerinduan yang pahit. Ada tempat kosong di dalam diriku."
Arief dan Yollanda saling berpandangan karena Husna mengatakan hal yang tidak di mengerti oleh mereka.
"Denger, apakah kalian adalah pasangan kekasih?" tanya Husna kemudian.
Arief dan Yollanda kembali berpandangan sebelum akhirnya bersama sama menganggukkan kepala.
"Jika kalian adalah sepasang kekasih, kenapa kalian menyanyikan lagu melow seperti ini. Hwa... hwa... hwa...."
Husna semakin menangis historis, itu membuat Arief dan Yollanda ketakutan dan mereka memilih untuk mundur beberapa langkah.
"He, apa sing sampeyan tindakake kanggo putu favoritku?" teriak nenek dari kejauhan saat melihat Husna menangis seperti anak kecil yang meminta balon.
"Loh, cah ayu iki anake Mbah? kita ora ngerti apa sing nggawe dheweke nangis. tenan. Kita mung nyanyi lagu lan uga takon sadurunge apa cah ayu iki gelem ngrungokake lagu kita utawa ora?" ucap Yollanda.
(Loh, mbak cantik ini putu nya nenek? kami tidak tahu apa yang membuat nya menangis. Sungguh. Kami hanya menyanyikan lagu dan juga sudah bertanya sebelumnya apakah Mbak cantik ini bersedia mendengarkan lagu kami atau tidak.)
Nenek segera menghampiri Husna dan menenangkan nya.
"Husna, cah ayu. Ada apa?, apa mereka sudah menyakitimu? apa mereka melakukan sesuatu sehingga membuat kamu menangis seperti ini?"
Nenek benar-benar tidak tahu jika saat ini aku sedang mengalami peningkatan hormon karena kehamilannya, membuat segala sesuatunya menjadi sangat sensitif dan membuat Husna menjadi cengeng.
"Nenek, mereka adalah pasangan kekasih tapi kenapa mereka justru menyanyikan lagu yang sedih. Mereka menyanyikan lagu tentang perpisahan," ucap Husna.
Nenek langsung menatap tajam ke arah Arief dan Yollanda.
"Cepat ganti lagunya. Kalau kalian tidak bisa mengembalikan senyuman di wajah cucuku ini, kalian akan bernyanyi sepanjang hidup kalian tanpa pernah berhenti!" Perintah Kakek.
Deg!
Arief dan Yollanda saling berpandangan sebelum mereka mulai menyanyikan sebuah lagu.
Jreng..
Jreng..
Jreng...
Arief mulai memainkan nada yang terdengar seperti membangkitkan semangat untuk bergoyang, Husna berhenti menangis dan siap untuk menyimak lagu apa yang sepertinya sangat asik untuk didengarkan.
Sakit memang di tinggal sang kekasih.
Tapi kamu harus terima kenyataan.
Tetap tenang, positive thinking.
__ADS_1
Karena dia memang bukan jodohmu.
Hey, jangan melamun, gak ada gunanya.
Gak akan merubah keadaan.
Awas, kamu kesurupan, kemasukan setan.
Nanti lupa diri, jadi tambah edan.
Jangan nyerah gitu dong, coba cari yang lain.
Di bumi ini gak cuman dia seorang.
Masih banyak kok yang bisa,
Lebih baik dan mengerti, terima kamu apa adanya.
Sakit hati bukan berarti pasrah.
Pasti semua 'kan ada hikmahnya
Berusaha, terus berdo'a.
Anggap saja dia bukan jodohmu.
Hey, jangan melamun, gak ada gunanya.
Gak akan merubah keadaan.
Awas, kamu kesurupan, kemasukan setan.
Nanti lupa diri, jadi tambah edan.
Jangan nyerah gitu dong, coba cari yang lain.
Di bumi ini gak cuman dia seorang,
Masih banyak kok yang bisa.
Lebih baik dan mengerti, terima kamu apa adanya.
Positive thinking, yow!
"Stop stop stop. Koe iki kok tambah nyanyi lagu iku se. Garai tambah sedih ae," ketus nenek.
(kalian kenapa justru menyanyikan lagu seperti itu? membuat dia semakin sedih saja)
"Sudah sana pergi." Ketus nenek setelah memberikan beberapa lembar uang kepada keduanya.
Nenek lalu mengajak Husna untuk masuk ke dalam.
"Nduk, apa kamu baik-baik saja?"
"Nenek, Kenapa nenek menyuruh mereka pergi setelah nenek memberikan mereka uang? Husna masih ingin mendengar beberapa lagu dari mereka."
"Lah, di mana nenek tidak memerintahkan mereka untuk pulang, jika lagu-lagu yang mereka mainkan justru akan membuat kamu menangis."
"Maafkan Husna nek, Husna tidak tahu kenapa tiba-tiba Husna menjadi janin ketika mendengar lagu mellow yang mereka bawakan."
"Sudah sekarang lebih baik kamu beristirahat dan berhenti menangis. Jangan cengeng."
Husna tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sebelum dia memutuskan untuk pergi dan masuk ke dalam kamar.
Kenapa aku jadi Cengeng ya? Husna. Jangan Cengeng.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1