
Sebuah rumah sederhana berlantai dua di desa, pemandangan nya sangat asri. Membuat siapa saja yang datang tidak ingin kembali.
Di sinilah Husna berada, di rumah kakek dan nenek Elvio.
"Ayo." Ajak Elvio saat mobil sudah sampai di halaman rumah kakek dan nenek Elvio.
Dengan perlahan Husna turun dari mobil dibantu perawat wanita yang sengaja di ajak oleh Elvio untuk membantu merawat luka Husna.
Husna dibantu perawat wanita yang bernama Ayumi, berjalan di belakang Elvio sambil sesekali menoleh ke arah sopir yang membantu menurunkan barang bawaan Husna.
"Assalamualaikum, opa, oma?"
"Pak sopo yo mendayo jam semene?"
"(Pak, siapa yang datang di jam segini?)" tanya nenek.
"Loh, yo ora eroh aku, coba delok. Paling Elvio."
"(Ya tidak tahu aku, coba saja lihat. Mungkin saja Elvio)" ucap kakek sambil menyerupai kopi panas yang baru saja disajikan istrinya.
"Ah gak kiro. Elvio jatah merene sek minggu ngarep."
(Tidak mungkin, jatah Elvio ke sini minggu depan).
"Yo wis to buk, ndang di delok. Sapa ngerti tamu penting. Be e pak lurah opo pak RT."
(Ya sudah to buk. Cepetan dilihat siapa tahu itu tambah penting. Mana tahu pak lurah atau Pak RT)
Nenek kemudian berjalan dari dapur menuju arah depan rumah.
"Elvio."
"Assalamualaikum nenek."
"Masyallah. Walaikumsalam, Elvio." Nenek segera memeluk cucu kesayangannya itu.
Lalu pandangan sang nenek beralih kepada Husna.
"Sopo cah ayu seng melok karo koe? opo bojomu?"
(siapa wanita cantik yang ikut dengan kamu? apa dia istri kamu?)" tanya nenek.
"La piye to, mosok lali karo seng biyen seng ngopeni bapak?"
(Gimana sih? masak lupa dengan orang yang dulu merawat papa?)
Nenek kembali memandangi Husna dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas. Begitu seterusnya hingga Husna merasa risih. Terutama saat Husna sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Jawa.
Apa Elvio mengatakan sesuatu sehingga nenek terus memandangiku seperti itu? atau jangan-jangan aku tidak memakai pakaianku dengan benar?
__ADS_1
"Lek ngono lak iki bojone Alvino? terus lapo ono kene karo kowe?"
(Kalau begitu bukannya ini adalah istri Alvino? lalu kenapa dia ada di sini dan bersama dengan kamu?) Nenek mulai binggung karena pikiran nya sudah di penuhi oleh rasa kepo.
"Wis engkok ae tak ceritani. Sak iki sopoen disek terus kon istirahat, sak aken. De e kesel rogo karo ati perkoro cah gemblung"
(Sudah nanti saja akan aku ceritakan, sekarang lebih baik disapa dulu lalu diajak beristirahat. Kasihan, dia sudah capek badan dan capek hati karena bocah gemblung.)
"Eleng, dekne ora iso boho jowo. Nganggo bahasa Indonesia wae."
(Ingat, dia tidak bisa pakai bahasa Jawa, pakai bahasa Indonesia saja)"
Nenek mengangguk-anggukkan kepala tanda sudah mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Elvio.
"Nak, Ayo nenek antar kamu ke kamar untuk beristirahat. Setelah itu baru kita mengobrol dan berkenalan dengan kakek." Nenek tersenyum sambil membantu perawat menopang tubuh Husna.
"Naomi, per favore prenditi cura di lui. dimmi se si sente triste a causa di uno stronzo come mio fratello. Ricorda, parlami in questa lingua. Perché è il nostro modo più sicuro per comunicare."
(Naomi, tolong jaga dia dengan baik. beritahu aku jika dia merasa sedih karena laki laki brengsek seperti kakak ku itu. Ingat, bicara padaku dengan bahasa ini. Karena ini adalah cara teraman kita untuk berkomunikasi.) ucap Elvio saat Naomi akan membawa Husna pergi.
"Certo, mi assicurerò che non si senta mai triste, figuriamoci ricordare il tuo tirannico fratello."
(Tentu saja, aku akan memastikan bahwa dia tidak akan pernah merasa sedih apalagi mengingat kakak kamu yang kejam.) ucap Naomi sambil tersenyum.
Naomi kemudian menyusul Husna dan nenek yang akan segera memasuki kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Naomi dan Elvio adalah sahabat sejak duduk di bangku SMP. Naomi sendiri sudah memiliki tunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan begitu sang kekasih selesai menjalani magang sebagai dokter bedah di Negara I.
Naomi membantu Husna untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Istirahat ya, nenek mau ke belakang untuk menyiapkan makanan untuk kita. Semoga betah, jangan sungkan-sungkan. Ini juga rumah kamu."
"Terima kasih, nek."
Nenek tersenyum sambil mengelus kepala Husna sebelum keluar dari kamar.
Dari tatapan nenek, seolah-olah nenek sudah mengetahui tentang apa yang terjadi antara Husna dan Alvino.
"Mbak.."
"Panggil Husna saja," ucap Husna sambil tersenyum.
"Husna, lebih baik sekarang kamu beristirahat mengingat perjalanan kita menuju desa ini cukup melelahkan."
Husna tersenyum dan menganggukkan kepala, 8 jam menggunakan transportasi darat memang benar-benar melelahkan. Terutama bagi Husna yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh sebelumnya.
"Aku akan tidur di kamar yang ada tepat di sebelah kamar ini. Tolong hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuan untuk pergi ke kamar mandi atau melakukan apapun."
"Terima kasih, Naomi."
__ADS_1
Husna mencoba mencoba memejamkan mata, namun dia tidak bisa untuk benar-benar tertidur.
Pikiran nya dipenuhi bayangan akan kisah indah dan menyakitkan bersama dengan Alvino.
Hatiku berkata untuk menemuinya
Tapi kakiku tertahan saat coba melangkah
Kadang hatiku mencoba meyakinkan diriku
Kadang aku yang mencoba meyakinkan hatiku..
Hari-hari saat kami bersama sangatlah indah.
Dan tanganmu ada di genggaman tanganku
Hanya ada kamu di siang dan malamku
Tapi sayangku, sekarang kau begitu tinggi
Hingga menyentuhmu saja tak mampu.
Aku yang bukan kekasih impian mu, rasanya sangat mustahil untuk bisa menggenggam tanganmu lagi
Jangankan untuk menggenggam tanganmu. Menggapai dirimu saja tidaklah mungkin.
Membayangkan kamu sekarang aku merasa takut
Kadang hatiku mencoba meyakinkan diriku, bahwa takdir cinta mungkin saja akan berpihak pada kita.
Kadang aku yang mencoba meyakinkan hatiku, bahwa takdir cinta tidak akan pernah membawa kita kembali.
Husna menghapus bulir air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
"Aku harus kuat. Kuat demi bayi yang ada di dalam kandungan ku."
Flashback sebelum kejadian yang menimpa Husna.
Husna tersenyum saat dia mendapatkan kejutan di pagi hari. Dua garis terpampang jelas saat Husna mengunakan alat pendeteksi kehamilan.
Sayangnya, Alvino tidak ada di sana untuk ikut merasakan kebahagiaan yang baru saja di berikan Tuhan ditengah-tengah duka yang menyelimuti rumah tangga nya karena Helena yang tidak kunjung tersadar dari koma.
Husna kemudian memutuskan untuk menemui Alvino di rumah sakit, dan membujuk agar Alvino mau ikut pulang bersama nya. Mengingat Alvino sudah tidak pulang selama tiga hari.
Sayangnya, Tuhan tidak merestui Husna untuk memberitahukan kabar bahagia itu kepada Alvino.
Tuhan justru menginginkan Husna untuk pergi jauh membawa kebahagiaan nya.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...