
Pagi harinya, seperti biasa Husna menyiapkan makanan untuk sarapan.
Setelah selesai masak, Husna memutuskan untuk pergi ke kamar, membersihkan diri sambil menunggu turunnya Helena dan Alvino.
Saat Husna sudah selesai mandi dan berganti pakaian, Dia segera keluar kamar karena takut Helena dan Alvino sudah menunggu nya di meja makan.
Namun, Husna harus menelan kekecewaan tak kala dia sampai di dapur dan mendapati Helena dan Alvino baru saja selesai.
"Mas. Mas makan tanpa aku?" Pekik Husna.
"Husna maaf ya, kami pikir kamu sudah makan karena itu aku dan Alvino langsung saja makan." Ucap Helena sambil membersihkan mulut Alvino dengan tisu.
"Terima kasih, sayang." Ucap Alvino penuh cinta.
"Sama sama." Ucap Helena sambil turun dari pangkuan Alvino.
"Husna, maaf ya. Kami benar-benar tidak mengetahui jika kamu belum sarapan." Ucap Alvino.
"Tidak apa apa, Mas." Ucap Husna sambil tersenyum.
"Maaf Husna, aku harus kembali bekerja." Ucap Alvino sambil melihat ke arah jam di tangan nya.
"Mau Husna antar ke depan mas?"
"Biar aku saja yang mengantar Alvino. Kamu pasti sudah lapar kan, lebih baik kamu makan saja dan duduk di sini." Ucap Helena.
Husna yang awalnya sudah berdiri dan siap mengantarkan Alvino ke depan, memilih untuk kembali duduk dan tersenyum sambil melihat Helena yang bergelayut manja di lengan Alvino.
"Alvino, kapan kamu akan mengajak aku untuk honeymoon?" Tanya Helena saat mereka sudah sampai di depan rumah.
"Maksudnya?"
"Kamu masih ingat kan, Aku sangat ingin tahu seperti apa salah satu negara yang ada di Indonesia. Pulau Bali. Jadi Aku ingin mengajakmu ke sana untuk berbulan madu."
"Bagaimana dengan Husna, Dia sedang hamil."
"Aku yakin Husna tidak akan keberatan jika kita hanya pergi selama sepekan. Ayolah, aku yakin kamu dan Husna sudah pernah berbulan madu. Apa Kamu tidak akan melupakan waktumu untuk aku?, wanita yang sangat amat kamu cintai dan baru saja resmi menjadi kekasih yang halal disentuh?" Ucap Helena sambil mengedipkan mata.
"Akan aku pikirkan nanti."
Helena tersenyum kemudian mencium tangan Alvino.
Setelah Alvino pergi, Helena langsung mendatangi Husna dan mengutarakan niatnya untuk pergi bulan madu ke Bali.
"Husna, aku yakin kamu adalah wanita yang baik. Aku juga yakin bahwa kamu akan mengizinkan aku dan Alvino untuk pergi ke Bali." Ucap Helena.
"Oh ya, Maaf ya karena semalam aku tidur di kamar kalian. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di kamar kalian." Ucap Helena tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
Husna tidak terlalu menanggapi apa yang baru saja diucapkan oleh Helena, Husna memilih untuk membersihkan dapur.
"Biar aku saja." Ucap Helena saat Husna akan mencuci piring.
"Terima kasih, jika kamu sangat menginginkan untuk tidur di kamarku, maka aku bersedia bertukar kamar tidur dengan mu." Ucap Husna.
"Maksudnya kamu akan tidur di lantai 1? di kamar yang sebelumnya aku tempati?"
"Tidak, Aku akan tidur di kamar tamu. Aku yakin, Kamu tidak akan mau jika ada seorang wanita yang tidur di kamarmu dan bercinta dengan orang yang sama." Ucap Husna sambil berlalu pergi meninggalkan Helena.
"Astaga, aku hanya tidur selama satu malam saja di kamarnya. Dan dia sudah bersikap aku seperti itu. Memangnya dia siapa?. Jika saja, Papa Alvino tidak sakit dan meninggal dunia. Mungkin statusnya masih tetap menjadi seorang pelayan dan tidak akan pernah menjadi istri dari Alvino." Lirih Helena.
Husna makanan nafas panjang saat dia mendengar suara lirih yang diucapkan Helena.
Helena memutuskan untuk memindahkan barang-barang yang ada di kamarnya, ke kamar Husna.
Helena juga mengeluarkan barang-barang Husna dan meletakkannya begitu saja di depan tangga.
Saat Helena sibuk menata kembali barang-barang miliknya di kamar Husna, saat itulah Husna keluar kamar untuk mengambil barang-barangnya.
"Insyallah aku kuat. Demi bayi yang ada dalam kandungan ku." Ucap Husna sambil tersenyum agar air mata tidak jatuh membasahi pipinya.
Sementara itu, Elvio merasa marah karena merasa ditipu oleh keluarganya.
Elviana yang saat itu mengajak Elvio untuk keluar dan mengatakan bahwa rumah tangga Alvino dan Husna baik-baik saja, dan mengatakan bahwa ada kesalahpahaman yang hanya boleh diselesaikan oleh mereka berdua. Berhasil membuat Elvio tidak berpikir negatif terhadap keduanya.
Hari ini, mata-mata yang ditugaskan Elvio untuk mengawasi rumah tangga dari kakaknya berbuah hasil yang sangat mengecewakan.
Elvio sering bermimpi melihat Husna menangis, karena itu dia mengutus mata-mata untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Husna.
"Lihat saja, jika aku kembali dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Alvino tidak bisa bersikap adil dan justru melukai Husna. Aku tidak akan segan-segan membawanya pergi jauh dari nya."
...----------------...
Di kantor, Alvino disibukan dengan pekerjaan karena dirinya kemarin absen dari kantor.
Pekerjaan yang sangat banyak membuat Alvino lupa bahwa ini sudah telat dari jam makan siangnya.
Ceklek...
"Hai sayang..."
Alvino yang tadinya fokus menatap laptop melihat ke asal suara dan dia terkejut Helena datang.
"Helena?"
Helena langsung berjalan dan menutup laptop. Kemudian Helena duduk di pangkuan Alvino.
__ADS_1
Cup.
Helena mencium bibir Alvino, tepat di saat Husna membuka pintu.
Melihat mereka saling bermain bibir satu sama lain, membuat Husna mengurungkan niatnya untuk mengantarkan makanan kepada Alvino.
"Helena, kamu kok datang ke sini?"
"Kamu lupa ya, semalam kan kamu berjanji akan mengajak aku untuk makan siang di luar. Aku menunggu kamu tapi kamu tidak pulang. Akhirnya aku menyusul kamu ke kantor."
"Husna?"
"Aku tidak tahu, Tapi saat aku akan pergi aku sempat mencium bau masakan. Mungkin Husna memasak makan siang untuk dirinya sendiri."
"Helena, apa kamu pergi tidak berpamitan kepada Husna?"
"Untuk apa?, dia kan bukan siapa-siapa aku?"
"Helena, Husna adalah kakak mu. Dia adalah istri pertamaku, seharusnya kamu bisa menunjukkan sedikit hormatmu kepadanya."
"Alvino, aku datang ke sini untuk mengajak memakan siang karena aku sudah merasa sangat lapar. Apa kamu akan terus membahas tentang Husna?"
Alvino menghela nafas panjang. Helena kemudian menarik Alvino dan mengajaknya keluar untuk mencari makan siang.
"Jadi gimana, apa kamu sudah mengosongkan jadwal untuk minggu depan?" Tanya Helena.
"Minggu depan?"
"Iya, aku sudah membooking hotel khusus untuk pasangan yang akan berbulan madu di Bali."
"Helena, kenapa kamu melakukan itu tanpa mengkonfirmasi dengan aku terlebih dahulu? apa kamu tidak tahu jika pekerjaanku sudah menumpuk karena aku absen mendadak kemarin."
"Alvino, kamu itu kan bosnya. Aku yakin bawahan kamu pasti bisa menghandle semua pekerjaan tanpa harus kamu yang turun tangan."
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Minggu depan, kamu harus mengosongkan segala jadwal pekerjaan kamu, karena kita akan pergi bulan madu minggu depan."
Alvino masalah nafas panjang, dia baru menyadari sifat Helena yang ingin menang sendiri.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Helena
__ADS_1