MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 58 : Pilihan Husna


__ADS_3

"Mbak, kenapa dengan mas Alvino?" tanya Lia sambil berjalan mendekati Husna.


"Tidak apa apa. Lia sekali lagi terima kasih ya karena kamu sudah membantu aku untuk mengobati luka-luka."


"Sama sama, apa Mbak Husna yakin jika Mas Alvino baik-baik saja?"


"Iya, sangat yakin. Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja."


Lia sebenarnya berat meninggalkan Husna sendirian, tapi tuntutan pekerjaan membuatnya harus segera kembali ke pos kesehatan.


Tak lama setelah kepergian Lia, Husna dikejutkan dengan kedatangan mama dan juga kakak iparnya.


"Mama?" pandangan Husna langsung tertuju pada Elvio.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mengemban beban sendirian karena kemarahan yang ditunjukkan oleh Alvino," ucap Elvio yang seakan-akan tahu arti dari tatapan Husna.


"Nak, Elvio sudah menceritakan semuanya kepada Mama. Apa lagi yang kamu harapkan dengan tetap bertahan tinggal di rumah ini bersama dengan Alvino?"


"Aku...."


"Husna, Aku tahu kamu sebenarnya berharap bahwa suatu saat nanti Alvino akan mencintai kamu sepenuh hati, seperti yang selalu kamu ucapkan kepada kami saat kami meminta maaf atas nama Alvino," ucap Alviana.


"Tetapi bukan berarti kamu akan terus diam ketika Alvino bersikap seperti ini. Dia sudah benar-benar kelewatan, wanita itu telah mengubah seluruh aspek yang ada pada diri Alvino," imbuh Alviana.


"Husna, Mama akan memberikan pilihan sekarang kepada kamu. Kamu ikut pulang bersama dengan mama atau Mama akan mengirim kamu pergi bersama dengan Elvio?"


Husna yang terkejut langsung menatap wajah sang Mama yang terlihat serius dengan ucapannya.


"Ma, Bagaimana bisa Mama akan mengirim Husna terlebih bersama dengan pria yang bukan menjadi suami Husna?"


"Elvio akan pergi untuk mengunjungi kakek dan neneknya, jadi Mama berfikir mungkin di sana kamu bisa mendapatkan ketenangan dan mulai memikirkan tentang jalan apa yang harus kamu ambil dalam pernikahan yang sudah tidak bahagia ini."


"Tapi ma..."


"Cukup Husna, cukup. Mama tidak ingin mendengar lagi alasan kamu yang ingin tetap bertahan di sini hanya karena 1berharap bahwa apa yang Alvino lakukan hanya karena emosi sesaat."

__ADS_1


"Husna, kamu adalah anak mama. Titipan Papa yang harus mama jaga. Kamu mungkin tidak tahu jika Papa juga menitipkan kamu kepada mama dan meminta Mama untuk memastikan kebahagiaan kamu."


Husna menunduk dan meneteskan air mata saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mama.


Mama menghampiri Husna dan memeluknya.


"Jangan tengah merasa sendiri karena kamu masih memiliki Mama. Jangan pernah mencoba untuk terus bertahan saat kamu sendiri sudah tidak mampu untuk bertahan."


Husna menangis dan memeluk Mama.


"Maafkan Husna, ma. Husna benar-benar tidak tahu tentang apa yang harus Husna lakukan."


"Husna, kamu terlalu berharap akan cinta yang sebenarnya mungkin tidak akan pernah kamu dapatkan,"ucap Alviana.


"Sudah cukup. Mama tidak ingin lagi melihat air mata yang keluar dari dirimu. Putuskan sekarang, jika tidak maka Mama yang akan mengambil keputusan untuk hidup mu."


"Kita semua tahu bahwa laki-laki memang ditakdirkan untuk menjadi seorang kepala keluarga. Namun hal itu tidak berarti mereka dengan bebas mengatur, membentak, dan kasar terhadap istrinya," ucap Alviana.


"Terutama langsung marah ketika melihat sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi seperti yang dia pikirkan."


"Haram hukumnya jika seorang suami membuat istrinya menangis tanpa hak dan menyakiti istri. Hal tersebut telah disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadits," ucap Elvio yang membuat Husna terkejut. Husna tidak menyangka karena penampilan Elvio yang seperti anak punk, justru mengetahui tantangan Alquran dan hadist.


Sangat berbeda jika dibandingkan dengan Alvino yang berpenampilan keren sementara kurang mengetahui tentang Alquran dan hadist.


"Saat suami berbuat zalim kepada istrinya, maka dia telah melakukan dosa yang amat besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari api neraka,"


"Sebagian besar orang mungkin saja beranggapan bahwa perempuan adalah racun dunia. Tapi perlu dipahami bahwa di dalam Islam sendiri, perempuan diibaratkan perhiasan dunia,"


Mama dan Alviana juga sama terkejutnya seperti yang dirasakan oleh Husna.


"Ada apa?" tanya Elvio karena merasa bahwa mama dan kakaknya menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


"Sejak kapan kamu menjadi sangat religius?" tanya Alviana sambil berjalan ke arah adiknya dan memegang keningnya.


"Hais, memangnya Kakak pikir aku ini seorang berandalan? penampilan boleh berandalan. Tapi hati dan pikiran harus tetap memegang teguh ilmu keagamaan."

__ADS_1


Husna tersenyum mendengar apa yang baru saja Elvio katakan.


"Aku harus pergi karena ada panggilan, aku harap setelah aku selesai melakukan pekerjaanku. Kakak ipar akan mengambil keputusan yang tepat dan benar. Semoga keputusan ini tidak akan sama dengan keputusan yang selalu dia ambil sebelumnya." Ucap Elvio sambil mulai melangkahkan kaki untuk pergi.


"Oh ya. Satu lagi, Islam adalah agama yang sangat memuliakan seorang istri seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad terhadap istri-istrinya. Oleh sebab itu, Agama Islam sangat tidak suka dengan sikap suami yang berlaku buruk terhadap istrinya."


Elvio segera pergi karena sesungguhnya dia tidak tahan dengan senyuman Husna. Walaupun Husna tersenyum sambil menundukkan kepala, tapi Elvio tahu jika Husna tersenyum sebagai bentuk pujian terhadap apa yang baru saja dia katakan.


"Mama dan kakakmu, Alviana. Akan memberikan kamu waktu untuk berpikir."


"Husna bersedia untuk dikirim pergi bersama dengan Elvio."


...----------------...


Husna di bantu mama dan Alviana mana masih barang-barang milik Husna. Sementara Mama dan kakak ipar nya mengamati seluruh barang-barang Husna. Husna menyempatkan diri untuk meninggalkan catatan untuk Alvino.


...Meskipun memang terdengar tak masuk akal dan banyak di luar sana yang mungkin tidak percaya. Tapi, aku percaya bahwa kita punya kita yang akan melawan dunia....


...Sayang nya, itu hanya ada dalam angan-anganku saja....


...Cintaku padamu mungkin belum sempurna, sering kali aku merasakan cemburu buta. Ketika nanti hal tersebut terjadi lagi, aku selalu mohon padamu untuk segera menyadarkan ku. Sebab kamu adalah satu-satunya orang yang kupercaya untuk melakukan itu....


...Sekarang, Aku tidak akan pernah lagi meminta kamu untuk melakukan hal itu karena aku sudah tahu posisi ku....


...Ketika aku bersandar dipundakmu, rasanya lebih nyaman dari suasana rumah. Engkau rumahku. Cahaya yang memenuhi harapan bahwa kita akan melukiskan sejarah cinta yang terindah. Kamu membuatku sempurna saat kehidupan yang aku miliki tidak sempurna kehidupan orang-orang yang ada di sekitar ku....


...Tapi sayang tempat bersandarku kini sudah tidak ada lagi. Kamu terlalu jauh pergi meninggalkan aku sendirian....


...Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu, sampaikan salam terakhirku untuk istri yang sangat kamu cintai....


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2