
"Alvino...." Helena berusaha mengejar Alvino. Sayangnya saat Helena sampai di pintu, Alvino sudah pergi meninggalkan rumah.
Akhirnya, Helena kembali masuk ke dalam rumah dan menemui Husna.
Husna terlihat memasukkan semua makanan yang dibeli Helena ke dalam sebuah rantang.
"Husna, makanan itu akan kamu bawa ke mana?"
"Ini hari Rabu, kebetulan setiap Rabu akan ada bapak-bapak yang berkeliling untuk mengambil sampah yang ada di depan rumah. Kita bisa memberikan makanan ini untuk mereka."
"Kenapa?"
"Makanan ini terlalu banyak, mas Alvino juga tidak ingin memakan makanan ini, jika kamu bisa menghabiskannya maka aku tidak akan memberikan makanan ini kepada orang yang akan mengangkut sampah."
"Ya sudah, berikan saja semua makanan ini. Aku juga tiba-tiba kehilangan selera makan. Aku tidak mengerti apa yang salah? aku hanya membeli beberapa jenis makanan. Lalu, Alvino pergi begitu saja setelah mengetahui bahwa makanan ini adalah makanan yang aku beli." Ucap Helena sambil duduk dan menghabiskan air yang ada di gelas.
Husna tersenyum, lalu duduk setelah dia selesai memasukkan semua makanan itu ke dalam rantang.
"Seharusnya, ketika kamu ingin membeli sesuatu. Diskusikan dulu denganku. Di sini aku yang menjadi istri pertama dan yang pertama hidup dengan Mas Alvino. Sejak dulu, aku sudah memahami keluarga mas Alvino."
"Apa maksud kamu?"
"Jika kamu beranggapan bahwa mereka adalah orang kaya. Ya, mereka memang orang yang kaya. Perlu kamu tahu, Helena. Mas Alvino memiliki sifat yang sama persis seperti mendiang Ayahnya. Dimana, saat sarapan sangat tidak menyukai jika makanan itu diberi dari luar."
"Tidak mungkin, selama aku dan Alvino kuliah, Aku bakal selalu melihat Alvino makan di luar."
"Jika saja kamu mau lebih banyak menghabiskan waktu denganku, untuk membahas hal-hal apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh suami kita. Mungkin kamu tidak akan melakukan kesalahan seperti ini."
Helena memilih pergi meninggalkan Husna. Husna menghela nafas panjang lalu berjalan ke depan karena dia mendengar suara mobil pengangkut sampah.
Setelah memberikan makanan itu kepada tukang angkut sampah. Husna kembali masuk ke dalam dan mulai memasak makanan untuk Alvino.
Sementara Helena, mulai bertanya kepada internet apa cara membujuk suami.
"Helena, Aku akan pergi mengantarkan makanan ke kantor Mas Alvino. Apa kamu mau ikut?" Suara Husna dari balok pintu kamar Helena.
Helena yang saat itu sedang mencoba mencari pakaian seksi yang pas untuk meminta maaf kepada Alvino, tidak mendengar suara dari Husna.
Husna kemudian memutuskan untuk pergi sendiri ke kantor Alvino.
"Assalamualaikum, mas."
Alvino yang tadinya kesal dengan Helena, begitu mendengar suara Husna...
"Husna..." Alvino melihat sangat bahagia melihat kedatangan Husna.
"Mas, aku sudah masak makanan kesukaan mas. Kita makan sama sama ya, aku tadi sempat mengajak Helena. Tapi dia tidak merespon saat aku memanggilnya."
__ADS_1
"Ya sudah, biarkan saja." Pekik Alvino.
Mereka kemudian menikmati makanan yang dibawa Husna.
"Terima kasih karena sudah mau membawakan aku makanan. Aku tidak habis pikir kenapa Helena bisa bersikap sewenang-wenang seperti itu." Ketus Alvino.
"Tidak apa apa mas, pelan-pelan kita akan memberi pengertian kepada Helena." Ucap Husna sambil memegang tangan Alvino.
Alvino tersenyum dan mencium kening Husna.
Di luar, Helena datang ke kantor Alvino dengan menggunakan pakaian yang sangat seksi, sehingga menampakkan dengan jelas setiap lekuk tubuhnya.
"Permisi, saya adalah Helena, Istri Alvino. Saya datang untuk bertemu dengan Alvino dan mengajaknya untuk makan." Ucap Helena saat seorang satpam mencegahnya untuk masuk ke dalam kantor.
"Maaf Nona, tapi setahu saya istri Tuan Alvino adalah seorang muslimah yang bercadar."
"Iya, tapi saya adalah istri kedua dari Alvino."
"Sekali lagi maaf nona. Setahu saya, istri kedua dari tuan Alvino juga seorang muslimah walaupun belum memakai cadar."
Helena merasa kesal dengan satpam itu, kemudian Helena menyadari jika seharusnya dirinya mengenakan pakaian muslim agar lebih mudah masuk ke dalam kantor Alvino.
Helena berusaha menerobos masuk, tapi satpam itu melarang dan mengira bahwa Helena hanya mengada-ngada.
Helena menimbulkan suara bising, sehingga menarik perhatian dari Alvino yang sedang mengantar Husna pulang.
Alvino maupun Husna terkejut saat melihat penampilan yang luar biasa dari Helena.
Alvino segera menarik tangan Helena, setelah mengatakan kepada satpam untuk membiarkannya masuk.
"Helena, sebenarnya mau kamu itu apa. Pertama kamu membeli makanan untuk kita sarapan, tanpa berbicara kepada aku ataupun Husna. Sekarang, kamu datang ke kantor dengan pakaian yang tidak sepantasnya kamu kenakan." Pekik Alvino.
"Al, maafkan aku. Aku.."
"Seharusnya kamu bisa berbuat sesuatu yang jauh lebih baik. Seharusnya kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Husna. Agar kamu bisa mengerti apa-apa saja tugas dari seorang istri dan apa yang tidak boleh dilakukan. Terutama di negara ini."
"Mas..." Husna memegang lengan Alvino.
Alvino memejamkan mata dan berusaha untuk mengontrol emosinya.
Alvino terlihat menelpon seseorang, hingga tidak lama berselang. Seorang satpam wanita masuk dan memberikan paper bag itu kepada Alvino.
"Pakai ini dan segera pulang."Ketus Alvino.
...----------------...
Beberapa hari berlalu...
__ADS_1
Sepertinya Alvino masih kecewa dengan Helena, terbukti selama dua hari terakhir ini, Alvino memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan Husna.
"Mas, ini sudah dua hari. Tidak baik bagi pasangan suami-istri marah terlalu lama."
"Hmm, dulu saat aku masih bersama dengan Helena. Aku selalu bersikap diam seperti ini hingga Helena sendiri yang mendatangiku dan mengakui semua kesalahannya."
"Itu kan dulu, sekarang status Helena sudah menjadi istri mas."
"Biarkan saja, lagi pula beberapa hari lagi aku dan dia akan pergi ke Bali."
"Ke Bali?"
"Helena ingin berbulan madu ke sana. Berat rasanya jika harus meninggalkan kamu, terutama dalam kondisi kamu yang sedang hamil."
"Husna tidak apa-apa Mas. Husna akan tinggal di Mansion selama kalian berbulan madu."
"Maafkan mas Husna..."
"Tidak perlu meminta maaf mas.."
Alvino memeluk Husna dengan erat, Husna merasakan ketidakikhlasan ketika dia mendengar bahwa Alvino dan Helena akan pergi ke Bali untuk berbulan madu.
Hari yang tidak diharapkan Husna, akhirnya terjadi. Alvino dan Helena sudah pergi dari rumah menuju Bali.
Walaupun Alvino masih terlihat kecewa karena Helena tidak kunjung menyadari kesalahannya, nyatanya mereka tetap pergi. Itu membuat Husna merasa bahwa sebenarnya cinta Alvino kepada Helena sangatlah besar. Hanya saja, ada Husna di antara mereka.
Seseorang sedang memperhatikan Husna yang mengantar kepergian Alvino dan Helena sampai ke depan rumah.
Elvio.
Ya, seseorang itu adalah Elvio. Elvio baru saja pulang dan langsung menuju rumah tempat di mana Husna dan Alvino tinggal.
Elvio ingin mengetahui sejauh mana rumah tangga Alvino dengan dua istri.
Elvio merasa sangat geram melihat Alvino pergi bersama dengan Helena.
"Tega sekali Alvino meninggalkan Husna. Apa menurutnya bulan madu lebih penting daripada menjaga istri yang sedang hamil."
"Lihat saja Alvino. Aku akan terus memantau keluarga mu. Jika sekali saja aku melihatmu senang menangis karena kamu yang tidak bisa adil. Aku akan langsung membawa Husna pergi."
"Husna?"
Elvio terkejut saat melihat Husna tiba-tiba sudah tergeletak di depan pintu rumahnya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...