
Helena yang merasa terluka karena perkataan Husna memilih untuk pergi dari sana.
Helena tidak benar-benar pergi, dia masih menunggu di luar mansion berharap Alvino akan mengejarnya dan membujuknya.
"Maafkan aku, Husna. Jika saja aku sejak awal jujur kepadamu tentang surat yang dikirimkan adik Helena kepadaku. Mungkin, hal ini tidak akan terjadi pada rumah tangga kita."
"Sudah lah mas, semuanya sudah terjadi. Menyesal tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Husna harap, setelah ini masakan lebih bijak dalam membagi waktu antara aku dan Helena." Ucap Husna.
Setelah mengatakan itu Husna memilih untuk beristirahat di kamar, meninggalkan Alvino, Mama dan Elvio.
Sesampainya di kamar, Husna mengunci pintu dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Husna menangis karena inilah kali pertamanya dia tidak dapat lagi menahan amarahnya.
Sementara itu,
"Ma, El, Al. Ada apa? apa yang terjadi di rumah ini dan kenapa Helena berada di luar mansion?" Tanya Alviana yang baru saja datang bersama dengan anak dan juga suaminya.
"Cih, Ternyata wanita itu tidak benar-benar pergi dari sini." Ucap Elvio.
"Pergi?" Alviana mengkerutkan dahinya karena dia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi.
"Mama, apakah mama bisa mengatakan kepadaku apa yang terjadi di sini? kenapa aku merasakan haredung yaa?" Ucap Alviana lagi.
"Tanyakan saja pada adikmu, Alvino. Dia pasti bisa mengatakannya kepadamu tentang apa yang terjadi." Mama kemudian segera pergi untuk menyusul Husna dan melihat apakah Husna baik-baik saja.
Tok
Tok
Tok
"Husna, ini mama sayang?"
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
Perlahan mama membuka pintu dan mendapati Husna tengah sholat. Rupanya setelah Husna merasa bahwa amarah dalam dirinya mereda, dia membuka pintu dan memutuskan untuk menggelar sajadah.
Alasan Husna membuka kembali pintu yang sebelumnya dikunci agar saat dia melakukan salat tidak terganggu oleh suara ketukan pintu.
Mama yang melihat Husna masih khusyuk, memilih untuk meninggalkannya dan akan berbicara dengan Husna nanti saja.
Mama gejala menuju balkon dan dia melihat apakah benar Helena masih ada di sana.
"Ckckck, Ternyata wanita tadi hanya berpura-pura meninggalkan rumah, rupanya dia sedang menunggu Alvino."
__ADS_1
"Baiklah. Mama akan melihat, siapa yang akan didatangi oleh Alvino."
...----------------...
Alviana sudah mendudukkan kedua adiknya, sang suami yang sudah mengantarkan anak-anak masuk ke dalam kamar ikut duduk bersama dengan istri dan kedua adik iparnya.
"Alvino, sekarang jelaskan kepada kakak apa yang terjadi?" Tanya Alviana pada Alvino.
"Bagaimana jika aku saja yang menjelaskan." Ucap Elvio.
"El..."
"Oke, aku hanya akan menjadi pendengar dan akan mengkoreksi setiap kata yang akan diucapkan oleh nya."
"El, tunjukkan sedikit rasa sopanmu terhadap Alvino."
"Kak, Bagaimana aku bisa sopan terhadap abangku sendiri yang tidak mengajarkan hal baik kepada adiknya."
"Apa maksud kamu?"
"Bukankah Kakak mengatakan kepadaku agar aku diam dan membiarkan Alvino menjawab semua pertanyaan kakak?"
Pandangan Alviana kemudian beralih menatap Alvino.
"Alvino, apa kamu mau kamu sendiri yang menceritakannya kepada kakak, atau Kakak akan meminta Elvio untuk menceritakannya?"
Alvino menghela nafas panjang kemudian dia menceritakan tentang maksud kedatangannya untuk menjemput Husna.
Alviana terkejut saat Elvio mengatakan apa yang dikatakan Helena tentang keluarga ini.
"Maaf menyela, tapi aku tidak dapat menghadiri lagi saat Alvino tidak mengatakan apa yang dikatakan Helena tentang keluarga ini." Ucap Elvio saat dia tiba-tiba memotong pembicaraan Alvino.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Alviana.
Alvino dan elvio kemudian saling bergantian menceritakan tentang apa yang terjadi selanjutnya, terutama tentang kejadian di mana Husna sangat marah.
"Jadi, Helena pergi karena merasa sakit hati atas perkataan Husna?" Tanya Alviana.
Alvino menganggukkan kepala.
"Alvino, kamu adalah kepala rumah tangga. Kamu yang mempunyai kendali penuh atas dua istrimu, seharusnya kamu bisa memprediksikan hal ini terjadi. Dimana Helena akan datang membuntutimu hingga ke sini." Ucap suami Alviana.
"Maafkan aku kak, saat itu aku hanya meninggalkan pesan kepada Helena agar menunggu kepulanganku bersama dengan Husna. Aku tidak berpikir jika dia akan datang ke sini dan membuat suasana panas."
"Sudahlah, sekarang selesaikan urusan rumah tanggamu. Kamu harus bisa menjadi penengah dari haredung yang melanda rumah tanggamu." Ucap Suami Alviana.
"Menurut kakak, siapakah yang harusnya lebih dulu aku temui? karena jujur saja aku tidak tahu haruskah aku menemui Helena yang ternyata tidak benar-benar pergi. Atau menemui Husna setelah dia marah." Ucap Alvino.
"Jangan tanyakan masalah ini kepada kami. Yang tahu jawabannya adalah dirimu sendiri. Kamu pernah menjalin kedekatan yang sangat dekat dengan Helena, kamu juga sudah mengerti bagaimana sifat Husna. Jadi Kakak harap kamu bisa menemui wanita yang tepat."
"Benar, jangan sampai masalah sekecil ini saja membuat haredung yang terjadi semakin memburuk." Imbuh Alviana.
__ADS_1
Satu persatu saudara Alvino meninggalkannya. Alvino memejamkan mata karena jujur dia tidak tahu harus membujuk siapa.
Hatinya ingin membujuk Helena, karena takut Helena akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang pernah dilakukannya saat Helena tidak sengaja mendengar bahwa Alvino akan segera memulangkannya.
Akan tetapi, hati dan pikiran Alvino tertuju pada Husna.
Alvino makanan nafas panjang kemudian dia memilih untuk menemui Husna.
Sebelumnya, Alvino menyempatkan diri untuk mendatangi Helena.
"Al, Aku tahu kamu pasti akan datang mencariku." Ucap Helena sambil tersenyum.
"Pulang lah Helena, Bukankah sudah kukatakan jika aku akan pulang bersama dengan Husna."
"Al..."
Alvino memilih untuk pergi dari hadapan Helena setelah dia mengatakan pesan yang ingin dia sampaikan.
Alvino segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar, dia melihat Husna sedang menata pakaiannya ke dalam koper.
"Husna..."
"Aku tahu, kedatangan Mas ke sini untuk menjemputku kan. Jadi aku sudah siap untuk pulang." Ucap Husna tanpa melihat ke arah Alvino.
"Husna, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu jika Helena akan datang dan membuat suasana panas."
"Mas, terlalu banyak meminta maaf akan membuat kata itu tidak akan ada artinya lagi."
"Jika kata maaf bisa memperbaiki keadaan, penjara tidak akan penuh dengan orang orang yang bersalah." Ucap Husna.
Alvino tertunduk.
"Husna, berikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang adil bagi kalian."
"Aku selalu memberikan kesempatan untukmu Mas. Dan mas harus tahu, ketika kepercayaan dirusak, kata maaf sudah tak ada artinya lagi."
"Ketika kesetiaan dikhianati, maka tidak ada lagi kepercayaan untuk kedua kalinya. Husna tahu, Husna yang sudah mengizinkan pernikahan ini. Hanya saja Husna menyayangkan tindakan Mas Alvino yang pergi menemui Helena, tanpa berkata yang sejujurnya kepada Husna."
"Husna, aku..."
"Ayo mas, Husna sudah siap. Bukankah Helena masih ada di luar rumah karena menunggu mas?"
Deg !!
Husna..
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1