
"Helena, sepertinya setelah kami pergi meninggalkan kamu. Kamu belum belajar apapun."
"Apa maksud Ibu?" tanya Helena.
"Ibu bisa membaca dari matamu jika kamu masih berharap Alvino akan mencintai kamu, dan kamu tidak ingin berbagi cinta dengan siapapun. Termasuk Husna, yang merupakan istri pertama dari Alvino."
"Loh, memangnya apa salahnya jika aku berharap mendapatkan cinta yang sepenuhnya dari suamiku?"
"Tidak salah, hanya saja kamu harus belajar berbagi. Kamu adalah orang ketiga yang tidak sengaja diundang dan menjadi bagian dari dua orang yang sudah mulai saling mencintai."
"Bu, sebelumnya aku adalah wanita yang paling dicintai Alvino. Jadi wajar saja ketika aku menginginkan cinta yang sepenuhnya dari laki-laki yang sudah resmi menjadi suamiku."
"Nak, jangan terlalu mengedepankan ego mu. Segala sesuatu nya tidak mungkin berjalan seperti ini jika tidak ada ikut campur dari istri yang lain."
"Apa maksud Ibu?"
"Nak, Hati seorang Istri itu sangat lembut. Dia yang benar-benar mencintai karena Allah, tidak akan kecewa walaupun sebenarnya hatinya sakit melihat cinta yang belum sempurna tapi harus dibagi."
"Komunikasi adalah hal krusial dalam setiap hubungan, termasuk pernikahan. Segala sesuatu yang dihadapi oleh masing-masing pasangan harus dikomunikasikan dengan baik supaya nggak menimbulkan kesalahpahaman."
"Selama ini komunikasi antara aku dan albino berjalan baik dan sesuai dengan apa yang aku inginkan."
"Lalu bagaimana dengan komunikasi kamu dengan istri pertama dari Alvino?"
"Ibu, aku tahu ibu menginginkan jika aku harus akur dengan Husna. Sayang nya aku tidak bisa, pernah aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Namun saat aku mengetahui jika Alvino lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan istrinya. Perasaan benci dan tidak suka kembali menyelimuti hatiku," ucap Helena.
"Aku rasa tidak ada wanita yang rela melihat suaminya berbagi cinta dan kehangatan bersama dengan wanita lain," imbuhnya.
"Jika kamu saja bisa memiliki pemikiran seperti itu. Bagaimana dengan Husna?"
Helena terdiam sambil melihat sekilas ke arah ibunya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kadang, seorang istri lebih memilih memendam perasaannya karena nggak ingin menimbulkan masalah antara dirinya dan pasangannya. Padahal, ungkapan hati seorang istri kepada suami bisa memperjelas apa yang sedang ia rasakan."
"Ya, biarkan saja dia memendam perasaannya seorang diri. Bukankah aku juga tidak menyuruhnya untuk memendam perasaan nya."
"Helena, kenapa kamu selalu menilai segala sesuatu dari sudut saja? seandainya saja kamu bisa melihat dari sisi yang lainnya."
__ADS_1
"Menjadi seorang istri merupakan peran yang tidak mudah. Begitu juga peran suami sebagai kepala rumah tangga. Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, adakalanya pasangan suami istri perlu meningkatkan rasa cinta, sayang, memberi perhatian dan pengertian."
"Coba bayangkan jika kamu berada di posisi Husna, kamu yang masih mencoba untuk membangun kehangatan di dalam rumah tanggamu. Harus menerima kenyataan bahwa ada orang asing yang hadir di tengah-tengah kalian."
"Bu, sebenarnya ibu datang ke sini itu untuk menemani aku dan memberi aku semangat. Atau hanya ingin menceramahi aku?"
"Helena..."
"Bu, aku sudah dewasa dan aku tahu mana yang terbaik untuk jalan hidup ku. Lagipula ini adalah kehidupanku, ini adalah rumah tangga. Tidak statusnya itu terlalu bercampur bahkan memerintahkan apa yang harus aku lakukan terhadap Husna."
"Terserah kamu saja, sebagai orang tua kami hanya bisa mengingatkan agar kamu tidak menyesali perbuatan yang sudah kamu lakukan."
...----------------...
Satu Minggu setelah dokter menyatakan bahwa Helena mengidam kanker nasofaring stadium 2, dokter mulai melakukan tindakan pembedahan.
Helena berharap bahwa Alvino akan berada di sampingnya dan memberikan semangat bagi dia yang akan memasuki ruang operasi.
Sayang nya, Alvino memilih untuk menemani Husna yang sedang melakukan pengajian 40 hari meninggalnya calon buah hati mereka.
"Mas, Bukankah hari ini adalah hari dimana Helena akan melakukan operasi?" tanya Husna setelah acara pengajian yang digelar sederhana itu selesai.
"Lalu kenapa Mas ada di sini?"
"Husna, kenapa sekarang kamu lebih banyak bertanya tentang alasan kenapa aku berada di sisimu? apa kamu sudah tidak mau lagi jika aku berdiri di sampingmu seperti ini?"
"Tidak, bukan itu. Maksud aku adalah..."
Husna tidak meneruskan kata-katanya saat Alvino langsung memeluknya.
"Maafkan aku Husna, aku kurang memberikan pengertian kepada Helena sehingga hal ini terjadi kepada kita. Seandainya saja aku bisa mendeteksi lebih awal apa yang sebenarnya diinginkan oleh Helena. Mungkin calon bayi kita masih berada di..."
"Tidak masalah mas, semua ini sudah menjadi takdir yang harus kita jalani bersama."
"Aku bahagia walaupun sebenarnya aku terluka. Tapi sungguh itu tidak masalah bagiku selama mas masih ada di situ dan mencintaiku. Tidak masalah bagiku jika aku harus berbagi cinta dengan perempuan lain."
"Aku menjalani pernikahan ini karena ibadah dan mengharapkan ridho Allah, Aku mencintaimu karena Allah. Insyallah, segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan kebahagiaan."
__ADS_1
"Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta dan dukungan mu." Alvino semakin mempererat pelukannya.
Lengannya cukup kuat, untuk menahan setiap rasa takut, setiap bagian diriku yang indah dan patah. Pria ini tidak hanya membuatku merasa lengkap, dia melengkapi ku.
Aku tahu, beban yang harus diartikan tidaklah mudah. Ada dua hati yang harus dia jaga. Namun aku bersyukur memiliki pria yang selalu berusaha untuk menjaga hati dua wanita yang sekarang berada di dalam hidup nya.
Tanpa Husna tahu, Alvino sedang menangis di dalam pelukan Husna. Dia menangis karena merasa dialah penyebab dari hilangnya calon buah hati mereka.
Alvino merasa bahwa dia benar-benar tidak adil terhadap Husna, dia merasa bahwa dia terlalu menjadi budak cinta Helena.
Aku berjanji Husna. Setelah ini aku akan memperbaiki segalanya. Aku hanya perlu sedikit tegas dengan Helena.
Di sisi lain...
Selvia sedikit terkejut karena saat mereka baru saja sampai di bandara, sebuah mobil mewah menjemput kedatangan mereka.
Bukan itu saja, mereka tinggal disebuah mansion mewah.
Ernesto mengatakan jika itu hanyalah tempat tinggal sementara. Mansion itu adalah milik bos tempat di mana Ernesto akan mulai bekerja.
Hingga sepekan terakhir ini, Selvia mulai merasa nyaman dengan semua fasilitas mewah yang dia terima.
Ernesto sangat bersyukur karena Selvia tidak lagi berpikir bahwa bayi mereka akan diberikan kepada orang lain.
Ernesto yang juga diberikan perusahaan oleh saudagar kaya itu, mulai sibuk mengurus perusahaan.
"Ernesto, jangan lupakan tentang kesepakatan kita. Kamu sudah menikmati segala yang telah aku berikan, jangan sampai kamu terlalu menikmatinya sehingga kamu melupakan tentang kesepakatan kita."
"Nyonya jangan khawatir akan hal itu. Aku tidak akan pernah melupakan tentang kesepakatan kita, karena aku sudah memiliki rencana untuk mengambil bayi itu walaupun aku harus membohongi Selvia."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...