MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 41 : Kesedihan


__ADS_3

"Helena, Aku tidak menyangka jika dalam dirimu ternyata ada sosok iblis."


"Jaga ucapan mu, Ernesto." Ketus Helena.


"Cih, kamu baru saja mendorong seseorang dari tangga ini. Lihatlah, kamu bahkan sama sekali tidak mempunyai rasa simpati kepadanya."


Helena kemudian melihat Husna digotong oleh beberapa orang dan langsung dimasukkan ke dalam mobil ambulans.


"Bukan urusanmu." Ucap Helena sambil berusaha untuk pergi dari hadapan Ernesto.


"Eh, aku memang sudah tidak ingin lagi berurusan dengan mu. Tapi, kedua orang tuamu yang terus mendesak dan memohon agar keluargaku memberikan kembali apa yang sudah menjadi milik mereka. Membuat ku terpaksa harus kembali berurusan dengan mu."


"Sekarang, aku juga memiliki kartu As mu. Jadi jangan pernah mencoba untuk mempermainkan aku."


Drrttt drrttt drrttt..


Ponsel Helena berdering, dia sedikit terkejut saat melihat nama Alvino yang tertera di ponselnya.


"Apa kamu sudah mengirimkan video rekaman itu kepada suamiku?" Tanya Helena sambil menatap Ernesto.


"Kenapa? apa kamu takut sehingga kamu tidak mengangkat panggilan dari suamimu?" Tanya Ernesto.


"Akan aku buktikan jika aku tidak pernah takut akan apapun."


Helena mengangkat panggilan dari Alvino. Sebenernya Helena takut jika Ernesto sudah mengirimkan video di mana Helena sengaja mendorong Husna.


"Helena, kamu ada di mana kenapa kamu tidak kunjung mengangkat teleponku?" Tanya Alvino.


"Maaf, di sini sangat berisik sehingga aku tidak dapat mendengar ponselku yang berada di dalam tas."


"Husna mengalami kecelakaan, beberapa orang yang melihat Husna sengaja didorong oleh seseorang dari lantai atas. Sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Mitra Sehat. Aku harap kamu akan segera datang dan menyusul aku."


"Baiklah."


Helena bernafas dengan lega karena ternyata Ernesto tidak mengirimkan video rekaman itu kepada Alvino.


"See, Aku tidak pernah takut terhadap ancaman siapapun."Ucap Helena.


"Ya, kamu bisa bertahan seperti itu karena aku belum melakukan apapun. Ingat Helena, aku akan selalu berada di sekitarmu untuk mengingatkanmu akan uang yang harus kamu bayar."


"Ernesto, apa kamu mencoba untuk memerasku?"


"Kamu boleh bertanya kepada adikmu jika kamu meragukan aku."


"Aku harus pergi sayang.." Bisik Ernesto setelah dia memeriksa ponselnya yang berdering.


Helena terkejut saat Ernesto memanggilnya dengan sebutan sayang.


Helena memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit agar Alvino tidak curiga jika dirinya lah yang sudah membuat Husna celaka.


Husna belum sadarkan diri saat Helena sampai di rumah sakit.


"Al..."


"Helena, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Alvino yang di balas anggukan kepala dari Helena.


Helena kemudian berjalan mengikuti Alvino dan keluar dari ruangan Husna.

__ADS_1


"Ada apa Al?"


"Helena, aku tidak bermaksud untuk menyalahkan kamu. Aku hanya ingin mendengarnya secara langsung dari mu."


"Mendengar apa?"


"Apa kamu tahu tentang siapa yang sudah mendorong Husna?" Tanya Alvino.


"Kenapa aku?"


"Beberapa orang melihat jika kamu berjalan bersama dengan Husna sebelum insiden pernah terjatuh dari tangga penyeberangan."


"Aku tidak tahu, aku memang berjalan bersama dengan Husna, karena aku berniat untuk mengajaknya minum di kedai yang ada di seberang jalan. Saat kami baru berjalan di jembatan penyeberangan. Aku berhenti untuk membeli minum, lalu aku melihat Husna sudah terjatuh."


"Apa Husna baik baik saja?" Tanya Helena


"Husna baik baik saja, hanya dia harus kehilangan bayi nya." Ucap Alvino dengan sedih.


Bagus, itu adalah akibat karena kamu selalu mengganggu waktu yang seharusnya menjadi milik aku dan Alvino.


"Al, Aku tahu kamu juga merasa sedih atas kehilangan bayi Husna. Tapi percayalah, kamu akan segera mendapatkan bayi. Itu adalah bayi kita nanti."


"Apa kamu yakin? bukankah dokter mengatakan jika umurmu hanya 3 bulan saja?"


"Itu...., itu...." Helena terlihat gugup dan tidak menyangka jika Alvino akan berkata seperti itu kepadanya.


"Alvino...."


Untung saja kedatangan Mama dan kakak Alvino menyelamatkan Helena dari pertanyaan yang harus dijawab.


"Mama.."


"Husna harus kehilangan bayinya."


"Ya Allah, sekarang bagaimana keadaan Husna?" Tanya Mama.


Alvino menelan nafas panjang sambil melihat ke arah ruangan tempat di mana Husna berada.


Mama dan Alviana langsung masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Alvino. Helena yang merasa diajukan oleh Kakak ipar dan juga mertuanya, memilih untuk tetap berada di sana dan tidak mau masuk.


"Lebih baik aku berada diluar saja. Untuk berjaga-jaga jika Husna sadar dan mengetahui jika sebenarnya aku yang sudah mendorongnya hingga membuatnya harus kehilangan bayi nya." Ucap Helena.


"Cih, katanya kamu tidak pernah takut akan apapun. Nyatanya untuk masuk ke dalam ruangan itu saja kami tidak berani."


"Ernesto. Kamu lagi?" Ketus Helena.


Helena benar-benar terkejut dengan kedatangan Ernesto yang tiba-tiba.


"Kenapa aku ada disini?" Tanya Helena.


"Istriku sedang melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit. Dan siapa sangka jika aku juga bertemu denganmu disini." Ucap Ernesto.


"Pergilah."


"Uh tidak. Aku hanya akan pergi dan berhenti mengganggumu setelah kamu memberikan aku sejumlah uang yang aku inginkan. Dan Aku juga ingin kamu memberikan aku 200 juta sebagai uang tutup mulut agar aku tidak memberitahu kepada keluarga suamimu jika ternyata kamulah yang menyebabkan wanita itu celaka."


"Apa kamu sudah gila?"

__ADS_1


"Hahaha sebenarnya yang sudah gila di sini adalah kamu."


"Pergilah."


"Baiklah, Aku akan pergi tapi ingat untuk mempersiapkan uang yang sudah aku minta itu dalam waktu 3 hari."


...----------------...


Helena memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu dia melihat apakah Husna sudah sadar.


Helena melihat Husna sedang menangis di dalam pelukan Mama Alvino.


"Husna, Aku turut berduka atas kehilangan bayi kamu. Semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan kembali bayi kamu." Ucap Helena.


"Alvino, sebaiknya kamu membawa wanita ini pergi dari hadapanku." Ucap Mama.


"Kenapa?, Bukankah aku juga istri Alvino, aku berhak berada di manapun bersama dengan suamiku."


"Alvino..." ketus Mama.


"Helena, sebaiknya kita menunggu di luar saja."


Helena tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti langkah kaki Alvino.


Husna merasa terpukul dengan apa yang menimpanya.


"Ma, kenapa Allah mengambil malaikat kecil yang tidak berdosa itu dari Husna?"


"Istighfar sayang, Allah sedang menguji kamu. Ikhlaskan. Percayalah akan ada hikmah dibalik semua ini. Semoga siapa saja orang yang sudah dengan sengaja melakukan ini kepadamu, akan mendapatkan balasan yang setimpal." Ucap Mama.


Husna tidak dapat menahan kesedihannya, dia semakin menangis di dalam pelukan sama Mama.


Sementara itu, Helena terkejut saat melihat Ernesto masih ada di sana dan sedang melihatnya.


Ernesto memberikan kode kepada Helena agar Helena meminta sejumlah uang kepada Alvino.


"Al, bisakah aku meminta uang kepadamu?"


"Untuk apa?"


"Aku ingin melakukan operasi atas penyakit yang sedang aku derita. Operasi nya membutuhkan uang 500juta."


"Helena apa kamu sudah gila? dari mana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu?"


"Ya mana aku tahu."


"Helena, sebaiknya kita berkonsultasi dulu dengan dokter yang ada di rumah sakit ini. Kamu tidak boleh langsung memutuskan ingin operasi tanpa adanya konsultasi dengan dokter."


"Ayo, lebih baik sekarang kamu ikut aku dan kita berkonsultasi dengan dokter."


Deg !!


Tidak, Alvino tidak boleh membawa aku berkonsultasi dengan dokter. Aku harus melakukan sesuatu.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2