
Husna dan Alvino sedang harap-harap cemas menunggu di luar ruang ICU.
Husna segera menghubungi Alvino begitu mengetahui Helena pingsan dengan cairan merah keluar dari hidung.
Sudah 1 jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda dokter akan keluar dari ruang ICU.
"Mas, kenapa dokter itu sangat lama sekali?"
"Tenang lah."
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU dan membuat Husna serta Alvino bisa bernafas dengan lega.
"Keluarga pasien?" tanya dokter.
"Ya, kami adalah keluarga pasien." ucap Alvino.
"Mari ikut saya ke ruangan saya. Ada yang ingin saya bicarakan mengenai penyakit yang di derita pasien."
Alvino melihat ke arah Husna.
"Ikut lah, Aku akan menemani Helena. Mungkin saja setelah ini dia akan tersadar."
"Baiklah."
Alvino mengikuti langkah kaki dokter, sementara Husna mengikuti langkah kaki perawat yang membawa Helena ke ruang rawat.
Di ruangan dokter...
"Apa anda tahu sudah berapa lama pasien mengalami sakit ini?" tanya dokter yang mulai membuka suara setelah Alvino duduk di kursi yang ada di depan meja nya.
"Saya tidak tahu pasti kapan penyakit ini mulai menyerang istri saya, Saya hanya mengetahui beberapa bulan terakhir."
"Apa ada masalah dengan penyakit itu?" tanya Alvino.
"Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Karsinoma adalah kanker yang berasal dari sel-sel epitel dinding dalam dan luar nasofaring. Nasofaring adalah bagian atas tenggorokan yang terletak di belakangan hidung." Ucap dokter sambil membuka map yang ada di sebelah kanannya.
"Nasofaring berbentuk seperti sebuah kotak berongga dan terletak di bagian lunak atap mulut, terletak di belakang hidung. Menurut American Cancer Society, Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang paling sering tumbuh di daerah nasofaring."
"Baru-baru ini saya mengetahui bahwa kanker nasofaring yang dicerita oleh istri saya masih berada di stadium 0."
"Maaf mengecewakan anda tuan Alvino. Tapi Saya rasa kanker yang saat ini menyerang istri anda bukan lagi berada di stadium 0."
"Apa maksud anda?"
"Kami memerlukan izin anda untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang sekarang sedang diderita oleh istri anda."
"Pemeriksaan?"
"Ya, untuk menentukan stadium kanker nasofaring."
"Bisa anda jelaskan secara rinci?"
"Proses untuk menegakkan diagnosis pasien yang menderita kanker nasofaring dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan biopsi. Terdapat satu patokan untuk pemeriksa agar curiga terhadap akan adanya karsinoma nasofaring, diantaranya setiap tumor di leher yang letaknya di bawah mastoid dan di belakangan angulus mandibula kemungkinan adalah karsinoma nasofaring, serta terdapat gejala hidung, mata, telinga dan saraf yang lengkap."
__ADS_1
"Selain itu, penegakan diagnosa karsinoma nasofaring dapat dilanjutkan dengan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala dan leher untuk melihat tumor primer yang letaknya tersembunyi dan pemeriksaan serologi IgA untuk infeksi virus Epstein-Barr. Langkah terakhir yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa tersebut adalah melalui tindakan biopsi dengan mengambil sampel dari benjolan di nasofaring untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop."
[Sumber google]
"Baiklah, lakukan apapun untuk segera mengetahui penyakit yang di derita istri saya."
Setelah menandatangani surat persetujuan pemeriksaan, Alvino keluar dari ruangan dokter dan langsung menuju ruang rawat Helena.
"Husna..."
"Mas?"
"Bagaimana keadaan Helena?"
"Masih belum sadar. Apa kata dokter tentang Helena?" tanya Husna.
"Dokter mendiagnosis jika kanker yang diderita Helena bukan lagi stadium 0."
"Apa?" Husna terkejut sambil melihat ke arah Helena yang masih pingsan.
"Lalu bagaimana?"
"Dokter akan kembali melakukan pemeriksaan terhadap Helena. Aku sudah menandatangani berkas persetujuan itu, dokter akan segera melakukan pemeriksaan terhadap Helena."
...----------------...
Di tempat lain...
"Selfia, sebaiknya kita segera kembali ke negara kita." Ucap Ernesto sambil menutup pintu kamar.
"Kita tidak akan mendapatkan apapun, Helena sudah mengatakan yang sebenarnya kepada suami nya."
"Aku juga mendapatkan informasi jika Helena masuk ke rumah sakit, kondisinya sangat kritis dan tidak memungkinkan bagi aku untuk terus menekannya dan memberikan kita uang."
"Ernesto, jika kita kembali tanpa membawa uang. Kita tidak akan di terima oleh keluarga. Lalu dimana kita akan tinggal?"
"Kita harus membujuk orang tua mu, agar mengijinkan kita untuk tinggal. Kedua orang tua ku tidak memungkinkan untuk bisa kita tinggali. Mereka sedang dalam masa penyembuhan setelah kehilangan seluruh harta kekayaan."
"Ernesto..."
"Selvia, kita tidak punya pilihan lain. Kecuali..."
"Tidak. Tidak. Tidak, dan tidak," ucap Selvia yang tahu arah pembicaraan Ernesto.
Ernesto mendekati Selvia dan memegang tangan nya.
"Kita masih bisa memiliki anak lagi. Apa susahnya memberikan anak pertama kita untuk orang yang bersedia menjamin kehidupan kita?"
Selvia tak kuasa menahan air matanya..
Kepergian mereka dari tanah kelahiran, karena ada saudagar kaya yang ingin sekali memiliki anak, mereka menjanjikan kehidupan yang mewah jika Ernesto mau memberikan bayi mereka.
Awalnya Ernesto memilih untuk pergi dari sana agar orang itu tidak terus-menerus meneror Ernesto dan Selvia agar mau memberikan bayi mereka.
__ADS_1
Ernesto sempat mendatangi kedua orang tua Helena dan mengatakan bahwa mereka boleh mengambil kembali pabrik yang sempat di sita, pasal kedua orang tua Helena memberikan sejumlah uang.
Karena kedua orang tua Helena tidak bisa memberikan Ernesto uang. Itulah yang membuat tekad dari keduanya semakin bulat untuk pergi meninggalkan negara mereka.
Sayang nya, semua yang Ernesto harapkan tidak bisa terjadi.
"Aku akan segera mengurus tiket kepulangan kita."
Setelah memastikan Ernesto pergi, Selvia mengambil tasnya dan dia pergi ke rumah sakit tempat di mana Helena berada.
Mudah sekali menemukan di mana ruangan Helena, karena Selvia diketahui identitas Helena dengan lengkap.
Helena baru saja sadar saat Selvia masuk ke dalam ruangan nya.
"Selvia?" Helena tentu saja terkejut karena saat dia membuka mata dia justru melihat Selvia.
"Helena, apa harus segera memberikan aku."
"Apa?"
"Beri aku uang, atau aku akan melenyapkanmu sekarang juga."
"Selvia, apa maksud kamu?"
Selvia melihat beberapa perhiasan yang sedang digunakan oleh Helena. Tanpa pikir panjang lagi, Selvia segera mengambil paksa perhiasan itu dan pergi dari.
Brak. !!
Selvia bertabrakan dengan Husna yang baru akan masuk ke dalam ruangan Helena.
"Husna, tolong hentikan dia,' teriak Helena.
"Maaf, anda siapa?" tanya Husna pada Selvia.
"Bukan urusanmu, minggir."
Selvia mendorong Husna, hingga dia terjatuh.
"Hei, kamu." Alvino yang melihat jika Husna didorong oleh seseorang tidak dikenal. Segera berlari dan menghentikan Selvia.
"Lepaskan aku." Selvia berusaha memberontak, namun cengkraman Alvino sangat kuat.
Alvino kemudian memaksa Selvia untuk mengatakan alasan kenapa dia datang dan masuk ke ruangan Helena serta mendorong Husna.
"Dengar, sebaiknya kamu tanya saja kepada Helena," ucap Selvia.
"Jangan pernah melimpahkan kesalahan kepada orang lain, jika kamu tidak ingin merugi atas tindakan kamu." Ucap Alvino.
"Selvia?"
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Maaf ya gabut.. besok pasti seru...
tadi sibuk di dunia nyata