
Pagi harinya...
Husna sudah siap menyiapkan makanan untuk sarapan.
Husna sedikit binggung karena sejak awal Husna berada di dapur, hingga selesai berkutat di sana. Husna tidak menemukan tanda-tanda akan kehadiran dari Alvino dan Helena.
Husna kemudian memutuskan untuk naik ke lantai atas, mencari keberadaan suaminya.
Setibanya di lantai atas, Husna tidak menemukan keberadaan Alvino. Husna kembali turun dan akan mencoba mencari keberadaan Alvino di kamar Helena.
Semakin Husna dekat dengan kamar Helena, semakin dia mendengar suara Helena dan Alvino.
"Aku tahu, semalam kamu tidur dengan Husna dan melakukan sholat subuh bersama kan?"
"Helena, kenapa kamu sangat marah? wajar kan aku menghabiskan waktu bersama Husna." Ucap Alvino dengan suara lembut. Tidak seperti Helena yang berbicara dengan suara ketus.
"Jelas aku marah. Apa kamu tidak tahu jika malam itu adalah malam pertama kita. Malam yang seharusnya kita habiskan berdua." Ucap Helena.
Husna mengela nafas panjang, dia merasa bahwa Alvino tidak bisa menghabiskan berdua dengan Helena karena ada dirinya.
"Alvino, jika dulu kamu tidak pernah menyentuhku karena ada batas di antara kita. Sekarang, aku sudah halal untuk kamu sentuh." Ucap Helena.
Husna memilih untuk pergi dari sana, karena dia tidak kuat mendengar hingga membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sepertinya aku harus kembali tinggal sementara waktu di mansion. Agar mas Alvino bisa memberikan dan menunjukkan kasih sayangnya kepada Helena."
Husna jalan menuju dapur dan memilih untuk sarapan terlebih dahulu.
Calon bayi dalam perutnya sepertinya sudah tidak tahan jika harus menunggu dua orang yang sedang berdebat di dalam kamar.
Air mata tiba-tiba menetes membasahi Husna. Tidak bisa dipungkiri, akan sarapan sendirian bukanlah keinginan dari Husna.
Husna menghapus air matanya dan kembali melanjutkan makan demi menjaga nutrisi untuk jabang bayinya.
Bahkan ketika Husna sudah selesai makan, masih ada tanda-tanda dari Alvino maupun Helena akan keluar dari kamar.
Husna meninggalkan sebuah catatan dan masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, di kamar Helena...
Helena mendekati Alvino, Alvino sedikit mundur.
"Alvino, jangan menghindar lagi. Aku juga istrimu. Kini Aku adalah wanita yang halal untuk kamu sentuh."
Alvino memejamkan mata saat Helena menarik tangan Alvino untuk menyentuh pipi Helena.
"Lihatlah aku, Alvino.."
Alvino membuka mata, Helena tersenyum dan sedikit berjinjit agar bisa setara dengan bibir Alvino.
"Kiss me.." Bisik Helena.
__ADS_1
Alvino menabrakkan bibirnya sekilas, saat Alvino akan pergi, Helena menahannya. Hingga cukup lama mereka saling begitu.
"Helena, kita harus keluar untuk sarapan. Husna pasti sudah menunggu kita."
Mau tidak mau, Helena akhirnya menghentikan apa yang sangat ingin dia lakukan bersama dengan Alvino.
Helena menggandeng tangan Alvino dan bersama-sama keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang makan, Helena tersenyum karena dia tidak mendapati Husna.
Sementara Alvino justru merasa bersalah karena Husna tidak ada di sana, dan justru menemukan catatan dari Husna.
(Maaf mas, Husna tidak menunggu Mas untuk sarapan bersama. Rasa lapar ini, membuat Husna memilih untuk sarapan terlebih dahulu)
"Husna..." Lirih Alvino sambil melihat ke lantai atas.
Helena segera menyiapkan satu kursi dan satu piring yang sudah dia isi dengan makanan.
"Ayo duduk, Mas." Pekik Helena.
"Dimana piring mu?" Tanya Alvino saat dia melihat Helena meletakkan piring di depannya dan tidak melihat piring lain yang berisi makanan.
"Kita akan makan berdua, bukankah sebelum berdua merupakan keromantisan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri dalam Islam?" Ucap Helena sambil duduk di pangkuan Alvino.
"Aku sudah menjadi istrimu sekarang, aku akan melayanimu sepenuhnya."
Helena mulai menyuapi Alvino, hingga setiap ada sesuatu yang tertinggal. Helena langsung membersihkan nya dengan bibir.
Untuk sesaat mereka saling berpandangan, hingga dengan berani Helena kembali mendekatkan bibirnya pada Alvino.
Cup
Helena menahan Alvino, agar Alvino tidak pergi.
Keduanya larut dalam asmara, hingga tanpa sadar beberapa piring terjatuh ke lantai.
Husna yang mendengar itu, segera keluar dari kamar. Namun, Husna terkejut saat melihat Alvino dan Helena sedang bercumbu.
Deg !!
Husna mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya dan berjalan masuk kembali ke dalam kamar.
"Helena, hentikan." Ucap Alvino saat Helena melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Aku menginginkan mu." Ucap Helena.
"Aku mohon..." Imbuhnya dengan nada sensual.
Alvino hanya menghela nafas panjang dan pasrah saat Helena menariknya masuk ke dalam kamar.
Satu jam berlalu, Husna yang sudah mulai tenang memilih untuk memberanikan diri untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
Husna tidak melihat tanda-tanda dari keduanya, dengan perlahan Husna turun ke bawah dan melihat dapur dalam keadaan berantakan sementara makanan masih utuh dan hanya ada setengah nasi di piring yang jatuh di lantai.
Husna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, Husna tidak menemukan keberadaan keduanya sehingga Husna memilih untuk membersihkan dapur.
Husna sudah selesai membersihkan dapur seperti sebelumnya. Namun baik Helena ataupun Alvino belum memberikan kode mereka akan terlihat kembali.
Husna naik ke lantai atas untuk mengobati luka akibat terkena pecahan piring.
Husna tidak tahu, jika Alvino dan Helena sedang tertidur karena kelelahan.
Alvino baru terjaga saat hari sudah senja. Setiap kali Alvino membuka mata, Helena kembali mengulang apa yang terjadi pada keduanya.
"Husna, kamu mau kemana?" Tanya Alvino saat dia keluar dari kamar Helena dan melihat Husna akan pergi dengan pakaian rapi.
"Mas mungkin lupa jika hari ini kita diundang Pak lurah dalam acara pengajian rutin di kawasan ini." Ucap Husna sambil tersenyum.
"Astaghfirullah, mas lupa. Tunggu mas Husna. Mas akan segera bersiap." Ucap Alvino sambil hendak berlalu meninggalkan Husna. Namun, belum sempat Alvino melangkah. Husna memegang lengan Alvino.
"Mas, tidak perlu. Tempat diadakannya pengajian juga tidak jauh dari rumah kita. Husna akan pergi sendiri. Husna tahu masalah, bahkan Husna tidak tahu apakah mas Alvino pergi ke kantor atau tidak. Makanan yang Husna siapkan juga tidak di sentuh sama sekali oleh Mas maupun Helena." Ucap Husna sambil tersenyum.
"Husna, maafkan..."
"Tidak apa apa mas. Husna tahu, jika sekarang istrimu bukan hanya Husna, jadi Mas harus membagi waktu dan kasih sayangmu dengan istri yang lain. Sekarang Husna akan pergi memenuhi undangan. Mas di sini saja menemani Helena."
Setelah mengatakan itu, Husna segera keluar dari rumah dan membiarkan Alvino terdiam di tempat sambil melihat ke arah dapur.
Dapur sudah bersih dalam keadaan semula, makanan juga sudah tertata rapi dan sepertinya Husna memasak makanan yang baru.
Alvino melihat ke arah jam dan dia baru menyadari bahwa dia berada di dalam kamar Helena hampir seharian.
Helena yang dari tadi berada di balik pintu dan mendengarkan percakapan antara Husna dan Alvino, langsung keluar dari kamar begitu memastikan bahwa Husna sudah keluar melewati gerbang.
Helena berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu itu.
Helena masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Helena.. kenapa kamu mengunci pintu?" Tanya Alvino.
"Husna sudah memberikan waktu untuk kita berdua menghabiskan hari bersama."
"Helena, kita sudah melakukannya.." Ucap Alvino sambil berusaha menahan diri saat Helena menggoda nya.
"Aku ingin bermain di kamar kamu dan Husna. Agar aku bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi Husna saat pertama kali melakukannya bersama mu."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1