
"Helena, dimana ponsel ku?" Tanya Alvino, sesaat setelah mereka sudah sampai di penginapan.
"Ada." Jawab Helena santai, sambil melepaskan jaket yang dia kenakan.
"Dimana? aku tidak menemukan nya." Ucap Alvino ambil terus mencari ponselnya.
"Alvino, kita ke sini untuk berbulan madu. Aku sudah mematikan ponselmu dan aku simpan di tempat yang aman. Aku tidak ingin bulan madu kita terganggu oleh hal apapun."
"Helena, kamu tidak bisa begitu. Aku harus menghubungi Husna dan mengatakan bahwa kita sudah sampai, agar dia tidak merasa khawatir."
"Alvino.., bukankah kamu sudah berjanji akan menghabiskan waktu selama sepekan ini hanya denganku. Itu artinya, kamu tidak boleh membahas hal lain baik itu urusan pekerjaan atau soal Husna."
"Kamu benar-benar membuatku merasa sangat kecewa. Ternyata seperti ini sifat asli kamu, kamu terlalu egois Helena." Pekik Alvino sambil keluar dari kamar meninggalkan Helena.
"Alvino, kamu mau ke mana?"
Alvino sudah pergi, Helena memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan berendam pada bak mandi yang sudah disediakan sebelumnya.
"Aku yakin, setelah ini aku pasti akan bisa meredam kemarahan Alvino. Lagipula, Alvino tidak akan bisa berlama-lama marah kepadaku. Dia sangat mencintaiku."
Alvino segera menuju satpam yang bertugas menjaga villa tempat di mana dia akan menginap selama di Bali.
Alvino meminjam telepon yang ada di pos jaga satpam tersebut. Karena Alvino tidak hafal nomor ponsel Husna, Alvino mencoba untuk menelpon nomor telepon rumahnya.
Sayangnya, walaupun Alvino sudah mencoba beberapa kali. Husna tidak mengangkat telepon yang berdering di rumahnya.
Alvino kemudian menekan nomor mansion, lalu kemudian Alvino mengingat bahwa dia belum meminta izin kepada sang Mama untuk perbulan madu bersama dengan Helena kembali.
Alvino akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Mansion, dia takut memakan marah karena ternyata dia dan Helena sudah berada di Bali tanpa meminta izin kepada beliau.
"Semoga saja setelah ini Husna akan menghubungi nomor ini lagi." Pekik Alvino setelah dia melakukan panggilan satu kali ke telepon yang ada di rumahnya dan meninggalkan pesan untuk Husna.
Alvino kembali masuk ke dalam villa dengan perasaan yang tidak menentu.
"Kenapa tiba-tiba pikiranku jadi tertuju kepada Husna? semoga saja dia baik-baik saja."
Alvino...
Seandainya saja kamu tahu jika Husna sekarang sedang dirawat di salah satu rumah sakit.
Elvio segera menghampiri Husna begitu melihat Husna pingsan dan membawanya ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan sementara mengatakan bahwa, Husna kurang menjaga pola makan dan nutrisi serta kurang beristirahat.
__ADS_1
"Husna, kenapa kamu mengizinkan Alvino untuk menikahi kekasihnya." Pekik Elvio.
"Lihatlah, kamu sekarang bahkan membahayakan nyawa dari calon bayimu. Aku tahu, sebenarnya kamu merasa sangat tertekan tinggal di antara mereka."
Tak lama kemudian..
Mama dan Kak Alviana datang. Elvio langsung menghubungi mereka berdua begitu Elvio sudah sampai di rumah sakit.
"Alvino, kemana? kenapa bisa kamu yang menemukan Husna dan membawanya ke rumah sakit?"
"Tanyakan saja nanti kepada Husna ke mana Alvino pergi. Jika Husna tidak mau menjawabnya, atau berkata bohong. Aku yang akan mengatakannya kepada Mama dan Kakak ke mana Alvino pergi."
Setelah mengatakan itu Elvio pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah sadar. Husna terkejut karena mengetahui dirinya berada di rumah sakit dan ditemani oleh Mama serta kakak.
"Husna, kamu sudah sadar, nak?" Tanya Mama.
"Ma, kenapa Husna ada di sini?"
"Kamu tadi pingsan, Elvio datang untuk berkunjung, tapi dia menemukan kamu pingsan di depan pintu."
"Aku pingsan...." Husna kemudian mengingat kejadian setelah dia mengantar Alvino dan Helena pergi.
"Iya Ma.."
"Alvino kemana? Elvio tadi mengatakan dengan nada emosi bahwa kami akan mendapatkan jawabannya dari kamu."
Kenapa Mama bertanya tentang keberadaan mas Alvino, apa mas Alvino tidak memberitahukan kepada mereka bahwa hari ini mas Alvino dan Helena mereka akan berbulan madu ke bali?.
"Husna..."
"Ah, iya ma. Maaf."
"Alvino kemana?"
"Mas Alvino..." Husna bingung harus menjawab apa, saat Husna masih memikirkan jawaban yang tepat agar Mama tidak kecewa. Elvio datang dan langsung menjawab pertanyaan dari Mama.
"Alvino dan Helena sedang berbulan madu di Bali. Mereka sedang bersenang-senang dan meninggalkan Husna dalam keadaan hamil."
Elvio memberikan beberapa foto kemesraan Alvino dan Helena kepada sang mama.
Rupanya, saat Elvio keluar dari rumah sakit, dia menelpon orang suruh hanya untuk mencari tahu kemana perginya Alvino.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Husna. Apa ini benar? apa benar Alvino dan Helena pergi ke Bali untuk berbulan madu?" Tanya Mama dan Husna menganggukkan kepala.
"Husna, kenapa kamu mengizinkan mereka untuk pergi. Apa kamu tahu, kondisi kehamilan kamu sangat lemah. Kamu bahkan tidak menjaga nutrisi yang seharusnya dikonsumsi oleh calon bayimu."
"Maaf ma.." Husna menunduk, membuat Mama menghembuskan nafasnya lalu berjalan dan duduk di tepi ranjang Husna.
"Nak, Mama tahu ini adalah keinginan kamu agar Alvino menikah Helena. Tapi, kamu harus sadar bahwa kamu adalah istri pertama, kamu bisa menentang keinginan mereka jika memang mereka akan pergi berbulan madu."
"Tidak apa apa ma, lagi pula apa yang diminta Helena benar. Jika Husna ada di posisi Helena, Husna pasti akan meminta hal yang sama." Ucap Husna.
"Kenapa Alvino tidak meminta izin kepada Mama? kenapa dia tidak meminta Mama untuk menjaga kamu selama dia pergi berbulan madu?"
"Husna tidak tahu ma, Husna sudah berulang kali mengatakannya kepada Mas Alvino, agar jangan lupa meminta izin dan memberitahu mama."
"Hais, Alvino itu benar benar keterlaluan. Apa kamu tahu Husna, sampai detik ini saja Alvino tidak menghubungi Mama. Jika kamu tidak ke rumah sakit dan Elvio tidak memberitahu Mama. Mama mungkin tidak akan pernah tahu jika Alvino dan Helena sekarang sedang bersenang-senang sementara kamu menderita seorang diri."
"Tidak ma, Husna berencana akan tinggal bersama dengan Mama. Setelah membantu menyiapkan barang-barang yang akan Mas Alvino perlukan dan mengantar kepergian mereka, Husna berencana untuk mengambil barang Husna dan pergi ke Mansion."
"Ya Allah Husna, sebenarnya hati kamu itu terbuat dari apa?" Tanya Mama, Husna terdiam.
"Tidakkah kamu merasa kecewa karena ternyata kamu harus berbagi suami dengan Helena?"
"Apa perasaan kamu tidak merasakan sesuatu yang sangat sakit, ketika kamu melihat ada wanita lain yang ikut melayani suami kamu? atau bahkan tugas kamu untuk melayani suami sudah diambil alih olehnya?" Ucap Mama.
"Perasaan jadi sesuatu yang bisa berubah kapan saja. Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah perasaan menjadi naik dan turun. Mulai dari faktor orang lain, lingkungan, tekanan, hingga kondisi tubuh sendiri bisa memengaruhi perubahan perasaan." Ucap Alviana.
"Husna, tanpa kamu menjawab pertanyaan dari Mama. Kakak, sebagai seorang wanita bisa mengerti apa yang sedang kamu rasakan."
"Husna, jangan pernah kamu mengundang perasaan sedih itu sendiri. Ingat, sekarang kamu sedang hamil. Jika sang Ibu terlalu banyak bersedih maka itu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin."
Husna masih terdiam, dia sedang berusaha keras agar air mata tidak terjatuh membasahi pipinya.
Dokter masuk dan langsung memeriksa kondisi Husna, Mama terlihat banyak bertanya tentang kondisi Husna kepada dokter.
Sepeninggalan dokter...
"Husna, Mama sudah memutuskannya. Mulai sekarang, Mama tidak akan lagi mengizinkan kamu untuk tinggal serumah dengan Helena."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1