
Kematian merupakan suatu hal pasti yang akan terjadi pada setiap manusia. Meskipun begitu, hanya Tuhan yang mengetahui secara pasti takdir kematian dari setiap orang. Sedangkan manusia tak mengetahui sedikit kapan waktu dirinya akan menjemput ajal.
Dengan begitu, kematian dapat terjadi kapan saja sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan. Tentu sebagian dari Anda pernah mengalami rasa kehilangan dari kematian anggota keluarga, saudara, teman, sahabat, hingga pasangan. Bukan suatu hal yang mudah, namun setiap manusia harus belajar menerima dan mengikhlaskan kenyataan yang terjadi.
Alvino membantu mengurus segala administrasi yang berkaitan dengan pemulangan jenazah Helena dan pemakamannya.
"Mereka yang kita cintai tidak akan pergi, mereka berjalan di samping kita dalam hati dan kenangan kita. Turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya," ucap Alvino pada Mama Helena.
"Terima kasih, Alvino. Kini Helena bisa hidup tenang."
"Ya semoga saja dia mendapatkan tempat yang layak setelah apa yang dia lakukan di dunia," ucap Alvino.
Selfia dan Ernesto terlihat mendatangi rumah Helena untuk mengucapkan bela sungkawa. Selfia terlihat hamil.
"Saya turut bersedih dan berduka cita sedalam-dalamnya. Sungguh, tak ada yang bisa aku sampaikan untuk saat ini," ucap Ernesto pada Keyla.
"Terima kasih, Ernesto."
Alvino kemudian pamit undur diri, setelah Helena di kebumikan.
Alvino melihat berkas milik Helena, dia mulai berpikir mungkinkah benar bayi yang sekarang bersama nya adalah bayi kandungnya.
...----------------...
"Husna, apa kamu bisa datang ke rumah sakit?" tanya Salsabila.
"Ada apa?"
"Kemarin rumah sakit menerima bayi untuk melakukan tes DNA. Namun karena kondisinya yang belum memungkinkan untuk dilakukan tes DNA, jadi bayi itu sedang dirawat."
"Masalahnya dimana? apa hubungannya dengan aku?" tanya Husna.
"Rumah sakit, kekurangan stok Asi. Bayi ini perempuan, usianya mungkin seumuran bayi kamu. Jadi jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu datang dan menyumbangkan asi?"
"Baiklah, aku akan datang beberapa saat lagi."
Husna menutup panggilannya, kemudian memeriksa apakah Anisa sudah terbangun atau belum.
Husna tersenyum saat melihat putri kecilnya sudah terbangun.
"Anisa Rahma Azhari, anak pertama ku. Ibu akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Bersama kita akan berbagi kebahagiaan."
Dengan perlahan, Husna mengambil bayi kecilnya itu kemudian memberinya Asi sambil mengelus-ngelus kepalanya dengan.
"Nak, seandainya kamu tahu jika baru saja ayahmu datang dan meminta ibu untuk kembali bersama dengannya."
__ADS_1
"Maafkan ibu nak, karena Ibu tidak bisa untuk kembali bersama dengan ayah. Mungkin kamu mendengar ini dan menganggap bahwa ibu egois. Tapi percayalah jika Ibu menerima permintaan ayahmu dan kembali rujuk, ibu takut jika kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan justru luka seperti yang pernah ibu rasakan."
Husna mengusap air matanya dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berjuang untuk melawan rasa sedih yang ada di hatinya karena sebentar lagi dia akan resmi berpisah dengan Alvino.
Ibu tidak akan membiarkan kamu kekurangan cinta dan kasih sayang, iba kan pastikan bahwa kamu akan mendapatkan semuanya walaupun ibu tidak akan pernah bisa kembali bersama dengan ayah mu.
...----------------...
...----------------...
Husna berjalan menelusuri koridor di rumah sakit dan langsung menuju ruang bayi. Dengan menggendong buah hatinya, Husna masuk dan langsung menemui Salsabila yang sedang bertugas.
"Husna, akhirnya kamu datang."
"Ada apa?"
"Bayi yang belum memiliki nama itu rewel dan membuat kami para perawat kelelahan untuk mengurusnya, bayi malam itu sama sekali tidak dijenguk oleh orang yang membawanya, beliau mengatakan bahwa sang ayah akan datang untuk menjemputnya. Tapi kami sudah menunggu 2 hari dan sudah ada seorangpun yang datang untuk mengambil bayi."
"Masyallah, kasihan sekali. Bahkan mereka belum memberikan nama."
"Bayi ini, kekurangan berat badan. Kami sudah berusaha memberinya susu, tapi bayi ini sangat susah untuk meminumnya."
Husna memberikan Anisa kepada Salsabila, kemudian mendekati salah seorang perawat yang terlihat menimang-nimang bayi yang masih menangis.
Setelah menggunakan pakaian khusus kedokteran, Husna berjalan mendekati perawat itu dan mengambil alih bayi yang sedang menangis.
Husna tersenyum saat bayi malang itu tertidur dan mulai tenang.
"Husna, kamu langsung menyusui bayi itu? Aku pikir kamu akan memompa asi dan memberikannya melalui dot?"
"Bukankah kamu mengatakan jika bayi perempuan ini kemungkinan usianya sama dengan Anisa? jadi tidak mengapa aku menjadi Ibu susunya selama bayi ini belum diambil oleh orang tuanya. Apakah kamu sudah memeriksa siapa yang membawa bayi ini?"
"Ya, aku sudah menghubungi pihak administrasi dan memerintahkan mereka untuk menghubungi orang tua bayi malang ini."
"Sayang, kamu adalah anugerah yang dititipkan Tuhan kepada orang tua kamu. Kenapa mereka justru tega menelantarkan kamu di rumah sakit ini dengan dalil ingin melakukan tes DNA? bahkan orang tuamu belum memberikan nama kepada kamu. Bagaimana jika Ibu susu ini memberi kamu nama Alisa?"
Husna tersenyum sendiri, kemudian dia menidurkan Alisa ke box bayi yang ada di samping tempat tidur Anisa.
"Bayi malang ini mirip sekali dengan putriku, Anisa. Mata dan hidungnya sama. Jika dijajarkan seperti ini mereka terlihat seperti bayi kembar."
Sementara itu..
Mama Alvino terlihat mondar-mandir dan bingung apakah dia harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil bayi itu, atau justru dia akan membiarkan bayi itu berada di rumah sakit sampai Alvino kembali.
"Bagaimana? informasi apa yang kamu dapatkan?" tanya mama pada seseorang yang dia tugaskan untuk mencari kebenaran tentang bayi yang dibawa Lalisa dan diberikan kepada Alvino.
__ADS_1
Mama terlihat mendengarkan dengan seksama penjelasan yang diberikan oleh seseorang itu.
Jika bayi itu memang benar-benar bayi Helena dan Alvino. Apa yang akan Alvino lakukan? apa dia akan kembali rujuk dengan Helena? tapi bagaimana dengan Husna? bukankah Husna juga memiliki anak dari Alvino? dan Elvio? astaga bagaimana aku bisa melupakan tentang dia?
Elvio tidak pulang sejak 2 hari terakhir untuk mencari keberadaan Husna. Mama segera menghubungi Elvio untuk memberi kabar bahwa Melia dan keluarga datang tadi malam.
Elvio yang menerima pesan dari sang mama segera memutar kendaraannya dan menemui Melia.
Elvio dan Melia kini terlihat berada di taman rumah Melia yang ada di kota.
"Cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Seperti kisah dari beberapa orang atau sepasang kekasih yang saling mencintai tapi tak bisa bersama karena berbagai alasan, mulai dari direstui orang tua, terpisah jarak yang sangat jauh, karena waktu yang belum bisa memberi kesempatan bersatu dan alasan lainnya yang terkadang sulit untuk dijelaskan."
"Melia kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Kau dan aku tak bisa bersama, Bagai syair lagu tak berirama. Mencari Cinta Sejati yang di populerkan Cakra Khan."
"Apa maksud kamu dengan mengatakan bahwa kita tidak akan bisa bersama? jika kamu kecewakan yang saat itu aku dan mama tiba-tiba pergi meninggalkan rumah keluargamu. Aku minta maaf."
"Elvio, Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan. Bahwa Aku memiliki ragamu tapi tidak dengan hatimu. Aku rasa, hal yang seperti itu tidak mungkin bagi kita untuk bisa mengarungi bahtera rumah tangga."
"Jika benar-benar menyelami keabstrakan cinta, maka berbahagialah bersama keindahannya dan tegarlah bersama kepedihannya. Cinta itu tak harus memiliki, namun mengasihi. Sebab cinta yang tulus adalah merelakan bukan memaksakan."
"Melia..."
"Tulusnya cinta, meski tak lagi bersama, kadang rasa benci hadir dalam dada, kamu tetap tak pernah melewatkan seharipun tanpa merindukannya," ucap Melia yang tahu bahwa Elvio begitu mencintai Husna sehingga sangat khawatir saat mendapatkan kabar bahwa Husna pergi.
"Melia, aku memang merindukannya tapi bukan berarti hubungan kita berhenti sampai di sini."
"Elvio, kita tidak akan pernah bersama sampai kapanpun."
"Tapi kenapa? apa hanya karena di dalam hatiku masih ada Husna?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Karena kalian adalah saudara," ucap suara yang familiar bagi Elvio.
Elvio berbalik dan..
"Mama?"
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...