MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 88 : Panggil paman, Ayah!


__ADS_3

"Elvio, Bukankah seharusnya kamu sudah menjadi suami dari Melia? kenapa kamu masih berharap aku akan membalas perasaan kamu?"


"Apa aku salah menanyakan hal ini ketika kamu dan Alvino sudah resmi bercerai?"


"Salah, sana sekarang status kamu sudah menjadi suami dari Melia, tidak seharusnya kamu menanyakan hal ini kepada seorang wanita lagi."


"Aku tidak akan berani mengatakannya jika memang aku dan Melia memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan suami istri."


"Apa maksud kamu?"


"Aku dan Melia adalah saudara."


Husna yang sedang menata kembali beberapa peralatan ke dalam kotak, terkejut saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Elvio.


"Jika saja aku tidak bertemu dan memutuskan untuk menikah dengan Melia, Aku tidak akan pernah tahu jika ternyata aku bukan bagian dari keluarga Winata."


Husna melihat sekilas ke arah Elvio, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Husna, apa kamu tahu jika harta yang paling berharga adalah keluarga. Rasanya tidak ada orang yang lebih sayang dan peduli kepada kita selain keluarga. Ayah, ibu, kakak, dan adik akan selalu ada di sampingmu saat kamu butuh. Mereka akan berusaha membuatmu tersenyum. Karena kebahagiaanmu merupakan kebahagiaan mereka juga. Saat kamu sedih atau sedang sakit, keluargamu pasti akan merasakan kesedihan pula."


"Aku tahu," jawap Husna.


"Jika kamu tahu bahwa keluargamu juga akan merasakan kesedihan, kenapa kamu memilih untuk pergi dari keluargamu dan mengasingkan diri di sini?" tanya Elvio.


"Aku tidak mengasingkan diri, aku hanya...."


"Assalamualaikum, Ibu.." (pakai nada khas anak usia 2 tahun ya)


Husna dan Elvio melihat ke arah seorang gadis kecil dengan gamis berwarna pink, selaras dengan warna kulit nya putih. Masuk ke dalam klinik bersama dengan Salsabila.


Gadis kecil itu adalah Anisa, walaupun usianya masih dua setengah tahun. Tapi dia bisa berbicara dengan jelas dan lancar, walaupun kadang masih terdengar seperti suara bayi dari planetarium.


Untuk sesaat, Elvio tertegun melihat Anisa.


"Ibu, ini capa?" tanya Anisa sambil menatap Elvio.


"Dia paman sayang," lirih Husna.


"Paman, capa bu?"


Elvio tersenyum sambil berjalan mendekati Anisa dan berlutut agar tubuhnya sejajar dengan gadis manis yang memiliki pipi gembul.


"Anisa, ini adalah paman. Tapi jangan panggil paman,"

__ADS_1


"Terus anica panggil paman apa dong?"


"Panggil paman, Ayah."


"Apa paman, ayah anica?"


"Anisa masuk dulu sama Ibu Bila, ya," ucap Husna.


Salsabila kemudian mengajak Anisa untuk masuk ke dalam, sementara Anisa terus melihat ke arah Elvio sampai dia masuk ke dalam rumah.


"Kesuksesan dan harta, bukanlah jaminan bisa membuat keluarga bahagia. Akan tetapi rasa cinta, waktu, dan kepedulianmu itu yang mereka dambakan. Sayangnya terkadang sangat sulit untuk mengungkapkan rasa sayangmu kepada keluarga," ucap Elvio setelah Anisa pergi.


"Apa kamu akan membiarkan Anisa hidup seperti ini tanpa cinta dan kasih sayang dari keluarga kamu?" imbuh Elvio.


"Elvio, aku mohon. Aku sudah mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dan ketenangan serta kebahagiaan. Aku yakin bisa memberikan cinta dan kasih sayang yang lebih dari keluarga kepada Anisa."


"Itu menurut kamu, coba bayangkan Bagaimana perasaan Anisa ketika dia mengetahui bahwa sedari kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang dari semua keluarga. Terutama Ayah?"


Deg !!


Husna terdiam, sejujurnya dalam hati dia tidak ingin Anisa mengalami hal yang sama sepertinya. Tidak pernah bisa mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya dari keluarga, terutama orang tua.


"Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Begitu juga dengan harta yang melimpah. Kalau punya harta banyak tapi tidak punya keluarga, hidup juga akan terasa hampa."


"Husna, Apa kamu pikir teman-temanmu akan tetap berada di sisi kamu selamanya?"


Husna memejamkan mata dan berbalik melihat Anisa yang terlihat sedang mengintip dari balik jendela rumahnya.


Husna baru menyadari jika memang Salsabila dan ketiga teman lainnya tidak akan selamanya berada bersama dengan Husna dan juga Anisa.


Suatu saat mereka pasti akan meninggalkan Husna dan Anisa, ketika mereka sudah memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga.


Ah, Kenapa Elvio datang disaat seperti ini dan membahas hal seperti ini.


"Jangan pernah melupakan orang-orang yang sudah membantu saat kita sedang mengalami masalah yang besar. Mereka itu ialah keluarga."


"Aku tidak bermaksud untuk melupakan keluarga, hanya saja aku butuh waktu sendiri dan menenangkan diriku atas takdir yang tidak berpihak padaku."


"Bukankah permasalahan yang sedang kamu hadapi hanya dengan Alvino? Kenapa kamu berperilaku seolah-olah kamu juga menghukum kami semua? terutama aku?"


"Elvio.."


"Aku mencintai kamu, Husna. Aku siap melakukan ta'aruf dengan kamu. Tidak, Aku siap untuk menikahi kamu. Insyallah, atas izin-Nya."

__ADS_1


"Sejauh apapun kaki melangkah, keluarga adalah tempat ternyaman yang selalu dirindukan untuk pulang. Keluarga adalah kompas yang memandu arah kita. Ia adalah inspirasi untuk mencapai puncak, yang menghibur saat kita goyah."


"Ingatlah selalu betapa Mama sangat merindukan kamu dan berharap bisa bertemu kembali dengan Anisa."


...----------------...


Beberapa hari setelahnya..


Mama dan Elvio kembali datang, Anisa yang melihat kedatangan Elvio tentu saja merasa sangat bahagia dan langsung berlari menghampiri Elvio sambil berteriak,


"Ayah..."


Husna dan Salsabila serta Mama, tentu saja terkejut saat mendengar Anisa memanggil Elvio dengan sebutan Ayah.


"Ayah, ayah," Elvio merasa gemas dan langsung menggendong Anisa.


"Husna, ternyata selama ini kamu berada di daerah ini. Ini adalah daerah tempat tinggal suami Alviana," ucap Mama setelah memeluk Husna.


"Katakan, kenapa kamu memilih untuk menutup akses komunikasi terhadap mama? apa kamu pikir setelah kamu bercerai dengan Alvino, kamu juga bisa memutus ikatan keluarga yang sudah terjalin diantara kita?"


"Maafkan Husna, Mama. Husna tidak bermaksud untuk melakukan itu. Husna hanya ingin menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang dan mencoba mengikhlaskan takdir yang tidak berpihak kepada Husna."


"Menghancurkan pertalian keluarga mungkin adalah dosa paling besar yang bisa dilakukan seseorang," lirih Mama.


"Husna, walaupun kamu tidak lagi mempunyai hubungan dengan Alvino, tapi kamu masih mempunyai hubungan dengan Mama. Kamu anak mama, Husna."


Husna terharu dan kembali memeluk Mama, melepaskan rindu yang di pendam Husna selama 2 tahun terakhir.


Keluarga adalah cermin kehidupan. Bersama mereka kusaksikan kembali episode masa lalu. Bersama mereka kunikmati manis keceriaan masa kini. Bersama mereka kudapatkan lukis puzzle masa depan.


Sore harinya, Husna kedatangan tamu dari keluarga suami Alviana. Husna benar-benar tidak menyangka jika mama masih menganggap Husna sebagai bagian dari keluarga.


Melihat semua keluarga berkumpul, Husna jadi teringat dengan Alisa.


"Ma, bagaimana kabar Alisa?" tanya Husna.


"Alisa..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2