
"Apa kamu yakin ingin kembali menjadi perawat di rumah sakit tempat di mana dulu kamu memulai karir kamu?" tanya mama saat datang untuk mengunjungi cucu pertamanya.
"Kehidupan memang tidak selamanya berjalan dengan baik, ada kalanya seseorang dihadapkan pada suatu masalah yang kerap membuatnya sedih hingga kecewa. Namun, hal itu wajar. Sebab semua orang pun pasti pernah merasakan kehidupan yang tidak baik-baik saja."
"Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan yang terjadi dalam hidup. Ada orang yang mudah bangkit ada pula orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dari kecewa. Terlepas dari itu hidup harus terus berjalan, kita harus membekali diri dengan semangat yang tinggi."
"Husna sudah belajar banyak selama tinggal di sini, terutama Husna yang ingin mulai mandiri setelah Husna melahirkan. Husna tidak mau terus-terusan membebani mama dan juga Elvio."
"Nak, kamu adalah bagian dari keluarga. Dalam keluarga tidak ada yang namanya terbebani dan membebani. Bukankah selama kamu tinggal di sini kamu juga menjadi perawat di salah satu puskesmas yang ada di desa ini?"
"Husna bekerja sebagai sukarelawan, Ma. Sekarang, Husna memiliki malaikat kecil yang harus Husna pikirkan masa depannya."
"Selama kamu mengizinkan Mama untuk merawat putri kamu selama kamu bekerja di rumah sakit, mamah kan mengizinkannya."
"Baik Ma, tapi izinkan juga Husna untuk tinggal di apartemen lama Husna."
"Kenapa? apa kamu tidak mau tinggal bersama dengan mama di mansion?"
"Ma..."
Mama memejamkan mata karena teringat mungkin Husna tidak ingin bertemu dengan Alvino.
"Maaf, beberapa bulan tidak bertemu dengannya membuat Mama sedikit lupa bahwa sebenarnya kalian sudah.."
"Jadi, apakah boleh jika setelah kembali ke kota Husna tinggal di apartemen Husna sendiri?"
"Tentu saja, nak."
"Terima kasih, Mama."
Husna memeluk sang mama, Husna tidak mengetahui apakah Alvino sudah menyiapkan surat perceraiannya atau tidak. Yang Husna tahu adalah, dia sudah mengirimkan surat persetujuan bagi Alvino dan Helena untuk mencatatkan pernikahannya ke negara. Husna juga melampirkan surat perceraian yang harus ditandatangani oleh Alvino.
Husna memandang wajah bayi perempuan yang saat ini berada dalam gendongan Mama.
Anisa Rahma Azhari.
__ADS_1
Adalah nama bayi perempuan Husna yang berusia sekitar 40 hari.
"Dalam hidup, kamu akan bertemu dua jenis orang, orang yang membangunmu dan orang yang menjatuhkanmu. Namun pada akhirnya kamu akan berterima kasih pada mereka berdua," ucap Nenek sambil tersenyum dan ikut duduk bersama dengan mama dan Husna.
"Apa Elvio sudah tahu dengan keputusan kamu?" tanya nenek yang di balas gelengan kepala oleh Husna.
"Jika kamu memiliki sistem pendukung yang baik seperti keluarga dan teman-teman di sekitarmu, maka kamu tidak akan salah. Jadi percayalah pada diri sendiri, lakukan apa yang kamu inginkan, dan tetap kuat pada apa yang kamu yakini."
"Insyallah, Husna akan kuat menjalani kehidupan setelah ini."
"Tuhan telah memberkati saya dengan keluarga, teman, dan rekan kerja yang luar biasa yang telah menjadi kegembiraan, dukungan, dan kewarasan saya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa mereka." Husna begitu tersentuh mengingat dukungan dari para teman dan rekan kerjanya saat Husna akan kembali pada prosesinya sebagai perawat.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang menjadi bahagia menjadi diri sendiri, dan saya merasa kami sangat diberkati memiliki sistem pendukung dan keluarga terbaik untuk benar-benar saling mendukung, apa pun yang kami lakukan akan teratasi.
Aku sudah siap dengan segala resiko yang mungkin akan aku terima atau temui, saat aku memutuskan untuk kembali ke kota.
Malam harinya, Husna menyampaikan tujuannya kepada Elvio.
"Jadilah kuat, jadilah tak kenal takut, jadilah cantik. Dan percayalah bahwa segala sesuatu mungkin terjadi ketika kamu memiliki orang yang tepat di sana untuk mendukungmu."
"Terima kasih..,"
"Sama sama."
Husna melarang Elvio untuk memanggilnya Kakak lagi setelah mereka bersama-sama menjadi partner sebagai relawan di desa tersebut.
Keduanya kini seperti sahabat. Elvio mulai kehilangan harapan untuk bisa memiliki Husna, akhirnya dia memilih untuk tetap berada di sampingnya hingga Husna mendapatkan kebahagiaan. Walaupun tidak akan bersama nya.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan. Aku harus pergi karena aku mempunyai janji untuk menemani Melia pergi ke pesta ulang tahun temannya."
Husna tersenyum dan menganggukkan kepala.
Elvio baru menjalin hubungan dengan wanita yang menjadi bidan di Puskesmas setempat. Hal itu membuat Husna merasa senang, setidaknya Elvio tidak akan pernah berharap bahwa dia bisa memiliki hubungan yang lebih dari hubungan saudara dengan Husna.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga apa yang menjadi keputusanku ini tidak membawaku ke dalam hal-hal rumit seperti yang aku jalani saat aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat," lirih Husna.
__ADS_1
"Luka hati mungkin tak akan bisa sembuh. Tapi, kita tidak bisa hanya duduk dan memandangi luka itu selamanya. Cinta memang layak diperjuangkan, tapi menjadi tak layak jika kamu yang berjuang sendirian."
"Aku sudah ikhlas melepaskan ikatan yang tidak akan pernah mungkin bisa bersatu. Aku sudah lelah menantikan cinta yang tidak akan pernah aku dapatkan sampai kapan."
Memang harus kuakui aku sangat merindukanmu. Dunia ini terasa begitu sepi tanpa adanya dirimu di dekatku. Biarlah rasa rindu ini aku simpan dan akan aku curahkan seluruh kasih sayang dan cinta yang pernah aku miliki untukmu, kepada buah hati kita. Anisa Rahma Azhari.
Aku pikir aku masih mencintaimu, tapi aku sadar aku hanya mencintai kenangan-kenangan tentang siapa kamu dahulu.
Sekarang aku sadar, jika kita mencintai seseorang dan mengutarakan serta menitipkan semua cinta itu kepada Allah, kita tidak akan merasa terlalu kecewa saat cinta tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Aku sudah siap untuk mempelai kehidupanku yang baru. Bersama dengan Anisa.
Keesokan harinya..
Seperti yang dikatakan Elvio sebelumnya, dia dan mama mengantar Husna menuju apartemen tempat di mana dia tinggal dulu.
Apartemen yang dulunya disewakan oleh Husna, kini sudah kosong karena penghuninya baru saja keluar beberapa hari yang lalu setelah mengetahui bahwa Husna tidak akan memperpanjang sewa apartemennya.
Husna terkejut karena saat memasuki apartemen, semua barang-barang miliknya masih tetap rapi dan tidak ada yang rusak sedikitpun.
"Aku pikir dengan menyewakan apartemen beserta barang-barangnya, penghuninya akan merusak atau mengambil barang-barang yang ada di sini. Ternyata aku salah, aku harus berterima kasih kepada orang yang menempati apartemenku karena menjaga barang-barang ku tetap terjaga seperti sebelumnya," Lirih Husna.
Elvio kemudian menunjukkan kamar yang baru saja dia dekorasi untuk menjadi kamar milik Anisa.
"Terima kasih, Mama, Elvio."
"Sama sama."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1