MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Penyesalan Lalisa


__ADS_3

"Lepaskan aku."


Deg !!


Husna yang baru berjalan beberapa langkah terkejut saat mendengar suara yang sangat familiar itu.


Husna melihat sekilas ke arah Elvio sebelum akhirnya dia kembali fokus pada wanita yang sedang berusaha melepaskan diri dari genggaman Elvio.


"Kenapa kamu berhenti? apa kamu mulai mengenali siapa wanita yang berada di balik cadar ini?"


Husna terdiam dan mencoba untuk menjauhkan segala sifat negatif yang sekarang menyerang pikirannya.


Tentu saja Husna mencoba untuk tidak berpikiran negatif, tidak mungkin seseorang itu melakukan hal kecil seperti yang dia lakukan padanya. Mencoba untuk menghabisi nyawa orang lain.


"Husna, ayo. Buka cadarnya."


Dengan langkah kaki yang bergetar dari sebelumnya, Husna mendekati wanita itu dan membuka cadarnya.


Dia adalah.....


"Melia?" lirih Husna saat berhasil membuka penutup wajah. Melia memalingkan wajahnya dari Husna.


"Kenapa? kenapa kamu ingin menghabisi aku?" tanya Husna.


"Tidak ada wanita yang rela melihat pria yang dia cintai akan menikahi dan menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan orang lain, terutama wanita seperti kamu. Wanita yang bahkan memilih untuk tetap bercerai dengan suami kamu padahal sudah jelas-jelas bawa orang ketiga yang masuk ke dalam Adik kan kamu sudah meninggal dunia."


"Melia, bukankah kita sudah membahas hal ini sebelumnya? jika memang kita bukan saudara tanpa aku sudah menikahi kamu dan merelakan kisah cinta yang belum tuntas antara aku dan Husna. Kenapa kamu masih saja bersikap seperti ini dan bahkan kamu mencoba untuk mencelakai Husna?" tegas Elvio.


"El, Aku sangat mencintai kamu dan aku benar-benar mencintai kamu. Aku masih tidak rela melihat kami akan menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan orang lain, aku yang sangat memimpikan hal itu tapi kenapa justru saya memiliki kesempatan untuk menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan kamu?" ucap Melia.


"Melia, semesta memang tidak mengizinkan kita untuk bersama sebagai pasangan suami istri. Tapi lihatlah sisi baiknya bahwa kita akan tetap bersama dan berbagi kasih sayang sebagai seorang saudara," imbuh Elvio.


"Jodoh memang rahasia Tuhan memang benar adanya, tak ada satu pun orang di dunia ini yang mampu memastikannya. Sebagai manusia biasa hanya bisa merencanakan jodoh, tetapi yang menentukan tetap Tuhan yang Maha Esa. Banyak orang percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri kita masing-masing. Maka dari itu, jika menginginkan jodoh yang baik maka perbaiki diri sendiri terlebih dahulu," ucap Husna.


"Jika saat ini kamu tak berjodoh dengan orang yang kamu cintai, tak boleh terpuruk terlalu lama. Bersedihlah secukupnya, selebihnya cari kehidupan baru yang mengantarkanmu pada kebahagiaan dan jodoh yang Tuhan izinkan untukmu,"


"Dia sudah menikah, Husna."


Husna terkejut dengan pernyataan yang baru saja dikatakan oleh Elvio.

__ADS_1


"Aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu. Tapi, itu tidak akan mengubah apa pun. Jadi, aku hanya memendamnya dan berpura-pura tidak merindukanmu," isak Melia.


Elvio kemudian menarik Melia ke dalam pelukannya, dipeluknya dengan erat wanita yang sempat dia cintai itu namun kenyataan mengatakan bahwa dia adalah adik kandung dari Elvio. Husna memilih pergi dari sana dan membiarkan dua orang itu menyelesaikan masalahnya sendiri.


Husna memilih untuk menuju lebih rumah sakit karena mama mengirimkan pesan bahwa dia dan Aisyah baru saja tiba di rumah sakit.


"Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat," ucap Elvio saat setelah dia melepaskan pelukannya.


"Cobalah untuk mengikhlaskan takdir yang mengatakan bahwa kita tidak akan mungkin bersama. Cobalah untuk membuka dan melihat betapa besarnya cinta suami yang diberikan kepada kamu dan usahanya setiap hari yang ingin membuat kamu selalu tersenyum bahagia."


Melia menangis dan kembali memeluk pria yang sempat sangat dia cintai itu sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumah sakit. Melia langsung menuju restoran milik suaminya dan segera memeluknya begitu Melia melihat suaminya dan meminta maaf.


"Aku berjanji akan mulai belajar untuk membuka lembaran lama dan menjalani lembaran baru aku bersama dengan kamu. Maafkan aku, karena selama beberapa hari ini aku justru mengatakan kamu."


Suami Melia merasa sangat bahagia dan dia memilih untuk pergi dari restorannya untuk memulai bulan madu yang memang belum sempat dilakukan karena Melia menolak.


...----------------...


Husna memilih untuk pulang setelah ada mama yang menggantikannya menjaga Alvino.


"Lihatlah, itu adalah karma yang harus diterima oleh anak tante karena dia telah membuat Alisa mengalami kanker darah seperti ini," ketus Lalisa saat dia memasuki ruangan tempat di mana Alvino sedang dirawat.


"Tentu saja aku akan pergi, tapi sebelum itu aku akan meminta hak Alisa sebagai seorang anak pada ayahnya."


"Apa maksud kamu?" tanya mama.


"Aku menginginkan salah satu cabang perusahaan milik Alvino untuk menunjang kehidupan Alisa nanti."


Mama menghela panjang, dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Ada sesuatu yang sudah Lalisa serta ibunya rencanakan begitu mereka datang untuk pertama kalinya kw mansion.


"Aku tidak bisa memberikan salah satu perusahaan Alvino kepada kamu karena kamu bukanlah warga dari negara ini. Jadi katakan saja berapa nominal yang kamu inginkan untuk bisa kembali membangun perusahaan Kamu sendiri di negara kamu," tanya Mama.


"10 miliar."


"Apa kamu sudah gila?"


"Ayolah, saat kakakku masih ada dia memberitahuku bahwa penghasilan dari kak Alvino setiap bulannya tidak pernah kurang dari satu miliar. Jadi aku rasa 10 miliar itu hanyalah hal kecil dan pasti akan bisa untuk diberikan kepada aku dan juga Alisa."


Mama memberikan cek dengan sejumlah uang yang diinginkan oleh Lalisa beserta sifat kuasa yang mengatakan bahwa Mama memang benar-benar memberikan uang itu untuk Lalisa.

__ADS_1


Lalisa tersenyum penuh kebahagiaan dan dia berhasil mengelabui sang Mama dengan mengatakan bahwa keluarga Alvino sudah menyerahkan segala pengobatan dan perawatan yang terbaik untuk Alisa mengingat sekarang Alvino sendiri sedang tidak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan.


Walaupun terasa ada yang janggal dari pernyataan yang diberikan oleh Lalisa, Keyla akhirnya menyetujui saat Lalisa mengatakan bahwa dia akan membawa Alisa pulang ke negara mereka sendiri.


Sayang nya, di tengah perjalanan. Kondisi Alisa yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan udara, membuat kondisinya semakin memburuk begitu sampai di rumah sakit di negara asal Lalisa.


"Maafkan kami, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter.


Lalisa memandang Mama yang terlihat histeris sambil memeluk Alisa.


"Mama, tidak apa apa. kita tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sepertinya takdir Alisa hanya sampai di sini saja. Lihat sisi baiknya. Kita mendapatkan cukup uang untuk membuat kehidupan kita jauh lebih baik dari sebelumnya."


Keyla benar-benar marah atas apa yang dikatakan oleh Lalisa, Dia bangkit dari tubuhnya dan meraih cek yang berisi uang 10 miliar dari tangan Lalisa dan robeknya menjadi potongan-potongan kecil.


"Mama?"


"Karena sifat tamak kamulah yang menyebabkan Alisa meninggal dunia. Aku menyesal telah memiliki putri yang tidak bisa berpikir jernih dan hanya memikirkan tentang dendam."


"Mama?"


"Mama tahu apa yang kamu lakukan ini karena kamu merasa bahwa kamu hanya membalaskan dendam atas meninggalnya kakak kamu. Tidakkah kamu melihat jika apa yang terjadi ini merupakan takdir yang memang harus diterima oleh setiap manusia?"


Lalisa terdiam.


"Jika saja kamu bisa berpikir jernih dan melupakan tentang dendam kamu. Mungkin Alisa masih bersama kita."


Kehidupan Lalisa dan Keyla kembali seperti biasanya di mana Lalisa harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang hari. Keyla memutuskan menggunakan uang Helena yang ada untuk membuka usaha laundry demi bisa membantu Lalisa mencari uang.


Lalisa kini berada di makam Alisa yang letaknya berdekatan dengan makam Helena.


"Aku sekarang sadar, sifat tamak yang kita peroleh tanpa keberkahan tidak akan membawa kita menuju kebahagiaan. Maafkan aku, kak Helena. Rasa kecewa aku karena perginya kamu dari dunia ini membuat aku gelap mata sehingga membuat Alisa pergi meninggalkan dunia juga seperti kamu. Semoga kamu dan Alisa bisa bertemu di surga."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2