MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 42 : POV Husna


__ADS_3

Ada salah satu kata-kata sedih yang berbunyi..


...Setiap ada pertemuan...


...pasti ada perpisahan...


Kata-kata itu bermakna bahwa tidak selamanya seseorang bisa menemani kita dalam suka maupun duka. Ada kalanya kita harus merelakan seseorang untuk pergi meninggalkan kita.


Ya, kehilangan adalah salah satu proses dalam kehidupan.


Dalam hidup ini semuanya pasti akan mengalami kehilangan.


Baik itu karena berpisah, tak berjodoh, pergi jauh atau meninggal dunia. Namun dibanding berlarut-larut dalam kesedihan, mengikhlaskan bisa jadi satu jalan untuk tetap bisa bertahan. Walau tentu, dibutuhkan kekuatan lebih untuk bisa mengikhlaskan.


Akan tetapi bagiku, seorang yang baru saja bahagia mendapatkan amanah dari Tuhan, mengikhlaskan sesuatu yang sudah kembali pada-NYA dengan cara seperti ini, sungguh berat.


Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan.


Aku tahu, sebagai seorang muslimah tidak seharusnya aku terlalu larut pada apa yang sudah pergi dan kembali kepada Allah.


Aku tersenyum saat siang hari, namun saat malam sudah datang aku tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihanku.


Kehilangan calon anak merupakan pengalaman yang paling menghancurkan dan menyakitkan. Terutama bagi seseorang seperti aku yang berharap dengan hadirnya buah hati, bisa memperkuat ikatan cinta dan aku mendapatkan cinta tulus dari suamiku. Sayangnya, semesta tidak merestui itu.


Hal yang aneh tentang kehilangan yang menghancurkan adalah bahwa hidup tak berhenti berjalan. Ketika dihadapkan dengan sebuah tragedi, kehilangan yang begitu besar sehingga tidak tahu bagaimana bisa melewatinya, entah bagaimana, dunia terus berputar, detik terus berjalan.


"Husna..."


Ah suara lembut itu membuyarkan lamunanku yang sedang menatap ramainya kehidupan kota.


Aku tersenyum dan membalikkan kursi rodaku. Wanita paruh baya yang sudah menyayangiku seperti menyayangiku teringat sendiri, berjalan ke arahku dan langsung membungkuk untuk menghapus air mata yang masih tersisa.


"Kesedihan adalah tindakan cinta terakhir yang harus kita berikan kepada orang yang kita cintai. Di mana ada kesedihan yang dalam, di situ ada cinta yang besar." Ucapnya.

__ADS_1


"Aku mencintai nya setiap hari. Dan sekarang aku akan merindukan nya setiap hari." Lirihku


Lihatlah nak, Ibu bahkan sudah sangat mencintai kamu walaupun kamu masih berada di dalam rahim dan belum terbentuk sempurna.


"Takdir Ilahi tak ada yang bisa menepis, sebab semua itu hak prerogatif dari Sang Khalik. Kematian dan kehidupan adalah murni ketetapanNya, karena itu sebagai manusia biasa, kita diminta untuk bertawakal dan tidak menyerah dalam memohon petunjuk padaNya."


"Nak, Mama tahu kamu yang pernah merasakan bahagianya menanti momongan lahir ke dunia, namun pada akhirnya sang buah hati tak selamat tiba di rumah barunya, maka cobalah untuk menghapus air matamu dan tata kembali hari. Di luar sana, tidak sedikit orangtua yang pernah kehilangan buah hatinya dengan berbagai peristiwa."


"Hiks... hiks, maafkan Husna ma. Husna terlalu larut dalam kesedihan ini."


"Sejatinya, hidup di dunia ini tidaklah abadi. Demikian juga dengan apa yang kita miliki dalam hidup seperti keluarga, harta, dan kedudukan. Ada masa di mana hal-hal tersebut akan hilang sekejap mata yang menandakan bahwa tak ada keabadian. Saat anak atau buah hati yang selama ini dinanti-nantikan pergi menghadap Ilahi begitu cepat, maka jangan sibuk merutuk keadaan atau menggerutu bahwa kehidupan tidak adil. Pahami dan yakini bahwa anak adalah titipan Sang Maha Kuasa, dengan begitu hati akan tenang dan tidak larut dalam duka lara ketika hari kehilangan itu tiba. Karena semua ini milik-Nya."


Satu Minggu berlalu...


Aku memilih tinggal bersama dengan Mama untuk sementara waktu, rasanya aku masih belum bisa menerima musibah yang baru saja menimpaku dan calon bayiku.


Ditambah, aku sangat muak dengan sikap manja Helena yang terlalu berlebihan dan selalu menggunakan alasan kesehatan sebagai senjata untuk meluluhkan hati Alvino.


Aku pernah mendengar tentang Helena yang meminta uang senilai 500 juta kepada Alvino dengan alasan dia akan menggunakannya untuk operasi.


Ya, walaupun ini terkesan egois dan tidak cocok untuk muslimah seperti itu. Hanya saja, aku bukanlah Aisyah dan Khotijah yang bisa tetap tersenyum dan tegar walaupun badai terus menerpa.


"Sayang...,"


Di balik kesedihan yang sedang aku rasakan, ada kebahagiaan tersendiri yang tercipta diantara aku dan Alvino.


Alvino lebih sering datang dan mencuriku walaupun dia tidak pernah bermalam denganku. Setidaknya aku masih merasa sebagai seorang istri yang dicintai oleh suaminya.


Cinta seperti apa yang aku dapatkan? Aku tidak tahu karena hanya Alvino lah yang dapat menjawabnya.


"Kau sedang apa?"


Aku tersenyum sambil menutup Alquran terjemahan yang sedang aku baca untuk menyibukkan diri agar aku tidak lagi memikirkan tentang calon bayi yang sekarang sudah kembali kepada Nya.

__ADS_1


"Mas, kapan aku akan memiliki kesempatan untuk bisa menghabiskan malam bersama denganmu?"


Mas Alvino tersenyum sambil memegang kedua pipi ini dan mendaratkan ciuman di kening.


"Alhamdulillah jika kamu sudah ingin menghabiskan waktu bersama dengan suami mu."


Aku tersenyum, memang sejak aku memutuskan untuk tinggal bersama dengan Mama. Aku ingin menghabiskan malam seorang diri.


"Apa sekarang Mas mau menghabiskan malam denganku?" Tanya ku dengan lembut yang dibalas anggukan kepala oleh Alvino.


"Sang Maha Kuasa memberikan manusia lembaran baru di setiap harinya. Jika hari ini kamu merasa sangat sedih, maka buatlah sedih itu hilang di keesokan harinya. Hapus duka lara mu, dan jalani hari esok dengan senyuman. Badai pasti berlalu, demikian juga momen kehilangan buah hati yang kamu cintai juga lambat laun akan menjadi kenangan duka yang pernah mampir dalam hidupmu. Selagi masih diberi kehidupan oleh Sang Maha Pencipta, sudah seharusnya kita bangkit dari kesedihan dan bersiaplah menoreh warna di hari-hari baru berikutnya." Ucap mas Alvino sambil melepaskan ikatan rambut yang selalu aku pakai.


Di belai nya rambut panjang yang memang tidak pernah aku potong hingga sepanjang paha.


"Aku menantikan hari itu, di mana kita akan bersama-sama melukiskan warna-warna indah di dalam perjalanan cinta kita."


"Setelah sumpah setia diucapkan dalam pernikahan, itu berarti ada tanggung jawab untuk saling menjaga telah menjadi kewajiban sepasang kekasih. Husna, maukah kamu menjadi kekasihku?"


"Aku tahu ini kedengarannya gila dan mungkin sudah sangat terlambat. Tapi, ini adalah kata-kata yang tulus dari hatiku untukmu, bidadari surga ku."


"Ketika kita berdua bersama, tidak ada hal lain di dunia ini yang penting bagiku. Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah bersamamu dan mengetahui bahwa aku milikmu selamanya." Ucapku sambil mencium punggung tangan Alvino.


"Akan kulakukan semuanya untukmu. Tak ingin aku melihatmu bersedih karena aku kini bertanggung jawab atas kebahagiaanmu."


Malam itu menjadi malam romantis kedua setelah sebelumnya suamiku pernah berjanji akan mencintaiku sebagai istrinya.


Aku merasa bahwa harapanku untuk mendapatkan cinta tulus dari suamiku semakin dekat. Semoga saja, kali ini semesta akan merestui itu.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2