MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 78 : Di Lema


__ADS_3

Hidup memang sering menghadapkan seseorang pada kondisi buruk dan seolah tak ada pilihan lagi selain menaklukan keburukan tersebut. Namun terkadang, ada juga kondisi yang mengharuskan seseorang berhadapan pada banyak pilihan yang semuanya mengarah pada risiko yang tak enak. Mungkin pernah juga berada pada posisi tersebut dan merasa tak tahan untuk meneriakkan kata-kata dilema dan sumpah serapah untuk meluapkan kemarahan.


Alvino memilih untuk pergi setelah Husna memohon agar Alvino pergi.


"Cinta jelas tak harus memiliki. Kehilangan sesuatu yang belum pernah dimiliki memang dilema yang aneh," ucap Sabrina. Sahabat Husna yang langsung mengunjungi Husna begitu mendengar kabar bahwa Husna sudah kembali ke kota itu.


"Akan ada saatnya di mana percayamu dikecewakan. Lalu hatimu dengan sengaja dipatahkan. Dan saat itu kamu akan tahu apa maksud dari keikhlasan."


"Aku harus apa?" tanya Husna yang membuat Sabrina tertawa geli.


"Tidak biasanya seorang Husna bertanya tentang apa yang harus dia lakukan? bukankah biasanya dia tahu apa yang harus dia lakukan."


"Aku tahu, hanya saja..."


Husna kemudian menceritakan tentang Alvino yang mengatakan bahwa dirinya dan Helena juga mempunyai anak yang kemungkinan seumuran dengan bayi milik Husna. Husna juga mengatakan apa yang Alvino katakan kepadanya mengenai Helena yang sedang sekarat juga permintaan terakhirnya.


"Bagaimana kau bisa bangkit. Jika penyebab sedihmu masih terus kau pelihara dengan mengingatnya setiap hari," ucap Sabrina.


"Aku hanya merasa kasihan kepada bayinya jika memang ternyata Helena kritis. Aku tahu bagaimana rasanya ketika mengetahui bahwa di dunia ini tidak memiliki Ibu," lirih Husna.


"Hanya saja, terkadang rasa iba itu berganti rasa ketidakpercayaan mengingat selama ini dia selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Apa aku terlihat egois saat aku memilih untuk pergi membawa bayi ini?" tanya Husna sambil melihat Anisa yang ada di gendongan Sabrina.


"Dia bukan yang terbaik. Kau hanya sudah terbiasa hidup dengan nya. Ketika kau mau kembali membuka hati semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik. Percayalah yang buruk sengaja tuhan lepaskan agar yang baik punya kesempatan untuk datang," ucap Sabrina.


"Jika mencintai terasa melelahkan. Berhentilah. Kita sering lupa bagaimana untuk bahagia karena kita sendiri lebih senang berteman dengan luka dan kecewa," Imbuh Sabrina.


"Ya, kamu benar. Aku sudah mengikhlaskan apa yang tidak di takdirkan Tuhan untukku," lirih Husna sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di sofa.


"Kau tahu, terkadang aku berpikir mungkinkah ini adalah kesempatanku untuk memulai cinta yang baru bersama dengan Alvino," ucap Husna.


"Ada yang sedang berjuang demi bisa bersama kamu. Tapi kamu tetap mempertahankan seseorang yang memberikan luka paling banyak hanya karena cinta," ucap Sabrina setelah menidurkan Anisa.


"Menurutmu begitu?"

__ADS_1


"Bukan alasan baik untuk jatuh cinta. Karena banyak orang yang tetap merasa kesepian meski telah jatuh cinta."


"Ya, setidaknya itulah yang aku harapkan selamat tinggal bersama dengannya."


"Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Tapi kita bisa memilih siapa yang patut untuk tetap diperjuangkan. Menurut ku, waktumu sudah habis dalam hal memperjuangkan cintamu untuk Alvino."


...----------------...


Sementara itu, Alvino sedang menghadapi berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mama. Terutama alasan kenapa Alvino tidak berusaha mencari Husna, dan alasan kenapa Alvino begitu saja mau menerima bayi yang katanya adalah anak Helena dan Alvino.


"Kamu seharusnya tidak membiarkan Lalisa pulang begitu cepat sebelum kamu menemukan fakta bahwa bayi itu benar-benar bayi kamu."


"Ma, jika memang terbukti bayi ini adalah bayi Alvino? apakah Mama akan menerimanya?" tanya Alvino.


"Mungkin, walaupun Mama sangat membenci Helena karena dia sama sekali tidak menghormati Mama sebagai Mama kamu. Tapi tidak seharusnya kita menyalahkan bayi yang tidak berdosa ini. Dia tidak tahu apa-apa jika harus menerima segala sesuatu yang di lakukan sang Ibu."


"Terima kasih ma, kalau begitu ijinkan Alvino menitipkan bayi ini pada mama sementara Alvino mencari tahu tentang Helena dan bayi ini."


Mama Alvino hanya mengangguk lemah, sambil memerintahkan pelayan untuk membawa bayi yang bahkan belum di beri nama oleh Alvino.


"Mungkin sebaiknya aku mencari tahu kebenaran tentang Helena dan juga bayi ini sebelum Aku berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati Husna lagi."


Alvino segera memerintahkan kepada sekretarisnya untuk menjadwalkan penerbangan Alvino menuju negara Helena.


Tepat saat Alvino baru saja melakukan panggilan suara bersama dengan sekretarisnya. Dia melihat Husna baru saja turun dari taksi.


Husna datang untuk meminta izin kepada sang Mama pergi sementara waktu dari ruang lingkup beliau.


Husna sudah memutuskan untuk merawat buah hatinya seorang diri, Husna menghormati Mama Alvino seperti ibu sendiri. Itulah Kenapa Husna memilih untuk datang langsung malam itu dan mengatakan keinginannya untuk pergi.


Husna tidak lagi terkejut saat melihat Alvino ada di sana.


"Husna? apa kamu datang karena kamu sudah memutuskan bahwa kamu menerima aku kembali?" tanya Alvino.

__ADS_1


"Tidak, aku datang untuk bertemu dengan Mama. Apa mas tidak keberatan jika aku masuk dan bertemu dengan Mama?"


"Mama tidak ada, pelayan bilang jika Mama pergi untuk bertemu dengan keluarga Melia."


Astaghfirullah, Bagaimana aku bisa lupa jika hari ini Mama akan bertemu dengan calon besan nya.


"Baiklah kalau begitu lebih baik aku kembali besok saja."


"Husna, Kenapa kamu buru-buru pergi? tidakkah kamu ingin ada di sini untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan tentang kita?"


"Aku rasa di antara kita sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan."


"Husna Aku tahu kamu pasti tidak akan membuat keputusan yang membuat aku kecewa."


"Ketika aku terlalu lelah untuk bertahan tapi malas untuk memulai semuanya dari awal lagi."


"Husna Kenapa kamu berkata sesuatu yang mengarah bahwa kamu tidak ingin memulai kisah yang baru bersama dengan aku?"


"Ketika semuanya tak seperti biasanya. Berarti kita harus terbiasa tanpa semuanya."


"Tidak, kamu harus memberikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa Aku benar-benar mengharapkan kamu untuk menjadi istriku lagi."


"Bila hidup memberimu dua pilihan yang sama-sama sulit untuk kamu pilih,satu-satu hal yang harus kamu usahakan adalah membuat pilihan ketiga yang bisa kamu lakukan."


"Husna, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahan dan juga mengobati luka yang sudah aku lukis di dalam hatimu, apa kamu tega jika kamu akan memisahkan aku dengan bayi kita?" tanya Alvino.


"Aku mencintaimu. Lalu aku melepasmu. Kini mungkin mencintai adalah merelakan kepergian. Mungkin ragaku masih di sini bersamamu. Tapi jiwaku sudah pergi. Kau yang paling mengerti mengapa."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2