
"Orang yang awalnya selalu sabar walau udah disakitin, dikecewakan. Dan tiba-tiba dia berubah. Itu alasannya cuma satu: Jenuh," ucap Alviana saat dia melihat Alvino merasa frustasi karena sama Mama pergi sebelum mengatakan di mana Husna.
"Kak, Aku tahu aku membuat kesalahan yang besar.Tolong beritahu aku di mana keberadaan Husna agar aku bisa memperbaiki keadaan."
"Alvino, berapa kali Husna sudah memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Lagi pula bukankah ini yang sangat diinginkan oleh Helena?"
"Helena?"
"Alvino, Alvino. Aku tidak tahu sebenarnya cinta seperti apa yang kamu miliki terhadap Helena sehingga sekarang kamu menjadi pria yang sangat bodoh."
"Kamu menyia-nyiakan permata yang indah demi perhiasan yang hanya dilapisi oleh emas imitasi."
"Kakak, sekarang bukan waktunya untuk membandingkan antara Husna dan Helena. Yang paling penting adalah di mana sekarang keberadaan Husna?"
"Alvino, kamu harus berusaha sendiri untuk menemukan Husna, tapi sebelum kamu melakukan itu sebaiknya kamu menata diri dan memastikan apakah kamu benar-benar layak untuk tetap menjadi pasangan hidup Husna."
Alvino merasa sangat kecewa dan memilih untuk kembali pulang ke rumah.
Alvino memutuskan untuk kembali melihat CCTV.
CCTV yang berada di luar rumah menunjukkan memang ada seseorang yang sengaja menata beling itu menghadap ke atas dan menyenangkan minyak sebagai sentuhan akhir.
"Siapa dia?" ucap Alvino sambil terus memperhatikan orang yang membuang tumpahan minyak tepat di depan pintu pagarnya.
Hari itu, Alvino menghabiskan hari dengan terus mencari orang yang sudah dengan sengaja melakukan itu sehingga membuat Husna terluka.
"Kenapa aku tidak bisa menemukan petunjuk apapun tentang siapa orang yang sudah dengan sengaja menaruh ini di depan pintu gerbang rumahku? apa ini semua ada hubungannya dengan Helena?"
Alvino selalu membuka lemari dan melihat bahwa lemari itu sudah kosong, pandangannya lalu ketujuh pada sebuah catatan yang berada di sana.
Alvino membawa catatan itu dan segera duduk untuk membacanya.
Andai aku tidak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tidak perlu mersa terbang terlalu jauh dan jatuh pun tidak terlalu keras...
"Husna, ini tulisan tangan Husna," lirih Alvino.
Kecewa adalah saat kamu merasakan kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kukira itulah kekecewaannya - rasa kehilangan untuk sesuatu yang tidak pernah dimiliki.
Sesekali aku ingin kau bercermin dan melihat seseorang yang pantas mendampingi mu. Apakah aku, orang yang bersedia hidup bersamamu, ataukah dia, orang yang kau anggap menarik meski sebenarnya pengganggu.
Apalah dayaku yang jauh dari kata sempurna dari wanita yang kamu harapkan menjadi pendamping hidupmu.
__ADS_1
Suatu saat semua akan berbalik. Yang menyakiti akan disakiti. Yang mengkhianati akan dikhianati. Yang melukai akan dilukai. Yang meninggalkan akan ditinggalkan.
Semoga ini menjadi kebohongan terakhirmu untukku, aku mungkin memaafkan tapi aku tidak akan lupa apalagi menghapus kecewa.
...----------------...
...----------------...
Tiga hari berlalu, Helena mulai gelisah karena sejak tiga hari terakhir Alvino tidak lagi datang untuk mengunjunginya.
"Mungkin Alvino sudah mengetahui bahwa selama ini kamu hanya berpura-pura sedang koma," ucap Mama
"Helena, sebaiknya hentikan sandiwara kamu. Mulailah untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alvino."
"Apa kalian mau jika Alvino membenciku karena ternyata selama ini aku berpura-pura koma dan menyebabkan Husna terluka?" Helena segera menutup mulut saat dia tidak sengaja mengatakan itu.
"Helena, apa maksud kamu dengan mengatakan bahwa kamu yang menyebabkan Husna terluka?" tanya Papa.
"Bukan apa apa," ucap Helena.
"Kak Helena sengaja membuat kak Husna luka bahkan berniat untuk lebih mencelakai kak Husna," ucap Lalisa.
"Kak, apa yang selama ini dikatakan oleh kedua orang tua kita sudah benar. Seharusnya sejak awal Kakak mengatakan yang sebenarnya kepada Mas Alvino sehingga hal ini tidak akan pernah terjadi."
"Lalisa, apa yang kamu bicarakan? bisakah kamu menjelaskannya secara rinci kepada kami?" tanya mama.
Lalisa kemudian mengatakan bahwa dia diperintahkan Helena untuk menyusun beling dan menumpahkan minyak tepat di depan pintu gerbang rumah Husna.
Helena yang sudah hafal kapan Husna akan datang dan kapan lingkungan kompleks itu sepi dari para emak-emak yang berlalu lalang. Membuat Lalisa bisa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Helena dengan aman.
kedua orang tua Helena tentu saja terkejut mendengar pengakuan dari Lalisa.
"Helena, kamu memang benar-benar tidak pernah belajar dari kesalahan. Kami sudah sempat menghukum kamu dengan tidak pernah mau mengakui kamu sebagai anak kami, setelah kami mendengar bahwa kamu sedang menderita kanker yang cukup ganas. Kami berusaha untuk melupakan segala amarah kami dan mencoba untuk menerima kamu kembali. Ternyata kamu masih sama," ketus Papa Helena.
"Iya lah Helena masih sama, lagi pula sebenarnya kantor yang sedang diderita Helena itu tidak separah yang kalian pikirkan."
"Apa maksud kamu?"
Flash back kemudian menceritakan Bagaimana Husna memberikan sejumlah uang kepada dokter untuk mengatakan kepada Alvino dan Husna bahwa dirinya sedang menderita kanker nasofaring stadium 3.
Plak !!!
__ADS_1
"Kamu lebih rendah dari seorang pelacur Helena. Aku menyesal sudah melahirkan kamu ke dunia ini," ucap Mama setelah menampar pipi Helena.
"Aku juga menyesal karena aku sudah membantu kakak untuk menyiapkan semua ini sehingga membuat kak Husna pergi dari hidup mas Alvino," imbuh Lalisa.
"Apa? Husna pergi? baguslah akhirnya aku bisa menyingkirkan dia tanpa aku harus bermain kotor," ucap Helena dengan santai.
Papa sudah mengangkat tangan dan bersiap untuk menampar Helena, tapi Lalisa menghentikan itu dan mengkode kepada Papa agar melihat ke arah pintu, di mana Alvino sudah berdiri di sana.
"Al...." Helena tersenyum menyambut kedatangan Alvino.
"Siang semuanya, Helena kapan kamu sadar?" tanya Alvino yang membuat Helena bernafas dengan lega karena berpikir Alvino tidak mendengar apa yang belum saja dibicarakan olehnya dan keluarganya.
"Alhamdulillah, Aku baru saja datang dan dokter baru saja selesai memeriksa keadaanku," ucap Helena sambil tersenyum.
"Alvino, karena Helena sudah sadar. Kami memutuskan untuk kembali pulang hari ini."
"Kenapa begitu cepat? apa kalian tidak ingin mengetahui akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh Putri kalian?" tanya Alvino.
"Nak, kami minta maaf atas nama Helena karena perbuatannya sudah membuat istri kamu pergi."
"Jika kalian sudah mengetahui tentang betapa kejamnya yang sudah dilakukan oleh Helena. Kira kira hukuman apa yang pantas aku berikan kepadanya?"
"Al...?"
"Helena, jujur saja aku masih marah karena kamu sudah membahayakan Husna dan membuat Husna kehilangan bayinya. Tapi, aku mencoba mengesampingkan rasa marahku itu saat melihat kamu menderita karena kanker yang sedang kamu rasakan. Aku begitu mencintaimu sehingga aku mengabaikan istri yang menungguku dengan penuh cinta."
"Al..."
"Kamu benar-benar membuat aku kecewa, Helena. Ambisimu untuk mendapatkan cinta dan perhatianku dengan penuh sudah membuat hidupku hancur dan berantakan."
"Al..."
"Helena, sebagai adik dan kedua orang tuamu sebagai saksinya. Aku jatuhkan talak tiga kepadamu."
Deg !!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1