
Beberapa waktu sebelumnya...
Alvino yang sangat penasaran dengan orang yang sudah sengaja menata beling dan menumpahkan minyak, membuat Alvino memerintahkan orang untuk memeriksa rekaman CCTV dan mencari identitas dari orang tersebut.
Tak butuh waktu lama bagi orang serahan Alvino untuk menemukan siapa orang yang dengan sengaja melakukan itu, hingga membuat Husna celaka.
"Lalisa."
Alvino tentu saja terkejut saat mengetahui bahwa orang yang sengaja melakukan itu adalah adik iparnya sendiri.
Alvino segera menuju rumah sakit untuk mendengar langsung pengakuan dari Lalisa.
Tepat saat mobil Alvino baru saja terparkir di basement rumah sakit, Alvino melihat Lalisa hendak masuk ke dalam lift.
Alvino segera menarik tangan Lalisa dan membawanya ke tempat di mana tidak akan ada orang yang melihat.
Alvino membawa Lalisa jalan yang jarang sekali dilalui oleh orang.
"Kak Alvino?"
"Katakan."
"Katakan apa?"
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Melakukan apa?" tanya Lalisa pura-pura tidak mengetahui dengan apa yang dimaksud Alvino.
"Lalisa, Aku tahu kamu lebih bisa berpikir dengan rasional dibandingkan dengan kakak mu Helena, jadi aku minta sekarang katakan dan jujurlah kepadaku. Kenapa kamu melakukan itu hingga membuat Husna terluka?"
Lalisa terkejut sekaligus tidak menyangka karena Alvino begitu cepat mengetahui bahwa dialah dalang di balik terluka nya Husna.
"Kak, aku.."
"Katakan Lalisa, Aku janji tidak akan marah padamu walaupun aku benar-benar kecewa atas tindakan yang sudah kamu lakukan."
Untuk sesaat Lalisa terdiam, sebelum akhirnya dia mengatakan semuanya kepada Alvino.
Lalisa terpaksa mengikuti kemauan Helena, karena Helena mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika tidak ada dari keluarganya yang mau mengikuti drama yang sedang dia mainkan.
"Apa dia juga membuat drama perihal penyakitnya?" tanya Alvino.
Lalisa terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia berada di posisi yang serba salah.
"Aku akan memastikan bahwa Helena tidak akan berbuat sesuatu yang bodoh. Karena itu hanya akan membuat diri sendiri merugi."
Lalisa menatap Alvino seolah-olah Lalisa ingin bertanya apakah perkataan Alvino bisa dipercaya. Lalisa benar-benar takut jika ternyata Helena bertindak nekat dengan menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku berjanji bahwa Helena tidak akan melakukan hal bodoh."
Setelah Lalisa mendengar beberapa kali ucapan Alvino yang terdengar meyakinkan. Lalisa kemudian menceritakan tentang semuanya, Helena saat itu benar-benar pingsan. Namun kanker nasofaring yang Helena derita masih tetap berada di stadium O. Helena pingsan karena dia tidak mengkonsumsi obatnya secara teratur sehingga daya tahan tubuhnya menurun.
Helena yang sangat berambisi ingin mendapatkan cinta dan perhatian yang penuh dari Alvino. Memutuskan untuk mengajak dokter yang sedang mengalami masalah keuangan untuk bekerja sama.
Kedatangan orang tua Helena, awalnya terasa sangat menghambat keinginan Helena untuk mendapatkan perhatian penuh dari Alvino. Tapi kemudian Helena juga melupakan kedua orang tua dan juga adiknya dalam sandiwara yang akan dia perhatikan.
Helena menjanjikan sejumlah uang yang besar kepada kedua orang tuanya jika mereka mau menuruti keinginan Helena.
Helena mempergunakan uang operasi itu untuk membayar dokter dan juga diberikan kepada kedua orang tuanya.
"Sekarang lihatlah akibat dari tindakanmu yang mengikuti drama Helena, kau menyakiti aku bahkan membuat Husna pergi dari kehidupanku."
Lalisa menutup mulutnya karena tidak menyangka apa yang dia lakukan justru berdampak sangat buruk terhadap kehidupan kakak iparnya.
"Maafkan aku kak Alvino."
"Kau tahu Lalisa? Aku bahkan mengenyampingkan rasa sakit karena Helena sudah membuat Husna celaka sehingga mengakibatkan calon bayi pertama kita hilang, kerena aku merasa kasihan dengan penyakit yang sedang diderita olehnya."
"Aku berusaha untuk menahan amarahku, aku menyemangati dia agar bisa berjuang untuk melawan kanker itu. Tapi ternyata, dia menusukku lebih dalam lagi. Dan aku tidak lagi bisa menerima kesalahan yang dia perbuat."
Lalisa terdiam, dia juga mengakui jika apa yang di lakukan sang kakak adalah kesalahan besar.
Lalisa kemudian memutuskan untuk tidak lagi mengikuti apa yang diinginkan oleh Helena.
...----------------...
"Ma, Pa. Tolong hentikan Alvino." ucap Helena.
"Untuk apa?" tanya Mama.
"Ma, apa Mama tidak mendengar jika Alvino baru saja mentalak aku?"
"Itu pantas kamu dapatkan," ucap Papa.
"Pa? tega sekali Papa berbicara bahwa aku pantas untuk ditolak oleh suamiku. Apa Papa mau jika aku menjadi janda untuk yang kedua kalinya?"
"Helena, kamu sendirilah yang membuat kamu menjadi janda untuk yang kedua kalinya. Seharusnya kamu bisa belajar dari kesalahan pertama kamu saat kamu menjadi janda," ucap Mama.
Helena melepaskan beberapa selang infus yang berada di tangannya sebelum dia berusaha mengejar Alvino.
"Walaupun ini adalah infus palsu. Tapi tetap saja ini sangat merepotkan ketika aku harus melepaskannya sendiri.," ketus Helena.
Helena turun dari tempat tidur dan berniat untuk mengejar Alvino tapi sang ayah segera menggenggam tangannya.
"Papa, lepaskan aku."
__ADS_1
"Cukup Helena. sekarang juga kami akan membawa kamu pulang dan mengajari kamu bagaimana cara bersikap menjadi seorang istri yang baik."
"Ma..?" Helena menatap iba ke arah sama mama berharap sang Mama akan membantunya melepaskan diri dari Papa.
"Helena, kami sudah salah dengan terus membiarkan kamu bersikap semau kamu. Kamu sudah menyebabkan kerusakan rumah tangga Alvino dengan Husna."
"Ma, aku berjanji tidak akan membuat Alvino bersedih hanya karena Husna pergi dari kehidupannya. Aku justru bisa membuatnya bahagia setelah kepergian Husna."
Plak !!
"Kenapa Tuhan mentakdirkan kamu sebagai putriku, apa kesalahanku di masa lalu sehingga aku memiliki putri yang egois dan keras kepala seperti kamu," ucap Mama setelah menampar pipi Helena.
"Ma..."
"Lalisa, segerakan kemasi barang-barang kita karena kita akan pergi hari ini juga." ucap Papa pada Lalisa.
"Baik, pa."
"Ayo, sebaiknya Mama akan membantu kamu agar kita bisa lebih cepat untuk pergi dari sini."
Lalisa mengangguk kemudian dia pergi bersama dengan ibunya untuk membereskan barang-barang mereka yang ada di ruang istirahat para penunggu pasien.
Helena berusaha melepaskan diri dari pegangan papa nya.
"Papa, Helena mohon izinkan Helena untuk bertemu dengan Alvino."
"Tidak."
Papa menyeret Helena agar mau keluar dari ruangan itu, Helena bersikukuh tidak ingin pergi dari sana.
"Papa tidak bisa melakukan ini kepadaku."
"Aku adalah ayahmu. Aku kembali berhak atas dirimu setelah suamimu mentalak kamu."
Helena yang benar-benar sudah kehilangan akal karena harus mengejar Alvino, memilih untuk segera bertindak kasar.
Helena memutar tangan sang ayah hingga sang ayah merintih kesakitan kemudian mendorong keras tubuh Ayahnya dan pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari Alvino.
Brak !!
Ayah Helena yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Helena, membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan terjatuh pada meja kaca. Hingga membuat meja kaca itu pecah.
Serpihan kaca menancap tepat di jantung Papa. Cairan merah mengalir. Helena tidak mengetahui itu karena Helena sudah berada diluar rumah sakit untuk menstop taksi.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...