MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 36 : Soal Husna


__ADS_3

Malam itu, Alvino memilih tidur di kamar sendiri.


Husna yang sudah mulai terbiasa tidur tanpa Alvino, memutuskan untuk melakukan salat malam dan berdoa agar rumah tangganya dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Alvino justru tidak bisa tidur karena memikirkan tentang bagaimana membuat Husna dan Helena menjadi akur.


Sebenarnya Alvino tahu jika semua berawal dari Helena, jika saja Helena mau mengalah dan menjalin hubungan yang baik dengan Husna. Mungkin rumah tangga nya bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Helena yang sedang dipikirkan oleh Alvino, justru sedang merencanakan hal lain demi bisa selalu membuat Alvino berada di sampingnya.


"Sepertinya, aku harus menggunakan penyakit yang sedang aku alami demi mendapatkan perhatian yang lebih dari Alvino."


"Ya, sepertinya aku akan menggunakan itu. Dengan demikian, aku yakin Alvino pasti akan sangat bersimpati terhadapku." Helena tersenyum smirk.


Helena kemudian mengambil tasnya dan mengambil surat-surat di mana di sana tertulis vonis yang diberikan dokter kepadanya.


Helena sengaja meletakkan itu di laci yang berada tidak jauh dari tempat tidur.


"Semoga Alvino segera menemukan berkas ini sehingga dia menyadari bahwa yang lebih banyak membutuhkan perhatian adalah aku." Ucap Helena.


Di sepertiga malam, Alvino terbangun. Dia merasa sangat gelisah sehingga memutuskan untuk pergi ke kamar Husna.


Alvino melihat jika Husna bersiap untuk salat tahajud.


"Husna..."


"Mas?"


Husna langsung menghampiri suaminya yang terlihat murung.


"Ada apa?"


"Mas tidak bisa tidur."


Husna menuntut Alvino untuk duduk di tempat tidur.


"Sepertinya masa lalu banyak memikirkan tentang apa yang terjadi di antara kita."


"Bukan di antara kita, tapi aku memikirkan tentang sikap Helena yang berbeda jauh sejak kami resmi menjadi pasangan suami istri."


"Sabar mas..."


"Aku sudah mencoba untuk sabar dan mencoba menuruti semua yang dia inginkan. Tapi lihatlah semakin aku bersabar atas sikapnya, aku semakin melihat dirimu terluka dan aku merasa bahwa diriku tidak ada terhadapmu."


"Husna, ajari aku untuk sepertimu."


"Apa maksud ucapan mas?"


"Aku tahu, sebagai seorang wanita tentu kamu memiliki rasa kecewa saat mengetahui bahwa suamimu berbagi cinta dengan wanita lain. Hanya saja, kamu tidak pernah memperlihatkan kekecewaan itu kepada siapapun, terutama kepada aku. Suami kamu sendiri."


"Aku ingin memiliki kesabaran yang besar seperti yang kamu miliki."


Husna tersenyum sambil berkata,

__ADS_1


"Semakin kita merasa memiliki, maka semakin berat pula kita untuk bersabar. Tetapi jika kita yakin bahwasanya semua hanyalah titipan, maka tentu akan mudah kita untuk bersabar." Ucap Husna.


"Kamu memiliki kekuatan dalam dirimu untuk bangkit tentang apa pun yang saat ini berusaha untuk menjatuhkanmu. Tapi aku? aku merasa tidak becus menjadi seorang suami. Jujur saja, ini adalah hal tersulit yang aku hadapi sepanjang hidup ini."


"Ketika kesehatan emosional kita dalam keadaan buruk, begitu juga tingkat harga diri kita. Kita harus memperlambat dan menangani apa yang mengganggu kita, sehingga kita dapat menikmati kegembiraan sederhana menjadi bahagia dan damai dengan diri kita sendiri." Ucap Husna.


"Husna, maafkan aku karena aku tidak bisa berlaku adil kepada kamu. Aku bahkan tidak bisa menemukan jawaban atas apa yang harus aku lakukan. Aku binggung menentukan langkah mana yang harus aku ambil ketika kalian berdua belum bisa untuk berdamai dengan keadaan."


"Jawaban yang kamu cari tidak pernah datang ketika pikiran sibuk, mereka datang ketika pikiran diam, ketika keheningan berbicara paling keras."


"Mau sholat tahajud bersama?" Tawar Husna sambil tersenyum.


Alvino yang melihat senyuman tulus dari Husna, seperti mendapatkan kesejukan dan pencahayaan.


Mereka berdua kemudian melakukan sholat tahajud bersama.


Alvino bisa tidur dengan nyenyak setelah dia melakukan salat tahajud bersama dengan Husna.


Husna tentu saja dengan senang hati mengizinkan Alvino untuk tidur bersamanya.


Pagi harinya...


Husna bangun terlebih dahulu, disusul oleh Alvino yang membantunya menyiapkan sarapan.


"Husna, aku mulai berpikir untuk menyewa seorang pembantu yang akan membantu kamu dalam menyiapkan sarapan."


"Tidak perlu mas, insyallah aku masih bisa."


"Aku tidak ingin membahayakan calon bayi kita. Jadi Aku akan segera mencari pembantu untuk membersihkan rumah dan memasak makanan untuk kita."


"Tentu saja."


Baru saja Alvino selesai membantu Husna menyiapkan sarapan. Ponselnya berdering.


Alvino mengangkatnya ternyata ada beberapa masalah di perusahaannya.


"Husna, ada sedikit masalah di perusahaan yang mengharuskan aku untuk pergi sekarang juga."


"Baiklah, pergilah bersiap aku akan menata makanan untuk sarapan."


"Terima kasih sayang."


Cup.


Alvino mencium kening Husna. Husna sedikit tak tegun atas dua hal.


Pertama, Alvino menciumnya secara tiba-tiba di luar mereka akan melakukan hubungan suami istri.


Kedua adalah saat Alvino memanggilnya dengan sebutan sayang.


Husna memegang keningnya yang terdapat bekas kecupan dari sang suami. Sambil tersenyum, Husna memasukkan makanan ke dalam tempat makan dan membawanya kepada Alvino.


"Tolong sampaikan pesanku juga kepada Helena."

__ADS_1


"Insyallah."


"Aku berangkat dulu ya, assalamualaikum."


"Walaikumsalam.."


Tak lama setelah kepergian Alvino, Helena datang dengan nafas tersengal-sengal.


"Alvino. Alvino, kenapa dia pergi begitu cepat?"


"Ada masalah di perusahaan yang mengharuskan mas Alvino untuk datang sepagi ini, mas Alvino juga menitipkan pesan agar kita berdua sarapan tanpa menunggu kehadirannya."


"Tidak perlu, aku akan sarapan di dalam kamar. Tidak mungkin aku akan sarapan berdua denganmu." Pekik Helena sambil berlalu menuju dapur dan mengambil beberapa menu makanan serta membawanya naik ke atas.


Husna hanya tersenyum melihat tingkah laku madunya itu.


Di kantor...


Alvino menyelesaikan masalah itu dengan cepat sehingga dia masih memiliki waktu untuk sarapan.


"Hai bro.."


"Angga."


"Terima kasih karena sudah mau datang dan menyelesaikan masalah perusahaan yang terjadi antara perusahaan kita dengan cepat." Ucap Angga.


"Sama sama. Bukankah sudah seharusnya kita saling membantu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi?" Ucap Alvino.


Angga tersenyum kemudian mereka bersama-sama makan sarapan yang sudah dibawakan oleh istri masing-masing.


"Oh ya, Bagaimana kabar rumah tanggamu? Maaf aku belum sempat datang, aku juga mendengar bahwa sekarang kamu memiliki dua istri?"


"Ya, itu semua terjadi begitu saja tanpa aku duga."


"Seharusnya kamu mengatakan itu dengan bahagia, tapi kenapa Aku bahkan tidak melihat setitik kebahagiaan saja di wajahmu?"


"Ya, kamu mau aku berekspresi seperti apa?"


"Ya, seharusnya kamu menunjukkan kebahagiaan Bukankah kamu berhasil menikahi wanita yang kamu cintai?"


"Itu masalah nya. Aku merasa bahwa cintaku padanya sudah memudar, terutama saat aku mengetahui sifat asli yang sebenarnya. Dia bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa hormatnya kepada istri pertamaku."


"Maksudnya Husna?"


"Kamu mengenal istriku?"


"Alvino, siapa yang tidak mengenal Husna. Wanita yang banyak diimpikan oleh kebanyakan pria, termasuk aku. hehehehe."


Angga kemudian menceritakan tentang banyaknya pria yang melamar Husna, hanya saja ayah Alvino tidak mengizinkannya sehingga meminta Husna secara pribadi untuk merawatnya di rumah.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2