MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 23 : Pilihan sulit.


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu...


Helena memilih untuk tinggal di rumah yang sebelumnya ditempati oleh Husna dan Alvino.


Hal itu, otomatis membuat Husna dan Alvino tinggal di Mansion keluarga.


Husna masih belum bisa memberitahukan tentang kabar kehamilannya kepada Alvino, karena setiap malam Alvino selalu terlihat gelisah.


Husna bahkan belum memberitahukan kabar kehamilan ini kepada Mama dan juga kakak iparnya.


Hari ini, Husna mengajak Alvino untuk menemui Helena.


"Alvino, akhirnya kamu datang." Ucap Helena yang merasa bahagia karena inilah kali pertamanya Alvino datang mengunjunginya sejak dia keluar dari rumah sakit.


"Assalamualaikum, Helena." Ucap Husna.


Helena hanya tersenyum tipis, kemudian Alvino mengajak Husna untuk masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Alvino.


"Aku baik baik saja." Ucap Helena, sambil melirik ke arah Husna yang tengah menyiapkan makanan ke dalam piring.


Husna membawa beberapa jenis masakan dari Mansion, itupun Husna melakukannya secara diam-diam karena jika mamanya tahu, beliau akan melarang Husna karena makanan itu akan diberikan kepada Helena.


Setelah Husna selesai menata beberapa jenis makanan itu di meja makan. Alvino mengajak Helena untuk makan bersama.


Siang itu, beberapa orang tiba-tiba mendatangi kediaman Husna dan Alvino.


Mereka rupanya menuntut kejelasan Helena yang tinggal di rumah mereka.


Menurut penuturan warga, Helena kerap kali keluar rumah dengan pakaian yang berbanding terbalik dengan pakaian kebanyakan kaum wanita yang tinggal di perumahan itu.


Setelah negosiasi yang cukup sulit, Husna dan Alvino akhirnya bisa merendam emosi para warga. Mereka mulai pulang meninggalkan rumah Husna dan Alvino.


"Mas, bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya kepadamu. Nikahi saja Helena." Ucap Husna saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Husna, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Tidak muda bagi mas untuk berpoligami sementara Mas sudah yakin bahwa kamu adalah jodoh Mas."


"Jodoh itu rahasia Allah Mas. Tidak ada dari manusia yang bisa mengklaim bahwa pasangan yang saat ini bersamanya adalah jodohnya."


Hening...


Alvino dan Husna memilih diam dalam pikirannya masing-masing.


Alvino sesekali melihat ke arah Husna yang terlihat menatap jalanan.

__ADS_1


Sampai di Mansion, Untung saja semua orang sedang pergi, jadi tidak akan ada yang bertanya kenapa wajah mereka begitu tegang saat pulang mengunjungi Helena.


Beberapa hari terakhir, Husna melihat Alvino sering melakukan salat istikharah.


Sesekali, Husna ikut melaksanakan salat di belakang Alvino. Sayangnya, Alvino yang terlalu fokus, tidak menyadari jika setiap malam Husna berada di belakangnya.


"Mas, Aku tahu akhir-akhir ini kamu tidak bisa tidur dengan tenang. Jika kamu tidak bisa memulangkan Helena karena keluarganya tidak mau lagi menerima keberadaannya. Nikahi saja Helena, daripada dia terus menjadi fitnah."


"Lalu bagaimana dengan mu?"


"Ada apa dengan ku? insya Allah aku ikhlas. Lagipula, aku dan bayi kita sangat membutuhkan suasana tenang dan damai bersama dengan ayahnya." Ucap Husna.


Alvino terdiam, dia menatap lekat Husna seolah-olah ingin bertanya maksud dari perkataan yang baru saja diucapkan oleh Husna.


"Aku hamil mas, Maaf baru bisa mengatakannya kepadamu."


Alvino memeluk Husna, seakan-akan tahu alasan kenapa Husna baru memberitahu Alvino perihal kehamilannya ini.


"Maafkan aku Husna. Maafkan aku."


"Aku ikhlas kamu menikah dengan Helena asal kamu bisa berbuat adil kepada kami."


Cukup haru suasana yang terjadi di antara pasangan suami istri itu. Pernikahan mereka yang bisa dibilang masih seumur jagung harus menghadapi cobaan yang begitu besar.


Alvino tidak menyangka bahwa tindakan sebelumnya yang menemui Helena dan berbohong dengan Husna akan berbuntut panjang, hingga akan sampai pada tahap di mana Alvino harus menentukan pilihan yang sangat sulit dalam hidupnya.


Di sisi lain, ada wanita yang tidak bisa dipungkiri masih sangat dicintai oleh Alvino.


Malam itu...


Dengan ditemani Husna, Alvino menghadap Kakak dan juga sang Mama untuk meminta izin Helena.


Brak !!!


"Sudah aku duga, wanita itu pasti mempunyai maksud tersembunyi ketika dia sengaja menjatuhkan diri dari lantai 2. Lihat kan, sekarang dia memaksamu untuk menikahinya karena dia sudah digerebek oleh tetangga perumahan."


"Tenang ma, Helena tidak bersalah. Dalam hal ini, Husna yang meminta Mas Alvino untuk menikahi Helena."


"Husna, apa kamu sudah gila dengan membiarkan suami kamu berpoligami sementara kamu masih belum mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya?"


"Jujur saja, tidak ada hati seorang istri yang rela melihat suaminya menikah lagi. Tapi, demi menjaga kehormatan seorang wanita, Husna Ikhlas."


Mama terlihat menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya.


"Alvino janji akan berusaha adil." Ucap Alvino.

__ADS_1


Husna terus memegang tangan Alvino seolah-olah memberikan kekuatan.


Mama. Dia tidak mempunyai pilihan lain selain merestui keinginan Alvino yang ingin menikahi Helena.


...----------------...


Hari ini adalah hari di mana Alvino akan menikahi Helena, setelah sebelumnya Helena sudah resmi memeluk agama Islam dan mulai meninggalkan pakaian yang biasa dia kenakan. Helena kini memakai gamis dan jilbab selendang.


Orang tua Helena tidak datang walaupun Alvino sudah mengirimkan tiket pulang pergi, dan juga hotel untuk beberapa hari. Namun, sepertinya berita pernikahan ini tidak membuat kekecewaan mereka meredam.


Bahkan, saat acara akad nikah. Tidak ada satupun sanak saudara dari Alvino yang datang. Mama dan Alviana juga tidak terlihat hadir dalam pernikahan Alvino dan Helena yang digelar di rumahnya.


Hanya Husna yang setia menemani Alvino, bahkan Husna juga membantu merias Helena sebelum akad dimulai.


"Husna, Bagaimana bisa kamu dengan mudah mengizinkan Alvino untuk menikah denganku?" Tanya Helena setelah Husna selesai membantu merapikan jilbab yang dikenakan oleh Helena.


"Apa kamu tidak takut jika setelah ini, Alvino akan lebih banyak menghabiskan waktu denganku daripada denganmu karena memang aku adalah wanita yang sangat amat dicintai oleh Alvino."


"Helena. Berbicaralah seadanya, jangan terlalu berharap yang tinggi karena jika kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Itu akan sangat menyakiti hati kamu dan membuat kamu tidak melakukan tugas sebagai seorang istri yang baik." Ucap Husna sambil tersenyum.


Husna kemudian mengantar Helena menuju ruangan utama tempat di mana akad nikah akan dilangsungkan.


Helena terlihat tersenyum saat dia disandingkan dengan Alvino. Lain halnya dengan Alvino yang terlihat menatap Husna yang duduk tidak jauh dari sana.


Husna tersenyum dan menganggukkan kepala, hingga ketika kata sakral itu diucapkan. Air mata jatuh membasahi pipi Husna.


Husna yang tidak kuat melihat pemandangan di mana Alvino akan mencium kening Helena, memutuskan untuk pergi dari sana dan membantu mempersiapkan jamuan yang akan disuguhkan kepada para tamu undangan yang datang.


Malam harinya...


Helena sudah menunggu di kamar pengantin, sementara Alvino sedang berada di balkon rumahnya.


Jika anda yang bertanya dimana Husna. Husna sedang menangis memohon kesabaran yang melimpah dalam sujudnya.


Husna terus berdoa dan meminta kepada Allah, agar dia diberikan hati yang kuat dan kesabaran yang melimpah, hingga sebuah pelukan memaksa Husna untuk berhenti menangis.


"Mas, kenapa Mas ada di sini? bukankah malam ini adalah malam pertama kalian?" Pekik Husna.


"Bagaimana bisa aku tidur dengan wanita lain, sementara ada istri dan juga calon anakku sedang menangis karena aku tidak bisa berada di sampingnya."


Husna berbalik menatap Alvino dan memeluknya dengan erat.


Maafkan Husna yang sebenarnya tidak ikhlas Mas. Tapi, demi tetap menjaga kehormatan Helena, Husna akan berusaha untuk ikhlas.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2