
"Bu Husna, kandungnya sehat ya, usianya sudah memasuki satu bulan. Banyak istirahat." ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Husna.
Husna menyempatkan diri untuk memeriksakan kandungannya. Mengingat, sejak Husna tahu bahwa dirinya hamil, dia belum memeriksakan diri.
"Ngomong ngomong, apa Ibu sendiri?"
"Tidak, saya disini bersama suami."
"Lalu, dimana suami Bu Husna? kenapa tidak ikut?"
"Suami saya mungkin sedang dalam perjalanan ke sini." ucap Husna sambil tersenyum.
Dokter Rita hanya ber o ria, kemudian memberikan obat dan vitamin untuk Husna.
...----------------l...
"Istri anda kelelahan pak, setelah ini tolong dijaga kesehatannya dan jam tidurnya ya.." ucap Dokter Rita yang seakan tahu maksud dari tatapan Husna.
"Baik dokter, terima kasih."
Husna menatap kepergian Dokter Rita, sambil mengucapkan terima kasih karena sudah tidak memberi tahu keadaan Husna yang sebenarnya.
Alvino kemudian mengajak Husna untuk pulang.
"Jika kita pulang, bagaimana dengan Helena?"
"Helena sudah ada keluarga nya, dia akan baik baik saja." pekik Alvino.
Dalam perjalanan pulang, Husna terus berpikir haruskah dia memberitahu Alvino mengenai kehamilannya.
Aku harus bagaimana, sisi sebagai istri, tentu ingin mengatakan kabar bahagia. Namun, sisi sebagai seorang yang tidak di cintai dengan tulus, mengatakan bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan bahwa aku hamil.
"Husna, apa kamu baik-baik saja?" tanya Alvino ketika mereka sudah sampai di rumah.
"Aku baik mas." ucap Husna sambil tersenyum.
Drrttt drrttt drrttt.
Ponsel Alvino berdering, raut wajah Alvino sedikit berubah tegang.
"Ada apa mas?" tanya Husna setelah Alvino selesai dengan panggilan nya.
"Helena, dia mengatakan kepada orang tuanya, bahwa dia jatuh karena di dorong seseorang."
"Maksudnya aku?" ucap Husna sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Jelas saja tidak. Husna, aku harus ke rumah sakit untuk meluruskan kesalahpahaman ini."
__ADS_1
Husna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Jaga diri baik-baik, dan beristirahatlah." ucap Alvino sambil mencium kening Husna.
Husna turun dari mobil, dan melambaikan tangan ke arah Alvino yang mulai pergi meninggalkan Husna.
"Eh, mbak Husna. Dari mana?" tanya Kiki, tetangga Husna.
"Dari rumah sakit." ucap Husna sambil membuka pintu gerbang.
"Ooh, wanita yang selalu mengantar dan menunggu mas Alvino itu ya, yang sakit? timpal Siti, yang kebetulan pergi bersama dengan Kiki.
"Iya.." ucap Husna.
"Mbak Husna, dia itu siapanya mas Alvino sih?, istri keduanya yaa?" tanya Siti .
"Maaf ni ya mbak Husna, kami semua di komplek ini bertanya-tanya tentang wanita itu. Secara kan, mbak Husna wanita bercadar, terus tiba-tiba ada sosok wanita yang berpakaian serba berbanding terbalik dengan pakaian mbak Husna. Kami, tentu saja kepo."
Husna terdiam, jujur saja dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan dari para tetangganya dengan apa.
"Maaf bu, untuk saat ini saya tidak bisa menjawab. Kebetulan, kondisi saya kurang baik jadi saya izin untuk masuk ke dalam dan beristirahat." ucap Husna sambil tersenyum.
Siti dan Kiki hanya bisa menghela nafas panjang, karena mereka kecewa dengan sikap Husna yang tidak ingin memberitahu siapa sebenarnya wanita itu.
Husna sudah masuk ke dalam rumah, namun Husna masih bisa mendengar bisikan-bisikan dari Siti dan Kiki.
"Iya, dan kayaknya Mbak Husna belum rela kalau di poligami, buktinya dia tidak mau mengatakan siapa sebenarnya wanita itu."
"Iya ya. Tidak mungkin juga kan kalau wanita itu adalah saudara ataupun sepupu dari Mas Alvino."
"Ya jelas nggak mungkin lah, masa iya cuma sekedar saudara sampai bela-belain nganter sama nunggu kedatangan Mas Alvino."
Husna hanya mengenal nafas panjang sebelum akhirnya dia benar-benar masuk ke dalam rumah.
Husna memutuskan untuk beristirahat, namun sayangnya, perkataan dari para tetangganya benar-benar mengganggu waktu istirahat Husna.
Sementara itu di rumah sakit...
"Helena, kenapa kamu berbohong kepada kedua orang tuamu, dengan mengatakan bahwa kamu terjatuh karena merasa ada dorongan di belakang mu." ucap Alvino yang secara terang-terangan langsung bertanya kepada Helena.
"Aku... aku.."
"Helena, ayo jawab kenapa kamu tidak berani menjawab." ucap Papa.
"Helena, kamu tadi bercerita dengan penuh percaya diri. Kenapa sekarang kamu ketakutan, apa Alvino yang sebenarnya mendorong kamu dan kamu tidak ingin mengatakannya karena kamu takut?"
"Astaghfirullah, paman, bibi. Sumpah demi nama Allah Yang Maha Kuasa, saat kejadian saya dan istri sedang berada di dalam kamar untuk membicarakan tentang kepulangan dari Helena." ucap Alvino.
__ADS_1
"Di rumah juga tidak ada siapa-siapa selain kami bertiga, saya dan istri juga tidak tahu apa yang Helena lakukan di lantai 2. Sebab, yang kami tahu Helena tidak pernah naik ke lantai atas karena dia tahu bahwa, itu adalah privasi saya dan istri."
kedua orang tua Helena saling berpandangan lalu mereka bersama-sama menatap Helena yang tertunduk.
"Helena, sebaiknya kamu mengatakan alasan yang kamu katakan kepadaku, kepada orang tua."
"Al..."
"Helena, Aku hanya tidak ingin istriku di bawah dalam masalah. Dia sudah berkorban dan mengizinkan seorang wanita untuk tinggal di tengah-tengah rumah tangga kami. Sekarang, jangan pernah kau nodai pengorbanan yang sudah dibuat istriku."
Helena akhirnya mengetahui bahwa pernyataan yang sebelumnya adalah bohong, kedua orang tua Helena sangat parah sehingga mereka memutuskan langsung pergi dari sana.
"Papa benar-benar kecewa dan malu memiliki seorang putri sepertimu, setelah ini Papa tidak akan pernah mau tahu lagi ke mana kamu akan pergi."
"Papa, maafkan Helena."
"Kamu sudah benar-benar merusak martabat keluarga kita Helena, Papa harap kamu tidak akan pernah kembali sebelum kamu menyadari kesalahanmu."
Papa langsung mengajak mama dan juga Lalisa untuk pergi dari Indonesia meninggalkan Helena.
Alvino tentu saja semakin stress dengan masalah ini, jika kedua orang tua Helena tidak mau membawa Helena pergi. Tidak ada pilihan lain bagi Alvino untuk kembali membawa Helena pulang.
"Alvino..."
"Helena, kamu benar-benar membuatku kecewa. Untuk saat ini, tidak ada pilihan lain bagiku selain kembali membawamu pulang." ucap Alvino yang membuat senyuman terlukis di wajah Helena.
Namun, senyuman itu menghilang tak kalah Helena mendengar perkataan lanjutan dari Alvino.
"Maaf, tapi kamu tidak akan pulang bersamaku dan tinggal bersama dengan Husna lagi. Kamu akan tinggal di mansion keluarga ku."
"Alvino..."
"Hanya ada dua pilihan, kamu tinggal di Mansion keluargaku, atau kamu tinggal sendiri di rumahku. Jika kamu memilih tinggal di rumah yang sebelumnya kamu tempati, aku dan Husna akan tinggal di Mansion keluarga."
"Alvino..."
"Maaf Helena, keputusanku sudah bulat. Kamu harus belajar menerima takdir yang sudah digariskan untuk mu."
"Aku mencintaimu Al.."
"Jangan mengatasnamakan cinta untuk memenangkan egomu." ucap Alvino.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1