
Beberapa bulan lalu, saat Helena masih syok atas apa yang terjadi pada pernikahan dan nasib dirinya.
"Mimisan alias epistaksis terjadi ketika keluar darah dari hidung. Ada banyak kondisi yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami perdarahan pada hidung. Umumnya, kondisi ini juga disertai dengan nyeri atau sakit kepala. Mimisan yang disertai sakit kepala adalah hal yang umum terjadi, tetapi sebaiknya tidak diabaikan begitu saja." Ucap dokter.
Helena yang saat itu seringkali merasa sakit kepala dan keluar mimisan secara tiba-tiba, membuat orang tuanya merasa khawatir dan memilih untuk memeriksakan Helena ke dokter spesialis.
"Keluar darah dari hidung yang disertai dengan sakit kepala bisa menjadi tanda dari penyakit tertentu, seperti demam, anemia, hingga kadar darah merah yang rendah. Mimisan bisa menyerang siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada anak-anak. Kondisi ini identik dengan kelelahan, udara yang terlalu kering, atau stres. Stres berkepanjangan juga menjadi salah satu pemicu mimisan."
"Kanker nasofaring menyerang area nasofaring yang terletak di atas faring (tenggorokan) dan di belakang hidung. Karsinoma sel skuamosa (SCC) merupakan jenis kanker yang paling umum di daerah ini. SCC timbul dari jaringan lapisan hidung."
"Apa dokter ingin mengatakan bahwa putri saya mengalami kanker nasofaring?" Pekik Papa Helena.
"Mimisan berulang merupakan salah satu gejala umum dari kanker nasofaring. Penyakit ini tak hanya menyebabkan mimisan, tapi juga keluarnya ingus yang sering kali mengandung bercak dahrah."
"Ini hanya diagnosa saya, mengingat putri anda sudah mimisan lebih dari lima kali dalam satu hari." Ucap dokter.
"Apakah berbahaya?" Tanya Mama Helena.
"Mimisan karena karsinoma nasofaring terjadi pada salah satu sisi hidung dan biasanya tidak menyebabkan perdarahan berat. Sulit untuk mendeteksi karsinoma nasofaring pada tahap awal, sebab gejalanya tidak mudah dikenali dan mirip dengan kondisi lain."
"Kanker ini bisa menyebar ke tulang, paru-paru, hati, dan bagian tubuh yang lain melalui sistem limfe dan aliran darah. Kami akan segera melakukan pemeriksaan untuk mengetahui lebih jelasnya."
Sejak saat itu, Helena rutin mengkonsumsi obat yang diberikan dokter kepadanya.
Diagnosis kanker nasofaring diawali dengan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami, gaya hidup, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga.
Diketahui saat itu, Helena menderita kanker nasofaring stadium 0.
"Disebut juga kanker in situ. Pada stadium ini, muncul sel abnormal di nasofaring yang dapat menjadi kanker dan berpotensi menyebar ke jaringan di sekitarnya." Terang dokter.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan kanker itu di dalam tubuh putri saya?" Tanya Papa.
"Imunoterapi adalah pemberian obat yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Jenis obat imunoterapi yang diresepkan oleh dokter, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Contoh obat imunoterapi untuk mengatasi kanker nasofaring adalah pembrolizumab atau cetuximab."
"Pastikan ini diminum tepat waktu dan sesuai anjuran untuk mencegah mimisan datang kembali."
...----------------...
Helena baru mengetahui jika sejak dirinya tiba di Bali, dia sama sekali melupakan obat yang harus dia minum.
Alvino berjalan kembali memasuki kamar dan akan mencoba untuk membujuk Helena akan memberikan ponselnya. Alvino sangat khawatir kepada Husna.
__ADS_1
Namun, betapa terkejutnya Alvino saat dia memasuki kamar. Dia melihat Helena tergeletak di lantai.
"Helena..."
Alvino segera mengangkat tubuh Helena dan meminta satpam untuk mengantarkannya ke klinik terdekat.
"Istri bapak tidak apa apa, mungkin karena bapak terlalu bersemangat." Ucap Dokter itu yang sukses membuat Alvino sedikit malu.
"Saya sudah menuliskan obat dan bapak bisa menembusnya dalam perjalanan pulang. Untuk sementara, biarkan istri anda istirahat selama beberapa hari." Ucap dokter yang disertai aku kan kepala oleh Alvino.
Alvino mengajak Helena untuk pulang setelah Helena sadar dan dipastikan kondisinya baik-baik saja.
"Apa dokter mengatakan sesuatu tentang kenapa aku pingsan?" Tanya Helena dengan nada khawatir, seolah-olah khawatir Alvino akan mengetahui tentang penyakit yang sebenarnya dia derita.
"Dokter hanya menyarankan kita untuk beristirahat yang tidak melakukan apapun selama beberapa hari."
Helena bernafas dengan lega, karena dokter itu tidak mengatakan bahwa sebenarnya dia menderita kanker nasofaring stadium 0.
Tuhan, sembuhkanlah aku dari penyakit itu agar aku bisa terus berbahagia bersama dengan orang yang aku cintai.
Sesampainya di vila, Helena memilih untuk beristirahat. Kondisinya yang masih belum benar-benar pulih membuat Alvino mengurungkan niatnya untuk meminta ponselnya.
Liburan mereka sudah tinggal dua hari lagi. Helena menghubungi adiknya saat Alvino tidak berada di villa dan meminta sang adik untuk mengirimkan obat yang sudah hampir habis.
Helena tidak mengatakan jika dirinya sempat pingsan dan masuk rumah sakit karena takut adiknya akan khawatir.
"Helena..." Alvino berjalan menghampiri Helena yang sedang berdiri di balkon villa.
"Alvino, kapan kamu kembali?" pekik Helena sambil menyembunyikan ponselnya agar Alvino tidak tahu.
"Baru saja, Helena aku berpikir sebaiknya kita tidak memperpanjang bulan madu ini mengingat kondisimu yang sempat drop." Ucap Alvino yang membuat Helena menundukkan kepalanya.
"Aku hanya ingin menambah beberapa hari saja sebagai ganti waktu di mana Aku tidak bisa melayanimu."
"Kita bisa melakukannya lain hari, atau kita bisa merencanakan liburan lagi setelah ini. Helena, Aku ingin segera pulang."
"Kenapa?, apa kamu tidak suka liburan bersama denganku?"
"Suka, Tapi beberapa hari lalu, tepat di mana saat aku menemukan kamu pingsan. Aku juga mendengar kabar bahwa Husna pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Aku mencoba untuk menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif, lalu aku mengetahui bahwa Husna tinggal di Mansion. Sayangnya, kakakku tidak membiarkan aku untuk berbicara dengan Husna. Jadi..."
"Kamu mengkhawatirkannya?" Pekik Helena yang langsung memotong pembicaraan Alvino.
__ADS_1
"Ya, Tentu saja aku mengkhawatirkannya. Dia sedang mengandung anakku." Ucap Alvino.
"Aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu. Lebih baik kita kembali sesuai jadwal saja."
Helena akhirnya hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Alvino. Lagipula, Helena harus berada di rumah saat obat yang akan dikirimkan sang adik datang.
Karena mereka tiba di rumah dini hari, Alvino memutuskan untuk mengajak Helena beristirahat di rumah. Tidak mungkin Alvino akan membawa Helena ke mansion, mengingat keluarganya tidak terlalu menyukai Helena.
Pagi harinya...
Alvino memutuskan untuk segera pergi mansion dan meninggalkan catatan kecil untuk Helena.
Di mansion...
Alvino langsung masuk dan mencari keberadaan Husna.
Alvino tersenyum dan langsung memeluk Husna saat Husna berada di taman belakang mansion.
"Mas, kamu sudah pulang?" pekik Husna yang terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu. Maafkan aku jika selama sepekan ini aku tidak bisa memberikan kabar kepadamu."
Husna berbalik badan dan dia menatap Alvino.
"Tidak apa apa, Aku tahu kamu juga harus menyenangkan istrimu yang lain." Ucap Husna setelah dia mencium punggung tangan dari Alvino.
Alvino merasa tersentil, dia tahu seharusnya dia lebih tegas kepada Helena. Bagaimanapun juga, Husna harus menjadi prioritas pertama karena sekarang hamil.
Sementara itu, Helena terbangun dan langsung mencoba mencari keberadaan Alvino.
Helena menangis saat membaca catatan yang ditinggalkan Alvino.
"Al, aku pikir akulah wanita yang paling kamu cintai. Nyatanya, cintamu kini sudah terbagi untuk Husna."
"Tidak Al, Aku tidak akan membiarkan cinta itu terbagi untuk Husna. Cinta mu hanya untuk ku."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1