
Ini adalah percakapan yang terjadi antara Alvino dengan ayahnya beberapa hari setelah Alvino memutuskan untuk menikahi Husna.
"Papa, Alvino tidak bermaksud untuk tidak menuruti keinginan papa. Tapi jujur saja, Alvino belum siap harus menikah. Terutama menikahi wanita seperti Husna."
"Alvino tidak mengenal Husna seperti Alvino mengenal Helena."
"Istrimu adalah rezeki mu. Istrimu adalah pilihanmu. Istrimu adalah takdirmu. Maka jangan memandang kepada selain milikmu, dan jangan membanding-bandingkan nya dengan wanita yang bukan milikmu."
"Alvino takut jika ilmu agama yang dimiliki Husna lebih tinggi daripada ilmu agama yang dimiliki Alvino."
"Adalah suatu kewajiban suami untuk berpendidikan agama yang baik dan memastikan bahwa istrinya juga menerima pendidikan agama dengan baik. Papa yakin, Husna tidak akan menunjukkan jika ternyata ilmu agamanya lebih tinggi daripada kamu."
"Saat seorang pria mengatakan: saya terima, dalam sebuah akad pernikahan, maka itu berarti ia mengatakan: bahwa saya menerima tanggung jawab untuk melayani, mencintai dan melindunginya."
"Percayalah nak, Husna adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukmu. Dia akan membawamu menuju jalan yang diridhoi olehnya."
"Jujur saja, Alvino sangat ingin menjadikan Helena istri Alvino. Alvino begitu mencintai nya."
"Anakku, jika kau terus menghabiskan uang pada wanita dan dia tidak pernah bertanya apakah kamu perlu menabung atau berinvestasi, dan hanya terus menikmati uang tersebut, maka jangan menikahinya."
"Kenapa?"
"Kau akan tahu nanti. Tapi ingat lah, jangan terlena saat kau mulai menghasilkan lebih banyak uang, daripada menghabiskan uang pada wanita yang tidak tahu kerja kerasmu, maka habiskan lah uang untuk istrimu ."
"Janganlah kamu menyakiti hati perempuan sang pujaan. Baik dengan ucapan maupun terlebih tindakan. Ingatlah luka hati akibat ucapan sama dalamnya dengan luka fisik akibat tindakan kekerasan. Dan jika terjadi luka-luka itu maka kamu sepanjang hidupmu tak akan termaafkan olehnya."
"Ingatlah juga bahwa pernikahan itu tidak ada sekolahnya. Yang perlu dilakukan adalah menjalaninya. Ingatlah selalu janji pernikahan. Masa depan tak bisa diperkirakan. Mintalah Tuhan untuk selalu mendampingi kalian berdua sehingga selamat mengarungi bahtera sampai berdua pergi ke alam baka."
Berbekal itulah, Alvino akhirnya menyetujui permintaan terakhir Papa untuk menikahi Husna.
...----------------...
"Tunggu, apa maksud mu dengan Husein yang berulang kali mendatang di rumah hanya untuk melamar Husna?" Tanya Alvino pada Angga.
"Husein, CEO Barata Grup? tidak mungkin dia mengejar wanita biasa seperti Husna kan? secara dia adalah CEO terkaya."
"Alvino, Alvino. Kamu adalah suami Husna, tidakkah kamu melihat keistimewaan yang dimiliki oleh istrimu itu?" Tanya Angga.
Alvino terdiam.
__ADS_1
"Bro, jika saja kamu melihat Husna dengan hatimu. Kamu akan melihat bahwa Husna adalah wanita yang pantas dipersunting. Husein melihat Husna, dan dia seperti melihat rahmat Tuhan di dalamnya. Karena itu lah, Husein terus datang menghadap langsung kepada ayahmu untuk meminta Husna. Hanya saja, ayahmu tidak mengizinkan Husna untuk dilamar siapa pun."
"Aku tidak mengerti, bagiku dia sama seperti wanita biasa. Hanya saja, dia tidak memperlihatkan kecantikannya kepada siapapun terkecuali suaminya sendiri."
"Mungkin kamu perlu mengenal Husna lebih dalam lagi."
"Mungkin, karena terkadang aku merasa aku Husna tidak seperti Helena. Helena dengan terang-terangan menunjukkan rasa cintanya kepadaku. Sementara Husna..."
"jangan bandingkan istrimu dengan wanita mana pun. Karena ia juga sedang menahan diri agar tidak membandingkanmu dengan pria mana pun."
Alvino terdiam. Sepanjang hari, dia terus memikirkan tentang perkataan Angga. Hingga dia tidak sadar jika hari sudah memasuki waktu makan siang.
"Seorang suami yang baik akan menyeka air mata istrinya, tapi suami yang hebat akan mendengarkan dengan baik cerita istrinya yang membuatnya menangis."
Alvino memilih untuk pulang setelah banyak berbicara dengan Angga.
Namun, belum sempat Alvino keluar dari kantor, dia melihat Helena datang dengan pakaian yang biasa dia kenakan.
Sementara dari belakang, terlihat Husna juga datang dengan pakaian syar'i nya.
Helena terus saja tersenyum pada semua orang, seolah ingin menunjukkan kecantikan yang dia miliki.
Alvino mengakui, Helena memiliki tubuh ideal yang banyak di harapkan kaum lelaki. Jika di bandingkan dengan Husna. Husna tidak ada apa apa nya.
Dari sini Alvino kemudian memahami jika memang benar, Husna adalah permata yang ditutupi oleh debu-debu jalanan. Hanya mereka yang beruntung yang bisa melihat permata itu.
"Assalamualaikum.." Ucap Alvino.
"Al, aku datang untuk mengantarkan makan siang." Ucap Helena.
Saat Helena akan mendekat untuk mencium Alvino, sebuah suara menjawab salam yang baru saja diucapkan Alvino.
"Walaikumsalam.."
Helena menoleh, bisa dibayangkan bagaimana kekecewaan tergambar di wajah Helena.
"Bagi seorang muslimah, diwajibkan mengucap salam terutama saat dia bertemu dengan suaminya." Ucap Husna sambil mencium punggung tangan Alvino.
"Apa yang sedang coba kamu tunjukkan kepadaku? apa kamu ingin terlihat lebih istimewa di hadapan Alvino?" Ketus Helena.
__ADS_1
"Helena, aku hanya sedang mencoba untuk mengajarkan kamu bagaimana cara menjadi istri yang sholehah. Jika kamu merasa bahwa perlakuan kita ini seperti sebuah pertandingan demi bisa mendapatkan peringkat tertinggi di mata Mas Alvino. Kamu salah."
"Aku tidak pernah berniat untuk bersaing mendapatkan perhatian yang lebih dari Mas Alvino. Karena aku tahu, mas Alvino adalah suami kita berdua, di mana kita berkewajiban untuk berbagi dan mengalah saat kita tidak mendapat giliran untuk menghabiskan waktu bersama dengannya."
Husna tersenyum kemudian Alvino mengajak keduanya untuk masuk dan makan siang bersama.
Helena yang sudah terbiasa membeli makanan, tentu saja membuat Alvino tidak ingin mencicipinya.
"Al, aku sudah jauh-jauh membawa kamu makanan ini. Ini adalah makanan favorit kita ketika kita berada di Negara T. Tidak kah kamu ingin mencicipi ini?"
"Helena, rupanya kamu masih belum belajar tentang hal apa-apa saja yang aku sukai dan tidak aku sukai?" Ucap Alvino.
"Al, Aku tahu sebenarnya kamu hanya berpura-pura bersikap maju saat kita bersama dengan Husna."
"Apa maksud kamu?"
"Alvino, aku tahu sikapmu seperti ini karena kamu tidak ingin Husna tahu jika sebenarnya kamu lebih mencintai aku daripada mencintainya."
Alvino menghela nafas panjang kemudian memilih untuk pergi dari ruangan nya.
"Al..."
Helena langsung berlari mengejar Alvino.
"Tunggu Al..." Helena memegang lengan Alvino.
"Helena, jujur aku lelah dengan sikap mu akhir akhir ini. Aku mulai muak, kamu terlalu egois. Seharusnya kamu bisa berdamai dengan Husna dan membiarkan ini berjalan sebagaimana mestinya."
"Tidak kah kamu lelah dengan semua perdebatan setiap kali kalian bersama?"
"Maafkan aku Al, aku tidak bermaksud seperti ini. Aku sebenarnya juga mengharapkan kita bisa hidup damai dan saling berbagi cinta. Hanya saja..."
"Apa?"
"Aku melakukan ini karena aku terkena kanker yang membuat aku divonis hanya bisa bertahan 3 bulan saja."
"Kanker?"
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...