
"Kanker sudah semakin besar atau menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening yang ada di salah satu sisi leher atau di balik tenggorokan. Istri anda menderita kanker nasofaring stadium 2," ucap dokter setelah Helena menjalani serangkaian pemeriksaan.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Alvino.
"Kita bisa melakukan pembedahan. Karena nasofaring berdekatan dengan banyak pembuluh darah dan saraf, prosedur pembedahan dalam mengatasi kanker nasofaring jarang digunakan. Metode ini lebih sering dilakukan untuk mengangkat kanker pada kelenjar getah bening di leher."
"Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri saya."
"Kami akan segera menjadwalkan operasi untuk istri anda."
Alvino keluar dari ruangan dokter dan langsung menuju kamar Helena.
Ini sudah hari ketiga, dimana Husna tidak lagi terlihat menjenguk Helena.
Helena justru merasa senang karena ketidakhadiran Husna, membuatnya bisa memiliki waktu yang sangat banyak bersama dengan Alvino.
Helena memanfaatkan penyakitnya untuk selalu dekat dengan Alvino.
"Al, apa kamu tidak takut jika ternyata aku mati, dan kamu menyesal karena tidak bisa memenuhi setiap keinginannya aku inginkan?"
"Aku hanya meminta hal kecil darimu. Kenapa kamu seolah-olah enggan untuk menurutinya."
"Aku tahu Husna terluka dan kecewa karena dia baru saja mengetahui kenyataan bahwa, akulah yang membuat bayinya hilang. Tapi lihatlah, Husna sehat dan dia masih bisa beraktivitas seperti biasa. Sedangkan aku?"
Kata-kata yang selalu Helena ucapkan saat Alvino berniat untuk pulang dan melihat keadaan Husna.
Alvino membuka pintu, dia melihat Helena sudah tersenyum seakan-akan tahu bahwa dirinya akan datang.
"Al..." Helena merentangkan kedua tangan seolah-olah memberikan kode agar Alvino segera mendekat dan membalas pelukannya.
"Helena, Hari ini aku akan pulang."
"Jadi kamu sudah memutuskan akan meninggalkan aku sendirian di rumah sakit?" ketus Helena.
"Helena, tolong berhentilah bersikap manja dan bertingkah seperti anak kecil. Di rumah sakit ini terdapat banyak sekali dokter dan suster."
"Ya, tapi kan mereka tidak akan menemaniku di sini selama 24 jam seperti yang selalu kamu lakukan."
"Helena, aku pasti melakukan itu jika istriku hanya kamu saja. Kamu harus ingat jika kamu hanyalah istri kedua, kita tahu bahwa istri kedua memang butuh kasih sayang. Tapi istri pertama yang paling banyak membutuhkan perhatian."
Helena benar-benar merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Alvino.
"Pergi saja sekarang jika kamu memang mereka membiarkan aku sendirian."
"Jika memang kamu tidak ingin sendirian di rumah sakit ini, Aku akan segera mengatur kedatangan orang tua kamu."
"Apa?" Helena sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alvino.
__ADS_1
Tidak, tidak. Alvino tidak boleh mendatangkan kedua orang tuaku. Itu akan membuat aku semakin tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan Alvino.
"Tidak perlu, Al."
"Apa maksud kamu?"
"Tidak perlu mendatangkan kedua orang tuaku."
"Kenapa? apa kamu tidak mau dikelilingi oleh orang-orang yang kamu sayangi?"
"Bukan itu, hanya saja aku sudah pernah merepotkan mereka dengan gejala depresi dan penyakit yang aku terima, setelah aku bercerai di malam pernikahan."
"Itu sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu terima."
"Al, tidakkah kamu bisa sedikit berkata lembut kepada aku. Aku sedang sakit."
"Helena, aku tahu jika memang kamu sekarang sedang menderita penyakit yang bisa dibilang cukup serius. Aku sangat menyayangkan hal itu, tapi aku tidak suka dengan sikap kamu yang berlebihan dan memaafkan penyakit kamu untuk mendapatkan perhatian dari aku."
"Al, tega sekali kamu mengatakan itu kepadaku."
"Memang itulah kenyataannya yang sedang kamu lakukan Helena. Dengar, aku akan datang mengunjungimu saat istirahat makan siang. Malam hari saat aku tidak lelah aku akan datang dan menemanimu di sini. Selebihnya aku juga harus bersama dengan Husna dan membujuknya."
"Al..."
"Jangan khawatir. aku sudah memerintahkan orang-orang ku untuk menjemput kedua orang tuamu."
"Argh, sepertinya memang aku harus membuat Husna pergi selamanya dari hidup Alvino. Agar aku bisa mendapatkan seluruh perhatian dan cinta Alvino."
...----------------...
"Assalamualaikum..."
Husna yang sedang membaca ayat-ayat suci Alquran, berhenti ketika dia mendengar suara Alvino.
"Walaikumsalam.."
Husna melihat sekilas ke arah Alvino, kemudian menutup Alquran dan menghampiri Alvino.
Alvino benar-benar tersindir dengan semua perlakuan Husna yang selalu memperlakukannya sebagaimana mestinya.
Husna selalu tersenyum dan mencium punggung tangannya setiap kali Alvino datang.
Walaupun kini Husna lebih banyak diam dan hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Itu membuat Alvino justru semakin merasa bersalah.
"Husna, sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti ini kepadaku?"
"Aku tidak bersikap dingin. Itu mungkin hanya perasaan mas saja, yang merasa bersalah atas perlakuan Helena kepadaku."
__ADS_1
"Jika memang kamu bersikap biasa, kenapa kamu tidak datang untuk menjenguk Helena?"
"Untuk apa aku datang dan menemani Helena, sementara Helena sendiri tidak ingin jika aku berada di sana. Helena hanya ingin ditemani oleh mas." ucap Husna sambil tersenyum.
"Aku harus kembali fokus pada pekerjaanku. Jadi aku memutuskan untuk menjemput kedua orang tua Helena, agar Helena tidak merasa kesepian saat melakukan terapi untuk penyakitnya."
"Alhamdulillah, keputusan kamu sudah bagus. Lagipula Helena juga harus bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Agar semangat untuk bisa sembuh dari penyakit itu semakin besar."
"Besok, jika kamu tidak keberatan. Datang lah ke rumah sakit untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Helena. Aku yakin Mama tidak akan mau untuk bertemu dengan besannya itu."
"Insyallah."
Keesokan harinya...
"Untuk apa kamu datang kesini?" ketus Helena saat dia melihat Husna masuk ke dalam kamar dan meletakkan beberapa bunga di vas yang ada di ruangan itu.
"Aku datang bukan untuk mengunjungimu, melainkan untuk menyambut kedatangan kedua orang tuamu dan adikmu saja. Tidak akan lama, setelah mereka cukup mengenal wilayah rumah sakit. Aku pasti akan pergi."
Ya Tuhan, Alvino benar-benar serius dengan ucapannya. Jika kedua orang tuaku ada di sini. Bagaimana bisa aku menghabiskan waktu berdua dengan Alvino.
Tak lama berselang, Alvino datang bersama dengan kedua orang tua Helena dan adiknya.
Kedua orang tua Helena merasa sangat bahagia karena Husna menyambutnya dengan hangat.
"Ibu dan bapak boleh beristirahat dulu. Kalian pasti lelah setelah perjalanan. Setelah beristirahat Husna akan mengajak kalian untuk berkeliling sehingga kalian tidak akan bingung saat berada di rumah sakit ini," ucap Husna sambil tersenyum setelah kedua orang tua Helena berbicara cukup banyak dengan Helena.
"Mari, aku akan mengantarkan kalian ke ruangan di mana kalian akan tinggal untuk sementara waktu di rumah sakit ini," ucap Alvino.
Rumah sakit ini berlantai 4, di mana lantai paling atas adalah ruangan khusus untuk keluarga pasien yang berasal dari luar kota.
Lantai 4 digunakan untuk ruang istirahat keluarga pasien, agar mereka bisa menghemat pengeluaran. Khususnya pasien yang harus menjalani perawatan dalam jangka waktu yang lama.
"Husna, katakan apa rencanamu?"
"Apa maksud kamu? memangnya aku seperti kamu yang memiliki rencana untuk menghapuskan namaku di hati suamiku sendiri?"
"Aku tahu, dibalik sikap manis dan hangatmu pada keluargaku. Ada sesuatu yang tersembunyi."
"Aku akan menjadi cermin mu. Apa yang kamu perbuat juga akan ku perbuat, sama halnya jika kamu sudah mengecewakanku, maka aku juga akan begitu," ucap Husna yang langsung menusuk ke hati Helena.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1