MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 38 : Senyum Smirk


__ADS_3

"Al, aku terkena kanker. Dokter memvonis hidup ku tidak akan lama."Ucap Helena sambil berlinang air mata.


"Aku selalu mengkonsumsi obat Al, aku juga punya bukti jika kanker itu hanya membuatku hidup selama 3 bulan saja." Ucap Helena.


"Helena, jangan berbicara sesuatu yang mungkin akan kamu sesali di kemudian hari." Ucap Husna yang datang setelah mendengar pernyataan Helena mengenai kanker.


"Jika kamu memang tidak percaya padaku, bagaimana jika sekarang kita pulang. Agar kalian bisa mengetahui kebenarannya."


Mereka bertiga kemudian segera pulang bersama, sesampainya di rumah, Helena segera naik ke lantai atas dan mengambil berkas yang sebelumnya sudah disiapkan.


Helena membuang hasil pemeriksaan yang mengatakan bahwa kanker itu bisa hilang dengan pengobatan rutin. Agar rencana nya untuk mengambil alih seluruh cinta dan perhatian dari Alvino berjalan dengan lancar.


Helena kembali kepada Husna dan Alvino, Helena memberikan berkas itu kepada mereka berdua.


Husna dan Alvino mulai melihat berkas itu, Husna terlihat sangat serius membuka lembar demi lembar,


"Atasanku dulu adalah dokter yang menangani kasus seperti ini. Jika kamu mau, aku akan mendatanginya sehingga kita bisa membuatkan jadwal untuk berkonsultasi dengan penyakit yang sedang kamu derita." Ucap Husna.


"Tidak." Ucap Helena secara spontan yang membuat terkejut Husna dan Alvino.


Mereka berdua langsung menatap ke arah Helena, Husna menyadari jika ada sesuatu yang tidak benar dalam berkas yang diberikan oleh Helena saat melihat Helena gugup.


"Maksud aku adalah, kamu tidak perlu melakukan itu karena aku sudah mempunyai dokter pribadiku sendiri. Ya walaupun dokter itu berada jauh dariku tapi setidaknya setiap hari aku selalu berkomunikasi dengannya untuk membicarakan tentang penyakitku ini."


Husna melihat ke arah Alvino yang kembali fokus pada berkas yang ada di tangannya.


"Helena, aku setuju dengan usulan yang baru saja diucapkan oleh Husna. Kamu tinggal di sini, kamu harus memiliki dokter yang akan memantau penyakit kamu disini." Ucap Alvino.


"Tidak perlu, aku tidak terbiasa berinteraksi dengan dokter baru. Lagipula ini bukan kampung halamanku Tentu saja aku tidak serta merta percaya kepada dokter baru apalagi ini menyangkut tentang hidup dan matiku."


"Ya sudah kalau memang jalan ini yang kamu pilih." Ucap Alvino sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Al, kamu mau kemana?" Tanya Helena.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? seharusnya kamu tahu jika ini masih jam kerjaku. Tentu saja aku harus kembali bekerja."


"Al, kamu tidak ingin menemani ku?" Tanya Helena.


"Ada Husna, dia adalah perawat terbaik dan aku yakin dia akan merawatmu dengan baik juga." Alvino kemudian segera pergi untuk kembali menuju kantornya.

__ADS_1


Alvino mulai bertanya-tanya tentang kebenaran penyakit yang sedang diderita oleh Helena, mengingat dulu kedua orang tua Helena tidak mengatakan apapun perihal sakit yang diderita Helena.


Sesampainya di kantor, Alvino segera mencari segala informasi yang berkaitan dengan penyakit yang digadang-gadang diderita Helena dan hanya bisa membuatnya bertahan sampai waktu 3 bulan.


Dari beberapa artikel yang didapat Alvino dari internet, dia memang menemukan penyakit yang diderita oleh Helena cukup ganas apalagi jika sudah mencapai stadium 3 atau 4.


Alvino mulai khawatir karena takut apa yang dikatakan Helena benar adanya.


"Sepertinya aku harus membicarakan hal ini dengan mereka bertiga. Helena harus mendapatkan dokter di sini agar dia mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik."


Keadaan di rumah...


Helena mengambil paksa berkas yang sedang diteliti oleh Husna.


"Helena, kenapa kamu mengambil berkas itu aku baru ingin meneliti dan mempelajarinya sudah sampai tahap mana kanker yang sedang kamu derita saat ini."


"Tidak perlu." Ucap Helena.


"Tapi kenapa, aku berhak tahu karena sekarang kita hidup dalam lingkaran yang sama. Kita seharusnya tidak boleh menutup apapun karena memang kita saling ketergantungan satu sama lain."


"Cih, kamu tadi bilang apa? kita ketergantungan satu sama lain?" Ketus Helena.


"Helena, kenapa kamu masih belum belajar juga?"


"Cukup Husna, jangan pernah mengguruiku dengan kata-kata yang sebenarnya tidak akan pernah ada artinya bagi diriku. Bagiku, kamu hanya benalu di dalam hubunganku dan Alvino. Ya walaupun aku harus berterima kasih karena kamu sudah menjembatani aku dan Alvino untuk menjadi pasangan suami istri." Ucap Helena.


"Sudah ya, kamu tahu kan sakit yang aku derita ini membuatku tidak boleh terlalu lelah. Jadi aku akan naik ke atas untuk beristirahat dan bersiap menyambut cinta yang akan diberikan Alvino kepada ku."


Helena tersenyum smirk sambil meninggalkan Husna dan naik ke lantai atas serta menutup pintu kamar.


Helena tersenyum penuh kemenangan, dia memandangi berkas itu dan memutuskan untuk menyimpannya di tempat yang aman, agar Husna tidak mengetahui bahwa sebenarnya hasil pemeriksaan yang tertera di berkas itu tidak menunjukkan bahwa Helena hanya dapat hidup selama 3 bulan.


"Kenapa Aku merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dari berkas hasil pemeriksaan Helena?" Ucap Husna.


Husna kemudian memutuskan untuk menghubungi dokter yang dulu menjadi seniornya.


"Halo, dokter..." Ucap Husna.


Husna kemudian mulai berbasa-basi dan mencari tahu tentang Kanker nasofaring.

__ADS_1


"Husna, kamu boleh datang ke rumah sakit jika kamu mau untuk mendiskusikan perihal ini. Sangat tidak nyaman rasanya jika aku menjelaskan tentang Kanker nasofaring melalui sambungan telepon." Ucap Dokter.


"Ah iya. Maafkan saya dokter, akan saya sempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter."


"Ya, kamu boleh kapan pun datang ke sini karena memang dokter dan suster di sini juga keluargamu, bahkan beberapa dokter dan suster juga mengadu kepadaku jika kamu sudah melupakan kami."


"Maaf, dokter. Husna tidak bermaksud melupakan, hanya saja..."


"Husna, tidak perlu dibahas karena kami semua mayoritas sudah mengetahui tentang apa yang terjadi pada rumah tangga."


Hening.


Husna tidak menyangka jika teman se-profesinya juga mengetahui tentang dirinya yang memiliki madu.


"Baiklah, besok setelah jam makan siang saya akan pergi menemui dokter untuk berkonsultasi mengenai ini."


Malam harinya...


Alvino terlihat mendatangi kamar Helena, Helena menyambut itu dengan senyum kebahagiaan dan langsung memeluk Alvino.


"Sekarang Aku harap kamu tidak akan pernah marah dengan sikap egois aku. Itu semata-mata aku lakukan agar aku bisa mendapatkan lebih banyak waktu dan kebahagiaan bersama denganmu." Ucap Helena.


"Waktu tiga bulan adalah waktu yang sangat singkat untukku dan kamu melukis kebahagiaan. Jadi, apakah kamu mau menuruti semua keinginanku?"


"Insyallah. Selama aku bisa aku akan menuruti keinginanmu."


"Baiklah kalau begitu aku ingin kamu mewujudkan keinginan pertamaku."


"Apa itu?"


"Aku ingin kita hanya tinggal berdua. Hanya berdua."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


,


__ADS_2