
"Al, kamu membentak aku?"
"Helena, aku mencoba sabar atas sikap kamu. Tapi semakin hari sikap kamu semakin melukai aku. Sekarang, lebih baik kamu berkata jujur dan katakan semuanya kepadaku."
"Maafkan aku Al, sebenarnya pria tadi adalah mantan suamiku. Dia datang karena sebelumnya kedua orang tuaku memohon agar pabrik yang sempat mereka sita dikembalikan. Mereka meminta uang tebusan sebesar 500 juta agar keluargaku bisa mendapatkan kembali pabrik milik mereka."
"Bukankah sebelumnya kamu mengatakan jika kamu menginginkan uang 300 juta untuk biaya operasi kamu?"
"Maafkan aku Al, aku berbohong soal itu."
"Apa kamu percaya begitu saja kepada pria itu? Apa kamu tidak mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kamu?"
"Aku sudah mencoba menghubungi adikku, tapi dia tidak mengatakan apapun dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja."
"Helena, seharusnya kamu bisa menyukai duka pria itu hanya berbohong tentang kedua orang tuamu yang memohon agar pabriknya dikembalikan."
"Aku tidak mengerti."
"Aku sudah menyuruh orang untuk meninjau langsung apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu. Yang sebenarnya terjadi adalah, keluargamu baik-baik saja, justru keluarga merekalah yang datang kepada kedua orang tuamu dan meminta uang sebagai tebusan atas pabrik milik orang tua kamu yang telah mereka sita."
"Apa?"
"Dengan kata lain, keluarga dari mantan suami kamu, mengalami kebangkrutan karena mereka tertipu investasi bodong. Dan bodohnya mereka memberikan seluruh aset kekayaan mereka untuk investasi tersebut."
"Al, apa kamu melakukan semua penyelidikan ini untuk aku?" tanya Helena dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, aku melakukannya untuk Husna."
"Husna?"
"Helena, CCTV yang berada di luar kantor mengatakan jika sebelum insiden Husna terjatuh dari tangga penyeberangan. Dia pergi bersama dengan kamu."
"Al, Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu, aku dan Husna memang pergi bersama. Namun, saat kami sedang melewati jembatan penyeberangan, aku berhenti untuk membeli minum. Ketika aku berbalik aku sudah melihat Husna terjatuh."
"Helena, alasanmu itu sebenarnya sangat tidak masuk akal, tidak ada orang yang berjualan di sekitar jembatan penyeberangan."
Helena terdiam, pikiran dan hatinya berusaha keras untuk mendapatkan alasan yang sesuai.
"Helena, sampai sejauh ini kenapa kamu masih berbohong kepadaku?"
"Al, aku tidak berbohong kepadamu?"
"Kamu berbohong dengan penyakit yang sedang kamu derita. Kamu membesar-besarkan penyakit yang sedang kamu derita. Untuk apa?"
"Al..?"
"Kamu mengatakan jika kamu membutuhkan uang untuk operasi, nyatanya kamu membutuhkan itu untuk memberikan uang kepada mantan suami kamu."
__ADS_1
"Al ...?"
"Kenapa?"
Helena terdiam, dia memandang wajah Alvino dan air mata mulai membasahi pipinya.
"Helena, kamu tahu jika aku sudah seperti ini. Air mata pun tidak akan pernah bisa meluluhkan hati yang sudah kecewa."
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sejujurnya kepada kamu."
"Mulai.."
"Pertama, aku berbohong tentang penyakit aku, karena aku merasa waktu kamu terlalu banyak bersama dengan Husna. Al, seharusnya kamu bisa ada yang membagi waktu antara aku dan Husna."
"Helena, jika kamu sadar. Waktu ku terlalu banyak Aku habiskan bersama denganmu. Apa kamu masih merasa jika aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan Husna?"
"Al, aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku sungguh kecewa saat aku mengetahui kenyataan bahwa aku harus berbagi cinta dengan Husna. Aku benar-benar tidak mau berbagi kehangatan. Kamu hanya milikku, Al. Kamu milikku."
"Jika kamu saja memiliki rasa tidak ingin berbagi, coba bayangkan bagaimana perasaan musnah yang merelakan aku untuk menikahi kamu?"
Helena terdiam.
"Husna tidak pernah menuntut apapun seperti saat kamu menuntut agar aku selalu menghabiskan waktu bersama dengan kamu. Asal kamu tahu, saat aku pergi berbulan madu bersama dengan Husna, itu bukan keputusannya. Itu adalah keinginanku karena aku bertekad ingin memulai kehidupan yang baru bersama dengan istriku."
"Jadi, apa sebelumnya kamu sudah berencana untuk melupakan aku?"
"Ya."
"Ya, merupakan suatu kesalahan terbesar saat aku datang mengunjungimu tanpa memberitahu kepada Husna."
"Apa kamu menyesal karena sudah menikahi aku?"
"Aku tidak menyesali apa yang sudah terlanjur terjadi, aku hanya menyesali aku yang tidak bisa mendidik kamu menjadi istri yang sholehah seperti Husna."
"Apa maksud kamu, Al?"
"Helena, seandainya saja kamu lebih teliti jika di jembatan penyeberangan itu ada sebuah CCTV. Mungkin kamu akan berpikir dua kali untuk mendorong Husna."
Deg !!!
Bayangan Helena langsung kembali pada kejadian di mana dia dan Husna mulai berjalan di jembatan penyeberangan.
Helena kemudian mengetahui jika dia langsung saja mendorong Husna tanpa melihat situasi.
"Kamu benar-benar membuat aku kecewa, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alvino dengan mata yang mulai berkaca-kaca sekarang.
"Al, maafkan aku."
__ADS_1
"Kenapa kamu tega membunuh calon bayi aku?"
Helena sangat merasa bersalah, terutama saat dia melihat air mata yang mulai terjatuh.
Helena mencoba memegang tangan Alvino namun Alvino segera menepisnya.
"Membina rumah tangga tidaklah mudah. Ada banyak tanggung jawab besar yang harus dipikul. Masing-masing, suami dan istri punya kewajiban dan haknya. Jika salah satu saja dilanggar, hal itu dapat menggoyang biduk rumah tangga," ucap Alvino.
"Maafkan aku Al, aku merasa iri karena
Husna mendapat lebih banyak perhatian dirimu. Apalagi setelah kamu mengetahui jika Husna hamil, aku merasa sangat membencinya."
"Kenapa?"
"Dia hamil di saat aku harus menerima kenyataan bahwa dokter melarang aku untuk hamil, sebelum aku benar-benar sembuh dari kanker nasofaring ini."
"Helena, Husna sudah hamil jauh sebelum pernikahan kita. Jadi kita hanya itu alasanmu, aku rasa alasan itu tidak bisa diterima."
"Al, aku hanya ingin mendapatkan cintamu seutuhnya. Aku ingin bawa akulah yang menjadi ratu di hatimu, bukan Husna."
"Aku merasa bahwa pernikahan ini kurang bahagia, karena kamu tidak sepenuhnya mencintai aku seperti dulu."
"Bukan karena kurangnya cinta, tapi kurangnya persahabatan yang membuat pernikahan tidak bahagia.”
"Al, kamu tahu bahwa ikatan persahabatan sudah lama terjalin diantara kita. Itulah kenapa yang membuat benih-benih cinta tumbuh diantara kita. Tapi kenapa setelah pernikahan, sikap kamu berubah?"
"Helena, jujur saja pernikahan ini tidak pernah aku harapkan. Setiap hari nya, aku selalu merasa berdosa kepada Husna karena aku sudah menyakitinya dengan membawa perempuan lain ke dalam rumah tanggaku dan dia."
"Maafkan aku Al, aku berjanji setelah ini aku tidak akan pernah berbohong atau bersandiwara tentang apapun lagi."
"Permintaan maafmu tidak akan bisa menghapuskan kekecewaan yang sudah terlanjur melekat di hati ini."
"Al, maafkan aku."
"Helena, jika saja kamu tidak mencelakai Husna dan membuat calon anak ku hilang, mungkin aku bisa memaafkan kesalahanmu yang lain." Ucap Alvino sambil bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan meninggalkan Helena.
"Al..." Helena mencoba berteriak memanggil nama Alvino, berharap Alvino akan berhenti dan kembali padanya.
Cinta tidak menciptakan pernikahan. Pernikahan yang sadar, terencana, menciptakan cinta. Hal yang sama terjadi dalam semua hubungan
Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna
Alvino terus berjalan dan tidak mempedulikan Helena yang berlari mengejar dirinya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...