MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 66 : Kami keluarga mu..


__ADS_3

Husna sedang berada di dalam kamar mandi, sekali lagi dia menggunakan alat pendeteksi kehamilan untuk memastikan garis 2 yang selalu terlihat jelas.


Husna memejamkan mata, sungguh Husna terkadang menginginkan bahwa garis dua itu hanyalah ada dalam imajinasinya saja. Namun saat melihat banyaknya alat pendeteksi kehamilan yang sudah dia gunakan. Husna kini percaya bahwa dirinya benar-benar hamil dan itu adalah sebuah kenyataan yang harus diterima.


Mengapa Tuhan pertemukan kita yang tak mungkin menyatu, Aku yang tlah terikat janji. Engkau pun begitu.


Mengapa Tuhan mempersatukan kita dalam ikatan pernikahan, jika ternyata inilah yang harus aku terima di dalam takdirku.


Tok


Tok


Tok


"Nduk, ayo keluar. Kita sarapan bersama sama."


"Iya nek."


Dengan langkah sedikit tertatih-tatih, Husna berjalan mendekati pintu dan membuka pintu.


Nenek tersenyum kemudian membantu Husna untuk berjalan menuju dapur dan duduk di kursi meja makan.


"Maafkan Husna nek, Husna masih belum bisa membantu."


"Tidak apa apa, jangan sungkan. Kami ini keluarga mu juga," ucap nenek sambil tersenyum.


"Betul kata nenek, lebih baik sekarang kamu menikmati hari yang bisa kamu nikmati dengan bahagia. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi," ucap kakek.


Husna tersenyum kemudian makan bersama dengan kakek dan juga nenek.


Selesai makan, Husna membantu nenek membersihkan meja makan dan mencuci piring.


"Manusia tidak ada yang sempurna. Selalu ada saja salah yang diperbuat. Kadang juga muncul perasaan kecewa dan marah terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Hal itu lumrah adanya. Karena hidup tidak akan selalu bahagia. Adakalanya kamu akan menemui kegagalan dalam hidup,"


"Nduk, Percayalah setiap ada masalah, pasti ada jalan keluar. Rubah diri menjadi lebih baik. Tidak ada yang bisa merubah keadaanmu kalau tidak dimulai dari dirimu sendiri."


"Insyallah nek."

__ADS_1


"Ingat, jangan pernah menaruh dendam terhadap diri sendiri atau orang lain. Sebab dendam hanya akan membawa malapetaka, dendam juga akan membuat hatimu lebih sakit lagi. Alih-alih dendam, baiknya hadapi rasa kecewa itu lebih bijak. Tenangkan diri, hati, dan pikiran."


"Terima kasih nek, nenek selalu memberikan kata-kata yang membuat hati ini menjadi semakin legowo dalam menerima takdir Allah."


"Jangan biarkan kekecewaan menghancurkan harapan. Sesungguhnya, Tuhan menyukai hambanya yang berdoa dalam harapan, meski pernah dikecewakan." Ucap nenek sambil mengelus lembut bahu Husna.


"Jangan salahkan orang ketika kamu kecewa, tapi salahkan dirimu sendiri karena terlalu berharap sesuatu yang belum pasti."


"Alhamdulillah, Husna tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi kepada Husna."


"Bagus, nenek semakin yakin bahwa kamu adalah wanita yang sangat kuat dan tegar. Kamu pasti bisa melalui ini semua."


"Nenek, sebenarnya ada sesuatu yang belum sempat Husna beritahu kepada nenek."


Nenek menatap Husna seolah-olah sudah menantikan kata apa yang akan Husna katakan. Namun belum sempat Husna berbicara, Husna dan nenek mendengar suara langkah kaki.


"Husna.."


"Mama?"


Husna terkejut saat melihat Mama berada di sana.


Husna melepaskan pelukannya dan menatap ke arah sang Mama yang berkata sesuatu yang tidak dimengerti oleh Husna.


Nenek juga melakukan hal yang sama, justru nenek lebih terkejut karena melihat anaknya tiba-tiba datang dan langsung memeluk Husna serta memberikan kata-kata itu.


"Menghitung setiap kekurangan dalam kehidupan hanya akan membuatmu stres dan sedih. Kamu bisa mulai untuk menghitung berkah dalam hidupmu. Mungkin kamu akan menyadari bahwa kamu melakukan begitu banyak hal yang jauh lebih baik daripada yang kamu pikirkan sebelumnya," ucap mama dengan mata berkaca-kaca dan kembali memeluk Husna.


"Mama, Husna tidak mengerti dengan apa yang mama katakan."


"Nak, jangan pernah merasa sendiri atau jangan pernah mencoba untuk menyembunyikan apapun karena kamu tidak memiliki siapapun. Husna, kamu harus tahu bahwa kami adalah keluargamu dan kami akan selalu mendukung apapun keputusan yang pastinya akan membuat kamu bahagia."


"Nduk, kowe ngomong opo? ngomong sing jelas, ojo bingung kabeh. Sampeyan teka dumadakan lan langsung ngomong tembung sing nggawe dada iki geter," ketus nenek.


(Nduk, kamu itu kalau ngomong apa sih? ngomong itu yang jelas, jangan membuat kita semua bingung. Kamu datang tiba-tiba dan langsung mengatakan kata-kata yang membuat dada ini menjadi bergetar.)


Mama melepas pelukannya dan menatap ke arah ibu.

__ADS_1


"Piye to ibu iki? Mesthi wae aku langsung teka mrene sawise krungu kabar bab Husna. Aku kuwatir banget karo Husna, aku tresna banget marang dheweke nganti aku gelem mabur ing kene ing tengah wengi supaya Alvino sing ana ing omah ora ngerti kapan aku lunga."


(Ibu ini bagaimana sih? Tentu saja aku langsung datang ke sini setelah mendengar kabar mengenai Husna. aku sangat khawatir terhadap Husna, aku sangat menyayanginya sehingga aku rela terbang ke sini tengah malam agar Alvino yang berada di rumah tidak mengetahui jika aku pergi.)


"Loh, kok Alvino nang omahmu? apa ora dheweke tansah karo asu iku? Sumpah, lara banget krungu wong wadon sing apik lan lembut kaya Husna. Sanadyan sing lara iku putuku dhewe."


(Loh, ngapain Alvino berada di rumah kamu? bukannya dia selalu bersama wanita sundel itu? Sumpah, pegel aku mendengar wanita sebaik dan selembut Husna di sakiti. Sekalipun yang menyakiti adalah cucu aku sendiri)


Husna hanya bisa menggaruk-garuk tengkuk nya yang tidak gatal saat mendengar nenek dan juga mamanya berbicara dalam bahasa yang dia tidak mengerti.


Husna yang tiba-tiba merasa sedikit pening memilih untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.


"Wingi Elvio ngandhani yen Husna lagi mbobot, Husna ora ngandhani sapa-sapa bab meteng. Klebu aku. Elvio banjur kandha, mbok Husna wedi yen aku ngandhani Alvino babagan meteng. mula Husna milih nutupi," ucap Mama


(Kemarin elvio mengatakan kepadaku kalau husna itu hamil, Husna tidak mengatakan perihal kehamilannya itu kepada siapapun. Termasuk aku. Elvio kemudian mengatakan mungkin Husna takut jika aku akan memberitahu Alvino perihal kehamilannya ini. jadi Husna memilih untuk menutupinya.)


Pandangan nenek lalu beralih memandang Husna yang sedang duduk sambil memandangi keduanya.


Nenek selalu teringat tentang Husna yang tadi mengatakan bahwa dia ingin membicarakan sesuatu kepada nenek yang belum sempat dia bicarakan.


"Nduk, yen pancen kowe mbobot ora usah kuwatir merga awake dhewe ora bakal ngandhani sapa-sapa sadurunge kowe ngomong dhewe," ucap nenek pada Husna.


(Nduk, jika memang kamu hamil kamu tidak perlu khawatir karena kami tidak akan pernah memberitahukan siapapun sebelum kamu sendiri yang memberitahukan kepadanya.)


"Buk, piye to. Husna iki ora iso boso jowo. Lapo mbok omong karo dekne nggo boso jowo?" tanya Mama.


(Ibu ini bagaimana sih? Husna kan tidak bisa berbahasa Jawa, Kenapa Ibu berbicara dengannya dengan menggunakan bahasa Jawa?)


"Oalah. Iyo. Aku kali. (Iya, aku lupa)"


"Woo Mak phi-khun."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2