
Alvino benar-benar merasa kesal terhadap apa yang dilakukan oleh adik dan juga istrinya.
"Aku tidak menyangka jika ternyata musnah dan Elvio bermain di belakangku. Mereka benar-benar kurang ajar."
"Argh ..."
Brak !!
Pyar !!
Alvino membanting beberapa barang yang ada di dalam kantornya.
Ya, Alvino langsung pergi ke kantor karena dia tidak ingin emosinya justru terbawa sampai ke rumah sakit hingga membuat kesehatan Helena tidak kunjung membaik.
"Jika bukan karena Husna adalah permintaan terakhir papa. Aku tidak akan sudi untuk menikah dengan wanita seperti Husna."
"Kalau begitu lepaskan saja Husna sekarang, aku akan dengan senang hati membawa nya pergi." Ucap Elvio sambil masuk ke ruangan Alvino.
"Oh, apa kamu sangat menginginkannya?"
"Tentu saja, dia adalah permata yang tidak pantas berada di tangan pria busuk seperti kamu."
"Kurang ajar." Alvino bersiap untuk menyerang Elvio, namun secepat kilat Elvio menghindar.
"Aku datang ke sini hanya ingin mengatakan agar kamu mencari tahu kebenarannya sebelum kamu benar-benar menyesal."
"Aku tidak perlu mengatakan apapun."
"Ya, jika memang kamu tidak berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Husna, Terserah. Aku akan mengucapkan selamat menikmati penyesalan mu."
"Untuk apa kamu datang kesini?"
"Yah, sebenarnya aku sangat malas untuk datang ke sini dan memberitahukannya. Tapi tidak ada salahnya memberikan sedikit gambaran kepadamu."
Elvio tersenyum smirk sambil berjalan mendekati Alvino dan sedikit berbisik padanya.
"Cobalah untuk melihat Helena dengan seksama, agar kamu bisa menemukan sesuatu."
"Apa maksud ucapan kamu?" tanya Alvino.
Elvio tidak menjawab kemudian memilih untuk segera pergi dari kantor Alvino.
Elvio sangat semangat melakukan perjalanannya kali ini untuk mengunjungi kakek dan neneknya, karena Husna akan ikut bersama dengan nya.
Alvino mulai bertanya-tanya dengan apa yang baru saja di katakan Elvio.
"Sudah lah, untuk apa juga aku memikirkan tentang Husna. Lebih baik aku melihat keadaan Helena. Dia yang jauh lebih membutuhkan perhatianku daripada Husna."
__ADS_1
Setelah merasa bahwa kemarahannya serta emosinya mulai menurun. Alvino segera mengambil kunci mobil dan memerintahkan kepada petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan nya.
"Bos kita akhir-akhir ini jadi berubah ya?"
"Iya, sejak memiliki istri dua, kita jadi sedikit lebih temperamental."
"Sudah ayo, sebaiknya kita bergegas membersihkan ruangan presiden sebelum ada yang mendengar bahwa kita sedang mengumpatnya."
Ketiga petugas kebersihan itu kemudian segera membawa alat-alat kebersihan untuk segera menuju ruangan Alvino.
Alvino baru saja selesai memarkirkan mobilnya di parkir rumah sakit, Alvino tidak mengatakan kepada kedua orang tua Helena bahwa dia akan datang.
Dalam perjalanan menuju ruangan Helena, Alvino terus memikirkan alasan apa yang tepat saat kedua orang tua Helena bertanya kenapa Alvino justru kembali ke rumah sakit dan tidak menemani Husna di rumah.
"Ya, aku katakan saja jika mama mengajak Husna untuk menginap di mansion," lirih Alvino.
Saat Alvino akan membuka pintu ruangan Helena. Samar samar Alvino mendengar suara Helena sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Sudah, mama sama papa diam saja biarkan aku yang terus melakukan sandiwara ini, hingga Alvino benar-benar melimpahkan semua perhatiannya kepadaku."
"Helena, tidak seharusnya kamu membohongi suamimu seperti ini, Bagaimana jika nanti Alvino mengetahui bahwa selama ini kamu hanya berpura-pura sedang koma."
"Tidak akan, mama dan papa santai saja."
Tunggu, apa selama ini sebenarnya Helena sudah tersadar dari koma? lalu kenapa Helena masih bersikap seolah-olah dia belum sadar?
Alvino pemilik untuk segera pergi dari depan pintu ruangan Helena setelah mendengar suara langkah kaki yang berasal dari dalam ruangan.
"Helena, apa kamu sedang mencoba untuk memainkan drama kamu lagi?"
Drrttt drrttt drrttt..
Alvino yang sedang memikirkan tentang Helena tiba-tiba terkejut saat mengetahui ponselnya berdering dan itu panggilan dari Pak RT.
"Ya Pak RT? Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini mas Alvino, saya menelpon untuk menanyakan keadaan mbak Husna. Apa mbak Husna dibawa ke rumah sakit karena saya melihat kondisi rumah yang sepi."
"Ke rumah sakit? memangnya apa yang terjadi dengan Husna?" tanya Alvino.
Alvino segera pulang ke rumah dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat Pak RT mengatakan jika Husna na pecahan beling yang menancap di kaki dan juga lengannya.
"Tunggu, apa Pak RT juga ada di sana saat kejadian?" tanya Alvino.
"Benar, bahkan sebelumnya saya dan mas Elvio yang men-tandu mbak Husna masuk ke dalam rumah, sebelum Lia kembali untuk mengobati luka akibat terkena beling."
Alvino segera masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Husna.
__ADS_1
"Husna..."
Alvino terus memanggil nama Husna dan membuka setiap pintu kamar yang ada di rumah itu. Namun Alvino tidak menemukan keberadaan Husna.
Alvino bergegas menuju ruang kerjanya untuk melihat CCTV yang dia pasang secara rahasia sehingga dari luar tidak nampak jika rumah itu diawasi oleh CCTV.
Alvino membuka CCTV yang ada di ruang tamu sehingga memperlihatkan dengan jelas bagaimana Pak RT dan Elvio men-tandu Husna.
Terlihat juga Lia mengobati beberapa luka sobek yang dialami oleh Husna. Itu membuat Alvino menyadari kebodohannya, terutama saat melihat Elvio mengambil kursi roda dan selimut besar untuk membuat Husna bisa duduk di kursi roda.
Alvino udah terkejut saat melihat mama dan kakaknya datang beberapa saat setelah dia pergi.
"Tidak, tidak tidak.." Alvino segera mengambil ponselnya saat melihat rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa Husna pergi bersama dengan mama dan juga kakaknya.
"****." Alvino mengumpat dan segera pergi dari rumah untuk menuju mansion.
Sayangnya sudah terlambat, Husna sudah tidak lagi ada di mansion.
"Mama, dimana Husna?" tanya Alvino.
"Loh, bukannya kamu sudah menganggap dia sebagai purel? kenapa sekarang kamu mencarinya?"
"Ma, Tolong segera jawab pertanyaan Alvino. di mana Husna?"
"Husna sudah pergi ke tempat di mana dia akan mendapatkan ketenangan dan jauh dari sifat buruk kamu." Ucap Mama sebelum memutuskan pergi meninggalkan Alvino.
"Ma, pergi kemana?" teriak Alvino.
Alvino berusaha mengejar mamanya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Jalan pak," ucap mama pada sopir.
"Mama, dimana Husna ma." Teriak Alvino.
Pesawat sudah siap lepas landas, Husna memejamkan mata dan menghela nafas panjang seiring dengan pesawat yang mulai mengudara.
Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur. Selalu berubah dan semakin indah setiap hari.
Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna.
Dalam perhitungan cinta, satu tambah satu sama dengan tak terhingga. Sedangkan dua kurang satu sama dengan nol.
Aku sudah sampai pada titik di mana aku tidak dapat lagi bertahan untuk mengharapkan cinta tulus dari suamiku. Semoga semesta tidak mengutuk atas tindakan yang sudah aku ambil.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
HelenaHelenaHelenaHelenaHelenaHelena