
Dengan penuh amarah, Ernesto segera menarik Selvia pergi ke dari hadapan Alvino.
"Hei bung, sebelum kamu membawa wanita itu. Kembalikan dulu apa yang sudah dia rampas kepada Helena."
Ernesto yang sudah berjalan sambil menarik Selvia, berhenti setelah mendengar Alvino mengatakan jika Selvia harus mengembalikan apa yang sudah dia ambil dari Helena.
"Selvia, apa maksud dari perkataannya?" tanya Ernesto.
Selvia kemudian mengeluarkan beberapa perhiasan yang berada di dalam sakunya.
"Ya Tuhan Selvia, kenapa kamu melakukan ini?"
"Ernesto dengar, mudah bagimu mengatakan jika aku harus memberikan bayi ini agar kelangsungan hidup kita terjamin. Tapi, tidakkah kamu memikirkan tentang perasaan aku? tidak ada seorang ibu yang ingin memberikan buah hatinya kepada orang lain walaupun itu sebagai jaminan hidup yang lebih baik."
Selvia berjalan menghampiri Husna, dan memberikan apa yang sempat dia ambil.
"Jika kamu tidak berusaha untuk mendapatkan uang agar kehidupan kita tetap berjalan sebagaimana mestinya. Aku lebih baik pergi meninggalkan kamu dan tetap bersama bayi ini." Ucap Selvia sambil berlalu meninggalkan Ernesto.
"Sial !!"
Ernesto segera mengejar Selvia. Dia tidak boleh membiarkan pergi.
Ernesto sudah menghubungi orang yang menginginkan anak mereka, dan Ernesto sudah mendapatkan uang muka nya.
Selvia yang baru akan menaiki taksi, segera dicegah oleh Ernesto.
"Selvia, jangan pernah mencoba untuk pergi dariku."
Ernesto kemudian ikut masuk ke dalam taksi yang di stop oleh Selvia.
"Menuju hotel Indah Palace," ucap Ernesto.
Setelah keduanya sampai di hotel. Ernesto segera membawa Selvia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil barang-barang miliknya.
"Ernesto, kita mau kemana?"
"Kita akan kembali pulang, jangan khawatir. Aku sudah mendapatkan pekerjaan sehingga kita akan bisa hidup bersama dengan buah hati kita."
"Benarkah?" tanya Selvia dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja, kenapa tidak." Ernesto tersenyum sambil memeluk Selvia.
Mereka berdua kemudian meninggalkan negara itu untuk kembali ke negara mereka.
Sepanjang perjalanan, Selvia sangat merasa bahagia karena dia tidak harus berpisah dengan buah hatinya
Sementara Ernesto tengah berpikir untuk mengambil bayi itu setelah bayi itu lahir.
__ADS_1
Maafkan aku Selvia, untuk sekarang biarlah kamu mengetahui bahwa kita akan hidup bertiga. Setelah nya, aku yakin jika kamu akan mengerti. Aku berjanji akan segera kembali mencetak anak untuk menggantikan anak yang akan pergi dari kita.
Saudagar yang mendapat kabar bahwa Ernesto dan Selvia akan tiba dalam beberapa jam lagi, segera memutuskan orang-orangnya untuk membersihkan rumah yang akan diberikan kepada Ernesto, serta mengisinya dengan barang-barang mewah.
...----------------...
Sementara itu, yang terjadi di rumah sakit...
Husna dan Alvino masuk ke dalam ruangan dan melihat Helena sudah sadar.
"Helena?" Husna segera berjalan menghampiri Helena.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, apakah kamu ingin aku memanggil dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap kamu?"
Helena terdiam. Sepertinya dia enggan menatap Husna, pandangannya justru teralihkan dan memandang ke arah Alvino.
Husna sudah melihat ke arah di mana Helena memandang.
Husna yang tahu jika sebenarnya Helena tidak ingin dirinya yang menyapa, memilih untuk sedikit bergeser dan memberikan ruang kepada Alvino agar mendekat kepada Helena.
Namun Alvino justru tidak sedikitpun memperlihatkan niat untuk menghampiri dan mendekat kepada Helena.
"Siapa wanita tadi?" tanya Alvino yang tetap ada posisinya.
"Dia Selvia. Sahabat juga istri dari Ernesto. Mantan suami aku," ucap Helena.
"Dia mengatakan bahwa aku harus membayar sebuah ganti rugi, tapi sungguh aku tidak tahu apa yang dia maksud."
Husna memperlihatkan perhiasan yang ada di tangannya kepada Helena. Husna bermaksud memberikannya lagi kepada Helena, namun Alvino justru melarangnya dengan menggelengkan kepala.
"Itu adalah perhiasan milikmu," ucapan Alvino tentu saja mengejutkan Husna.
"Tidak, aku yakin ini milik Helena karena Helena lah yang menggunakannya," ucap Husna.
"Perhatikan dengan baik. Akan ada namamu di setiap perhiasan. Itu adalah perhiasan yang sengaja aku pesan dengan menyertakan namamu," ucap Alvino.
Husna tersenyum setelah dia mengetahui jika memang benar terdapat namanya di setiap perhiasan yang berada di tangannya.
Senyuman yang tidak bisa dilihat oleh siapapun, kecuali Alvino yang sudah mengenal ekspresi senyum dari Husna walaupun wajahnya tertutup cadar.
"Jika memang Helena menginginkan ini, ambil saja. Aku ikhlas memberikannya."
"Aku hanya meminjam itu, aku tidak berniat mengambil nya," ketus Helena.
"Mengambil ataupun meminjam barang orang lain tanpa seizin dari pemiliknya, Bukankah itu sudah termasuk dalam kategori pencurian?" ucap Alvino.
"Mas, sudah jangan diperpanjang lagi."
__ADS_1
"Al, apa yang dikatakan Husna benar. Kenapa kamu memandang seolah-olah aku selalu salah? aku tahu jika aku pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti kamu akan terus memandang aku dengan sebelah mata."
Husna memegang lengan Alvino. Alvino memandang Husna dan Husna tersenyum padanya.
Husna seolah-olah ingin memberitahukan kepada Alvino agar dia sabar dalam menghadapi sikap Helena.
"Aku sebaiknya menunggu di luar, mungkin ada beberapa yang memang harus kalian selesaikan." Ucap Husna sambil berjalan meninggalkan Alvino dan Helena.
"Tidak, kamu harus ada di sini karena aku juga ingin kamu mendengar apa yang akan aku dan Helena bicarakan." Ucap Alvino yang menahan tangan Helena.
"Al, tidakkah kamu melihat jika aku terbaring di atas tempat tidur. Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? tanya Helena.
"Aku tahu kondisimu sedang tidak benar-benar baik. Tapi aku yakin jika suara dan pendengarannya masih cukup baik untuk memberitahukan sesuatu yang sudah kamu katakan kepadaku."
"Mas, ada apa ini?"
"Husna, jika kamu ingin tahu siapa dalang dari hilangnya bayi kita. Orang itu ada di sini," ucap Alvino.
"Benarkah? siapa? dimana?"
Husna mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari orang lain.
"Helena," ucap Alvino.
"Aku tidak mengerti," ucap Husna.
Alvino kemudian menceritakan tentang apa yang sebenarnya, juga menceritakan alasan kenapa Helena melakukan itu.
"Memaafkan karena disakiti dan dikhianati tentu tidaklah mudah. Namun, terus menerus menyimpan dendam amarah juga bukan solusi terbaik. Sebab, kondisi ini justru bisa berdampak buruk pada hidup," ucap Husna sambil tersenyum.
"Husna, kenapa kamu bisa setenang ini? sementara aku sudah tidak dapat menahan diri lagi untuk sangat marah kepadanya," ucap Alvino sambil melihat ke arah Helena yang tertunduk.
"Meski hati yang terluka mungkin sulit disembuhkan, kita dapat mencoba belajar memaafkan dan ikhlas menyikapi kejadian masa lalu."
"Lagi pula tindakan marah dan kecewa yang akan kita luapkan kepada seseorang yang sudah menorehkan luka, tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang."
"Husna, tidakkah kamu merasa sesak saat mengetahui jika ternyata orang yang sudah membuat calon bayi kita tiada, adalah orang yang sangat dekat dengan kita?""
"Satu hal yang paling menyesakkan jiwa adalah harus berpura-pura ikut bahagia ketika melihat orang yang dicintai mencintai orang lain."
Deg !!!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1