
Aku bener-bener binggung saat Alvino mengajakku untuk bertemu dengan dokter dan berkonsultasi tentang penyakit yang sedang aku derita.
Tidak !!
Alvino tidak boleh sampai membawa ku pada dokter, jika itu dilakukan. Alvino akan mengetahui jika sebenarnya aku hanya menderita kanker stadium 0, dimana itu bisa di sembuhkan dengan obat dan terapi.
Aku benar-benar kehilangan akal. Jika Alvino sampai tahu tentang kondisiku yang sebenarnya, keinginanku untuk bisa menguasai Alvino bisa berantakan.
Ditambah sekarang ada Ernesto yang mendesak agar aku segera membayar uang dalam jumlah yang besar.
Oh, hidupku benar-benar kacau sekarang.
Dengan Alvino yang terus-menarik tanganku untuk bertemu dengan dokter, Aku berusaha kera memikirkan cara agar Alvino tidak sampai membawaku ke dokter.
"Al, lebih baik sekarang kita tidak perlu terlalu memikirkan tentang kondisi ku.,"
"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kamu ingin operasi agar bisa sembuh dari penyakitnya?" Tanya Alvino sambil terus berjalan.
"Al, Husna baru saja mengalami kecelakaan dan aku rasa dialah yang paling membutuhkan dukungan kita. Terutama dukungan kamu."
Sreet !!!
Berhasil, aku berhasil menghentikan langkah Alvino untuk membawaku ke dokter dengan Husna sebagai alasannya.
Husna, walaupun kamu sangat menyebalkan dan membuat diriku muak terhadapmu. Setidaknya untuk saat ini, kamu adalah alasan yang tepat agar Alvino tidak membawaku pergi ke dokter.
"Ya, kamu bener. Apalagi Husna harus kehilangan bayinya."
Bagus, Husna sudah menerima akibat karena dia terlalu mencampuri urusanku dan selalu menggagalkan keinginanku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Alvino.
Aku akhirnya dapat bernafas dengan lega setelah Alvino tidak lagi membahas perihal penyakit ku.
Setelah pulang dari rumah sakit Husna memilih untuk tinggal di mansion. Itu benar-benar membuatku merasa sangat bahagia.
"Akhirnya aku akan memiliki waktu yang banyak untuk berdua bersama dengan Alvino."
Sayangnya bukan dengan Alvino aku menghabiskan waktu, melainkan dengan Ernesto.
Aku tidak tahu dari mana Ernesto itu bisa mengetahui alamat tempat aku tinggal, Ernesto datang setiap hari dan sudah menjadi hantu yang selalu mengusik ketenanganku.
"Helena, jangan pernah coba-coba untuk membohongiku. Ini sudah hampir satu pekan tapi kamu belum memberikan aku uang sepeser pun."
__ADS_1
"Ernesto dengar, aku tidak peduli tentang orang tuaku yang memohon kepada keluargamu untuk mengembalikan pabrik milik mereka. Kedua orang tua ku saja saat ini sedang marah padaku, untuk apa aku harus peduli dengan mereka."
"Helena, kenapa kamu menjadi durhaka kepada keluargamu sendiri?"
"Mereka yang lebih dulu memulai dan membuat aku seperti ini."
"Baiklah, jika memang kamu tidak akan memberikan aku uang 500 juta. Aku berikan saja rekaman di mana kamu dengan sengaja mendorong Husna kepada suami."
Sial. Ernesto tidak main-main dengan ancamannya. Aku sudah berusaha keras agar Alvino tidak pernah mengungkit hal ini, demi menjaga bahwa akulah yang menjadi penyebab hilangnya bayi mereka tetap aman.
"Beri aku waktu." Ucap Helena.
"Begini saja, saat aku datang untuk meminta uang dan kamu tidak bisa memberikannya kepadaku. Kamu harus melayaniku sebagai gantinya."
"Kamu sudah gila?"
"Pikirkan itu, kau harus membawa dengan tubuhmu atau segera siapkan sejumlah uang yang aku minta."
Ernesto, kamu benar-benar membuatku merasa kesal. Lihat saja aku akan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Malam ini, aku sudah berdandan cantik dengan memakai pakaian yang seksi untuk memenangkan hati Alvino, agar aku bisa dengan mudah memintanya memberikan uang sejumlah 500 juta seperti yang diinginkan oleh Ernesto.
Itu membuatku merasa sangat kesal, tapi kemudian ide gila tiba-tiba muncul dalam pikiranku.
Aku menyelinap masuk ke ruang kerja Alvino dan mulai mencari tahu apa kata sandi dari brankas yang ada di sana.
Aku yang dulu pernah tergabung dalam kelompok pemecah kata sandi, dengan mudah bisa membuka brankas milik Alvino.
Aku tersenyum saat melihat tumpukan kertas berwarna merah dan juga biru tertata rapi di sana.
Aku segera mengambil sejumlah uang yang diinginkan oleh Ernesto dan menyimpannya di tempat yang aman.
Aku membersihkan sidik jariku menggunakan tisu basah agar tidak ada yang mengetahui jika akulah pelaku yang sebenarnya.
Untuk membuat seolah-olah rumah itu telah dimasuki oleh perampok, aku mah porak-porandakan seisi rumah sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke mansion.
Mama dan kakak Alvino sedang pergi ke rumah suami kakak Alvino, sehingga tidak akan ada yang tahu jika aku tinggal di sana.
Aku berusaha keras menahan diri dari rasa cemburu saat melihat kemesraan yang selalu ditunjukkan Alvino kepada Husna.
__ADS_1
"Tenang Helena, ini demi melancarkan aksimu yang sudah mencuri uang dari Alvino." Lirihku saat aku berada di kamar untuk beristirahat.
Keesokan harinya...
Aku melihat Husna sedang duduk sendiri di taman belakang, Aku kemudian berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana perasaan mu?" tanyaku basa-basi.
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah, Aku pikir kamu masih bersedih karena kehilangan bayi kamu."
"Pada hakikatnya, manusia yang masih memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan tentu ingin hidupnya berangsur-angsur membaik dari hari-hari kemarin."
"Ya, kamu bener. Lalu? apakah kamu berkeinginan agar Tuhan segera memberikan kamu kepercayaan untuk menjadi seorang ibu lagi?"
"Agar hari esok bisa lebih baik dari hari ini, tentu kamu perlu berjuang tanpa lelah dan terus berharap padaNya agar diberikan karunia memiliki buah hati kembali. Tak ada yang sulit bagi Sang Khalik untuk mewujudkan keinginanmu memiliki buah hati. Hanya saja butuh kesabaran dan keikhlasan untuk terus berdoa dan berikhtiar saban hari. Jangan takut untuk terus berharap, karena Sang Maha Pencipta tak akan mengecewakanmu."
"Apa seorang anak begitu penting bagimu, sehingga kamu sangat menginginkan Tuhan agar segera memberikan apa yang sudah hilang dari diri mu?"
"Tentu saja, bagi seorang wanita anak adalah penyemangat. Dalam kehidupan rumah tangga, anak adalah lambang cinta. Tidak ada pasangan yang tidak ingin memiliki keturunan. Anak membuat ikatan yang terjalin semakin kuat."
"Apa kamu termasuk dalam golongan wanita yang tidak ingin memiliki anak?" tanya Husna.
Aku terdiam, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku juga ingin menjadi wanita yang berkesempatan menyandang gelar ibu.
Hanya saja, aku yang terlanjur mengatakan jika hidupku hanya sampai 3 bulan. Harus kembali menyusun rencana agar aku bisa merasakan indahnya menjadi seorang Ibu.
"Sial, hidupku benar-benar kacau sekarang, saat aku dan Husna berbicara perihal anak, membuatku tiba-tiba ingin menarik ucapan kepada Alvino yang mengatakan bahwa hidupku hanya sampai 3 bulan saja."
"Husna benar, anak bisa menjadi ikatan yang paling kuat antara aku dan Alvino. Jika aku bisa hamil sebelum Husna. Itu akan membuatku dengan mudah mendapatkan cinta dan perhatian dari Alvino."
"Masalah nya adalah, Bagaimana aku memperbaiki tentang sandiwara yang sudah terlanjur aku buat?"
Semesta. Tolong berikan aku jalannya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Pov Alvino akan segera tayang..
Tunggu yaa..