MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 39 : Insyallah ikhlas


__ADS_3

"Bagaimana? apakah kamu mewujudkan satu keinginan kecilku?" Tanya Helena.


Alvino melepaskan pelukannya dan berdiri membelakangi Helena. Alvino terlihat melonggarkan dasinya.


"Al..."


"Helena, tidak bisakah kamu meminta sesuatu yang lebih masuk akal dari ini?"


"Al, aku hanya meminta kita tinggal terpisah dengan Husna selama 3 bulan saja. Lagipula setelah itu kamu akan bersama dengan Husna selamanya tanpa adanya diriku."


"Aku hanya ingin memiliki waktu berdua yang benar-benar indah tanpa adanya gangguan dari siapapun."


"Helena, Bukankah selama ini aku tidak pernah mengajak Husna saat kita berdua? Husna juga tidak pernah mengganggu kebersamaan kita."


"Al, Aku hanya ingin benar-benar menjadi istri yang seutuhnya. Aku ingin menjalankan peranku sebagai seorang istri yang akan melayanimu dari pagi hingga malam. Aku hanya ingin kita tinggal terpisah sementara dengan Husna."


"Lalu bagaimana dengan pembagian waktunya?" Tanya Alvino.


"Tentu saja kamu harus lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku karena akulah di sini yang hanya memiliki waktu hidup sementara."


"Helena, kamu tidak bisa bersikap seperti itu."


"Kenapa?"


"Apa kamu lupa jika Husna itu sedang hamil dan dia juga membutuhkan perhatian dari aku?"


"Jadi, apa kamu tidak bisa mewujudkan keinginan kecilku itu?"


"Helena, apa yang kamu minta bukanlah hal kecil tapi hal besar. Kamu bisa membuat keretakan di antara keluargaku, jika aku membuat Husna tinggal terpisah bersama dengan kita."


"Al, kamu tidak perlu mengatakan tentang hal ini kepada keluargamu. Kita hanya harus membicarakan ini dengan Husna dan meminta persetujuannya. Kemudian, jika Husna setuju kita minta Husna agar tidak memberitahukan hal ini kepada keluarga kamu."


"Tidak Helena, aku sudah cukup menyakitinya dengan membawamu masuk ke dalam kehidupan keluarga ku dan Husna. Aku tidak ingin lagi menyakitinya dengan harus memisahkan dia dariku."


"Al..."


Alvino pergi keluar dari kamar tanpa menghiraukan lagi panggilan dari Helena.


"Husna, sekarang apapun yang aku inginkan selalu gagal karena ada Husna. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu, agar kehamilan Husna tidak lagi menjadi pertimbangan untuk membuat aku dan Alvino bisa tinggal bersama tanpa adanya orang ketiga."


Malam itu, mereka makan seperti biasa hanya saja tidak ada obrolan yang tercipta. Helena berulang kali menoleh ke arah Alvino, seolah-olah berharap Alvino akan membahas tentang keinginannya itu.


Namun, sampai sesi makan malam selesai. Alvino hanya diam saja dan justru segera membantu Husna membereskan dapur.


Hal itu membuat Helena semakin merasa kesal terhadap Husna.


"Al, malam ini kamu akan tidur di kamarku kan?" Tanya Helena.


"Malam ini biarkan aku tidur sendiri." Ucap Alvino.

__ADS_1


Tunggu saja, aku akan memastikan bahwa keinginanku benar-benar terkabul.


...----------------...


Pagi harinya...


Setelah sarapan dan mendapatkan izin dari Alvino untuk pergi ke rumah sakit. Husna bersiap dan pergi ke rumah sakit bersama dengan Alvino.


Helena melihat kepergian mereka berdua dengan penuh amarah dan rasa cemburu yang sangat tinggi.


"Husna, Aku tidak akan membiarkan kamu terlalu lama menghabiskan waktu berdua dengan Alvino. Hanya aku yang pantas menghabiskan waktu berdua dengannya dan mendapatkan seluruh cinta dan kasih sayang Alvino."


Helena kemudian masuk ke dalam rumah untuk mulai merencanakan sesuatu untuk Husna.


"Terima kasih, mas." Ucap Husna saat mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Sama sama, hubungi aku begitu kamu selesai di sini. Aku akan menjemputmu dan akan mengantarkan kamu pulang."


"Apa itu tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak."


"Baiklah kalau begitu, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Husna melambaikan tangan ke arah mobil Alvino yang mulai pergi meninggalkan halaman rumah sakit.


Teman temannya merasa sangat bahagia karena kedatangan Husna, mereka kemudian banyak bercerita sambil menunggu kedatangan dokter Ciko.


"Husna, Bagaimana bisa kamu mengizinkan suami kamu untuk menikahi kekasihnya?" Tanya teman Husna.


"Benar, kalau aku pasti aku tidak akan pernah mengizinkannya apapun yang terjadi."


"Husna, memangnya kamu benar-benar ikhlas harus berbagi suami dengan wanita yang jelas-jelas mungkin sangat dicintai oleh suami kamu?"


"Insyallah aku ikhlas." Ucap Husna sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Ciko datang. Husna segera menyapa mantan seniornya itu sebelum akhirnya mereka membahas tentang kanker nasofaring.


Setelah cukup panjang penjelasan yang dijelaskan oleh dokter Chiko.


"Jadi kita harus mengetahui sudah sampai stadium mana kanker itu?"


"Bener, vonis dokter kadang-kadang memang salah. Jadi kita setidaknya harus melakukan banyak penelitian dan beberapa kali operasi, untuk menentukan apakah benar pasien hanya memiliki waktu 3 bulan karena kanker yang dideritanya."


Husna terdiam, rasa janggal di hatinya perlahan mulai terjawab dengan penjelasan yang dijelaskan oleh dokter Chiko.


"Oh ya, apakah kamu sudah tahu alasan kenapa wanita itu..."

__ADS_1


"Helena, namanya adalah Helena." Ucap Husna yang langsung memotong perkataan dari dokter Chiko saat menyebut Husna dengan sebutan wanita itu.


"Iya, maksudku apa yang menjadi alasan dari Helena dengan dia tidak mau memeriksakan diri dengan dokter yang ada di negara ini?"


"Ya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya jika dia merasa tidak aman jika bukan memeriksakan diri kepada dokter di negaranya."


"Aku rasa itu bukanlah alasan logis yang bisa diterima oleh akal sehat. Bahkan orang awam pun tahu jika semua dokter di dunia itu sama, tidak akan ada dokter yang berniat untuk mencelakakan pasiennya."


"Aku juga sependapat dengan itu."


"Sebaiknya kamu membicarakan masalah ini dengan suami kamu, dan meminta suami kamu untuk membujuk Helena agar mau memeriksakan dirinya."


"Husna, penyakit ini memang tergolong kecil tapi akibatnya sangat fatal jika tidak segera ditangani dan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut."


"Baik dokter Chiko, setelah ini aku pasti akan membicarakan hal ini dengan suamiku."


"Husna.."


"Ya dokter?"


"Kamu tahu bahwa aku selalu mengagumimu, apa yang terjadi padamu ini benar-benar melukai hatiku. Semoga kamu akan mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan dari Allah karena kebesaran dan ketulusan hatimu."


"Terima kasih, dokter."


Setelah mendapatkan cukup informasi mengenai ke kanker nasofaring, Husna memutuskan untuk menaiki taksi dan pergi ke kantor Alvino.


"Husna, kenapa kamu ada di sini? Bukankah aku sudah mengatakannya agar kamu menghubungiku agar aku yang menjemputmu?" Tanya Alvino saat melihat Husna datang ke ruangan nya.


"Mas, Husna langsung datang ke sini, karena memang ada hal penting yang perlu kita bicarakan mengenai Helena."


"Aku tahu, Aku juga ingin membicarakan sesuatu mengenai itu."


Husna dan Alvino kemudian duduk dan saling membicarakan tentang apa yang ada di pikiran masing-masing tentang Helena.


"Sepertinya memang kita harus membujuk Helena agar mau memeriksakan dirinya. Adik dan kedua orang tua Helena juga tidak pernah membahas perihal penyakit ini kepadaku."


"Apa Mas mencoba untuk mengatakan jika sebenarnya, Mas ragu tentang sakit yang sedang diderita oleh Helena?" tanya Husna.


"Ya.."


Husna, kamu benar-benar sudah membuatku hilang kesabaran. Kamu meracuni pikiran Alvino agar dia lagu terhadap sakit yang aku derita.


Tunggu saja kau Husna...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2