MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 64 : Catatan Husna.


__ADS_3

Beberapa hari ini kondisi Husna semakin membaik, dia mulai bisa melakukan aktivitas sendiri.


Elvio menceritakan semuanya pada nenek tentang Husna dan Alvino.


Nenek dan kakek sama sama merasa kecewa dengan sikap Alvino.


"Awas ae nek Alvino teko mrene. Bakal tak oser. Ora sudi aku nduwe putu koyok Alvino."


( Awas saja kalau Alvino datang ke sini. Pasti aku usir, mana sudi aku mempunyai cucu seperti dia).


"Nek, aku kudu bali menyang kutha kanggo bisnis. tolong Husna dijaga kanthi becik."


(Nenek, aku harus kembali ke kota untuk urusan bisnis. tolong jaga Husna baik-baik.) ucap Elvio.


"Sampeyan kaya ngomong karo sapa wae. temtu kita bakal ngopeni Husna kanthi becik, mbah kakung ora mung nglilani Husna, apa maneh Husna digawa Alvino. tenang wae. sakdurunge Mamamu nglilani Husna karo Alvino. mbah lan mbah kakung ora bakal ngidini Alvino njupuk Husna adoh."


(Kamu ini kayak berbicara sama siapa saja. tentu saja kami akan menjaga Husna dengan baik, nenek dan kakek tidak akan membiarkan Husna pergi begitu saja, apalagi membiarkan Husna di bawa oleh Alvino tenang saja. Sebelum Mama kamu sendiri yang mengizinkan Husna untuk pergi bersama dengan Alvino. nenek dan kakek tidak akan pernah mengizinkan Alvino untuk membawa pergi Husna.)


Malam harinya...


Elvio dan Naomi berpamitan kepada Husna, awalnya Elvio meminta Naomi untuk tetap ada di sini menemani Husna. Tapi Husna menolak dengan alasan bahwa dia sudah bisa melakukan aktivitasnya.


"Mbak Husna, aku tidak keberatan jika aku harus menemani Mbak lebih lama di sini."


"Tidak apa apa Naomi. Kamu boleh kembali ke kota. Aku baik baik saja, sungguh."


Elvio akhirnya meminta Naomi untuk ikut kembali ke kota bersama dengannya besok pagi.


Alasan utama Husna tidak menginginkan Naomi untuk tinggal lebih lama menemaninya adalah karena, Husna belum siap jika kehamilannya diketahui oleh Elvio.


Husna takut jika Elvio mengatakan kepada Alvino perihal kehamilannya.


Maafkan aku Elvio, bukannya aku menolak bantuanmu yang ingin menjaga agar kondisiku benar-benar baik. Tapi, aku takut jika Naomi lebih lama berada di sini dan menemani aku. Naomi akan mengetahui jika sebenarnya aku hamil. Aku tidak mau kamu memberitahu Alvino tentang ini.


"Orang bilang "jangan pernah menyerah", tapi terkadang menyerah adalah pilihan terbaik karena kamu sadar kamu membuang-buang waktumu." Nenek tersenyum sambil menghampiri Helena yang melihat kepergian Elvio dan Naomi.


"Nenek.." Husna yang duduk berniat bangkit dari tempat duduknya untuk membantu nenek yang sedang membawakan makanan untuknya.


"Sudah duduk saja."


Husna akhirnya kembali duduk dan hanya melihat nenek itu berjalan menghampirinya dan meletakkan nampan yang berisi makanan.


"Coba sekarang katakan kepada nenek, apa kamu menyesal karena kamu sudah pergi meninggalkan dia?"


"Terkadang harus berjuang untuk apa yang di cintai dan sayangi, tetapi terkadang jug harus menemukan kekuatan untuk melepaskannya." Husna tersenyum sambil menatap nenek.

__ADS_1


"Aku memberinya begitu banyak kesempatan untuk menunjukkan kepadanya bahwa aku adalah prioritas. Aku pikir sudah waktunya untuk menyadari bahwa aku bukan prioritasnya," ucap Husna lagi.


"Jika kamu menempatkan seseorang di bagian atas daftar prioritasmu dan mereka menempatkanmu di bagian bawah mereka, mungkin sudah waktunya untuk mengeluarkan penghapusmu." Ucap nenek sambil memberikan salad buah kepada Husna.


"Ini membingungkan, ketika kamu tidak dapat menentukan apakah tanda-tandanya adalah kamu menyerah atau hanya ujian untuk melihat berapa lama kamu bisa bertahan…"


Husna terdiam, dia menyadari bahwa dirinya tengah merasakan apa yang baru saja dikatakan oleh nenek.


Husna tidak bisa mengerti apakah dia harus benar-benar menyerah sekarang atau ini hanya ujian dari Tuhan.


"Nenek percaya dalam memperjuangkan suatu hubungan, tetapi ketika kamu berjuang sendirian, itu bukan hubungan lagi... "


Husna menatap sang nenek dan sang nenek membalasnya dengan senyuman.


"Berhentilah mencari kebahagiaan di tempat yang sama saat kamu kehilangannya. Terkadang, bertahan lebih merusak daripada melepaskan."


...----------------...


"Al, Aku benar-benar sangat menyesal dan aku harap kamu tidak akan bersaksi untuk melawanku. Aku mohon, lakukan sesuatu demi bayi yang ada di dalam kandunganku."


"Berhentilah berbicara omong kosong Helena."


"Al, Kenapa kamu tidak bisa mempercayai bahwa aku mengatakan hal yang benar?"


"Itu karena ulah kamu sendirian terlalu sering berbohong sehingga ketika kamu mengatakan sesuatu sekalipun itu kebenaran, orang akan sulit untuk mempercayainya."


Tak lama berselang, mama dan adik Helena juga datang untuk memberikan keterangan. Helena terkejut saat tidak ada satupun dari mama ataupun adiknya yang membela Helena. Mereka semua mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan keinginan Helena.


Helena hanya bisa pasrah saat dua orang polisi wanita membawanya untuk kembali ke sel tahanan.


"Al, tolong aku. Aku tidak ingin berada di sini. Aku ingin pulang. Aku hamil anakmu Al. Apa kamu ingin melihat anak kita lahir di penjara?"


"Al..."


Baik Alvino, Mama dan Lalisa. Tidak ada yang memperdulikan teriakan dan permohonan dari Helena.


Mereka kemudian memilih untuk pergi meninggalkan kantor polisi.


Alvino kembali ke rumah setelah dia menjadi saksi atas tuduhan yang di tujukan kepada Helena.


Alvino sebenarnya merasa kasihan melihat Helena harus tidur di balik jeruji besi. Tapi Alvino tidak mempunyai pilihan lain selain membiarkan hal itu. Helena harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.


Alvino terus teringat perkataan Helena yang mengatakan bahwa dirinya hamil.


Tidak mungkin, Bukankah sebelumnya Helena mengatakan bahwa dokter melarangnya untuk hamil karena itu sangat beresiko terhadap kanker nasofaring yang sedang di derita.

__ADS_1


Alvino memilih untuk masuk ke kamar mandi dan menjernihkan pikirannya.


Alvino tiba-tiba teringat dengan buku catatan yang dia temukan di lemari Husna.


Hah, kenapa aku merasa bahwa buku catatan itu sengaja ditinggalkan Husna untukku?


Alvino kemudian memilih untuk membuka catatan itu.


Aku memilih berhenti Mencintaimu..


Kehilangan Yang Tersayang, adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya..


Mungkin, Aku Terlalu Cinta..


Aku Terlalu Sayang Sampai merasa sakit hati...


Aku akui Aku salah..


Terlalu Percaya Pada Sesuatu..


Melihat penampilan nya membuat aku sadar,


Terlalu Bodoh Untuk Mencintaimu..


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Suamiku..


Aku tidak akan lagi memaksamu untuk berbagi cinta denganku juga..


Aku mulai merasa bahwa aku tidak pantas untuk menanti cinta di antara cinta kalian..


Aku berdoa semoga wanita yang kamu cintai segera mendapatkan kesembuhan dan melukis sejarah kebahagiaan yang selalu kalian impikan..


Terkadang lelah mencoba dan gagal. Berusaha keras di tempat kerja, dalam hubungan, dan situasi kehidupan yang berbeda. Tetapi, ketika semua upaya tidak berjalan dengan baik, merasa sedih dan kecewa.


Kami merasa mungkin sudah waktunya untuk menyerah dan berhenti mencoba, dan berhenti memberikan waktu, cinta, upayamu dalam hubungan itu..


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


"Kami? Kenapa Husna menulis kata kami pada bait terakhir kata yang dia tulis?" Lirih Alvino.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2