MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 76 : Bertemu Alvino


__ADS_3

Alvino dan Husna mendengar suara tangisan bayi..


"Alvino, urus bayi kamu," teriak Mama.


"Bayi?" Husna mengerutkan keningnya.


"Ya, itu adalah bayi Helena," ucap Alvino.


"Jadi, Helena benar-benar bisa mewujudkan impiannya untuk memiliki seorang bayi?" tanya Husna.


"Ya, hanya saja...."


"Baiklah, maaf aku harus pergi." Husna segera berjalan cepat keluar dari halaman mansion.


Alvino dilema, dia ingin sekali mengejar Husna, tapi teriakan mama dan suara tangis bayinya membuat Alvino terpaksa harus merelakan kepergian Husna.


Husna menangis saat sebuah mobil berhenti tepat di depan nya.


"El?"


"Masuklah, sebelum Alvino mengejar kamu."


Husna memilih untuk segera masuk ke dalam mobil Elvio. Elvio awalnya ingin mengajak sama mama untuk menemui keluarga dari kekasihnya.


Saat melihat Husna tidak sengaja bertemu langsung dengan Alvino, Elvio memilih untuk tetap di dalam mobilnya dan menunggu kemungkinan Husna akan pergi dari sana untuk menghindari Alvino.


Benar saja, beberapa menit menunggu di luar halaman mansion, Elvio melihat Husna sedang berlari sambil membawa bayinya.


Sekarang Elvio sudah melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Mansion.


"Bener kata kamu, seharusnya aku tetap berada di rumah nenek dan mencari pekerjaan di sana saja daripada kembali ke kota," ucap Husna.


"Sering kita mendengar istilah "hidup adalah pilihan". Ya, dalam menjalani kehidupan memang selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Menentukan pilihan tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan."


"Rasa bingung, gelisah, hingga galau tak bisa dihindari saat menentukan pilihan. Bahkan, terkadang kita juga melibatkan orang lain untuk memberi masukan. Terlebih lagi jika sedang galau menentukan pilihan hati. Jangan mengambil keputusan secara cepat. Karena orang yang tepat mungkin tidak datang dalam waktu yang cepat,"


Husna terdiam dan terus mendengarkan perkataan Elvio sambil sesekali melihat ke arah putri nya.


"Jika seseorang mau, maka ia akan bertahan. Jika seseorang mampu, maka ia akan terus memperjuangkan. Jika tidak keduanya, maka seseorang itu akan melepaskan. Pilihan untuk kamu hanya ada dua, kembali memperjuangkan atau melepaskan."


"Apa kamu pikir aku yang sudah mendatangi surat perceraian itu mau kembali memperjuangkan?" ketus Husna.


"Hahaha.. baiklah, baik. Jadi sekarang apa mau kamu?"


"Aku tidak tahu. Seandainya saja aku memiliki keluarga, mungkin sekarang Aku sudah pulang dan berkumpul bersama keluargaku." Husna menghela nafas panjang sambil mengalihkan pandangannya melihat keluar jendela.

__ADS_1


Husna benar-benar menyesal dengan keputusannya untuk kembali ke kota dan menjadi perawat di rumah sakit tempat dulu Husna mengabdi dan mencari rezeki.


Husna tidak ada pilihan lain karena memang rumah Sakit itulah yang mampu memberikannya bayaran yang cukup tinggi dibandingkan rumah sakit yang lain.


Husna harus memikirkan masa depan putrinya, saat dia keluar dari rumah Alvino dia tidak membawa sepeser pun harta benda dari sana.


Selamat tinggal di rumah nenek, Husna menggunakan tabungan miliknya sendiri, dan sekarang tabungan itu sudah menipis membuat Husna harus kembali berjuang untuk mengumpulkan rezeki.


"Saranku, sebaiknya kamu bertemu dengan Alvino dan sesekali membicarakan tentang kalian. Semua hal butuh kepastian entah itu memulai bertahan atau melepaskan."


"Aku akan memikirkannya nanti. Terima kasih karena sudah mau mengantarkan aku," ucap Husna saat mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Ada masa ketika kau memberikan isyarat cinta, namun ada juga saat kau memberikan isyarat untuk pergi."


...----------------...


Husna berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil terus memikirkan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Elvio.


Husna menitipkan bayi nya pada perawat yang bertugas menjaga bayi pasien rumah sakit.


"Masyallah. Siapa namanya?"


"Anisa Rahma Azhari.."


Husna tersenyum kemudian memilih untuk pergi menemui seniornya.


Husna berencana untuk memberikan konfirmasi kesediaannya kembali mengabdi di rumah sakit itu.


Husna memilih kembali pulang ke apartemen setelah urusan di rumah sakit selesai.


Husna terkejut saat melihat Alvino sudah ada di sana. Di apartemennya.


"Husna..."


"Ada apa?"


"Kita harus bicara."


"Tentu, aku juga ingin bicara."


Alvino terus memperhatikan bayi yang ada di dalam gendongan Husna. Ingin sekali rasanya Alvino bertanya, tapi Husna segera membawa bayi itu untuk beristirahat di kamar nya.


Husna membuka berkas yang ada di atas meja, dia tahu bahwa itu adalah dokumen yang berisi surat perceraian.


"Apa kamu pikir bisa bercerai dengan cara seperti ini?" tanya Alvino.

__ADS_1


"Hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia."


"Husna, aku tahu apa yang aku lakukan salah. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini padaku?"


"Seandainya mas tahu, melepas yang hampir tergenggam bukanlah hal yang mudah."


"Kalau begitu jangan di lepaskan, mari kita menjalani kembali kehidupan seperti biasa."


"Aku tidak bisa. "Mencintaimu tanpa kau tahu bukanlah hal yang sia-sia. Setidaknya, aku belajar rasanya terluka dan berusaha menyembuhkannya."


"Sekarang luka itu perlahan mulai sembuh, aku tidak ingin berharap pada sesuatu yang bukan di takdirkan untuk menjadi milikku."


"Husna, Helena sekarang sedang sekarat..."


"Apa hubungannya dengan aku?" tanya Husna yang langsung memotong pembicaraan dari Alvino.


"Helena mempunyai bayi perempuan, kita bisa merawatnya bersama. Keinginan terakhir dari Helena, dia ingin putrinya di besarkan dengan penuh cinta. Kita bisa menjadi orang tua nya."


"Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Helena. Bisa saja ini hanya tipu muslihatnya lagi. Dengar Mas, walaupun aku masih mencintaimu, tapi aku tidak ingin jatuh ke dalam jurang luka yang sama. Sudah cukup perih yang aku rasakan kemarin."


"Husna.."


"Jika mas minta aku untuk menjadi orang tua. Aku sudah menjadi orang tua dari putriku sendiri."


"Tidak mungkin kan kamu sudah menikah lagi sementara kita belum resmi bercerai."


"Saat kamu mengatakan bahwa aku seperti purel dan tidak ingin melihat ku lagi, bahkan memintaku untuk pergi dari kehidupanmu. Maka itu sudah menjadi talak satu yang kamu berikan."


"Jadi..., aku rasa kamu sudah mengetahuinya."


Talak 1 disebut juga dengan talak raj’i. Jika jatuh talak ini, suami boleh rujuk kembali dengan istrinya sebelum masa iddah istri habis dengan aturan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.


Talak 1 terjadi jika suami sudah menjatuhkan talak pada istrinya untuk pertama kalinya atau kedua kalinya. Jika suami ingin rujuk setelah menjatuhkan talak 1, maka rujuk dilakukan dengan perbuatan seperti mencium istrinya dan mengucapkan kalimat rujuk untuk mengembalikan ikatan pernikahan di depan dua orang saksi yang adil.


"Aku tahu. Aturan mengenai talak tercantum dalam Alquran QS Al-Baqarah ayat 229 serta QS At-Talaq ayat :1-7," ucap Alvino.


"Artinya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim."


"Alvino, aku ingin rujuk denganmu."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2