
Waktu terasa begitu lambat bagi Alvino. Melihat wanita yang amat dia cintai terbaring lemah karena kanker yang sedang menggerogoti tubuhnya, membuat Alvino merasa sangat tidak bersemangat.
Di ruangan rumah sakit berkelas VVIP. Alvino terus memandangi Helena yang masih menutup mata dengan selang infus yang mengalir ke tubuhnya.
Ada dua jenis infus yang mengalir ke tubuh Helena, lengkap dengan alat bantu oksigen agar Helena cukup mendapatkan oksigen saat dirinya pingsan.
Alvino memegangi tangan Helena, sambil sesekali mencium nya.
"Dalam hidup ini, sakit dan sehat adalah situasi yang selalu datang silih berganti. Namun, nikmat sehat seringkali selalu lebih banyak dibanding sakit. Kuberdoa, semoga penyakitmu segera diangkat oleh Allah dan engkau selalu tabah dalam menjalani takdir dari Allah."
"Buka mata mu, Helena. Tidakkah kamu merindukan aku?"
"Aku sungguh tidak bisa terus melihat mu seperti ini. Melihatmu terbaring sakit, membuat hatiku terasa remuk redam, Kekasih. Ingin sekali aku menggantikan dirimu yang sedang sakit. Semoga kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa."
Husna masuk ke dalam ruangan, berniat untuk menggantikan Alvino menjaga Helena.
"Mas..."
Alvino menghapus bulir air mata yang sudah mengambang di ujung mata, sebelum berbalik menatap Husna.
"Hai.." Alvino tersenyum dan meletakkan tangan Helena dengan hati hati.
"Mas, ini sudah lewat dari jam makan siang. Aku sudah membawakan makanan, Mas boleh beristirahat dan biarkan aku yang menggantikan Mas menjaga Helena."
"Baiklah." Alvino melihat ke arah Helena sebelum dirinya bangkit dari tempat duduk dan membiarkan Husna membawanya ke tempat duduk yang berada di dekat pintu.
Husna membuka makanan dan menyiapkan makanan itu untuk Alvino.
"Mas, malam ini sebaiknya Mas pulang dari istirahat di rumah saja," ucap Husna setelah Alvino selesai makan.
"Kenapa?"
"Akhir-akhir ini aku melihat Mas sering menemani Helena sampai larut malam. Husna tahu jika Mas khawatir terhadap Helena, tapi mas harus ingat jika Mas juga harus menjaga kesehatan mas sendiri. Mas tidak mau kan jika Helena tersadar, justru kesehatan Mas yang menurun karena terlalu sering begadang."
"Aku ingin, tapi saat aku di rumah. Aku justru tidak bisa beristirahat dengan tenang karena hati dari pikiranmu ada di sini."
"Mas, jangan karena hanya satu istri yang sedang sakit. Mas melupakan istri yang lain."
"Husna, Aku harap kamu bisa memaklumi ini. Aku sangat mengkhawatirkan Helena dan takut terjadi sesuatu yang tidak pernah kita inginkan."
"Aku mungkin terlalu mencintainya hingga aku bisa gemetaran ketakutan setiap kali aku membayangkan menjalani sisa hidupku tanpa berada di sisi nya."
Husna tersenyum kecut di balik cadarnya. Apa sampai sebesar itu cinta Alvino kepada Helena? lalu, apakah sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk Husna?
__ADS_1
"Sebesar itukah cinta kalian? sehingga saat aku meminta mas untuk beristirahat demi kesehatan mas sendiri. Mas tidak mau?" tanya Husna.
"Husna, Helena adalah sahabat dan kekasihku, dan aku tidak tahu sisi mana dari Helena yang paling aku nikmati. Aku menghargai setiap sisi, sama seperti aku telah menghargai hidup kita bersama."
Menghargai? apa Mas Alvino sedang mencoba untuk mengatakan jika dia berhargai pernikahan ini hanya demi menghormati permintaan terakhir dari alm ayah?
"Husna, sebaiknya kamu pulang dan membiarkan aku untuk bermalam di rumah sakit. Aku ingin akulah orang yang pertama kali dilihat oleh Helena saat dia sadar setelah berhasil mengalahkan penyakit itu."
"Mas..."
"Tidak apa apa, mas akan baik baik saja. Pulang lah Husna, lebih baik kamu beristirahat di rumah. Jangan khawatirkan aku."
Husna mengalah, dia membersihkan kotak makan yang dia bawa. Lalu melihat Alvino yang kembali berjalan menghampiri Helena.
Ada sesak di hati Husna saat melihat Alvino mencium kening Helena. Sederhana, namun itu sudah tidak pernah lagi Husna dapatkan dari Alvino sejak beberapa minggu terkahir.
Dulu aku berpikir, jika aku harus memilih antara bernafas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu. Namun sekarang, rasanya nafas terakhir itu sangat berharga jika harus di gunakan untuk mengatakan hal yang mungkin tidak pernah ingin kamu dengar, Mas Alvino.
Husna menghela nafas panjang sebelum dia berjalan menghampiri Alvino untuk berpamitan, apalagi yang bisa Husna lakukan ketika sang suami sudah memerintahkan Husna untuk pulang.
"Mas, Husna pamit." Ucap Husna sambil mengulurkan tangannya.
"Hati hati di jalan." Alvino memberikan tangannya dan membiarkan Husna mencium punggung tangannya.
Husna memegang keningnya, dia yang berharap Alvino akan mencium kening nya saat dia pulang harus menelan rasa kecewa.
Husna memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan masalah ini agar hatinya tidak semakin kecewa. Husna berjalan dan berhenti di tempat biasa dia menstop taksi saat pulang dari rumah sakit.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti tepat di depan Husna.
"El..."
"Masuklah, ini masih waktu jam istirahat siang. Kakak tidak akan segera menemukan taksi."
Husna melihat ke arah jam tangannya dan dia baru menyadari jika memang itu masih masuk jam istirahat bagi para sopir taksi.
Husna kemudian memilih untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Tidak mungkin Husna akan duduk di samping Elvio yang bukan suaminya.
Elvio tersenyum karena Husna mau ikut satu mobil dengannya. Elvio segera memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang dan mengantarkan Husna pulang.
Di rumah sakit...
"Alvino..."
__ADS_1
Alvino yang tertidur sambil memegangi tangan Helena, terjadi saat merasakan ada sebuah tangan yang menepuk-nepuk bahunya.
"Mama?" Alvino melihat Mama Helena yang membangunkannya.
"Nak, kenapa kamu tidak ikut pulang bersama dengan Husna dan beristirahat di rumah saja?"
"Tidak apa apa, Alvino bisa beristirahat di sini sambil menemani Helena."
"Nak, mama bisa mengerti tentang kekhawatiran kamu terhadap Helena. Tapi, apa yang dikatakan oleh Husna benar. Kamu juga harus menjaga kesehatan kamu."
"Insyallah Alvino bisa menjaga kesehatan Alvino sampai Helena yang tersadar."
"Alvino, jangan karena kamu terlalu mengkhawatirkan Helena, sehingga kamu melupakan tugas dan tanggung jawabmu sebagai seorang suami kepada istri kamu yang lain."
Alvino terdiam. Kata-kata dari mama Helena mengingatkan tentang dia yang memang sedikit mengacuhkan Husna karena lebih mengkhawatirkan dan peduli kepada Helena.
"Nak, tidak ada hati seorang istri yang kuat saat melihat suaminya terlalu berlebihan saat mengkhawatirkan istrinya yang lain. Ingat, istri kamu bukan hanya Helena saja. Dan yang membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari kamu bukan hanya Helena, tapi juga Husna."
Alvino terus saja teringat perkataan dari mama Helena saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
Alvino benar-benar merasa bahwa dirinya lagi-lagi tidak bisa berlaku adil dan membagi kasih sayangnya dengan rata terhadap kedua istrinya.
Husna, maafkan aku. Kenapa aku begitu bodoh sehingga tidak mengerti tentang pesan yang tersirat di balik setiap ucapan yang kamu katakan saat bersama denganku.
Alvino memutuskan untuk mengambil jalan pintas agar dia lebih cepat sampai di rumah.
Di rumah...
Alvino segera masuk ke dalam saat melihat ada mobil berwarna abu-abu terpakai di rumahnya dan melihat pintu rumahnya terbuka.
Alvino segera berjalan untuk mencari Husna, dan betapa terkejutnya Alvino saat melihat Husna sedang digendong Elvio.
"Kurang ajar, jadi begini perlakuan kamu? aku tidak menyangka jika di balik cadar itu terdapat sifat yang sama seperti purel."
Deg !!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1