
"Helena, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Husna.
"Bukan urusanmu, kamu sendiri apa yang sedang kamu lakukan di ruangan ini?"
"Aku baru saja keluar untuk memastikan bahwa kondisi rumah baik-baik saja, mengingat mas Alvino baru saja mengatakan jika rumah kita baru saja kemasukan maling."
"Apa kamu sedang menuduh aku melakukan sesuatu?"
"Aku tidak mengatakan begitu."
"Minggir, aku mau istirahat. Asal kamu tahu saja jika aku masuk ke ruangan ini untuk mencari keberadaan Alvino." Helena segera pergi meninggalkan Husna yang terlihat menghela nafas panjang.
Helena, memang benar apa yang dikatakan oleh mas Alvino. Ada sesuatu yang sedang kamu rencanakan. Aku harus mencari apa itu dan memastikan bahwa itu tidak membawa pengaruh buruk terhadap rumah tangga ini.
Beberapa hari berlalu...
Ernesto yang terus-menerus datang dan mengganggu Helena, membuat Helena tidak bisa merencanakan rencana selanjutnya untuk mendapatkan uang.
Helena kemudian mencoba untuk menggali informasi tentang apa yang terjadi pada keluarganya melalui sang adik.
Sayangnya, Adik tidak memberikan informasi yang Helena harapkan.
"Helena, aku sudah menunggu cukup lama. Sebaiknya segera beri aku uang atau aku akan datang kepada suamimu dan memberitahukan bahwa kamulah yang menyebabkan istri nya celaka."
"Ernesto, kamu benar-benar sudah keterlaluan. Kamu memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan."
"Bukankah apa yang aku lakukan, tidak jauh berbeda dari apa yang kamu lakukan?"
"Apa maksud kamu?" tanya Helena.
"Cih, kamu pikir aku tidak tahu jika kamu memaafkan kepolosan istri dari Alvino untuk menjadi istri Alvino juga."
Sial. Ernesto benar-benar memegang kartu As ku. Aku harus segera mencari cara untuk mendapatkan uang agar Ernesto benar-benar pergi dari hidupku.
Helena tidak tahu jika selama dia bertemu dengan Ernesto, Husna mengetahui nya.
Husna juga sering mendengar Helena marah-marah di dalam kamar.
Hari ini, Alvino harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Setelah memastikan jika rumah sudah terpasang CCTV, dan tidak akan ada yang tahu letak monitor pemantaunya. Alvino berpamitan kepada kedua istrinya.
"Husna, apa kamu tidak lelah jika kamu berada dalam situasi seperti ini?" tanya Helena setelah mereka bersama-sama mengantar kepergian Alvino.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
"Ya, apa kamu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran aku yang menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kamu?"
"Dalam sebuah hubungan memang kerap mengalami berbagai permasalahan, namun hal yang paling dihindari dan ditakuti adalah kehadiran orang ketiga atau yang dikenal dengan pelakor," Husna sengaja menekan kata pelakor seolah-olah ingin menyadarkan Helena
"Tak hanya pada pria saja, terkadang wanita juga tergiur untuk selingkuh dengan berbagai alasan. Kehadiran orang ketiga akan mendatangkan masalah-masalah lainnya, belum lagi kepercayaan akan pudar dengan sendirinya."
Kenapa Husna berkata seperti itu? tidak mungkin kan jika dia mengetahui jika selama beberapa hari ini aku sering bertemu dengan Ernesto.
"Dengar, Aku benar-benar tidak tahu maksud dari ucapan kamu itu. Aku hanya ingin memastikan jika kamu harus berhenti berjuang untuk mendapatkan cinta tulus dari Alvino. Karena sebentar lagi akulah yang akan lebih banyak menghabiskan waktu dan memastikan bahwa Alvino hanya memperhatikan aku."
"Kamu harus lebih waspada dengan setiap orang yang berpotensi jadi pihak ketiga dalam hubunganmu. Bukan berarti kamu jadi orang yang insecure, posesif, dan menuduh semua lawan jenis di sekitar kalian adalah pihak ketiga dalam hubunganmu. Kamu cukup jadi orang yang sensitif saja. Tak ada yang tahu, orang yang selama ini dipercaya pun bisa menjadi orang ketiga dalam hubungan kamu," ucap Husna.
"Helena, jangan sampai Alvino mengetahui jika selama ini kamu memiliki hubungan yang sering bertemu dengan seorang pria."
Deg !
Jadi bener, Husna mengetahui jika selama beberapa hari ini aku sering bertemu dengan Ernesto.
"Baiklah, akhir-akhir ini aku memang bertemu dengan seorang pria. Dia meminta uang tebusan sebagai ganti rugi pabrik yang sempat mereka rampas dari kedua orang tuaku."
"Jika memang kamu membutuhkan uang itu untuk membantu keluargamu. Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini kepada mas Alvino? kenapa kamu justru seolah ingin menutupi nya?"
"Husna, apa kamu pikir aku adalah seorang wanita seperti kamu yang hanya ketergantungan dengan suami?"
"Wajar jika sekarang aku bergantung kepada suamiku karena dia adalah imam di dalam keluarga ini. Apapun yang terjadi dan apapun yang aku butuhkan, Tentu saja aku harus membicarakan hal ini kepada suamiku."
Helena terlihat senyum mengejek.
"Jangan terlalu berharap jika Alvino akan lebih mencintai kamu daripada mencintai aku."
"Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu di dunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun. Dia milikku dan akan selamanya begitu." Imbuh Helena.
"Helena, kapan kamu bisa berubah dan memperbaiki sikap kamu yang sangat tidak sopan kepada aku? apa kamu lupa jika pernikahan kalian belum sampai mendapat pengakuan dari negara?"
"Apa maksud kamu?"
Husna tersenyum kemudian dia memilih masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Helena berjalan di belakang Husna kemudian ikut duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat duduk Husna.
__ADS_1
"Kamu dan Mas Alvino memang sudah menikah. Asal kamu tahu, kalian hanya menikah secara agama dan itu bisa disebut pernikahan kalian hanya sebatas pernikahan siri."
"Aku tidak mengerti."
"Jika ikatan diantara kalian hanya sebatas ikatan pernikahan siri, itu artinya mas Alvino bisa saja mentalak kamu kapanpun dia inginkan. Tanpa harus mengurus berkas perceraian."
"Aku akan membuktikannya kepadamu, jika aku dan Alvino juga bisa mendaftarkan pernikahan kami di negara. Sehingga aku dan Alvino tidak akan bisa bercerai dengan begitu mudahnya. Aku yakin bahwa aku juga bisa menggantikan posisi kamu sebagai istri pertama dari Alvino."
"Aku harus banyak bersyukur mulai sekarang. Tuhan memberikanku banyak nikmat sampai membuat orang iri. Tapi kalau waras, orang itu bakal berusaha yang terbaik dalam hidup. Bukannya ingin merebut dan menggantikan posisiku sekarang."
Helena bangkit dari tempat duduknya dan sedikit menghentakkan kaki ke lantai sebelum dia pergi meninggalkan Husna.
Husna tersenyum melihat madunya itu merasa tersinggung dengan apa yang baru saja dia katakan.
Alvino...
Sebenarnya dia tidak benar-benar pergi ke luar kota, biar tetap berada di kota itu untuk menyelidiki tentang pria yang selama ini menemui Helena.
Husna berulang kali mengatakan jika dia sering melihat Helena bertemu dengan seorang pria tidak dikenal.
Walaupun Husna mengatakan agar Alvino bertanya langsung kepada Helena, rupanya Alvino memiliki cara sendiri untuk mengungkap sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Helena.
Alvino kemudian terkejut saat mengetahui jika pria itu memiliki sesuatu yang berkaitan dengan Helena.
"Robi, cepat kamu cari tahu apa yang dimiliki pria itu, sehingga Helena sampai rela melakukan sandiwara demi bisa memberikan uang sejumlah 500 juta kepada pria itu."
"Baik Tuan."
Helena...
Jika memang ada yang membuat hidupmu tidak tenang, Bukankah seharusnya kamu membicarakan hal ini denganku. Kenapa kamu justru memilih untuk menyembunyikan hal ini dan berusaha menyelesaikan masalahmu sendiri?
Sebenernya apa yang dimiliki pria itu
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1