MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 35 : Pulang


__ADS_3

"Husna, kamu mau kemana?" Tanya Mama saat melihat Husna turun dari lift dengan membawa koper.


"Ma, jika seorang suami sudah datang untuk menjemput istrinya. Maka, tidak ada yang bisa dilakukan seorang istri kecuali ikut pulang bersama sang suami." Ucap Husna sambil tersenyum.


"Husna, bagaimana dengan..."


"Insyaallah tidak akan terjadi apa apa ma.."


"Baiklah kalau begitu, Mama izinkan kamu untuk pulang bersama dengan suamimu." Ucap Mama sambil memeluk Husna.


"Denger, Mama mengizinkan Husna untuk pulang bersama dengan suaminya. Bukan mengizinkan kamu membawa pergi Husna." Ketus Mama.


"Mama sudah, tahan diri mama. Terlalu sering marah tidak baik untuk kesehatan." Ucap Husna.


"Nak, semoga Allah selalu memberikan kesabaran untukmu."


"Bersabar saat menemui cobaan dan bersyukur untuk semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki adalah cara terbaik untuk mendewasakan diri."


"Ya, mama yakin kamu pasti bisa melalui ini." Ucap Mama.


"Husna pamit ya ma, assalamualaikum.."


"Walaikumsalam.."


Husna dan Alvino berjalan ke luar, Helena tersenyum saat dia mendengar suara langkah. Namun, senyuman itu hilang tak kalah dia juga melihat Husna dan mama ikut keluar.


"Apa kau akan ikut kami pulang?" Ketus Helena.


"Itu adalah rumah ku juga. Tentu aku berhak untuk ikut pulang bersama dengan suami ku."


"Kau memang tidak tahu diri. Setelah menghinaku habis-habisan sekarang kamu ingin kembali pulang bersama dengan kami?" Ketus Helena.


"Terkadang emosi yang datang justru bisa mengacaukan yang ada. Maka penting untuk kamu mengelola perasaan agar tidak mudah terpancing emosi. Dekatkan diri dengan hal yang bisa memberikan motivasi untuk menenangkan diri. Dengan begitu kamu bisa berpikir lebih jernih dalam memutuskan tindakan selanjutnya." Ucap Husna.


"Ingat satu hal, aku tidak akan membiarkan kamu memberikan pengaruh negatif kepada suamiku, sekalipun kamu juga istri nya. Kamu harus tahu bahwa aku yang lebih berhak atas suamiku karena aku adalah istri pertamanya."


Husna segera masuk ke dalam mobil setelah dia mengatakan itu kepada Helena.


"Al..."


Helena memanggil Alvino berharap dia akan membela atas apa yang sudah Husna katakan kepadanya.


"Cukup Helena, kamu sudah mengacaukan hari ini. Jangan semakin membuat keruh suasana. Kau ikut pulang bersama kami atau tidak sama sekali."


Alvino masuk ke dalam mobilnya. Helena tidak ada pilihan lain selain masuk dan duduk di kursi belakang.


Helena melihat Husna yang duduk di sebelah Alvino dengan tatapan kecemburuan.


Sepanjang perjalanan, tidak ada dari mereka yang berbicara. Hingga mereka sudah sampai di rumah.


"Biar aku saja." Ucap Alvino saat melihatmu sedang akan membawa barang-barang miliknya.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Husna.


"Sama sama."


Alvino membuka bagasi mobil dan langsung membawa masuk barang-barang milik Husna.


Helena masih berada di dalam mobil, tentu saja berharap Alvino akan membukakan pintu mobil untuknya.


Nyatanya, hal itu tidak membuat Alvino mengajak Helena untuk masuk.


Setelah meletakkan barang milik Husna di dalam kamar, Alvino justru masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


"Kau ingin masuk atau ingin tetap berada di dalam mobil?"


"Aku.."


"Helena, Aku lelah. Aku harap kamu akan berhenti membuat drama yang akan menimbulkan kekecewaan di hatimu sendiri."


Helena akhirnya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kamar.


Brak !!


Helena sepertinya sengaja membanting pintu kamar sebagai bentuk protes terhadap Alvino.


Alvino hanya masalah nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alvino melihat ke arah kamar Husna. Ingin sekali rasanya Alvino mendatangi kamar Husna. Namun kemudian Alvino memilih untuk beristirahat di kamar lain.


Husna sudah menyiapkan makan malam saat Alvino datang ke meja dapur.


"Mas.."


"Ya?"


"Dimana Helena?" Tanya Husna.


"Mungkin di kamarnya."


"Mas tidak mengajaknya turun untuk makan malam bersama?" Tanya Husna lagi.


"Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan karena aku beristirahat di kamar lain."


Husna menghela nafas panjang kemudian menghampiri Alvino.


"Panggil dia dan ajak untuk makan malam bersama." Ucap Husna.


"Aku lelah dengan sikap Helena yang selalu ingin diperhatikan dan ingin dimanja."


"Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan, semangat untuk hari ini. Jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Pergi lah, panggil dia dan ajak untuk makan malam bersama."


Alvino menghela nafas panjang kemudian di atas senyum ke arah Husna sebelum melangkahkan kakinya ke lantai atas dan menemui Helena.

__ADS_1


Helena terlihat menatap ke arah jendela. Begitu mendengar suara pintu terbuka dan melihat bahwa yang masuk adalah Alvino, Helena langsung tersenyum dan berlari memeluk Alvino.


"Aku datang atas perintah Husna untuk memanggil kamu, ini sudah masuk jam makan malam."


"Aku kira kamu datang atas keinginan sendiri, ternyata..."


"Jika kamu merasa bahwa kamu tidak membutuhkan makan malam, lepaskan pelukan ini karena perutku sudah sangat ingin makan."


Helena melepaskan pelukannya kemudian dia berjalan di belakang Alvino.


Rasanya sungguh tidak ingin berada satu meja bersama dengan Husna, namun tidak ada pilihan lain bagi Helena.


Mereka makan dalam diam, Helena membiarkan Husna melayani Alvino di meja makan.


"Al, malam ini aku harap kamu tidur dengan ku."


"Helena, kita sedang makan. Tolong jangan bahasa lain di sini." Ucap Alvino.


Setelah makan selesai, Alvino membantu Husna membereskan meja makan dan mencuci piring.


"Biar aku saja." Ucap Alvino saat Husna terlihat akan mengelap meja makan.


"Terima kasih." Ucap Husna.


"Al, tidakkah kamu mengatakan kepadaku untuk membantumu melakukan pekerjaan ini?" Ucap Helena.


"Ini adalah rumah tangga. Seharusnya kita sudah tahu peran masing-masing tanpa harus diingatkan atau diminta." Ucap Alvino.


"Al..."


"Helena, sudah aku katakan kepadamu. Seharusnya kamu lebih banyak berbicara dengan Husna untuk membahas apa saja yang seharusnya dilakukan di dalam sebuah rumah tangga."


"Kenapa aku harus berbicara dengan seorang wanita yang cengeng. Asal kamu tahu, Husna selalu saja menangis di setiap malam. Kau tahu kenapa? tentu saja karena dia merasa iri dengan kecantikan alami yang aku miliki sehingga membuat kamu lebih mencintaiku daripada mencintainya."


"Lebih baik menangis daripada marah, karena marah akan menyakiti orang lain, sementara air mata mengalir tanpa suara melalui jiwa dan membersihkan hati." Ucap Husna.


"Bilang saja jika kamu tidak bisa mendapatkan hati Alvino, karena itu kamu selalu menangis setiap malam." Ucap Helena.


"Kamu sebenarnya merasa sakit hati karena ternyata Alvino lebih mencintai aku daripada kamu. Walaupun kamu sedang hamil anaknya, tapi cinta Alvino masih tertuju padaku." Imbuh nya


"Sakit hati itu masa lalu, berjuang meraih sukses itu masa kini, dan masa depan adalah bahagia bersama orang-orang yang menyayangiku." Ucap Husna.


"Ketika keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, ingatlah bahwa Tuhan mengetahui apa yang kita butuhkan."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2