
"Dia adalah tamu, dan sebagai muslim yang baik kita harus menjamu tamu yang datang." Ucap Husna.
Alvino makalah nafas panjang kemudian berjalan mendahului Bibi Maryam dan menemui Helena.
"Helena, Bagaimana bisa kamu tahu tempat ini?" Tanya Alvino.
"Apa kamu lupa bukankah kamu pernah mengajakku ke sini." Ucap Helena sambil tersenyum.
"Sebenarnya, apa maksud dan tujuanmu datang kemari?"
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu wanita seperti apa yang menjadi istrimu sehingga kamu benar-benar melepaskan aku."
Tak lama kemudian, Husna datang dengan membawa minuman dan sedikit kudapan.
Untuk sesaat Helena tertegun. Dia teringat tentang Alvino yang sempat menyinggung bahwa Hijab bukan berarti menindas atau mengekang, tapi tentang membebaskan diri dari pandangan mata-mata yang jahat.
"Allah mengangkat martabatmu melalui Hijab. Ketika ada seorang pria asing melihatmu, dia akan menghormatimu, karena dia melihat bahwa dirimu bisa menghormati diri sendiri."
Jawaban yang diberikan Alvino ketika Helena bertanya mengenai hijab.
"Mengapa wanita muslimah harus mengenakan Hijab?" tanya Helena waktu itu.
"Karena kecantikan mereka diperuntukkan bagi suami mereka, bukan untuk setiap orang."
"Beberapa orang menganggap bahwa mengenakan Hijab berarti kembali ke masa prasejarah. Tentu ini tidak benar. Lebih dari itu, orang seperti itu gagal menyadari bahwa sebenarnya berpakaian setengah telanjang berarti kembali ke zaman batu." Ucap Alvino.
Sejak saat itulah Helena mulai memperbaiki pakaiannya dan meninggalkan bikini yang selalu dia gunakan.
Alvino merasa senang dengan perubahan dari kekasihnya itu, hingga kemudian Helena bersedia menjadi mualaf dan karena itulah, Alvino menjalin hubungan dengannya.
"Assalamualaikum.." Ucap Husna yang menyadarkan Helena.
" Wa...laikum..salam...," ucap Helena sedikit terbata.
Untuk beberapa saat, tidak ada dari mereka yang membuka suara. Hingga suara ponsel dari Alvino memecah keheningan.
"Aku permisi untuk mengangkat panggilan." ucap Alvino.
Husna dan Helena menganggukkan kepala, tetapi Alvino hanya melihat Husna karena tidak mungkin dia melihat Helena sementara ada Husna di sampingnya.
Sepeninggalan Alvino....
__ADS_1
"Siapa namamu tadi?" Tanya Helena.
"Husna..."
"Husna, apa kamu tahu jika aku adalah kekasih dari Alvino, dan pernikahan kalian sungguh membuat hatiku patah."
"Terkadang patah hati adalah anugerah dari Allah. Itulah cara-Nya memberi tahu kita bahwa Ia menyelamatkan kita dari orang yang salah."
"Apa kamu sedang mencoba menjelaskan kepadaku bahwa cintaku pada Alvino salah?"
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya."
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”
Helena tertegun, tiba-tiba dalam hatinya sangat bergejolak ingin sekali mengenal lebih dalam agama Islam.
"Akan selalu ada laki-laki yang baik-baik untuk perempuan yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Juga, akan selalu ada perempuan yang baik-baik untuk laki-laki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya. Dan aku yakin Alvino adalah laki-laki yang baik untukku karena aku adalah perempuan yang sedang berusaha untuk memperbaiki diri." Ucap Helena.
"Aku yakin tidak ada yang dapat mengalahkan cintaku pada Alvino. Dia menikahimu hanya demi menghormati permintaan terakhir dari sang papa."
"Jangan pernah bandingkan kisah cintamu dengan yang ada dalam film. Itu ditulis oleh penulis skenario. Sedangkan kisahmu diciptakan oleh Allah."
"Husna, apa yang berbeda antara doa yang berasal dari agamaku dan doa yang berasal dari agamamu. Kenapa aku merasa bahwa doa yang berasal dari agamamu lebih cepat terkabul daripada doa yang dipanjatkan dari agama ku?"
"Tidak, aku tidak meminta lebih aku hanya meminta Alvino menjadi milikku."
Deg !!!
Husna melihat ke arah Helena sekilas selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Husna benar-benar memuji keberanian wanita yang ada di hadapannya, dia sungguh berani mengutarakan isi hatinya di depan wanita yang menjadi istri dari lelaki yang ingin dia miliki.
"Allah telah menuliskan nama pasanganmu. Yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya."
Tak lama kemudian, Alvino datang dan Helena langsung meminta diantar pulang oleh Alvino.
"Supir baru saja memberitahu aku bahwa mobil sedang dalam perbaikan. Jadi, bisakah kamu mengantar aku pulang?" Tanya Helena.
"Tentu, aku akan meminta Pak Jusuf untuk mengantar kamu pulang." Ucap Alvino tanpa melihat ke arah Helena.
Helena ingin protes tapi kemudian pandangannya beralih kepada Husna.
__ADS_1
Akhirnya, mau tidak mau Helena pulang dengan diantar Pak Jusuf.
Sesampainya di rumah, Helena mengambil hijab yang sempat diberikan Alvino kepadanya.
Helena menggunakan hijab itu dan menangis.
'Cinta bukan hanya sekedar ucapan, namun harus dibarengi dengan pengorbanan. Mencintai dan dicintai itu adalah anugerah terindah dari Allah subhanahu wata'ala.'
Kata kata Husna yang tidak bisa hilang dari pikiran Helena.
Sementara itu, setelah selesai salat dzuhur berjamaah, Husna menyempatkan diri untuk berdoa dalam hati.
Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan ridho-Mu.
Walaupun Husna baru bertemu dengan Helena 2 kali, tapi Husna dapat melihat besarnya cinta di antara mereka.
"Aku bisa melihat dan merasakan besarnya cinta di antara kalian. Apakah mas yakin tidak....."
" Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal." Ucap Alvino yang langsung memotong pembicaraan Husna.
Keesokan paginya, Alvino memutuskan untuk mengajak Husna kembali ke rumah bibi Rosita.
Bertemu dengan Helena membuat Alvino merasa ini bukanlah hal yang tepat.
Setelah sampai di rumah Bibi Rosita, Alvino segera mengajak keluarga untuk kembali pulang dengan alasan Alvino ingin mengajak Husna ke rumah yang diberikan almarhum Pak Winata sebagai hadiah pernikahan mereka, mengingat Husna belum pernah melihat atau mengetahui bahwa Pak Winata memberikan mereka rumah saat hari pernikahan.
Mama kakak serta keluarga bibi Rosita tidak ada yang curiga, jika ajakan pulang yang mendadak dari Alvino karena Alvino ingin menghindari bertemu lagi dengan Helena.
Alvino ingin menjaga perasaan Husna, sebab percakapan antara Husna dan Helena juga didengar oleh Alvino.
Setelah Alvino dan keluarga sampai di rumah. Helena terus saja datang bahkan tak jarang Helena sampai tidur di depan pintu berharap Alvino yang akan datang dan membukakan pintu untuknya.
" Nona Helena, sebaiknya anda pulang karena Tuan Alvino sudah kembali ke negaranya."
Helena kembali merasa frustasi, dia sudah merubah pakaiannya menjadi pakaian syar'i sama seperti husna, tetapi Alvino sudah tidak ada di sana untuk melihat nya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...