
Helena memutuskan untuk pergi dari sana. Niatnya yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan Alvino, harus dia urungkan setelah dia mendengar percakapan antara Husna dan Alvino.
"Husna, aku memang harus berterima kasih kepadamu karena kamu sudah membawa aku dan menyatukan aku dengan Alvino."
"Sayangnya, Aku tidak suka jika aku harus berbagi Alvino denganmu. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan yang aku inginkan adalah mendapatkan seluruh perhatian dan cinta kasih dari Alvino."
"Husna, kamu benar-benar membuat aku kehilangan rasa sabar." Ketus Helena.
Helena keluar dari kantor Alvino, saat mendengar suara yang memanggil namanya.
"Helena..."
"Ernesto."
Helena terkejut saat melihat mantan suaminya ada di negara ini.
Helena yang mengingat tentang perlakuan buruk Ernesto kepada nya, memilih untuk segera menstop ke taksi demi bisa menghindari Ernesto.
Ernesto dengan cepat memegang lengan Helena, sebelum Helena masuk ke dalam taksi. Ernesto memberikan kode agar taksi itu segera pergi dari sana.
"Helena, kenapa kamu terlihat menghindariku? seolah-olah aku ingin melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?" Ketus Ernesto.
"Ernesto, sebaiknya lepaskan aku dan biarkan aku pergi."
"Kenapa? apa kamu takut jika banyak orang yang mengetahui kalau aku adalah mantan suami kamu. Dimana kamu dengan sukarela memberikan tubuhmu untuk diriku yang sudah mengucapkan talak kepadamu."
Ernesto langsung tersenyum smirk sementara Helena menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa keinginan mu?" Ketus Helena.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan." Ucap Ernesto.
"Kenapa kamu bisa ada di negara ini?"
"Memang nya kenapa? apa aku tidak boleh pergi ke negara ini? apa negara ini adalah milik nenek moyangmu, sehingga kamu melarang aku untuk berada di sini?"
"Ernesto, Aku tahu kamu memiliki satu tujuan dengan datang ke negara?"
"Aku sedang memenuhi keinginan dari istri ku. Dia ngidam ingin berlibur di negera ini. Dia sedang hamil dan menurut dokter aku harus selalu membuatnya bahagia, agar calon bayi kami dapat tumbuh dengan sehat."
"Hanya itu?"
"Tidak."
"Sudah kuduga."
"Helena, apa kamu tahu jika beberapa hari yang lalu kedua orang tuamu datang dan membawakan kepada kedua orang tuaku agar mengembalikan pabrik milik keluarga mu."
__ADS_1
"Apa?"
Helena terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Ernesto.
Pasalnya selama Helena berkomunikasi dengan adiknya, sang adik tidak pernah membahas perihal ini.
"Keluargaku akan dengan senang hati mewujudkan keinginan dari kedua orang tuamu, dengan syarat kamu harus membayar sejumlah 300 juta."
"300 juta? apa kamu sudah gila?"
"Itu hanya 10% dari kerugian yang harus aku terima karena ulah kamu di malam pernikahan kita."
"Denger, aku tidak ada urusannya dengan permintaan mereka yang ingin pabrik dikembalikan."
"Helena, jangan menjadi sombong dan menjadi anak durhaka. Hanya karena kamu sudah sehat dan bisa menikah dengan orang yang kamu cintai, kamu bahkan melupakan keluargamu."
Helena memalingkan wajahnya, berusaha melepaskan cengkraman tangan Ernesto.
"Dengar Helena, kedatanganku ke sini untuk meminta uang 300 juta sebagai bentuk tebusan atas pabrik yang diminta oleh keluarga mu."
"Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu." Ketus Helena.
"Jangan berbohong. Aku sudah menyelidiki tentang suami kamu, walaupun dia hanya memiliki perusahaan dengan urutan kelima di negara ini. Tapi, omset yang dia dapatkan sangat fantastis. Aku juga tahu bahwa dia mendapatkan 30% dari warisan orang tua."
Helena terkejut dengan apa yang baru saja dia, bagaimana Ernesto bisa mengetahui tentang hal ini sementara Helena yang menjadi istrinya saja tidak pernah mengetahui tentang keuangan dan kekayaan Alvino.
Ernesto tersenyum sebelum dia melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Helena.
"Helena...."
Lamunan Helena buyar saat Husna memanggilnya.
"Husna, kenapa kamu selalu datang seperti hantu yang mengejutkan aku?" Ketus Helena.
"Aku tidak pernah mengejutkan kamu. Kamu saja yang selalu melamun, apa kamu tahu jika melamun itu tidak baik. Apalagi kamu melamun di tempat umum, Bagaimana jika terjadi hal buruk terhadap kamu karena kamu terlalu fokus melamun?"
"Sudah, jangan mengajari aku tentang apapun. Asal kamu tahu, aku lebih banyak tahu tentang seluruh kehidupanku. Jadi jangan pernah mencoba untuk menjadi guru dalam hidupku."
Husna hanya menghela nafas panjang, Husna tidak tahu lagi harus dengan cara apa dia melembutkan hati Helena.
Melihat Husna yang berdiri tepat di sampingnya, timbullah niat untuk mencelakai Husna.
"Husna, maaf karena aku terlalu bersikap kasar kepadamu."
"Aku mengerti, tidak mudah memang bagi kita berdua untuk bisa berbagi suami."
Helena memaksakan senyum agar Husna tidak mengetahui jika ada niat terselubung.
__ADS_1
"Udara Hari ini sangat panas, Bagaimana jika kita pergi ke kedai yang ada di seberang sana untuk minum?" Tawar Helena sambil menunggu ke arah kedai yang ada di seberang jalan.
"Boleh, kalau begitu kita menyebrang lewat jembatan penyeberangan saja." Ucap Husna.
"Itu akan memakan waktu karena jembatan penyeberangan itu terlalu jauh dan jalannya cukup memutar."
"Kamu tidak sedang berpikir jika kita akan menyeberang jalan yang padat ini kan?" Ucap Husna.
"Husna, kita hanya perlu mengangkat tangan agar mobil itu mengerti dan memberikan kesempatan bagi kita untuk menyeberang jalan."
"Tidak, tidak. Aku tidak ingin mengambil resiko itu. Lebih baik kita menyebrang melalui jembatan penyeberangan atau kita pulang saja dengan menaiki taksi."
"Huft, baiklah."
Helena mengalah, dia berjalan di belakang Husna dan mulai menyeberang melalui jembatan penyeberangan.
Tepat di saat mereka akan turun, Helena dengan cepat mendorong tubuh Husna setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang memperhatikan mereka berdua.
"Arg...."
Husna yang terkejut dengan dorongan keras dari belakang, membuatnya tidak bisa menyeimbangkan diri sehingga Husna bergulir melewati tangga hingga sampai ke dasar.
Brak !!
Helena tersenyum smirk saat melihat Husna menyerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
Dia tidak merasa panik sama sekali, bahkan ketika orang-orang mulai datang dan melihat kondisi Husna. Helena masih berjalan dengan santai dan mulai menuruni anak tangga.
"Wah wah wah, tidak aku sangka jika ternyata kamu sekarang menjadi sangat licik." Ucap seseorang yang menghentikan langkah Helena.
"Ernesto. Mau apa lagi kamu?"
Ernesto memperlihatkan rekaman di dalam ponselnya, di mana rekaman itu menunjukkan detik-detik Helena mendorong tubuh Husna.
"Aku penasaran, kira-kira bagaimana ya reaksi suamimu ketika mengetahui bahwa kamulah penyebab dari apa yang sudah menimpa wanita itu."
"Cih, kamu pikir aku takut hanya dengan ancaman kecil itu?"
Ernesto tersenyum kemudian menunjukkan nomor yang merupakan nomor Alvino.
"Dari mana kamu mendapatkan nomer Alvino?" Ucap Helena yang mulai terlihat gugup.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...