
Agam sedang berada di dalam pesawat. pekerjaannya di singapura memang sudah selesai. Tapi bukannya menunggu esok hari untuk pulang, justru Agam langsung memesan tiket pesawat malam itu juga.
Setelah melihat Bela berada di klub, dari foto yang temannya kirimkan, Perasaan Agam menjadi gelisah. dia takut terjadi sesuatu dengan Bela. Sepanjang penerbangannya Agam cemas. Dia ingin segera mengetahui kabar Bela.
Pesawat yang di tumpangi Agam adalah pesawat yang di terbangkan oleh Adit.
Pesawat yang di terbangkan Adit mendarat di Bandara. Setelah tiga bulan akhirnya Adit mendaptkan giliran liburnya. Seperti Biasa dia akan menghabiskan waktu bersama dengan Maya.
Setelah semua penumpang turun, Adit bersama awak kabin lainnya pun ikut turun. Tak disangka Adit bertemu dengan Agam, rupanya mereka berada di penerbangan yang sama.
"Agam." Sapa Adit ragu, dia khawatir jika salah mengenali orang.
"Adit. Aku hampir gak ngenalin loh, kamu pake seragam gini."
"Justru aku yang takut salah orang tadi, lihat kamu pakai jas seperti ini."
"Hahaha... kamu bisa aja dit."
"Di jemput atau bawa mobil?"
"Aku, Naik taksi. Kamu pasti di jemput Maya."
"Iya, Bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Boleh."
"Kalau boleh tahu, apa terjadi sesuatu, karena dari tadi kamu seperti sedang memikirkan sesuatu."
Tanya Adit yang menyadari kegelisahan Agam.
"Aahh.. Tidak ada apa-apa!" Jawab Agam berusaha tidak menampakan kegelisahannya lagi.
Agam sengaja menyetujui ajakan Adit makan, karena ingin bertemu Maya, dan menanyakan langsung kabar Bela.
Tak lama kemudian Maya datang wajah panik, dia langsung berlari saat Melihat Adit.
"Agam." Ucap maya yang kehabisan nafas karena berlari. Maya kaget melihat Agam sedang bersama Adit.
"Kenapa sayang, Apa yang terjadi?" Tanya Adit yang melihat wajah kekasihnya panik.
"Bela Dit. Aku gak bisa ngehubungi dia!" Ucap Maya terbata-bata.
"Apa tejadi sesuatu dengan Bela?" Tanya Agam yang juga khawatir dengan Bela. Perasaan gelisahnya ternyata di sebabkan ada hal buruk terjadi dengan Bela.
"Aku gak tahu, Seharusnya dia nemenin aku jemput kamu. Tapi dia gak dateng jemput aku Dit." Maya mencoba menjelaskan kronologinya.
"Maya, kamu tenang dulu. minum ini!" Adit yang melihat kekasihnya masih panik, membiarkannya untuk tenang dan menceritakan perlahan.
"Malam ini dia manggung, tadi aku ke sana, dia gak ada Dit. Sedangkan mobilnya masih ada di parkiran. Aku coba tanya ke bartender disana. Dia bilang Bela mabuk dan di bawa laki-laki. Setau aku, dia gak punya temen laki-laki.Aku takut terjadi sesuatu."
"Kita harus cari Bela." Ajak Agam panik begitu mendengar cerita Maya. Agam khawatir dengan kebiasaan mabuk Bela. menjadi peluang bagi pria nakal untuk memanfaatkannya.
"Tunggu dulu!" Maya menahan kedua pria tersebut.
"Aku ingat, akhir-akhir ini Bela selalu di ganggu Digta. Aku yakin Digta yang membawa Bela."
Agam mengepalkan tangannya. Dia sangat marah kepada Digta, Terakhir kali Digta membuat Bela ketakutan, dan malam ini Agam tidak tahu apa yang akan Digta lakukan.
"Kamu tahu rumah Digta? kita coba kesana!" Ajak Agam kepada Adit dan Maya.
Adit memgendarai mobil Maya, menuju tempat tinggal Digta, di ikuti Agam yang berada di belakanngnya.
...※※※※...
"Dimana dia?" Tanya Reyna begitu masuk kedalam gudang.
__ADS_1
"Itu, pekerjaan gw selesai tan, gw balik dulu. Jangan lupa, transferannya." Ucap Digta sebelum meninggalkan gudang. Digta menyerahkan Bela kepada Reyna, dia tidak ingin tahu apa yang akan di lakukan Reyna kepada Bela. karena itu bukan urusannya.
Bela mulai sadar dari pengaruh obat tidur. Dia hendak menggerakan tangannya, tapi tidak bisa.
"Tolong..... tolong aku!" Teriaknya, saat menyadari kedua tangannya terikat.
"Digta... tolong...!" Bela kembali berteriak menyerukan Nama Digta, sebab dia ingat terakhir kali dia bersamanya.
Plak.....
sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulusnya.
"Aaawww....."Teriak Bela kesakitan.
"Siapa kamu, kenapa kamu berbuat seperti ini. Apa salahku." Teriak Bela mempertanyakan kesalahan dirinya
Plak.....
Tamparan itu lagi-lagi mendarat di wajahnya.
"Aawww.... hiks....hiks...hiks.... tolong aku." Bela memohon.
"Apa ini sangat sakit?" Tanya Reyna menarik rambut Bela.
"S...sakit, aku mohon lepaskan!" Ucapnya, menahan kesakitan.
"Dasar perempuan ******, beraninya kamu menggoda suamiku." Maki Reyna kepada Bela.
"Tante Reyna?" Tebak Bela, sebab siapa lagi yang akan berbuat seperti ini selain istri dari laki-laki yang sedang dekat dengannya.
Reyna kaget karena wanita di depannya mengenal dirinya. Lalu dia membuka penutup mata agar lebih jelas melihat sosok wanita yang menggoda suaminya itu.
"Ooohh... jadi kamu, yang menggoda suamiku? Aku sudah berbaik hati membiarkan kamu tinggal di rumahku, ternyata niatmu sangat busuk bela!"
Reyna baru menyadari setelah membuka penutup mata Bela. Perempuan yang menggoda Agam adalah Bela, Anak sahabat Agam sendiri.
"Pantas saja selama ada kamu Agam selalu pulang cepat, ternyata karena kamu. dan juga malam itu, saat kamu ada di ruangan Agam, apa yang kalian lakukan?"
"Tidak tan, tidak ada yang terjadi."
"Bohong kamu."
"Aaww... Sakit tan!" Reyna menarik rambut Bela lagi.
"Apa yang sudah kalian lakukan di belakangku, sudah sejauh mana, apa kalian sering melakukannya?"
"Tidak tan, Agam tidak pernah melakukan seperti yang tante tuduhkan!" Ucapnya dengan jujur, memang mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang Reyna tuduhkan.
"Apa katamu, AGAM? Apa kalian sedekat itu sampai memanggil hanya dengan nama?"Tanya Reyna Saat Bela hanya memanggil Agam dengan namanya.
Bela sudah muak dengan sikap Reyna seolah-olah hanya Agam yang bersalah.Sedangkan dirinyapun telah melakukan hal yang lebih buruk dari Agam.
"Iya kami memang sangat dekat!" Jawab Bela menatap mata Reyna tanpa ada ketakutan di dalamnya.
"Wah... Akhirnya kamu mengeluarkan sifat aslimu, Ingat Bela. Agam tidak akan pernah meninggalkanku. Kami tidak akan pernah terpisah."
"Heehh.... Agam pasti akan menceraikan tante. Agam sudah tahu apa yang selama ini tante sembunyikan.!"Bela tersenyum mengejek.
Plak.....
Reyna kembali menampar Bela.
"Tidak akan pernah. Dia hanya mempermainkanmu Bela. Dia hanya sedang labil, dia pasti akan kembali ketempatnya, yaitu di sisiku."
"Asal tante tahu. mungkin raganya bersama tante, tapi hati dan fikirannya terus bersamaku." Bukannya meminta pengampunan dari Reyna justru Bela memancing kemarahan Reyna.
__ADS_1
"Jauhi Agam,lupakan Agam atau David akan mengetahui tentang ini semua." Ancam Reyna kepada Bela.
"Aku tidak akan menjauh dari Agam!"
"Berarti kamu ingin aku mengatakan semuanya kepada David!"
"Aku tidak peduli, yang jelas aku bisa bersama Agam."
Bela tidak ingin berfikir terlalu jauh, yang penting saat ini, jika nanti papanya tahu, Biarkan itu jadi urusan nanti.
...※※※※...
tok...tok...tok... Berulang kali Agam mengetuk pintu kosan Digta tapi tidak ada jawaban.
"Mungkin Dia tidak ada di dalam!" Ucap Maya
tiba-tiba sebuah mobil datang. Agam langsung melihat kearah datangnya mobil.Rupanya Digta yang keluar dari kobil tersebut.
Agam berlari menghampiri Digta dan langsung mendaratkan pukulan di wajah Digta.
"Loe bawa kemana Bela?" Tanyanya menarik kerah baju Digta.
"Loe salah mendatangai orang bro!"
"Digta gw tau loe yang menyembunyikan Bela. Katakan Bela dimana?" Teriak Maya.
"Cepet loe kasih tau kita, loe bawa bela kemana" Tanya Agam lagi, Agam mencekik leher Digta.
"L...lepas, gw gak bisa nafas!" Rintih Digta yang mulai kehabisan nafas.
"Cepet loe katakan sebelum loe mati di tangan gw!" Ancam Agam. Dia benar-benar sudah sangat marah kepada Digta.
"Dia di gudang xxx" Jawab Digta dengan sisi nafasnya. Agam pun melepaskan tangannya dari leher Digta setelah dia mengetahui keberadaan Bela.
Bugh....
satu pukulan lagi mendarat di wajah Digta sebelum mereka semua pergi menuju Gudang.
Agam bergegas membawa mobilnya ke gudang yang ditunjukan oleh Digta. Disusul oleh Adit dan Maya.
Agam menginjak gasnya. Dia membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Bahakan dirinya tidak peduli dengan keselamatnnya sendiri.
"Bela bertahanlah, sebntar lagi aku datang!"
Agam mengijak remnya begitu sampai di depan gudang. Agam, bersama Maya dan Adit berpencar mencari Bela.
Reyna yang mendengar suara mobil berhenti bergegas bersembunyi. Reyna bersembunyi tak jauh dari tempat Bela. sebab dia ingin meliaht siapa yang datang menyelamatkan Bela.
"Tolong...." Teriak Bela, saat mengetahui ada yang datang.
"Bela.... kamu di mana?" Teriak Agam dari luar gudang.
"Agam.... tolong aku!" Teriakan Bela ternyata di dengar Agam, Agam langsung lari menghampiri suara Bela, yang ternyata ada di dalam gudang.
"Bela.... apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini semua?" Tanya Agam begitu melihat keadaan Bela.
"Agam, Akhirnya kamu datang, hiks...hiks...hiks..." Bela menangis, kondisinya yang sudah berantakan, wajah merah bekas tamparan jelas sangat terlihat.
"Apa kamu baik-baik saja?" Agam segera melepas semua tali yang mengikat Bela.
"Aku tidak tahu Agam, yang jelas aku bersyukur kamu datang."
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu Bela." Bela memeluk Agam, dia merasa ketakutan. Lalu Agam menggendong Bela.
Bela sengaja terlihat lemah di depan Agam, sebab saat ini ada Reyna yang sedang memperhatikan.
__ADS_1
"Agam, Dia sudah pulang? Sial. kenpa dia harus pulang saat ini. Lihat saja Bela, aku tahu kamu sengaja kan melakukan semua itu, Agar aku melihatnya. Dan untuk kamu Agam. pasti kamu akan menyesal."
Reyna mengepalkan tangannya dia sangat kesal melihat pemandangan yang membuatnya ingin menghancurkan kedua orang itu.