Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Menjenguk Sang Bayi


__ADS_3

"Pah Bela berangkat dulu ya!" Pamit Bela memulai harinya.


Hari ini Bela ada jadwal Bimbingan lagi. Ini adalah bimbingan terakhirnya. Karena skripsinya sudah akan selesai.


"Sayang, jangan lupa nanti siang kita jenguk anaknya Om Agam. kamu bareng Daniel aja, kita ketemu di sana!" Teriak David dari dalam rumah, namun masih terdengar di telinga Bela.


Bertemu Agam lagi, setelah pertengkaran hebat waktu itu. Bela menghela nafasnya. Hatinya merasa Berat harus bertemu Agam dan Reyna. Terlebih Reyna yang sudah membuat kesaksian palsunya. Ingin sekali menghindar Tapi Rasanya tidak mungkin, walau bagaimnapun pasti akan ada waktu dirinya harus bertemu kembali dengan Agam. Dan Bela harus siap, karena mereka ada di lingkungan yang sama.


Bela melajukan mobilnya menyusri jalanan kota, Sebelum menuju kampus dia harus menjemput sahabat yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu.


Maya dengan heboh memberikan selamat lewat telphon atas hubungan Daniel dan Bela. Dan pagi ini dia meminta di jemput untuk mendengar langsung cerita dari mulut Bela. sebab jika sudah sampai kampus, mereka sama-sama sibuk dengan skripsinya.


"Hai beb, Selamat ya, gw seneng banget akhirnya mata loe melek!" Ucapnya ketika masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Bela menceritakan bagaimna bisa menjalain hubungan dengan Daniel yaitu karena dia di jodohkan. Dan memang dirinya tidak ada pilihan lain selain menerima perjodohan itu.


"Loe jalani aja dulu, masih untung loe di jodohin sama Daniel, udah ganteng, pinter, wah...pokoknya idaman semua cewek!"


"Gak untung-untungan juga Maya!"


"Ya tapi loe harus tahu Daniel itu udah lama suka sama loe!"


"Ya, dia juga bilang itu."


"Terus kurang apa lagi coba, tinggal loe yang belajar mencintai dia, dan lupain tuh laki-laki yang katanya cinta tapi sama omongan loe aja dia gk percaya!"


"Udah May, kok jadi emosi!"


"Gw kesel aja Bel, Tapi gw bersyukur karena sekarang loe punya Daniel. Oh ya. Adit ngajak kita doubel date, Dia sama kaya gw Bel. yang juga seneng denger kabar itu!"


"Ah... beritanya udah sampai ke Adit ternyata!"


"Loe salah Bel, justru Adit yang pertama tahu. kayanya Daniel alngsung cerita deh. emang ya, gak ada rahasia diantara mereka."


"Loe atur aja May, gw dan Daniel ikut aja!"


Sampailah mereka di kampus, tapi mereka harus berpisah jalan, karena tujuan mereka berbeda arah.


Bela memberikan kunci mobilnya keoada Maya.


"May, loe pulang bawa mobil gw.gw di jemput Daniel!"


"Oke, have fun ya...!" Ucap maya mengedipkan sebelah matanya.


...※※※※...


Bimbingan terakhirnya berjalan sangat mulus, Bela sudah menyelasikan tahapan akhir untuk skripsinya. Bela duduk di kursi dekat tempat parkir, dia menunggu sambil menoleh ke kanan dan kekiri, mencari mobil Daniel. Dan ternyata Daniel belum datang untuk menjemputnya.


Akhirnya Bela duduk menyilangkan kakinya, Sedikit lebih sabar untuk menunggu kedatangan Daniel. Dan ternyata tidak butuh waktu lama, Daniel datang dengan masih memakai seragam pilotnya. Rupanya Daniel bergegas datang setelah penerbangannya.


Melihat kegigihan Daniel bela tersentuh dengan keseriusan Daniel dalam hubungan ini. Dia sangat tahu bagaimana lelahnya setelah penerbangan, apalagi posisi Daniel adalah pilot dengan segudang tanggung jawab pekerjaanya.


"Nunggu lama ya, sorry!!!" Ucap Daniel dengan segala penyesalanya,


"Aku baru selesai kok!"


Daniel dengan senang hati membukakan pintu mobil untuk Bela.


"Trimkasih Dan!" Ucap Bela masuk kedalam mobil

__ADS_1


Suasana dalam mobil menjadi canggung, enatah mengapa Bela merasa tidak senyaman saat mereka masih bersetatus teman.


"Mau beli apa untuk bayi Agam?" Tanya Daniel


Bela yang tidak tahu tentang kebutuhan bayi dia bingung akan membawa kado apa. Lagi pula dirinya tidak ingin bertemu Agam ataupun Istrinya.


"Apa kita harus jenguk bayi Agam?"


"Kenapa?kamu belum siap bertemu Agam, atau kamu belum siap jika Agam tahu hubungan kita?"


"Aku hanya tidak ingin melihat Agam?"


"Sampai kapan kamu harus menghindarinya? Kamu harus terbiasa dengan ini. karena seperti yang kamu bilang, kita ada di lingkungan yang sama!"


"Iya, aku ngerti Dan!" Jawab Bela pelan.


Daniel menggengam tangan Bela erat.


"Maaf Bel, aku sangat ingin kamu bahagia."


Daniel memarkirkan mobilnya tepat di depan toko perlengkapan bayi. Sebelum mulai memulih Daniel meminta izin untuk berganti pakaiannya terlebih dahulu di toilet toko tersebut.


Mereka memilih beberapa pakaian sebagai kado untuk anak Agam. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang belanja perlengkapan bayinya sendiri.


"Dan, seprtinya kamu sangat faham tentang perlengkapan Bayi!" Puji Bela saat mereka sedang memilih.


"Kebetulan saja Bel!" Jawab Daniel, sedikit canggung, sebab menurutnya ucapan Bela mengartikan antara pujian atau sindiran.


"Aku rasa ini sudah cukup!"


Daniel merasa Bela sedikit menjaga jaraknya dengan Daniel, dia tidak seperi biasanya bela seperti ini, Seharusnya mereka semakin dekat bukan semakin renggang.


"Bela tunggu!" Panggil Daniel saat Bela akan masuk kedalam mobil.


Belapun menoleh dengan wajah datarnya.Daniel datang mendekatinya dan memegang kedua bahu Bela.


"Apa kamu tidak nyaman bersama aku?"


Bela menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Daniel, Rupanya Daniel merasakannya juga.


"Jujur dan, aku sangat canggung dengan keadaan kita sekarang. Aku sama sekali gak ngerti Dan, Tapi, aku mohon kamu lebih bersabar, menghadapi aku!"


"Aku akan menunggu, sampai kamu benar-benar menerima aku Bel."Daniel membawa Bela kedalam pelukannya.


Setelah Berbelanja Mereka langsung pergi menuju Rumah Agam, sebab David sudah menunggun mereka di sana.


Sampailah Mereka di depan rumah Agam. Nampak tidak ada yang berubah, sejak terakhir Bela berkunjung kerumah Agam.


Bela berdiri terpaku di depan pintu yang sudah terbuka itu, kakinya terasa kaku untuk melangkah masuk. Sedangkan Daniel yang menyadari dirinya hanya masuk seorang diri, menoleh kearah Belakangnya. Melihat Bela masih terdiam di luar rumah Agam.


Daniel kemudian kembali ke tempat dimana Bela berdiri.


"Bel, are you oke?" Tanya Daniel menyadarkan lamunan Bela dengan menggengam tangannya.


"I'm oke!" Jawab Bela menganggukan kepalanya berulang. Kemudian mengikuti Daniel masuk kedalam rumah Agam.


Bela mengingat perkatannya sendiri, jika bertemu kembali dengan Agam, maka mereka adalah orang asing yang pernah mempunyai hubungan sebelumnya.


Saat melihat Agam yang sedang mengendong bayinya dari kejauhan, Bela melangkah mundur.

__ADS_1


"Ayo Bel"


"Dan, sepertinya aku gak bisa. Maaf, aku tunggu di mobil!" Bela berlari meninggalkan Daniel yang sudah berada di dalam rumah Agam. Saat Daniel akan mengejar Bela, David sudah lebih dulu melihat dirinya.


"Dan, kemari!"


Dengan terpaksa Danielpun mendekat.


"Selamat ya bu Reyna atas kelahiran anaknya, lucu sekali!" Daniel meberikan bingkisan yang di bawanya.


"Bela mana? Kenapa sendiri?" Tanya David yang melihat Daniek datang sendirian.


"B-bela tadi, maksudnya Bela ada di mobil, perutnya sakit!" Terpaksa Daniel berbohong kepada semua orang yang ada di sana.


Reyna yang mendengar Bela sakit, langsung membuka kotak P3K yang tak jauh dari tempatnya.


"Aku antar ini dulu untuk Bela. Kebetulan aku punya obatnya!"


"Biar aku saja!" Agam mengambil obat dari tangan Reyna dan pergi menemui Bela.


Agam merasa Bela menghindarinya, entah itu karena bersalah atau memang karena tak ingin melihat dirinya lagi.


Daniel juga ikut pergi menyusl Agam, dia khawatir akan Bela.Pasti ada alasan Bela tidak ingni Bertemu Agam.


Agam mengetuk kaca mobil. dan menyuruh Bela untuk keluar dari dalam mobil.


"Agam!"


Belapun keluar dari mobil, begitu keluar tangannya di tarik Agam, di bawanya menuju samping rumahnya.


"Lepas Gam!" Bela berusaha melepskan tangan dari gengaman Agam.


"Kalau aku melepaskannya pasti kamu akan kabur lagi!"


"Kita sudah selesai Gam, apa lagi yang kamu inginkan!" Tanya Bela dengan semua kekesalanya.


"Kenapa kamu tidak masuk kedalam rumah? kamu menghidariku atau kamu bersalah kepada reyna?" Tanya Agam dengan sorot mata tajam menatap Bela.


"Sudah aku bilang berkali-kali, kalau aku tidak melakukan itu! kenapa kamu terus saja tidak percaya?" Bela sedikit Berteriak. dia lelah menjelaskan kepada Agam.


"Lalu, kenapa kamu tidak masuk?"Tanyanya lagi.


"Apa penting buat kamu aku masuk? aku hanya muak melihat kalain berdua!"


Tak begitu lama Daniel datang, melihat Bela dan Adam sedang beradu mulut.


"Ada apa ini?" Daniel datang langsung melepaskan Bela dari genggaman tangan Agam.


"Jangan ikut campur Dan, loe gak tahu apa-apa!" Agam menujukkan jarinya tepat di muka Daniel.


"kenapa? sekarang Bela adalah calon istri gw, jadi loe jangan pernah ganggu Bela lagi." Daniel merangkul Bela dia menegaskan bahwa saat ini Bela miliknya.


Agam membelakan mata, rahangaya mengeras ketika mendengar kata yang membuatnya ingin berteriak marah.


"Calon istri?" Tanyanya dengan penuh penekanan.


"Iya Gam, Aku akan menikahi Daniel!" Ucap Bela memperjelas ucapan Daniel.


Matanya hanya menatap nanar kepergian Daniel dan Bela. Agam sangat terkejut, dia tidak menyangka rencana Bram akan secepat itu. Walaupun saat ini dia tengah membenci Bela. namun menedengar wanita yang di cintainya akan menikah, membuat hati Agam bagaikan di tikam seribu pisau. Sakitnya bahkan sudah tidak bisa di jelaskan lagi.

__ADS_1


__ADS_2